Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda

Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda
Bab 61 Melepaskan


__ADS_3

*******


Sammy merasa heran, karena keadaan di jalanan dan di luar rumah terasa mencekam. Bahkan tiga hari terakhir ini polisi sering razia di jalan.


Sammy tengah menonton televisi bersama Ana, sambil menikmati sarapan paginya. Mata Sammy melotot, dadanya juga terasa sesak, saat melihat kabar berita istri tuan muda yang kabur. "Mah, kita ke kantor Mark sekarang, ternyata Shita kabur bukan berlibur!" Sammy terlihat sangat marah.


***


Sesampai di gedung Emanuel Group, Sammy dan Ana di sambut Gimar. Gimar langsung mengajak Sammy dan Ana keruangan kerja Mark. Wajah Sammy nampak sangat marah, sedang wajah Ana kelihatan begitu cemas, Ana khawatir, kemarahan Sammy ini, akan berpengaruh pada jantung Sammy.


"Papa, papa jaga emosi ya, bagaimana Shita, kalau papa sakit, mama nggak mampu bertahan kalau papa sakit dan Shita masih hilang." Rengek Ana.


"Mama jangan khawatir, papa akan baik-baik saja, demi Shita."


"Selamat datang pah, mah," sapaan Mark langsung membuat mata Sammy dan Ana memandang ke arahnya.


Sammy sangat terkejut melihat keadaan Mark. "Kenapa Shita pergi! Dan kenapa kalian bohongi kami!" Teriak Sammy.


"Papa …." Ana mengusap dada Sammy.


Sammy berusaha menenangkan emosinya.


"Maafkan saya Pak Sammy, saya terpaksa bohong pagi itu, karena saya takut Pak Sammy kena serangan jantung lagi." Gimar langsung menjawab pertanyaan Sammy.


"Kelakuanku, sama dengan kelakuan Gildan, dan Shita melihat kebejadan ku." Ringis Mark.


Sammy mendekat kearah Mark, dia mencengkram krah baju Mark. Gimar ingin membalas Sammy, namun langkahnya terhenti karena isyarat dari tangan Mark.


"Berani-berananinya kau menyakiti putriku!" Sammy mengayunkan tinjuan tangannya.


Bought!


Bogem mentah dari Sammy mendarat telak di wajah Mark, tubuh Mark yang memang lemas karena tiga hari tidak makan, membuatnya mudah tersungkur. Testpack Shita yang Mark simpan di sakunya terlempar, saat dirinya jatuh. Gimar membantu tuan mudanya itu bangkit.


Melihat itu adalah benda perempuan, Ana langsung memungutnya. Mata Ana melotot kembali, saat melihat tanda positif hamil pada testpack tersebut.


"Ini punya siapa? Apa ini punya selingkuhanmu?" Tanya Ana sambil memperlihatkan testpack yang dia pungut.


"Itu punya Shita." Jawab Mark.


"Jika kami menemukan Shita lebih dulu! Jangan harap Shita bisa kembali padamu!" Teriak Sammy. Dia langsung pergi dari ruang kera Mark, Ana langsung berlari mengikuti suaminya.


Sedang Mark di bantu Gimar untuk duduk di sofa, Setelah membantu Mark duduk, Gimar langsung pergi, untuk mengambil kompres, untuk mengompres wajah Mark yang biru karena ciuman dari tinjuan Sammy.


****


Di mobil Sammy.

__ADS_1


Sammy fokus menyetir, sedang Ana memandangi testpack kehamilan milik Shita.


"Harusnya papa melarang Shita dan Mark menikah, papa tahu Mark seperti apa, tapi Shita meyakinkan papa kalau Mark baik." Ringis Sammy.


"Apa pernikahan Shita karena kemarah Mark?" Ana bergumam.


"Apa maksud mama?" Tanya Sammy. Dia melirik istrinya sebentar, kemudian dia fokus kembali dengan jalanan yang ada di depan matanya.


"Wanita yang di bawa Gildan kabur adalah calon istri Mark, kebangkrutan kita karena kemarahan Mark."


Sammy menepikan mobilnya. Mobil yang Sammy kendarai berhenti di tepi jalan. "Gildan! Kenapa penderitaan kita semua bermuara dari Gildan!" Gerutu Sammy. Sammy langsung mencari ponselnya dan menelpon Gildan. Dia menceritakan tentang Shita, dan kepergian Shita.


"Pulang! Urus semua masalah yang kamu buat!" Teriak Sammy. Dia langsung memutuskan panggilan teleponnya.


****


Lima hari sudah Shita menghilang, orang-orang yang Mark kerahkan tidak menemukan Shita. Mark hanya memandangi foto Shita, yang ada pada ponsel Shita, yang di temukan Gimar di rumah kecil Shita dulu.



Gimar berlari masuk kedalam rumah Mark, dia langsung mencari Mark di ruangan kerja Mark. Namun langkah Gimar terhenti, saat melihat Pak Iqmal menahannya. "Ada apa Pak? Saya mau buru-buru." Seru Gimar.


"Tuan muda tidak makan apapun selama lima hari ini." Ucap Iqmal lirih.


"Saya tidak bisa bantu, Pak. Meminta Mark makan hanya membuatnya semakin marah." Gimar meninggalkan Pak Iqmal, dia langsung masuk kedalam ruang kerja Mark, tanpa mengetuk pintu.


"Ada perkembangan tentang istriku?" Tanya Mark.


Gimar hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya. "Ini berita lain tuan muda." Seru Gimar.


Namun wajah Mark, nampak tidak perduli.


"Gildan dan Nesya kembali, kini mereka munuju rumah Sammy," seru Gimar.


"Aku tidak perduli, aku hanya ingin Shita ku kembali." Jawab Mark.


"Tuan muda, saya mohon makan---"


"Aku tidak akan makan apapun kalau belum menemukan Shita! Kalau kau selesai, pergi sana!" Bentak Mark.


Gimar terpaksa pergi dari ruangan itu.


***


Rumah Sammy.


Ana melotot melihat kedatangan Gildan dengan wanita hamil. Dia berdiri mematung, hanya memandangi dua orang di depannya.

__ADS_1


"Mama, ini Nesya istriku, kami sudah lama menikah."


"Kau bahagia rupanya, kamu tau? Kami semua menderita karena ke egoisan kalian!" Bentak Sammy.


Gildan diam, dia hanya memegang erat tangan Nesya.


"Selesaikan urusan kalian dengan Emanuel Group! Ayo kita kesana!" Seru Sammy.


Mendadak wajah Nesya memucat, dia sangat takut bertemu Mark. Namun Gildan menariknya, terpaksa Nesya mengikuti suami dan mertuanya itu. Mereka berempat masuk dalam mobil Sammy. Mobil itu langsung melaju menuju gedung Emanuel Group. Sepanjang perjalanan, Ana, menceritakan keadaan mereka, setelah kepergian Gildan.


Tidak terasa air mata Gildan menetes, karena keegoisannya, adik perempuan yang selama ini dia sayang, menanggung semua beban karena ulahnya. Sedang Nesya hanya diam.


Tidak kesulitan mereka menuju kantor Mark, karena petugas keamanan mengenali Sammy. Mereka berempat duduk di sofa yang ada di ruangan Mark, sambil menunggu kedatangan Mark.


***


Tidak berselang lama, Mark datang keruangannya. Mata Mark terbelalak, saat melihat sosok yang tidak asing didepan matanya, namun wanita itu tengah hamil. Mark langsung masuk dan menyapa mereka semua.


Nesya sangat lega, ternyata Mark terlihat santai saat melihatnya, tidak seperti yang dia takutkan selama ini.


Gildan sambil menarik tangan Nesya kehadapan Mark.


"Beib!" Ringis Nesya.


"Nesya cukup! Selama ini kita egois! Saatnya kita selesaikan semuanya." Bentak Gildan. Nesya langsung bungkam.


Gildan tetap berjalan mendekati Mark. "Mark, tolong lepaskan adikku, jika kau menjerat adikku hanya karena dendam kamu pada kami---"


"Maaf Gildan, aku benar-benar mencintai Shita, aku tidak mencintai Nesya. Silahkan kalian semua pulang, aku ingin bekerja." Ucap Mark yang langsung memotong kata-kata Gildan.


Nesya sangat lega mendengar hal itu.


"Satu hal, aku sudah lama melepaskan Nesya." Ucap Mark lagi, dia meneruskan langkahnya. Namun tiba-tiba Mark merasa pusing, seketika dia jatuh pingsan.


Gimar yang dari tadi hanya diam, dia langsung menelpon petugas keamanan dan memanggil ambulan.


Melihat Mark yang begitu kacau dan kucel, Sammy sadar, kalau Mark benar-benar mencintai Shita.


"Urusan kalian sudah selesai di sini, silahkan kalian kembali. Terima kasih sudah datang dan meluruskan masalah ini." Seru Ana pada Gildan.


"Bagaimana Shita?" Tanya Gildan.


"Urus saja masa depan kalian, Shita urusan kami." Seru Sammy.


Gildan dan Nesya langsung pergi dari sana. Perasaan Nesya sangat lega, ternyata Mark benar-benar melepaskannya. Mereka berdua langsung kembali ke negara, di mana mereka selama ini tinggal.


Ana dan Sammy juga kembali kerumah mereka, sedang Mark, dia langsung di bawa kerumah sakit. Karena keadaan fisiknya begitu lemah.

__ADS_1


__ADS_2