Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda

Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda
Bab 54 Jujur Padaku


__ADS_3

Setelah kelas mereka selesai, mereka bertiga berkumpul di kantin, Shita selalu memperhatikan raut wajah Loiz ketika dekat dengan Ara. Sedang Loiz tidak menyadari, kalau ada mata yang mengawasinya, dia hanya fokus pada Ara.


"Aku mau pesan minuman lagi, ada yang mau lagi?" Ara menawari Loiz dan Shita, sedang kedua orang itu menggelengkankepala mereka.


Shita menatap Ara yang sudah menjauh dari mereka berdua. Kini wajahnya memandangi Loiz. "Jujur padaku, apa kau menyukai Ara?"


"Uhukkk!" Loiz tersedak minumannya. Karena kaget dengan pertanyaan Shita.


"Kamu kenapa? Dari kemaren pertanyaan kamu hanya itu."


"Jujur, apa kusumpahi kau jadi jomblo seumur hidup!" Ucap Shita dengan nada ancaman.


"Baiklah aku jujur! Sejak lama aku menyukai Ara, kau ingat bagaimana wajahku saat pergi, itu karena aku sakit hati, saat mendengar Ara akan menikah, tadinya aku ingin menembak Ara saat di bandara, sebelum aku pergi." Loiz mengakui perasaannya.


Prakkk!


Satu cup minuman yang di pegang seseorang yang berdiri jatuh. Shita dan Loiz langsung merubah arah pandangan mereka.


"Ara?" Seru Loiz dan Shita bersamaan.


Ara salah tingkah saat Loiz dan Shita memandang ke arahnya. Dia langsung pergi dari kantin. Shita dan Loiz tegang melihat reaksi Ara seperti itu.


"Loiz kejar dia!" Pinta Shita.


Loiz masih tegang, hal ini yang dia takutkan jika Ara tahu tentang perasaannya.


"Loiz!" Bentak Shita.


Lamunan Loiz tersentak. "Iya," jawabnya.


"Kejar Ara, yakinkan dia dengan perasaanmu." Seru Shita.


Loiz masih mematung.


"Kejar dia!" Teriak Shita.


Refleks Loiz langsung berlari mengejar Ara.


*****************


Loiz bisa menyusul Ara tepat di taman kampus. "Ara, tunggu!" Loiz memegang tangan Ara.


"Apa-apaan kamu? Kamu kasian sama aku hingga kamu bilang suka sama aku!?"


"Ra, itu nggak benar, aku suka sama kamu sejak kita masih SMA."


"Maaf Lou, aku bukan Ara yang dulu, Ara yang sekarang hanyalah sampah."


"Itu tidak benar Ra."


"Lou, aku ini---"


"Aku tau kau bukan perawan lagi, aku melihatmu keluar dari kamar mandi yang sama dengan Gildan saat acara perpisahan di rumah tante Ana. Aku tahu, kau simpanan suami Shita," Loiz langsung memotong kata-kata Ara.


Ara terdiam mengetahui Loiz tau tentang dirinya.


"Tapi, inilah kebodohanku, aku tahu bagaimana kamu, tapi aku tidak bisa berhenti mencintai kamu, Ra, tolong beri aku kesempatan untuk mencintai kamu, okey! Kamu nggak cinta aku, aku nggak peduli! Tapi izinkan aku mencintai kamu Ra."


"Maaf Loiz, aku belum siap membuka hatiku, tapi kamu jangan khawatir, persahabatan kita tetap lanjut." Seru Ara.


Loiz pasrah, dia di tolak Ara jadi kekasih, namun, menjadi sahabat Ara itu, lebih dari cukup baginya.

__ADS_1


***********


Acara tahunan yang ditunggu-tunggu oleh semua orang di belahan bumi itu akhirnya tiba. Para pengusaha ingin cari muka pada tuan muda, pemilik Emanuel Group tersebut. Dalam acara tahunan Emanuel Group, para petinggi perusahaan yang ada di belahan negara itu berkumpul.


Mata semua orang tertuju pada sosok cantik, yang digandeng oleh tuan muda itu, sebagia kecil dari yang hadir tahu, kalau itu istri tuan muda mereka. Shita di minta Mark duduk di tempat khusus untuk keluarga Emanuel Group tersebut, sedang Mark langsung naik ke podium, untuk membuka acaranya.


Selesai Mark memberikan sambutan, kini giliran beberapa orang yang mempunyai jabatan Khusus yang menyampaikan banyak hal. Sedang Mark duduk di samping Shita. Shita tersenyum melihat bagaimana Mark menanggapi orang-orang yang menyapanya.


Terdengar suara musik mulai di mainkan, tanda acara dansa di malam perayaan itu di mulai. Mark berdiri dan mengulurkan tangannya pada Shita.



"Apa?" Tanya Shita.


Mark menarik nafasnya kasar, dan membuangnya perlahan. "Kau nona muda, istri tuan muda Emanuel Group, maka kau dan aku harus memulai untuk membuka acara dansa malam ini."


"Aku tidak bisa!" Rengek Shita.


"Ayolah, pinggangku dan tanganku pegal," gerutu Mark.


Dengan sangat terpaksa Shita menerima uluran tangan Mark, mereka berjalan kedepan. Suara tepukan tangan menggemuruh, saat dua orang itu memulai gerakan dansa mereka.


Senyuman merekah di wajah setiap orang melihat kemesraan pasangan yang tengah berdansa itu, tapi tidak dengan seorang wanita yang duduk sendirian. Wajahnya nampak begitu sedih, berulang kali dia menegak kasar minuman di gelas yang dia pegang.


Setelah Mark dan Shita selesai dengan dansa santai mereka, kini acara santai pun berlangsung, Shita beruntung ada mamanya, dia selalu menggandeng lengan mamanya, karena Mark di kerumuni banyak orang.


"Kaka ipar, sebaiknya nanti kaka ipar pulang sama kami," seru Shima yang mendekati Shita.


"Bagaimana kalau Mark mencariku?"


"Sepertinya, Mark tidak bisa pulang cepat, lihat dia nampak sibuk," seru Randha yang juga mendekat pada mereka.


"Sebentar lagi kita pulang sayang, mama sudah capek," seru Randha.


*****


Mark merasa ponselnya bergetar, dia segera memeriksa ponselnya tersebut. Mata Mark melotot saat melihat foto yang dikirim seseorang padanya via aplikasi hijau. Mark langsung mencari Gimar.


Melihat Mark memandangi ke berbagai Arah, membuat Gimar segera menghampiri tuan mudanya itu. "Ada apa tuan muda?" Tanya Gimar.


"Kamu suruh Shita pulang bersama mama dan Shima, aku harus pergi, kamu urus acara ini sampai selesai." Perintah Mark, Mark langsung berlari ke arah lift.


Sedang Gimar langsung menyampaikan pesan Mark pada Shita, dan dia kembali mengurus pesta tahunan Emanuel Group tersebut.


Shita, Randha dan Shima langsung pulang, karena mereka mulai lelah dengan kerumunan istri para pengusaha itu. Sesampai rumah mereka langsung ke kamar mereka masing-masing.


***


Sedang Mark, setelah meneriman pesan itu, dia berlari menuju lift menuju basement, di mana mobilnya terparkir. sesampai tempat parkir, dia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Apartemen Cindy. Karena wanita itu mengirim pesan perpisahan pada Mark, denga foto dirinya yang berdiri di tepi atap gedung Apartemennya.


Sesampai Apartemen Cindy, Mark langsung berlari menuju lift, untuk menuju lantai paling atas dari gedung itu.


Sesampai di tempat yang dia tuju, Mark merasa deg-degan melihat Cindy benar-benar berdiri di sisi atap gedung itu.


"Cindy, jangan bodoh Cindy!" Seru Mark.


"Aku bodoh Mark, karena aku terlanjur cinta sama kamu," jawab Cindy.


"Cindy, maafkan aku, tapi aku benar-benar mencintai Shita."


"Mark, ku mohon … habiskan waktu malam ini bersamaku,"

__ADS_1


"Maaf Cind, aku tidak bisa." Mark terus berjalan mendekati Cindy, berharap bisa mengajak wanita itu menjauh dari sisi atap gedung.


"Kalau kau tidak mau menghabiskan malam ini denganku, ini terakhir kali kamu melihatku dalam keadaan hidup."


Cindy langsung menjatuhkan dirinya, Mark berhasil menyambar Cindy, dia memegangi tangan Cindy, namun Cindy sudah terlanjur menjatuhkan dirinya.


Mark merasa kesulitan menarik tubuh Cindy ke atas, karena Cindy tidak mau meraih tangan Mark. "Cindy, ku mohon raih tanganku." Suara Mark terasa berat, karena tenaganya fokus menahan tubuh yang menggantung di sisi atap gedung itu.


"Biarkan aku mati, lepaskan!" Teriak Cindy.


"Baiklah, aku janji malam ini kita menghabiskan waktu bersama, tapi ini yang ter akhir." Tangan Mark mulai gemetar, karena tidak mampu menahan tubuh yang menggelantung itu.


"Demi apa?"


"Demi apapun! Tolong Cindy, raih tanganku! Aku sudah tidak kuat." Keringat mulai bercucuran di sekujur tubuh Mark.


"Aku percaya padamu, kalau kau bohong, aku akan mencelakai Shita." Cindy meraih tangan Mark, dengan sudah payah, akhirnya Mark bisa menarik Cindy ke atas lagi.


"Penuhi janjimu!" Seru Cindy.


Mereka berdua berjalan menuju Apartemen Cindy. Perasaan Mark berkecamuk. Dia harus mengkhianati Shita, padahal hubungan mereka baik-baik saja.


"Shita maafkan aku, semua ini aku lakukan demi kebebasan hubungan kita di masa akan datang." Jerit batin Mark.


Mark dan Cindy berada dalam Apartemen, Cindy begitu agresif mendekati Mark, sedang Mark seperti orang yang sakit. Wajahnya nampak lesu.


"Maaf Cindy, aku tidak bisa." Mark tidak sanggup untuk menyentuh Cindy.


"Aku janji, ini yang ter akhir. Tolong …." Cindy mengemis.


"Maaf Cind, aku benar-benar tidak bisa."


"Mungkin kamu capek Mark, ya sudah, kita minum dulu." Seru Cindy, dia segera menjauh dari tubuh Mark, dan berjalan menuju mini bar yang ada dalam Apartemennya.


Melihat Mark yang frustasi dan meng acak-acak rambutnya, Cindy menggunakan kesempatan kelengahan Mark untuk memasukan obat kedalam minuman dia dan Mark. Cindy berjalan membawa dua gelas minuman, dia menyodorkan satu gelas untuk Mark, namun Mark mengambil gelas pada tangan Cindy yang satunya, bukan gelas yang Cindy sodorkan.


Cindy tersenyum simpul, karena kedua gelas itu berisi obat yang sama. Mereka meminun habis minuman mereka.


Mark mulai merasa aneh, dia tidak bisa membendung ledakan dalam dirinya. Bayangannya, Cindy adalah Shita, dia langsung menyerang Cindy yang dia kira Shita.


*****


Shita merasa cemas, sudah malam, namun Mark belum juga kembali. Berulang kali menelpon Mark, namun tidak di angkat Mark, Shita tertidur membawa perasaan cemasnya.


****


Jam menunjukan jam 04:00, Mark terbangun, dia baru sadar, kalau minuman yang dia minum di masukan Cindy sesuatu, dengan langkah kaki lemas Mark memunguti baju-bajunya. Setelah rapi Mark membangunkan Cindy. Perlahan Cindy membuka matanya, tubuhnya terasa lemas, karena kegiatan liar mereka.


"Cindy, tolong terima keputusanku, ini adalah akhir hubungan kita, dan ini terakhir kita melakukannya, Cindy, mengertilah, ku mohon, aku sangat mencintai Shita, dan aku tidak mau mengkhianati dia lagi,"


Cindy hanya diam, tidak merespon perkataan Mark.


"Cindy, jalani kehidupanmu dengan normal, lupakan aku, aku benar-benar ingin setia Cind. Kita sudahi hubungan ini."


"Mark, apakah tidak ada tempat buatku? Aku rela jadi simpananmu selamanya, datanglah saat kau perlu saja." Rengek Cindy.


"Tidak bisa, tolong mengerti aku. Ini adalah akhir semuanya." Mark membelai pucuk kepala Cindy, dia segera pergi dari Apartemen Cindy.


******


Sepanjang perjalanan pulang Mark mengutuki dirinya sendiri, setelah bercinta dengan Shita, dia tidak pernah lagi bercinta dengan wanita di luar, namun malam ini dia melakukan kesalahan.

__ADS_1


"Maafkan aku beib." Ringis Mark di dalam mobilnya.


Sesampai di rumah keadaan nampak sepi, Mark membuka pintu dengan kunci cadangannya, dia langsung berlari menuju kamarnya, terlihat sosok yang sangat dia cinta lelap dalam tidurnya. Mark langsung pergi kekamar mandi untuk membersihkan dirinya, selesai mandi, dia mengenakan baju tidurnya dan berbaring di samping Shita.


__ADS_2