
"Gimar, tarik semua orang yang mencari Shita, umumkan, kalau nona muda sudah ditemukan." Seru Mark.
"Baik," jawab Gimar. Gimar langsung mengirim pesan pada orang-orang Emanuel Group, yang mencari Shita kemana-mana.
"Tuan muda, apa boleh saya mengatakan tempat nona muda berada, pada kedua orang tuanya?" Tanya Abi.
"Katakan saja, pasti mereka sangat bahagia." Seru Mark.
"Bagaimana tuan muda sendiri?" Tanya Gimar.
"Aku bahagia, walau hanya bisa melihatnya. Biar saja mereka mengira, kalau aku tidak tahu di mana Shita. Yang penting, Shita ku, bahagia." Jawab Mark.
Abi tersenyum, mendengar keputusan Mark.
Mark melepas jas nya, dia memakai seragam penjual ice cream itu, begitu juga dengan Gimar. Keduanya sudah memakai seragam penjual ice cream tersebut. Abi memberikan lagi dua paper bag pada Gimar dan Mark.
Wajah Gimar masam, dia sungguh tidak senang mengenakan seragam pelayan ini, walaupun dia memakai kemejanya sendiri sebagai dalaman. "Apalagi?" Gerutu Gimar.
"Sepatu, masa penjual ice cream memakai sepatu mahal?" Seru Abi.
Mark dan Gimar pasrah, mereka melepas sepatu yang dikenakan, lalu memakai sepatu yang Abi berikan. Baru selesai mengenakan sepatu, Abi memberikan lagi dua box kecil.
Lagi-lagi Gimar mendengus, dia sungguh kesal. "Apalagi?" Gerutu Gimar.
"Isinya, lensa mata, dan alat penyamar suara. Kalau lensa kalian sudah tau bukan cara memakainya, kalau alat kecil itu, tempelkan di leher kalian, itu alat penyamar suara, agar saat kalian bicara dengan nona muda nanti, dia tidak curiga." Seru Abi.
"Abi, kenapa kau begitu cerdas?" Seru Mark.
"Ayolah cepat pakai, semakin cepat kalian selesai, semakin cepat pula kita bisa mendekati nona muda." Seru Abi.
"Ini pelecehan pertama dalam hidupku, yang aku lihat dan yang aku alami." Geruru Gimar, sambil melirik kearah Mark yang mengenakan pakaian penjual ice cream.
"Tapi ini sepadan, untuk kebahagiaan tuan muda." Seru Abi.
"Iya, kau sangat benar Abi." Ucap Gimar.
Setelah selesai mengenakan topi, masker, sarung tangan, dan yang lainnya. Gimar dan Mark segera turun dari mobil Abi. Mereka berjalan menuju mobil ice cream itu. Sedang Abi, segera memarkirkan mobilnya.
Mark sudah sampai di depan mobil ice cream tersebut. "Sudah siap?" Tanya Mark pada pelayan yang bekerja dalam mobil itu.
"Sudah," jawabnya.
Mark dan Gimar mulai memberikan ice cream pada anak-anak yang memdekat. Melihat anak-anak itu bahagia, ada perasaan yang aneh dalam diri Mark, dia juga ikut bahagia melihat kebahagiaan kecil itu. Tiba-tiba jantungnya berdetak tidak menentu, hawa tubuhnya pun terasa memanas. Saat Mark merubah arah pandangannya, jantungnya semakin berdetak tidak menentu, saat melihat Shita berjalan kearahnya, bersama beberapa orang anak.
"Kaka, aku mau itu." Rengek salah satu anak kecil pada Shita.
"Boleh-boleh, semua ini, disiapkan kaka Abi untuk kalian semua, kita semua pasti kebagian, yang tertib ya adik-adik." Seru Shita.
Shita mulai meminta ice cream yang sesuai dengan permintaan anak-anak padanya. Wajah ceria itu kembali terukir, di wajah anak-anak panti asuhan.
__ADS_1
"Sudah dapat semua?" Tanya Shita pada anak-anak panti yang datang bersamanya.
"Sudah kak." Jawab semua anak-anak panti yang bersamanya, serentak.
"Ini, kulihat anda belum." Tangan seseorang memberikan satu ice cream pada Shita.
Entah kenapa hati Shita berdebar begitu kuat. Dia membalikan badannya, menghadap orang yang memberikan ice cream itu. Shita merasa sangat dekat dan merasa kenal dengan orang yang memberinya ice cream, tapi, orang itu memakai topi dan masker, hingga Shita tidak bisa mengenalinya.
"Terima kasih," jawab Shita sambil menerima ice cream yang disodorkan padanya.
Shita melangkah pergi, meninggalkan mobil yang menyediakan ice cream itu. "Dia bukan Mark, Shita! Tolong sadarlah." Gerutunya, sambil memutar kedua bola matanya.
Shita membuang jauh-jauh pikirannya tentang Mark, sambil menikmati ice cream yang dia pegang. Langkah Shita tiba-tiba terhenti, entah kenapa ice cream yang dia makan terasa begitu nikmat.
"Adik-adik, kalian duluan kesana ya, kaka mau minta ice lagi." Seru Shita.
Anak -anak yang bersamanya langsung berlari bergabung dengan anak-anak panti lainnya. Hanya beberapa detik, Shita menghabiskan ice cream yang ada di tangannya. Dengan begitu semangat, Shita kembali ke mobil yang menyediakan ice cream itu.
"Ada apa nona muda?" Sapa Abi. Dia juga tengan menunggu ice cream buatnya sendiri.
"Aku mau lagi," seru Shita dengan begitu semangat.
"Oh, kalau begitu, ini buat anda dulu, aku bisa menunggu." Seru Abi, sambil memberikan ice creamnya pada Shita.
Senyum Shita begitu lebar. "Terima kasih Abi." Serunya.
Sedang Mark hanya diam saja memperhatikan Shita. Mark tegang, melihat wajah Shita yang tadi ceria, tiba-tiba berubah muram.
"Ice cream yang sama, kenapa rasanya beda? Tadi sangat enak, ini …." Ringis Shita, wajahnya seketika masam.
"Tadi nona makan ice cream rasa apa?" Tanya Abi.
"Sama dengan yang ini, eh tunggu, apa jenis dan warna yang sama ada rasa yang beda?" Gerutu Shita. Shita memandang laki-laki yang tadi memberi ice cream padanya.
"Hei, apa kau bisa kemari?" Tanya Shita.
Abi tersenyum, karena yang dipanggil Shita adalah Mark. Dengan semangat Mark melangkah kearah Shita.
"Iya nona," jawab laki-laki itu.
"Siapa namamu?" Tanya Shita.
Mark dan Abi saling pandang.
"Kau asli sini kan? Kau mengerti bahasaku?" Tanya Shita.
"Um, am, aku Marco." Hanya kata itu yang Mark ingat.
Wajah Shita seketika berubah. "Apa karena namanya hampir sama, aku merasa nyaman dekat dengannya." Gumam hati Shita.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Mark yang menyamar jadi Marco.
Lamunan Shita buyar, dia segera menjawab pertanyaan Marco. "Aku sedang hamil Marco, tadi saat aku makan ice cream pemberianmu, rasanya sangat enak, mau kau ambilkan lagi?" Tanya Shita.
"Dengan senang hati nona." Jawab Marco.
Dia mengambil ice Cream yang sama, lalu memberikannya pada Shita. Dengan senyuman yang begitu lebar, Shita menerima ice cream dari tangan Marco.
"Terima kasih," seru Shita, terlihat wajahnya begitu ceria.
"Sama-sama." Jawab Marco.
Shita langsung menikmati ice cream pemberian Marco. "Hem, enak sekali." Gumam Shita.
Mendengar kalimat yang lolos dari mulut Shita, membuat Abi dan Mark sangat bahagia. Mereka tersenyum melihat Shita begitu menikmati ice cream yang datang dari tangan Marco.
"Nona, itu ice cream yang satunya mulai meleleh, sini saya buang." Seru Marco.
Dengan senang hati Shita memberikan ice cream dari Abi pada Marco. "Langsung buang ya, itu sudah aku makan sedikit." Seru Shita.
"Iya nona," jawab Marco.
Laki-laki yang berpakaian yang sama seperti Marco mendekat pada Shita, Abi, dan Marco.
"Akhirnya selesai juga tugasku." Gerutu laki-laki itu.
Wajah Shita tiba-tiba berubah lagi. Dia menutup mulutnya dengan satu telapak tangannya. "Uwekkk!" Tiba-tiba Shita mual.
"Apa ice cream itu beracun?" Mark sangat khawatir melihat Shita mual.
"Bukan ice cream yang membuatku mual, tapi sepertinya, aku mual melihat orang ini. Sial, aku belum pernah merasakan mual selama kehamilanku, baru kali ini." Gerutu Shita, sambil menahan rasa eneg di teggorokannya.
"Kau mual karena orang ini?" Abi menahan tawanya.
"Bisa kau menjauh sedikit, jika aku mual karenamu, bila kau menjauh, pasti rasa mual ini akan hilang." Pinta Shita.
Dengan perasaan sebal, Gimar yang juga berpenampilan seperti Mark, segera menjauhi Shita.
"Wah, ternyata benar, aku mual karena dekat denganmu, maaf aku bukan menuduhmu bau, tapi ini karena aku hamil." Shita merasa sangat bersalah pada pelayan ice cream itu.
Mark dan Abi masih tertawa. Mark mengambil satu ice cream lagi, dia memberikan pada Shita. "Semoga mual anda hilang dengan ice cream ini nona."
"Terima kasih Marco." Seru Shita, sambil menerima ice cream dari Marco, dia segera menjauh dari mobil ice cream itu, karena rasa mual terasa lagi, jika dia melihat pelayan yang satunya itu.
Shita sudah pergi menjauh, Mark dan Gimar, berdiri di samping Abi.
"Calon anak tuan muda pasti akan mempunyai hati seperti nona muda, lihat, sekarang saja, dia seperti ibunya, yang tidak suka padaku." Gerutu Gimar.
"Calon anakku, menyukaiku," gerutu Mark. Dia memakan ice cream bekas Shita yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Selamat berjuang tuan muda. Oh ya, Gimar, sepertinya ini hari terakhirmu kemari, nona muda mual melihatmu, padahal kau sudah menyamar." Ledek Abi.
Mereka bertiga tertawa, mengingat raut wajah Shita, saat dekat dengan Gimar.