
Sesuai rencana Abi, perjalanan bus parawisata yang membawa anak-anak panti Asuhan Emanuel Group, tidak di cegat polisi atau petugas keamanan Emanuel Group. Perjalan Shita menuju pantu asuhan pun lancar.
Sesampainya di panti Asuhan, Shita di sambut beberapa pengurus panti, dan disana juga ada Abi. Shita merasa lega, tempat barunya adalah panti Asuhan, milik Abi, namun nama panti itu masih Emanuel Group.
"Selamat datang nona muda, semoga anda suka tempat ini." Sapa Abi.
Shita hanya mengangguk, tersenyum percuma, tidak ada yang melihatnya, karena dia masih mengenakan masker. "Aku sangat suka anak-anak, ku harap aku tidak menyusahkan, jika aku di sini." Ucap Shita.
"Tidak sama sekali, nona muda. Kami sudah tahu semuanya dari Abi. Nona muda aman di sini. Perkenalkan, saya Agtha Elweish, semua orang di sini memanggil saya, mama El." Seru wanita yang tampak sangat berwibawa itu.
"Mama El, adalah penannggung jawab panti ini." Abi menyela.
"Ayo, kita semua masuk," seru mama El.
Mereka semua masuk kedalam panti asuhan itu. Shita tidak henti-hentinya memandangi apa yang dia lewati.
"Panti ini sangat luar biasa mama," seru Shita, sambil melepas masker yang menutupi wajahnya.
"Iya, semua ini, berdiri karena bantuan tuan Haka, dia ayah Mark, mertuamu." Seru mama El.
"Terima kasih Abi, ini tempat yang sangat indah." Seru Shita, sambil melihat anak-anak panti yang berlarian kesana kemari.
"Ini juga tempat yang tepat, kamu sedang hamil, panti ini punya klinik kesehatan sendiri, kami semua berjanji pada Abi, kami tidak akan mengadu pada Mark, kalau istrinya di sini." Ucap mama El, sambil menepuk lembut bahu Shita.
"Andai kami kecolongan, dan Mark menemukan kamu di sini, dia tidak akan marah pada kami, karena kami menjaga istri dan calon anaknya." Seru Abi.
Shita merasa sesak, teringat kembali akan yang dia lihat malam itu. Dia menarik pelan nafasnya, dan mulai bicara, agar kesedihannya tidak dilihat orang lain. "Terimakasih mama," Shita langsung memeluk wanita yang akrab di panggil mama El tersebut.
"Abi, bolehkan aku minta tolong? Aku ingin kau kabari kedua orang tuaku, kalau aku baik-baik saja." Pinta Shita.
"Dengan senang hati nona, saya akan berkunjung kekediaman nona, untuk menemui pak Sammy dan bu Ana."
Shita sampai di ruangan yang akan menjadi kamar pribadinya, dia di berikan kamar khusus untuknya, karena saat ini dia tengah hamil.
__ADS_1
"Semua keperluan anda, sudah saya siapkan, baju dan perlengkapan lainnya, hiduplah dengan nyaman nona muda, jangan memikirkan hal lain, pikirkan diri anda dan calon bayi yang berproses dalam rahim anda." Seru Abi.
Shita mengangguk pelan, menanggapi kata-kata Abi. Sedang Abi dan mama El, langsung pergi dari kamar Shita.
Shita berjalan ke arah jedela yang ada di kamarnya, dia memandangi anak-anak penghuni panti asuhan ini, yang asyik bermain di bawah sana.
Lelah melihat keasyikan anak-anak, dia melangkah menuju tempat tidur, merebahkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya.
Hari yang tenang bagi Shita mulai dia jalani, sedang di rumah sakit sana, seorang pria patah hati berusaha untuk sehat kembali, demi bisa melihat wanita yang benar-benar mencuri separu hatinya.
***
Dengan susah payah, akhirnya Abi bisa kerumah Ana dan Sammy, dengan alasan mencari tahu keberadaan Shita, agar anak buah Mark, tidak curiga. Abi duduk di ruang tamu, bersama Sammy dan Ana. Keadaan masih hening, karena tidak ada yang bicara.
Merasa sangat aman, Abi mulai buka suara. "Aku sudah lama berhenti bekerja pada Emanuel Group." Seru Abi.
Ana dan Sammy, hanya diam mendengari perkataan Abi.
Perkataan Abi barusan, membuat Ana dan Sammy tegang, mereka kaget, juga bahagia, akhirnya kabar tentang Shita mereka dengar juga.
"Di mana anak kami?" Tanya Sammy, begitu antusias.
"Rahasia pak, karena aku takut Mark menemukan dia, sedang dia belum siap untuk bertemu Mark, saya harap bapak bisa mengerti." Terang Abi.
"Mengetahui Shita baik-baik saja, itu sudah lebih dari cukup, untuk kedepannya, biar Shita yang tentukan." Seru Ana.
Setelah menyampaikan pesan Shita, Abi merasa lega, dia segera kembali kerumah dia dan Jane. Untuk saat ini tidak ada kekhawatiran. Karena rencana pertamanya berhasil, Shita menemukan tempat yang nyaman, dan Mark, mau berusaha untuk sehat kembali.
*****
Semakin hari, keadaan Mark mulai membaik, walaupun dia masih terlihat lemah. Namun jauh lebih baik karena dia mau menerima penanganan medis dan lainnya. Mark mulai menagih janji Abi padanya, tempo hari. Gimar segera meminta Abi, untuk menemui Mark.
__ADS_1
Abi begitu semangat menyusun rencananya, rencana ini, sudah dia siapkan sebelum Shita pergi ke panti Asuhan. Abi pamit pada Jane, karena dia akan pergi bersama Mark dan Gimar.
"Hati-hati sayang," ucap Jane, sambil melepas kepergian Abi.
…
Akhirnya, Abi, Gimar, dan Mark. Bertemu di tempat yang Abi janjikan. Senyum Abi merekah, melihat kodisi Mark yang lumayan, walau belum sehat sepenuhnya.
"Tuan muda janji, tidak akan mendekati nona muda, walau anda melihatnya? Saya sangat sulit mencari dia, kalau tuan muda mengingkari kesepakatan, maka … jika nona muda kabur lagi, saya tidak akan bantu." Seru Abi.
"Aku pastikan, aku akan mengikuti persyaratanmu, Abi." Jawan Mark.
Karena Mark terlihat meyakinkan, Abi langsung masuk dalam mobil Mark. Mark duduk sendirian di belakang, sedang Abi dan Gimar duduk di bagian depan, Gimar yang menyetir mobil tersebut.
Lumayan lama mereka menempuh perjalanan, akhinya, mobil mereka sampai di dekat pelabuhan. Sangat banyak orang lalu lalang di sana.
"Tuan muda, ingat kata saya?" Abi mengingatkan Mark, tentang kesepakatan mereka.
"Aku ingat," jawab Mark.
"Gimar, kau bawa kursi roda?" Tanya Abi.
"Aku bawa, sesuai permintaan kamu." Jawab Gimar. Dia melangkah menuju bagasi, dan mengeluarkan kursi roda dari sana.
"Kalian menyuruhku duduk di kursi roda? Aku tidak mau!" Ucap Mark, begitu ketus.
Abi menarik begitu dalam nafasnya, dan menghepaskan kasar begitu saja, terdengar deruan nafas yang kencang. "Tuan muda, ini buat jaga-jaga, kalau nona muda melihat kita lebih dulu, semoga dia kasihan pada tuan muda, dan dengan sukarela kembali pada tuan muda. Tuan muda tahu bukan? Bagaimana pemaafnya nona muda, Ara saja dia maafkan." Seru Abi.
Mark memikirkan kata-kata Abi. "Papaku memang benar Abi, kau sangat jenius, kau aset berharga Emanuel Group, tapi sayang, kau keluar dari sana." Ucap Mark sambil duduk di kursi roda.
Gimar, kamu dorong kursi roda tuan muda, aku ingin menanyakan temanku, di mana nona muda kita." Seru Abi.
Mereka bertiga mulai melangkahkan kaki memasuki area pelabuhan tersebut. Gimar mendorong kursi roda Mark, sedang Abi sambil mengetik pesan di ponselnya.
__ADS_1
******
Mohon maaf, alurnya, alur nina bobo dulu, alur maki-makinya kan udah, kita rehatkan dulu nafas kita, yang sesak karena Mark. 😆😆😆😆