Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda

Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda
Bab 36 Terbayang


__ADS_3

Teman sejati, teman yang senantiasa ada bersamamu kala senang maupun dikala susah.


****


Merasakan kehidupan yang sulit beberapa waktu lalu, tidak ada teman yang menemuinya, walau hanya sekedar menyapa atau menanyakan kabarnya. Membuat Ana dan Sammy mengetahui siapa manusia-manusia yang saat ini mengerumuninya. Mereka mendekati Ana dan Sammy, hanya karena mereka mertua tuan muda yang sangat berkuasa.


Ana mencengkr*m lengan Sammy begitu kuat, dia tidak tahan mendengar kata-kata sanjungan dari mulut-mulut yang penuh bualan belaka. Sammy menepuk punggung tangan Ana, sebagai penyemangat pada istrinya yang mulai muak dengan para penjilat yang mengerumuni mereka.


****


Sedang di bagian lain.


Shita menempati salah satu meja yang di khususkan untuk keluarga mempelai, dia menarik kursi dan duduk di sana seorang diri. Sedang kedua orang tuanya masih terlihat berbincang dengan teman-temannya. Mark juga masih di kerumuni oleh rekan-rekannya. Seseorang yang ber expresi datar selalu setia di samping Mark, siapa lagi, dia adalah Gimar.


Dua orang wanita berjalan mendekat ke arah Shita sambil melipat tangan mereka di dada. Dia adalah Randha dan Shima, mama dan adik Mark. Shita berusaha mengukir senyuman menyapa dua wanita yang mendekat padanya. Shita bangkit dari posisi duduknya, menghormati dua wanita yang kini berdiri di dekatnya.


"Kamu tahu siapa kami?" Tanya Randha.


Shita menggeleng pelan.


"Apa tujuan kaka menikahi gadis ini mah, kakak tidak memperkenalkan dia pada kita, biasanya kaka selalu membawa wanita kerumah untuk berkenalan sama kita," gerutu Shima.


Mendengar perkataan wanita cantik barusan, membuat Shita sadar kalau di hadapannya adalah mama dan adik Mark.


"Maafkan saya, saya tidak di beri kesempatan untuk menolak," ucap Shita begitu lembut.


"Siapa yang bisa menolak ke inginan Mark?" Ucap Shima begitu sinis.


"Selamat bergabung dalam keluarga Emanuel," seru Randha. Dia dan Shima langsung duduk di kursi mereka.


"Selamat Shita, lengkap penderitaanmu dapat suami yang jahat, juga keluarganya yang tidak suka padamu, semoga oksigen di tempat aku tinggal nanti tidak jahat," gerutu hati Shita. Dia tetap tersenyum dan kembali duduk di kursinya.


***

__ADS_1


Mark yang dari tadi santai berbicara pada tamu khususnya, pandangannya tertuju pada seorang laki-laki yang baru datang. Dia Abi. Abi berjalan santai ke arah Mark. Mark menarik sedikit ujung bibirnya, hingga terbentuk sunggingan senyum kecil di wajahnya melihat Abi yang semakin dekat dengannya.


"Selamat tuan muda atas pernikahannya, semoga bahagia," ucap Abi sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Mark.


"Terima kasih, karena kau bersedia berhadir Abi," Mark menyambut uluran tangan Abi. Mark menarik Abi kedalam pelukannya dan mulai berbisik. "Besok, berkas panti asuhan aku kirim, karena kau tidak merusak rencanaku."


Abi hanya diam mendengar perkataan Mark, selesai basa-basi dengan Mark, Abi berjalan seorang diri di area pesta pernikahan. Hingga dia bertemu dengan pak Iqmal dan Halia. Dia melepas rindu dengan dua orang tersebut. Sedang Mark kembali berbincang dan menyapa tamu yang mendekat padanya.


Lama berbicara dengan Iqmal dan Halia, Abi menyapa Randha dan Shima juga menyapa Shita yang kini menjadi istri tuan muda tersebut.


Abi melangkahkan kaki lagi ke penjuru lainnya, menikmati pesta pernikahan hari ini.


***


Senyuman terukir di wajah Shita saat melihat Jane juga datang, tak lama bertegur sapa dengan Jane, sapaan halus nan manja menyebut namanya.


"Shita," serunya.


Shita membalikan tubuhnya, menghadap sumber suara yang nampak tidak asing. Senyuman kembali terukir. "Araaa!" Seru Shita, dia sangat bahagia melihat Ara hadir di pesta pernikahannya.


"Mama, papa, kenalkan mereka adik dan mama Mark," seru Shita yang menyela obrolan Ana dan Ara.


Randha yang sedari tadi asyik bersama putrinya segera berdiri menyambut besan mereka. Apapun perasaan mereka, bersikap manis di depan umum wajib bagi mereka. Demi menjaga nama Mark.


Acara terus berlanjut. Randha dan Shima asyik dengan topik mereka sendiri, begitu juga Shita dan Jane, sedang Ara asyik berbicara dengan Sammy dan Ana.


Kini tamu-tamu ber angsur pergi meninggalkan hotel tersebut. Kini hanya acara makan siang keluarga, yang hanya di hadiri sepasang pengantin baru, adik dan mama Mark, juga kedua orang tua Shita.


Hening, tidak ada pembicaraan di meja makan tersebut. Namun Sammy tidak tahan lagi menahan ke inginannya untuk buka suara.


"Shita, setelah acara ini, papa dan mama akan bersiap, besok pagi kami akan pergi dari kota ini, pekerjaan menanti papa Shita, maafkan kami," ucap Sammy.


"Secepat ini?" Ringis Shita.

__ADS_1


"Sayang, maafkan kami, kami harus konsisten sayang, sekarang ada Mark yang akan menjaga dan melindungi kamu, kami lega untuk pergi," Ana juga ikut buka suara.


Shita hanya diam, namun kepergian kedua orang tuanya membuatnya lega, setidaknya papa dan mamanya tidak melihat penderitaannya nantinya.


Acara makan terus berlanjut, ada seringai kemenangan di wajah Mark, melihat rona kesedihan di wajah Ara. Selesai makan-makan, Ana dan Sammy pun mengucapkan salam perpisahan pada semua orang. Sedang Randha dan Shima langsung pulang. Kini hanya tinggal Mark dan Shita.


Mark memandang sinis ke arah Shita. Tanpa berkata apapun Mark pergi meninggalkan Shita dan pergi dari hotel itu. Sedang Shita menyeret kakinya menuju kamar hotel.


Sesampai kamar hotel Shita langsung melepas gaun pengantinnya lalu menyegarkan dirinya. Dia kembali kekamarnya dengan baju santainya. Sambil mengikat sebagian rambutnya Shita menguatkan dirinya sendiri. "Sudah cukup Shita! Ayo tegar dan kuatlah, tunjukkan pada tuan muda sombong itu siapa dirimu! Cukup! Jangan pernah rapuh dan kelihatan lemah!" Ucapnya sendiri.



****


Sepanjang malam Shita menghabiskan waktunya menonton televisi, hanya keluar untuk mengambil makanan. Jam menunjukkan jam 12 malam, namun Shita masih sendirian di kamarnya. Shita tidak ambil pusing, dia mengganti pakaiannya dan segera merehatkan tubuhnya, lalu memejamkan matanya untuk berkelanan ke alam mimpi. Dia menikmati malam pengantinnya seorang diri. Hal ini sangat melegakan baginya.


Sedang Mark tengah berpesta dengan banyak wanita, namun tetap, hanya Ara yang ada dalam pelukannya.


"Aku bahagia beib," seru Ara. Sambil melingkarkan lengannya di leher Mark dan mendaratkan satu kecup*n kilat pada bibir Mark.


"Bahagia?" Mark menaikkan satu alisnya.


"Iya, Shita yang menikah denganmu, tapi aku yang menghabiskan malam bersamamu." Seru Ara, tangannya nakal, bermain di area terlarang milik Mark.


Mark memandangi wajah Ara, dia menyatukan alisnya dengan Alis Ara, perlahan bibir mereka bertemu dan saling melum*t. Mark memejamkan matanya, berharap perasaan yang timbul saat mencium Shita juga hadir saat dia mencium Ara saat ini. Mark menarik pangutannya. Karena tidak mendapatkan perasaan yang sama.


Dia menatap Ara begitu dalam, berharap perasaan itu hadir, lalu mengulangi lagi meng*cup bibir Ara dengan santai, namun tetap, perasaan itu tidak datang. Mark memejamkan matanya mendalami ciumannya pada Ara, namun malah Shita lagi yang terbayang.


Mark gusar, dengan cara apapun rasa itu tidak hadie saat dia bersama Ara. Namun perlakuan tangan nakal Ara pada tubuhnya membuat jiwa nakal Mark mendidih. Senyuman Mark begitu lebar, dia mengusir pikirannya yang selalu teringat Shita, dia langsung menggendong tubuh Ara dan berjalan menuju kamar mereka dengan bibir yang masih menempel satu sama lain. Ujung-ujunganya, menuntaskan syahwatnya dan menghabiskan malam panas berdua.


Jam menunjukkan jam dua malam, Mark terbangun, dia duduk di tepi tempat tidur sambil merem*s rambutnya dengan kedua telapak tangannya. Perasaan itu menghantui lagi, kenapa senyuman Shita selalu terbayang-bayang di pikirannya. Sedang Ara masih lelap dalam tidurnya. Pertempuran panjangnya dengan Mark membuat gadis itu kehilangan sebagian besar tenaganya.


Mark berjalan ke arah kamar mandi, untuk membilas tubuhnya. Dia kembali ke kamar mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya. Lalu memakai kembali baju yang dia pakai tadi malam.

__ADS_1


Mark memandangi Ara yang masih tertidur pulas. Namun bayangan Shita juga hadir kembali. Mark menahan emosinya, dia marah pada dirinya sendiri, dia segera meninggalkan kamar Ara dan kembali ke hotel di mana Shita menginap.


__ADS_2