
Turun dari mobil, Mark menarik Shita lagi kedalam dekapannya. Tangan Mark juga selalu melingkar di pinggul Shita, hingga tubuh Shita menempel pada tubuhnya. Mark tidak membiarkan tubuh wanita itu menjauh dari tubuhnya. Shita pasrah dengan keinginan Mark.
seorang pelayan setia keluarga Mark, selalu setia menunggu kedatangan tuan muda, dia selalu berdiri di depan pintu utama.
"Pak Iqmal, apa mama dan Shima sudah makan malam?" Tanya Mark saat melihat pelayan tertua itu menyambutnya.
"Nyonya besar dan nona Shima sudah berada di meja makan, mereka baru datang tuan muda." Jawab Iqmal.
"Sayang, kita makan malam bersama dulu," ucap Mark pada Shita, dengan nada yang begitu lembut, kecupan dari bibir Mark pun mendarat di kepala Shita.
"Ara, kau berniat menyelamatkanku dari cengkraman laki-laki ini, tapi karena perbuatanmu laki-laki ini malah semakin dekat padaku." Ringis batin Shita. Namun wajahnya memasang senyuman yang manis pada Mark dan mengikuti Mark.
Dua orang wanita yang nampak asyik bicara langsung menganga saat Mark dan Shita mendekat ke meja makan.
"Hei, apa yang terjadi pada putraku, apakah lentera yang padam itu benar-benar menyala?" Ringis batin Randha.
"Wajah kaka ipar pucat, apa yang kakakku lakukan pada gadis itu? Ralat! Melihat tanda merah sebelumnya dia bukan gadis lagi." Kata hati Shima.
"Kalian sudah makan?"
Pertanyaan Mark, membuat kedua wanita yang mematung itu tersadar dari hayalan mereka.
"Belum sayang."
"Belum kak."
Ucap Randha dan Shima bersamaan.
"Kalau begitu, ayo kita makan malam." Seru Mark.
Mereka makan malam bersama.
Sikap manis Mark pada Shita membuat Shima dan Randha kikuk, ini pertama kalinya melihat tingkah Mark seperti anak kecil. Sedang wanita di samping Mark seperti boneka yang diam dan hanya bisa patuh, menerima perbuatan Mark padanya.
Sambil memasukan makanan ke mulutnya Shima bergumam dalam hati. "Apa-apaan ini? Haruskah aku bahagia melihat semua ini? Tapi raut wajah kaka ipar sangat memprihatinkan, sepertinya dia tidak bahagia, sangat jelas ketakutan dari wajah itu. Kaka ipar, kasihan sekali dirimu."
Mark menatap lembut wajah Shita. "Kamu ini, saat makan selalu belepotan, seperti anak kecil." Mark mendekatkan wajahnya, lalu membersihkan sisa saos yang menempel disisi bibir Shita dengan mulutnya.
Shita terperanjat, kedua matanya melotot, karena perlakuan Mark padanya, membuat dia merasa sangat malu pada mertua dan adik iparnya.
Wajah Randha dan Shima juga tidak kalah terkejut, melihat adegan itu di depan mata mereka.
"Mamaaa," ringis Shima pelan, kakinya menyenggol pelan kaki Randha.
Randha hanya mengehembuskan nafasnya begitu kasar. Berharap makan malam ini segera selesai. Randha dan Shima bernafas lega, karena Makan malam pun selesai, Mark langsung menarik istrinya menuju lantai atas, tanpa memberi Shita kesempatan untuk permisi pada Shima dan Randha.
"Mama," ringis Shima lagi, sambil menyenggol lengan Randha.
__ADS_1
"Apa yang kita bisa? Apa yang Mark suka itulah yang berlaku." Jawab Randha.
"Kasian kaka ipar mama, lihat wajahnya, apa yang terjadi?" Ringis Shima.
"Jangan mencampuri urusan kakakmu, jika kau ingin kedamaian dalam hidupmu." Seru Randha. Kedua wanita itupun pergi meninggalkan meja makan, mereka langsung masuk ke kamar masing-masing.
*****
Di kamar Mark.
Setelah mengunci pintu kamar, Mark menahan tangan Shita. Dia kembali memeluk wanita itu dari belakang. "Maafkan aku, tadi sore aku cemburu, makanya aku menggaulimu saat itu juga, aku mengingkari janjiku, dulu aku berjanji pada diriku sendiri, kalau aku tidak akan menyentuhmu, sebelum kau bisa menerima aku, tapi api kecemburuanku membakar semua janji itu, maafkan aku," bisik Mark.
"Aku sangat ceburu, aku takut kau pergi dariku. Aku sangat marah, saat aku melihat kau tadi pagi, saat kau memeluk laki-laki itu."
Shita bingung. Dia hanya diam mendengari perkataan Mark.
"Aku laki-laki buruk, aku tidak pantas buatmu, tapi aku mencintai kamu, entah dari mana? Dan sebab apa perasaan ini muncul." Mark melepaskan pelukannya dan memutar tubuh Shita, kini mereka berdiri berhadapan.
"Kau benar, aku laki-laki kotor! Aku mengambil ciuman pertamamu di toilet dan barusan, aku malah mengambil moment pertama kamu di rumah sakit. Laki-laki macam apa aku ini!"
"Pertama?" Shita masih bingung.
"Saat kau mabuk, aku tidak menyentuhmu, aku hanya mengerjaimu."
Shita masih membisu, bibirnya setengah terbuka membuat yang memandangnya berpikiran nakal. Mark kembali mendaratkan ciumannya di alis Shita, perlahan ciuman itu turun kebawah dan berhenti saat bibirnya bertemu dengan bibir Shita.
Mark menarik wajahnya, berhenti sebentar dari pangutannya."Maafkan aku, aku melakukan hal hina dengan Ara, semua itu karena aku sakit hati, maafkan aku, ku mohon, maafkan aku." Mark kembali meyerang bibir itu.
*
*
*
Shita bingung, entah dari mana dorongan yang membuatnya melakukan perlawanan manis pada Mark, membuat pergulatan kali ini terasa lebih indah. Hingga keduanya kembali tumbang bersama diatas tempat tidur.
****
Sinar mentari mulai menembus di sela-sela gorden. Perlahan Shita membuka kedua matanya. Dia menatap wajah yang begitu dekat dengan wajahnya, si pemilik wajah itu masih nampak lelap dalam tidurnya. Shita membelai wajah Mark. "Kenapa aku? Harusnya aku benci padamu! Kenapa sekarang aku mulai mengagumimu?" Gumam batin Shita.
Shita menarik nafasnya dengan lembut, dan menghembuskan kembali. Tangannya masih menyentuh wajah Mark. "Kamu beruntung Mark, karena aku orang yang bodoh, karena aku bodoh, aku mulai menyukaimu, andai aku pintar, aku sudah lama pergi dari kamu." Gumam Shita.
Melihat Mark mulai mengerjap, Shita langsung menarik tangannya dari wajah Mark.
__ADS_1
Mark perlahan membuka matanya, senyuman kembali terlihat dari wajah Mark. "Selamat pagi beib." Sapa Mark, suaranya masih terdengar parau.
"Pagi," jawab Shita.
Shita segera bangkit dari posisi rebahannya.
"Mau kemana?" Tanya Mark.
"Aku mau mandi." Jawab Shita.
"Tunggu, kita mandi bersama, setelah itu lakukan tugasmu yang lain," seru Mark.
"Tugas apa lagi?" Shita nampak kaget, dia takut Mark meminta jatah ranjang lagi.
"Tugasmu membantuku memakai pakaianku, jangan sukanya melepas saja, kamu harus tanggung jawab untuk memakaikannya kembali." Goda Mark.
Mata Shita menatap tajam ke arah Mark. "Kapan aku melepas bajumu? Yang ada kau yang melucutiku." Gerutu hati Shita.
"Beib, jangan goda aku lagi, aku takut kau tak bisa kuliah jika aku gempur pagi ini." Seru Mark.
"Hahahaaa!" Tawa palsu Shita. "Bilang saja kau tak mampu lagi." Shita menutup mulutnya.
"Dari mana kata-kata ini?" Gumam hatinya.
"Kau meragukan kemampuanku? Tadinya aku mau berbaik hati padamu, tapi sepertinya kamu belum tahu seperti apa kekuatanku. Jangan salahkan aku."
Mark langsung menyerang Shita.
****
"Lisan sialan! Gara-gara keceplosan dia menumbangkan aku lagi." Rengek Shita. Dia terkulai lemas di tempat tidur. Sedang Mark langsung pergi kekamar mandi.
Langkah Mark tiba-tiba berhenti, dia membalikkan arah tubuhnya, menghadap ke arah tempat tidur. "Kau kehabisan tenaga? Bukan salahku, karena kau menantang aku." Mark tersenyum penuh kemenangan.
Shita pasrah, dia menenggelamkan wajahnya pada bantal, mengutuki dirinya sendiri.
*****
Selesai Shita mandi, Mark masih mengenakan handuknya. Shita nampak bingung.
"Kamu tidak bekerja?" Tanya Shita.
"Kerja, aku menunggu istriku melakukan tugasnya, sudah cukup bonus yang aku berikan selama ini" jawab Mark.
"Maafkan aku," ucap Shita.
Dia dan Mark, masuk kedalam ruangan khusus, di mana semua pakaian ada di tempat itu. Selesai membantu memakaikan pakaian Mark, kini Shita segera memakai pakaiannya.
__ADS_1
Keduanya nampak rapi. Mark kembali melingkarkan lengannya di pinggul Shita. Shita pasrah, setiap bersama Mark tubuhnya selalu merapat pada tubuh Mark.
Keduanya segera melangkah turun ke bawah menuju meja makan.