
Sesampai rumah kecilnya, Abi terus tersenyum, melihat orang-orang suruhan Mark berkeliaran di sekitar rumahnya. Abi tidak ambil pusing, dia meneruskan pekerjaan yang di berikan Gimar padanya.
Tidak terasa, matahari mulai tenggelam di ufuk barat, tapi orang-orang suruhan Emanuel Group itu masih berkeliaran di sekitar rumah Abi. Abi meraih ponselnya, dan langsung menelpon Gimar.
"Ada Apa Abi?" Sahutan suara di ujung telepon sana.
"Katakan pada tuan mudamu, jika dia terus mengutus orang membuntutiku, selamanya aku tidak akan ketempat nona Muda, biar dia menghilang selamanya," seru Abi.
"Abi---"
"Gimar, apa kalian sudah membuntuti Gildan? Bagaimana kalau Gildan yang datang tempo hari membawa Shita?" Abi langsung memotong ucapan Gimar.
Gimar mematung, dia benar-benar lupa membuntuti Gildan dan Nesya, saat mereka kembali.
"Tarik semua utusan kalian, atau aku tidak akan membantu sama sekali!" Seru Abi.
"Baik, aku akan menarik semua utusan tuan muda." Jawab Gimar.
Abi langsung memutuskan panggilan teleponnya dengan Gimar.
Sedang Gimar, langsung menelpon orang Emanuel Group, yang ada di Negara yang sama dengan Gildan dan Nesya, untuk memantau kediaman Gildan dan Nesya.
*****
Di rumah sakit.
Beberapa saat kemudian Gimar mendapat kabar dari luar negri. Gimar berusaha menyembunyikan kekesalannya, karena keadaan kediaman Gildan di luar negri biasa-biasa saja, tidak ada jejak Shita di sana. Namun, dia merasa sedikit lega, karena, Mark mulai mau makan, Mark terpaksa, karena itu, syarat untuk melihat Shita, dirinya harus sembuh.
Mark berhenti makan saat melihat Gimar berhenti bicara di telepon.
"Siapa?" Tanya Mark pada Gimar.
"Abi, dia tahu kalau tuan muda mengintainya." Jawab Gimar.
"Anak buah si*lan!" Gerutu Mark.
"Tuan muda, Abi adalah pegawai anda, sama seperti saya, jiwa kewaspadaannya sangat tinggi. Saran saya, ikuti persyaratan Abi, itu juga kalau tuan muda ingin melihat nona muda." Seru Gimar.
Mark menarik nafasnya begitu berat. "Tarik semua utusan kita, jangan ada satupun yang mengikuti Abi." Perintah Mark.
Gimar tersenyum, dia langsung meng otak atik ponselnya, menarik semua utusan Emanuel Group yang mengintai rumah Abi.
********
Di rumah kecil Abi.
__ADS_1
Abi tersenyum melihat keadaan kembali tenang. Dia langsung menelpon Jane.
"Ada apa sayang?" Sapa Jane.
"Jane, malam ini tolong kamu bawa mobil Shita ke perbatasan, tinggalkan mobil itu di sana, aku akan menunggu kamu di sana." Seru Abi.
"Bagaimana kalau hilang? Itu mobil mahal!" Rengek Jane.
"Biar saja, kita hilangkan jejak Shita, sebelum memindahkan dia, jangan lupa, pakai sarung tangan, ikat rambutmu, pakai topi, pakai kaca mata dan juga masker, jangan sampai jejak DNA mu tertinggal di mobil itu." Seru Abi.
"Baiklah, aku mengerti jawab Jane.
Setelah selesai berbicara dengan Abi di telepon, Jane langsung menemui Shita.
"Shita, mana kunci mobilmu? Kami ingin menjauhkan jejak mobil kamu dulu." Seru Jane.
"Dalam tas aku kak Jane." Seru Shita. Shita segera bangkit dan meraih tasnya, dia memberikan kunci mobilnya pada Jane.
"Nanti malam aku keluar, kamu hati-hati di rumah ya." Seru Jane.
Shita hanya tersenyum dan mengangguk.
******
Setelah merasa aman, Jane segera melaju cepat mengendarai mobil Shita, membelah jalanan malam yang mulai sepi. Berjam-jam, Jane menempuh perjalanan, akhirnya dia sampai tempat tujuan. Terliat di depannya, sebuah mobil menyala dan mematikan lampu sorot mobilnya. Jane faham itu Abi.
Jane mamarkirkan mobil Shita, tidak jauh dari perbatasan kota. Setelah Jane turun dari mobil Shita, mobil Abi langsung mendekat. Jane pun langsung masuk kemobil suaminya. Melihat istrinya sudah duduk sambil memasang sabuk pengaman, Abi langsung melajukan mobilnya, meningalkan tempat itu.
"Di mana kunci mobil itu?" Tanya Abi.
"Ini." Jawab Jane sambil memperlihatkan kunci mobilnya.
"Kita buang dulu kunci itu kekota sebelah." Seru Abi. Dia menambah kecepatan mobilnya.
Merasa cukup jauh berkendara di kota sebelah, Abi langsung membuang kunci mobil Shita, dia pun segera memutar arah untuk kembali.
"Setelah sampai di rumah papa kamu, kamu nanti kabari Shita, kalau kamu tidak pulang." Seru Abi.
"Kasian Shita, dia hanya sendirian di rumah kita." Rengek Jane.
"Ini juga demi dia." Seru Abi.
Jane pasrah, mengikuti rencana Abi, demi menghilangkan jejak Shita. Sesampai rumah papanya. Jane, langsung mengirim pesan pada Shita, kalau mereka tidak kembali malam ini. Sedang Abi, dia kembali kerumah kecil dia.
*********
__ADS_1
Pagi-pagi buta di ruang perawatan Mark nampak heboh, saat seorang anak buah Mark, melapor kalau mobil Shita ditemukan di perbatasan Kota. Dengan emosi yang memuncak. Mark meminta sebagian besar anak buahnya, mencari Shita di kota itu.
Semua orang dibuat repot dan pusing karena kepergian nona muda mereka. Keadaan perbatasan pun nampak ramai karena aktivitas orang-orang Emanuel Group.
Sedang Abi, dia merasa puas mempermainkan anak buah Mark, yang kesana kemari mencari keberadaan istri tuan muda mereka tersebut.
Abi meraih poselnya, dia langsung menelpon Jane, istrinya.
"Iya sayang." Jawab Jane begitu senang.
"Kamu minta Shita bersiap, karena mobil bus yang membawa anak-anak panti akan lewat di sana, aku sudah mengatur semua ini, Shita akan sembunyi di panti asuhan." Seru Abi.
"Panti Asuhan milikmu?"
"Iya," jawab Abi.
"Kau memang jenius sayang, aku yakin Mark tidak akan tahu dan tidak akan menyadarinya." Seru Jane.
"Iya, aku juga masih punya rencana lain, ayo bantu aku selesaikan rencana ini." Pinta Abi.
Dengan perasaan yang begitu bersemangat, Jane langsung mengirim pesan pada Shita, untuk meminta Shita bersiap-siap dan mengatakan kata sandi, agar mobil yang berhenti mau membawanya.
Sedang di rumah Jane dan Abi. Shita merasa sangat lega dan bahagia, akhirnya dia bisa keluar dari rumah Jane, sangat menegangkan tinggal di rumah ini, Shita takut suatu saat Mark menemukannya di sini.
*****
Seperti biasa, banyak para petugas keamanan Emanuel Group yang bekerja sama dengan pihak kepolisian setempat razia di jalananan.
Supir yang menyetir bus, milik panti Asuhan, yang membawa rombongan anak-anak panti Asuhan Emanuel Group, untuk jalan-jalan, mulai melintasi jalanan itu, sang sopir langsung menelpon Abi, saat menemui razia di jalan raya.
"Santai saja pak, katakan, anda membawa anak-anak panti jalan-jalan, setelah dari sana, bapak langsung masuk perumahan, nanti di sana anda berhenti saja, saat seorang wanita mengatakan sandi "aku ikut," bawa dia dan segera kembali lagi kepanti." Seru Abi.
Sang sopir langsung memutuskan panggilan teleponnya, karena giliran mobilnya yang diperiksa.
"Selamat siang pak," seru supir Bus Panti Asuhan, dia menyapa petugas kepolisian lebih dulu.
Polisi lalu lintas itu melihat nama yang tertulis di body bus itu, jelas terpampang Emanuel Group. Tanpa banyak tanya, petugas keamanan Emanuel Group dan pihak kepolisian mempersilahkan mobil itu lewat dan meneruskan perjalanan mereka.
Setelah mengikuti jalur-jalur yang Abi instruksikan, akhirnya supir bus melihat seorang wanita berdiri di bawah pohon, dengan memakai masker dan kacamata hitam, sang sopir mengehentikan busnya dan langsung membuka pintu.
"Aku Ikut." Seru Shita.
"Naiklah," jawab supir bus. Shita langsung masuk, dan segera mencari tempat duduk yang aman.
Perjalanan Shita menuju panti asuhan pun di mulai.
__ADS_1