
Melihat senyuman di wajah Shita, tentu setiap mata yang melihatnya, pasti mengira dia bahagia. Tapi apa yang ada di hatinya hanya dia dan Tuhan yang tau. Shita selalu bermain dengan anak-anak, tapi di taman yang ada di bagian belakang panti Asuhan itu. Shita sangat takut jika keluar, dia hanya berani bermain di bagian belakang saja, karena pagar beton pembatas yang tinggi, membuatnya merasa aman bermain di sana.
Shita melamun sambil memegang gelas. Memikirkan dirinya dan juga Mark. Namun keceriaan anak-anak panti, membuat lamunananya, akan masalahnya dengan Mark buyar. Anak-anak panti, mengajaknya bermain lagi. Tapi, jika dia sendirian, tentu bayangan Mark sangat menyiksa hatinya kembali.
Setiap malam Shita hanya sendiri di kamarnya. Shita hanya memandangi wajah Mark, lewat potongan majalah yang memuat berita tuan muda itu, yang dia simpan, untuk pengobat rindunya, pada lelaki menyebalkan, namun membuatnya jatuh cinta.
Hanya potongan majalah yang dia simpan, di mana wajah tuan muda itu terpampang, sebagai teman tidurnya.
*****
20 hari Shita menghilang, bagi orang lain, itu masih waktu yang singkat, tapi tidak bagi Mark, dia sangat sulit menjalani hidupnya, karena terlanjur nyaman berdampingan dengan wanita yang bernama Rashita itu. Berulang kali Mark meng acak-acak rambutnya, kepalanya pusing, kemanapun dia mencari Rashita, dia tidak pernah menemukan wanita itu. Mark putus asa, dia menelpon Gimar, meminta Gimar untuk menghubungi Abi.
"Tuan muda yakin?" Gimar memastikan keputusan tuan mudanya itu.
"Aku yakin, aku sangat tersiksa tidak tahu kabar istriku, biarlah aku menuruti ke inginan Abi, melihat Shita dengan mata kepalaku, lebih baik. Daripada aku bersikeras membawanya kembali, tapi aku tidak berhasil sedikitpun."
"Baiklah tuan muda, saya akan menghubungi Abi, saya harus beri dia jaminan, agar dia percaya pada kita, karena kita kemaren mengingkari kesepakatan dengannya."
"Kalau perlu, berikan semua aset Emanuel Group buat Abi." Sahut Mark.
***
Setelah pembicaraannya ditelepon dengan tuan mudanya ber akhir. Gimar langsung menghubungi Abi. Menyampaikan keinginan tuan muda tersebut.
"Aku tidak percaya," jawab Abi di ujung telepon sana.
"Abi, aku mohon, kasian tuan muda, kali ini kami akan melakukan apa saja, asal kau percaya pada kami." Seru Gimar.
"Aku akan pikir-pikir dulu. Sampai jumpa Gimar, nanti aku akan hubungi kamu lagi."
"Tapi, Abi---" Gimar tidak bisa melanjutkan perkataannya, karena Abi sudah memutuskan panggilan mereka.
******
"Hoowh!" Teriak Abi, dia begitu girang, teriakannya membuat Jane kaget.
"Ada apa? Kenapa kau berteriak?"
Abi berjalan mendekati Jane, dia memeluk Jane begitu gemas. "Rencanaku berhasil lagi," seru Abi.
"Benarkah?" Jane melepaskan pelukan Abi. Dia sungguh bahagia, melihat Abi sebahagia ini.
"Semoga rencana selanjutnya juga berhasil." Seru Abi. Jane dan Abi berpelukan kembali.
Setelah makan siang, Abi pergi kesebuah perusahaan ice Cream. Lumayan lama dia menghabiskan waktu, akhirnya dia mendapatkan ke inginannya, dia bisa mendapatkan satu unit mobil yang khusus berjualan ice cream, dan beberapa seragam. Mobil itu langsung di kirim Abi ke panti asuhan, Emanuel Group.
__ADS_1
Terlihat di tangan Abi, dia memegang beberapa seragam penjual ice cream. Abi tersenyum sendiri memandangi seragam yang ada di tangannya. Dia segera berlari menuju mobilnya, setelah meletakkan yang ada di tangannya itu pada kursi di sebelahnya, Abi langsung melajukan mobilnya menuju Emanuel Group.
***
Gedung Emanuel Group.
Abi melangkahkan kakinya begitu santai menuju lift, semua orang yang mengenali Abi, mereka semua memberi salam pada Abi. Tidak sulit, akhirnya Abi bisa sampai di ruangan Mark.
"Selamat siang tuan muda." Sapa Abi.
Mark tersenyum melihat Abi datang ke kantornya. "Abi" sapa Mark, dia sangat bahagia.
"Tuan muda, kali ini, jika tuan muda membohongi saya, saya pastikan, ini terakhir usaha saya mencari nona muda."
"Abi, kali ini aku akan ikuti apa mau kamu, walau Shita di depan mataku, aku tidak akan menyentuhnya, walau aku ingin sekali memeluknya." Mata Mark nampak berkaca-kaca, membayangkan sosok wanita yang bernama Shita itu.
"Baiklah, saat ini, aku benar-benar mempercayai anda, besok, jam 9 pagi, temui saya di taman kota, saya akan menunggu anda dan Gimar di sana." Seru Abi.
"Aku pasti datang dan aku akan tepati janjiku, tidak akan mendekati Shita, walau aku melihatnya."
"Baiklah tuan muda, semoga dengan melihat nona muda, kerinduan anda bisa sedikit berkurang."
Setelah menyampaikan maksudnya, Abi pergi dari Gedung Emanuel Group, dia pulang kerumah kecilnya, karena Jane tengah berada di rumah kedua orang tuanya. Tidak lupa dia menelpon panitia acara untuk anak-anak panti, dan memastikan pesta kecil-kecilan besok berjalan lancar di panti asuhan itu.
*****
Ternyata Mark dan Gimar datang lebih dulu di tempat yang Abi janjikan. Abi tersenyum, untung saja dia juga datang lebih cepat. Setelah memarkirkan mobilnya, Abi berjalan mendekati Mark dan Gimar.
"Selamat pagi tuan muda." Sapa Abi.
Mark hanya mengangguk.
"Ini, kalian ganti baju dulu dengan seragam ini." Abi memberikan dua seragam penjual ice cream pada Mark dan Gimar.
"Kalau kau marah karena kemaren, tolong lampiaskan saja padaku Abi, jangan kau hina tuan muda dengan memakai seragam penjual ice Cream ini!" Bentak Gimar.
"Kalau nona muda melihat kalian, aku jamin dia akan lari, bayangkan kalau kalian memakai seragan ini, kaos tangan ini, topi ini, dan masker ini. Ku jamin, nona muda akan nyaman berkeliaran di dekat kalian." Seru Abi.
Mark menatap Abi, dengan tatapan yang begitu tajam, sambil mencerna kata-kata Abi.
"Kalau kalian tidak mau, tidak mengapa, aku sudah mengeluarkan ribuan dolar untuk membeli mobil penjual ice Cream beserta dua pelayan aslinya, demi penyamaran kalian, karena di acara itu aku pastikan nona muda hadir." Seru Abi.
"Abi," seru Mark, dia menahan Abi yang mulai melangkah untuk pergi.
"Berikan seragam itu, aku mau memakainya." Seru Mark.
Abi tersenyum, dia memberikan seragam penjual ice cream itu pada Mark. "Tapi memakainya nanti saja, ayo masuk mobilku, jangan pakai mobil kalian." Seru Abi.
__ADS_1
Dengan langkah kaki yang begitu semangat, Mark mengikuti Abi menuju mobil itu. Mark duduk sendiri di belakang, Gimar duduk di depan, disamping Abi yang menyetir mobilny sendiri. Mobil Abi perlahan meninggalkan taman kota itu, dan melaju menuju tempat yang ingin dia tuju.
Melihat jalanan yang di lalui, Mark merasa tidak asing. "Ini jalanan yang menuju panti Asuhan, apa kita kesana?" Tanya Mark pada Abi.
"Kita lihat saja tuan muda." Jawab Abi.
Lama membelah jalanan, terlihat di depan mata mereka ada mobil ice cream. Abi menekan klakson mobilnya, akhirnya mobil ice cream yang parkir di pinggir jalan itu mulai melajukan mobilnya.
Mobil ice cream itu dan mobil Abi, melaju ber iringan memasuki area panti asuhan. Kedua mobil itu perlahan melaju menuju jalanan yang menuju kebagian belakang panti asuhan itu. Karena di sana acara akan berlangsung.
Sorak sorai anak-anak panti asuhan begitu menggemuruh saat melihat mobil ice cream berhenti di salah satu sudut lapangan itu.
Mark, Gimar, dan Abi masih berada di dalam mobil Abi. Abi sengaja parkir di jarak yang agak cukup jauh dari mobil ice cream itu, untuk jaga-jaga, dia khawatir, Mark akan mengejar Shita.
Di kejauhan Mark tersenyum melihat keceriaan anak-anak itu dari balik kaca mobil Abi, tiba-tiba Mark membeku, saat melihat seorang wanita yang berada di tengah anak-anak itu.
Shita tertawa melihat polah anak-anak yang antusias meliat dan berlari menuju mobil ice cream.
Abi mulai was-was, tangannya sudah siap pada tombol pengunci otomatis mobilnya, andai Mark mengingkari janjinya, Abi akan melajukan mobil itu meninggalkan panti Asuhan.
ternyata ke khawatiran Abi tidak terbukti. Mark mengambil ponselnya, dan mengambil foto Shita dari mobil itu. Dapat mengambil foto Shita dengan kamera ponselnya, Mark tersenyum, sambil memandangi layar ponselnya.
Mark begitu bahagia bisa melihat Shita lagi.
"Terima kasih tuan muda, karena anda menepati janji anda. Silahkan anda ganti baju anda dengan seragam ini, agar anda bisa melihat nona muda dari dekat, mungkin juga, bisa mendekatinya." seru Abi.
Mark tersenyum, tapi air matanya menetes, dia sangat bangga pada Abi. "Terima kasih Abi." ucap Mark sambil mengusap air mata yang berhasil lolos dari pelupuk matanya.
****
Besambung aja ya, padahal aku iseng banget ini mau label End 🤣🤣🤣🤣
******
Mohon maaf ya, cuma bisa 2 eps hari ini. Author ingin halan-halan dulu, mumpung tempat wisata sudah buka.
Kapan up lagi?
Pas Author lagi rebahan pasti up lagi.
Selamat nahan diri dari mau jambak Author.
__ADS_1