Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda

Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda
Bab 52 Bunny Kembali


__ADS_3

Langkah kaki Shita dan Mark tertahan saat melihat dua orang yang berdiri di ruang tamu. Begitu juga dua wajah yang memandang ke arah mereka berdua. Ana dan Sammy tersenyum saat melihat dua orang berjalan ke arahnya.


"Mama! Papa!" Shita berlari menuju Sammy dan Ana. Mereka bertiga berpelukan.


Randha sudah dari tadi menyambut besannya itu. Saat pak Iqmal memberitahu, kalau kedua orang tua Shita datang berkunjung. Melihat wajah Mark yang begitu beda. Randha yakin, kalau anaknya itu mencintai wanita yang dinikahinya itu.


"Maafkan kami tuan muda, karena kami datang berkunjung tiba-tiba, Ara mulai membaik, dan izin cutiku akan segera habis." Seru Sammy.


"Mulai sekarang, papa tidak perlu lagi kembali ke luar kota." Seru Mark.


Ana dan Shita langsung melepaskan pelukan mereka karena mendengar perkataan Mark barusan.


"Sial! Sepertinya dia akan mengirim papa mamaku lebih jauh lagi!" Gerutu hati Shita.


"Apa saya membuat kesalahan tuan muda?" Sammy sedikit cemas, mengingat saat peristiwa penangkapan atas tuduhan korupsi itu sungguh membuatnya jera.


"Tuan muda? Aku menantumu kan?" Mark tersenyum pada Shita.


Sammy merasa canggung. "Maaf, saya terbiasa memanggil anda tuan muda."


"Kenapa kami harus pindah lagi? Kami sudah punya banyak teman baik di sana." Ana ikut bicara.


"Jangan mengirim papa dan mamaku lebih jauh lagi, aku tersiksa jauh dari mereka, walaupun sering video call, tapi, aku tetap ingin memeluk mereka," Ringis Shita. Dia berbalik dan menangis dalam pelukan Ana.


Mark berjalan mendekati Shita yang menangis dalam pelukan mamanya. Tangannya mengusap kepala Shita. "Siapa yang menjauhkan mama dan papa darimu, justru aku sekarang berusaha membeli kembali rumah lama kalian, dan aku sedang berusaha mendapatkan kembali perusahan papa, jadi mama dan papa akan tinggal di kota ini, di istana yang menjadi saksi tumbuh kembangnya calon ibu dari anakku ini." Ucap Mark.


Shita melepas pelukannya pada Ana, dia, Ana, dan Sammy fokus memandangi Mark, seakan tidak percaya dengan yang Mark ucapkan.


"Rumah kami dan perusahaan kami?" Sammy tidak percaya.


"Iya, aku tidak tahan melihat ratuku menderita karena jauh dari kalian, tolong, terimalah demi dia." Mark menarik Shita. Dia memeluk Shita dari belakang.


"Untuk bisa dekat dengan Shita, permata kami, jangankan kembali pada kehidupan lama kami, menjadi penyapu jalananpun aku tidak masalah!" Seru Sammy.


"Menginaplah semalaman di sini, mungkin besok rumah lama kalian baru siap di tempati." Seru Mark yang tidak melepaskan pelukannya sama sekali.


Halia datang membawa minuman dan beberapa makanan.


"Bu Halia, siapkan kamar tamu untuk mertuaku." Pinta Mark.


Halia terkejut, pertama kali Mark memerintahnya dengan lembut. "Baik tuan." Jawab Halia sambil undur diri.


Mark melepaskan pelukannya, lalu merubah posisi Shita menghadapnya. "Aku pergi bekerja, kamu hari ini tidak usah kuliah, temani papa dan mama, kamu juga pasti masih lelah bukan? Maafkan aku yang terus membuatmu lelah." Bisik Mark.


Shita hanya diam.


"Shita sakit?" Tanya Ana, dia merasa putrinya nampak pucat sejak tadi malam.


"Tidak mah, dia hanya kurang tidur karena menunaikan tugasnya sebagai seorang istri," jawab Mark dengan mudahnya.


"Huwaaa, kenapa dia berkata seperti itu." Jerit batin Shita.


Jawaban Mark membuat Sammy, Ana dan Randha bungkam.


"Jaga dirimu baik-baik, aku pergi." Satu ciuman mendarat di kepala Shita.


"Shita, antar suami kamu kedepan." Pinta Ana.


"Baik mah," jawab Shita.


Mark kembali melingkarkan tangannya di pinggul Shita. Mereka berdua melangkah menuju pintu utama.


Sedang Ana dan Sammy kembali duduk dan berbincang ringan dengan Randha.


Di depan rumah.


"Selamat pagi tuan muda." Sapa Gimar, Gimar memperlihatkan kunci mobil yang menggantung di jarinya.

__ADS_1


Mata Shita berbinar melihat mobil yang terparkir di depan matanya, mobil itu adalah mobilnya, yang dia jual dulu. Dia segera berlari menuju mobil itu. Sedang wajah Mark nampak kesal, melihat mobil yang menurutnya butut.


Di halaman sana seorang wanita dengan linangan air mata kebahagiaan, mengitari mobil yang pernah dia jual. Sedang di teras rumah, wajah Mark nampak kesal.


"Kenapa kau membawa mobil butut itu ke halaman rumahku!" Bentak Mark.


Brukkk!


Mark merasakan seseorang memeluknya dari belakang.


"Terima kasih." Ringis Shita.


Perasaan Mark bergetar, menyadari kalau Shita memeluknya lebih dulu. Shita melepaskan pelukannya, dia berjalan menuju hadapan Mark. "Mobil itu, ku beli dari tabungan masa kecilku, namun aku harus menjualnya saat papa sakit. Terima kasih." Ringis Shita. Dia kembali memeluk Mark lebih dulu.


Mark menganga melihat kebahagiaan Shita. Dia membalas pelukan Shita, sedang matanya menatap sayu ke arah Gimar. Gimar tersenyum menanggapi tatapan mata Mark, dia menaik turunkan alisnya, wajahnya nampak girang melihat Mark bahagia dengan kinerja nya.


Tanpa berkata pamit, Gimar meninggalkan rumah Mark lebih dulu, sedang kunci mobil Shita, dia berikan pada pembantu yang berdiri mematung dekat pintu.


Shita melepaskan pelukannya. "Maafkan aku, aku terlalu bahagia, pertama, kau buat aku bahagia karena aku akan dekat dengan papa dan mamaku, sekarang kau memberikan itu." Ringis Shita sambil menunjuk ke arah mobilnya.


"Aku senang kau bahagia," jawab Mark.


"Terima kasih banyak, maafkan aku, karena aku kau terlambat berangkat." Seru Shita sambil merapikan dasi Mark.


"Hei, aku ini bosnya, tidak bekerja pun tidak masalah." Seru Mark.


"Jiwa sombongmu menyala lagi." Gerutu Shita.


Mark tersenyum. "Aku berangkat beib." Mark mendaratkan ciumannya di kepala Shita, lalu turun dan mendarat lagi di bibir Shita, tanpa rasa malu, Shita membalas ciuman Mark.


Mark melepas ciumannya, dengan langkah cepat dia menuju mobilnya. Sedang Shita selalu tersenyum melepas kepergian Mark. Setelah mobil Mark melaju keluar dari gerbang, Shita kembali masuk kedalam rumah dengan semangat dia berlari.


"Mamah! Bunny kembali!" Seru Shita.


Randha menganga, dia mengira bunny itu laki-laki, kekasih Shita.


Randha semakin bingung mendengar kata bunny dijual.


"Bunny?" Gumam Randha.


"Bunny nama panggilan buat mobil kesayangan Shita." Seru Sammy.


"Shita menyebutnya bunny, karena dia menabung seluruh uangnya dalam tabungan boneka yang berbentuk kelinci." Seru Ana.


Randha merasa lega, setelah tau apa itu bunny.


"Mama bilang, suami itu bagai dewa, lihat, Mark mengembalikan bunny padaku, ternyata itu hal mudah baginya." Seru Shita dengan girangnya sambil memperlihatkan kunci mobilnya.


"Kau meminta Mark mencarikan bunny?" Tanya Ana.


"Aku saja terkejut saat melihat bunny mama." Rengek Shita.


"Maafkan papa, karena papa sakit waktu itu, kau malah harus melepaskan bunny." Ringis Sammy.


"Waktu itu papa lebih penting dari bunny." Seru Shita.


"Ayo, temani papa mama kamu, jangan beridiri di sana saja." Seru Randha.


***


Sepanjang perjalanan Mark selalu tersenyum. Entah kenapa, sejak kemaren sore, senyuman itu selalu mudah terukir di wajah sombongnya. Apalagi saat mengingat Shita yang memeluknya lebih dulu. Kebahagiaannya kian memuncak.


Kebahagiaan juga terpancar di rumah Mark. Shita selalu bersandar pada tubuh Ana, sedang Ana dan Randha asyik saling bercerita masa kecil Mark dan masa kecil Shita.


Randha menarik nafas begitu dalam, saat dia bercerita perseteruan Mark dan almarhum papanya. "Dari dulu Mark anak baik, tapi sejak perselisihan itu, dia berontak, dan kelakuannya sangat mencekik leherku." Ringis Randha.


"Aku mengerti, aku juga punya anak laki-laki, kelakuannya membuat kami sering mengusap dada," seru Ana. Dia juga teringat Gildan.

__ADS_1


"Aku tidak bisa menyalahkan suamiku, saat dia bersikeras menuntut Mark untuk masuk jurusan yang akan menangani perusahaan ini, karena dia satu-satunya anak laki-laki kami. Sebagai ibu aku sedih melihat impian anakku kandas." Ringis Randha.


"Apa impian Mark mah?" Shita bertanya pada Randha.


"Dia ingin jadi dokter seperti sahabatnya Andreas, tapi saat itu papa Mark sudah sakit keras, hingga tuntutan kehidupan membuat papa Mark memaksanya untuk bersiap lebih awal, untuk melanjutkan perusahaan keluarga, dan Mark harus kuliah dengan jurusan yang berkaitan erat dengan perusahaan ini." Jawab Randha.


Randha menarik nafasnya begitu dalam untuk melanjutkan ceritanya. "Sebab itu kami mendirikan banyak rumah sakit, papa Mark berharap, Mark bisa membuka matanya, karena menolong orang dalam kesehatan tidak harus menjadi dokter. Namun kemarahan Mark memuncak. Dia tidak bisa melihat niat baik papanya, bagi Mark papanya egois. Dia patuh dan terus kuliah, namun hatinya mati. Dia seperti bukan manusia lagi, sikapnya begitu menakutkan sejak saat itu." Ringis Randha.


Shita terdiam mendengari cerita Randha.


"Tapi Mark ku yang asli akhir-akhir ini sudah kembali, terima kasih sayang." Randha menyetuh tangan Shita.


Shita mengangguk dan tersenyum. Sedang Sammy baru faham, kenapa selama mengenal Mark, Mark yang dulu dan Mark yang sekarang jauh berbeda. Dia tersenyum pada Shita. Dirinya bangga melihat putrinya membantu orang lain menjadi lebih baik.


Obrolan mereka terus berlanjut.


******


Mark pulang tepat sebelum jam makan malam, setelah Mark membersihkan diri dan mengganti pakaian, mereka semua makan malam bersama. Hanya obrolan santai antara Mark dan Sammy menghiasi makan malam mereka. Selesai makan malam, semuanya kembali ke habitat mereka masing-masing.


Di kamar Mark dan Shita.


"Ada apa?" Mark heran melihat Shita yang selalu memandanginya.


"Aku yakin, setiap orang jadi jahat atau menyebalkan karena ada luka atau alasan tertentu." Seru Shita.


"Terus? Apa hubungannya denganku?"


"Aku baru tahu, kenapa sebelum ini kau sangat menyebalkan, kau tahu, kau orang pertama yang aku benci saat kita pertama kali bertemu di rumah sakit, saat Ara kecelakaan. Ternyata, kau hanya berontak karena ke inginanmu tidak terwujud, mama Randha banyak cerita tentangmu, ternyata di balik wujud garangmu, ada hati yang begitu lembut."


"Kau menggodaku?"


"Mark!" Ringis Shita, karena Shita geram dengan perbuatan Mark padanya.


"Bisakah kita bicara dulu?" Ringis Shita.


Mark menghentikan kegiatannya, mereka berdua duduk di tepi tempat tidur.


"Kenapa kau sangat marah saat mimpimu jadi dokter kandas?"


"Aku ingin menolong orang, itu saja."


"Jadi pengusaha besar kau juga bisa menolong orang, kau punya banyak rumah sakit, kenapa tidak kau khususkan satu rumah sakit untuk pengobatan gratis?"


Pertanyaan Shita membuat senyuman terukir di wajah Mark. "Kau tahu, kadang merasakan sakit hati yang keterlaluan malah menutup mata kita, kenapa selama ini hal itu tidak terpikir olehku?" Mark mulai menceritakan kemarahannya pada papanya, sedang Shita mendengari cerita Mark sambil mengagumi wajah tampan itu.


"Aku akan khususkan satu unit rumah sakitku untuk melayani pengobatan gratis!" Seru Mark.



*


*


*


"Hei, sudah, kau sengaja buat harga diriku hilang karena membuatku menceritakan cerita bawang?"


Kekaguman Shita pada wajah itu buyar. "Mark---"


"Jangan bicara lagi, aku lapar dan aku ingin makan." Mark langsung memotong kata-kata Shita.


"Bukannya kita baru selesai makan? Masa kau lapar lagi?"


"Bukan makan itu, tapi makan kamu!"


Shita tertawa, merasa geli karena perbuatan Mark padanya. Malam yang indah kembali mereka lewati bersama.

__ADS_1


__ADS_2