
Dari Apartement Cindy, Mark kembali ke Gedung Emanuel Group. Sesampai ruang kerjanya, Mark meminta Gimar, untuk mengembalikan perusahaan dan rumah Sammy sebelumnya. Apa yang Mark inginkan, itu harus segera terwujud.
"Maaf tuan muda, tapi semua itu butuh waktu." Jawab Gimar.
"Aku tau, kerjakan secepatnya!" Pinta Mark.
"Baik tuan muda, saya akan mengurus berkas itu secepatnya." Sahutan Gimar.
***
Di Rumah Sakit.
Shita dan kedua orang tuanya menghabiskan waktu di ruang perawatan Ara. Shita selalu bersandar di tubuh mamanya. Sedang Ana dengan senang hati membelai rambut putrinya tersebut.
"Shita sayang, kamu pulanglah kerumah suami kamu, ini sudah sore." Pinta Sammy.
"Aku akan pulang, tapi papa pergi dulu sana, cari makanan buat makan malam nanti sama mama, terus … mama mandi dulu sana!" Pinta Shita.
"Usul anak ini benar juga, okelah, kalau begitu mama mau mandi," seru Ana.
"Papa juga keluar sebentar, eh tapi lama kayaknya, barangkali papa nostalgia dulu sama jalanan di sekitar sini, sudah lama papa tidak bertegur sapa dengan kerikil di pinggir jalan dan dedaunan yang berjatuhan di wilayah ini." Seru Sammy.
Shita hanya tersenyum menanggapi kedua orang tuanya.
Keadaan hening kembali, karena Ana sudah masuk kamar mandi, sedang Sammy sudah pergi. Terlihat yang berbaring di ranjang itu mulai mengerjapkan matanya. Shita tersenyum melihat Ara sadar. "Ara …." Ringisnya, dia segera duduk di kursi yang ada di samping ranjang perawatan Ara. Sedang tangannya menyentuh lembut tangan Ara.
"Shi---Shitta?" Ara tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ara, kenapa kamu nekat melakukan ini?" Ringis Shita, dia menggenggan tangan Ara.
"Aku … aku merasa bersalah padamu, maafkan aku, aku ingin menebusnya dengan mencelakai Mark, ku harap Mark mati setelah aku tabrak, agar kau bebas, tapi … kenapa kamu malah menyelamatkannya?" Ucap Ara begitu lemah.
"Ara, jangan melakukan hal yang membahayakan nyawamu."
"Untuk menebus semua kesalahanku, aku rela menukar dengan nyawaku."
"Ara, Mark sangat baik padaku, sebab itu aku melindunginya." Ringis Shita.
"Itu tidak mungkin!" Ucap Ara. Namun saat Ara memperjelas pandangannya, dia terdiam melihat tanda merah yang tak ber aturan memenuhi lekuk leher Shita. Ara tertegun, dia menelan salivanya.
"Kau yakin mau hidup dengan laki-laki rongsokan seperti Mark? Kau tau aku dan Mark--"
"Ara, jika seseorang terlanjur cinta padamu, dia tidak akan perduli akan keburukanmu, begitu juga aku. Aku tidak perduli dengan masa lalu Mark." Shita terdiam, dia bingung, kenapa kalimat ini terlontar begitu saja dari mulutnya.
Shita berusaha membujuk dan meyakinkan Ara. "Ara, tolong rahasiakan sebab pernikahan aku dan Mark, jangan kau beritahukan pada mama dan papaku. Semua itu awal yang buruk, tapi kami baik-baik saja sekarang, Ara, berjanjilah kau tidak akan membuka rahasia ini, janji?"
"Aku tidak ingin kamu menderita lagi." Ringis Ara.
"Aku tidak menderita, percayalah aku bahagia Ara."
Ara terdiam memikirkan setelah melihat Shita, juga mendengar pengakuan Shita. "Apa karena Mark mencintai Shita hingga dia meninggalkan aku? Kalau itu benar aku bahagia." Gumam hatinya.
"Ara … ku mohon jangan katakan apapun tentang awal pernikahan kami pada papa dan mamaku, biarkan mereka tahu kalau aku bahagia." Shita memohon kembali.
Ara masih diam tidak merespon kata-kata Shita.
"Araaa, kalau kau tidak mau jaga rahasiaku, aku tidak mau memaafkanmu karena kamu dan suamiku---"
"Baik! Aku akan diam! Tapi ingat! Jika Mark menyakitimu, aku akan katakan semuanya."
Shita menutup mulut Ara dengan telapak tangannya. "Jangan keras-keras! Ada mamaku di dalam kamar mandi itu!" Bisik Shita.
__ADS_1
"Orang tuamu? Di sini?" Ara tidak percaya.
"Mereka datang untuk menjenguk kamu!" Seru Shita.
"Kami tidak hanya menjenguk kamu sayang, tapi kami akan menemani kamu hingga kamu sembuh, papa Shita sudah dapat izin cuti untuk menetap di sini." Seru Ana yang baru keluar dari kamar mandi.
Seketika air mata Ara tumpah, dari kecil hingga sekarang Ana dan Sammy begitu menyayangi dan memberi perhatian lebih padanya. Ara merasa, Ana dan Sammy menyayangi dirinya lebih dari kasih sayang mama dan papanya padanya.
Suara pintu kamar terbuka, terlihat dua sosok laki-laki masuk ke ruangan itu.
"Mark?" Sapa Ana.
"Sore mah," sapa Mark yang datang bersama Sammy.
"Papa dan?" Shita heran melihat papanya dan Mark datang bersamaan.
"Kamu jahat! Masa papa kamu biarkan pergi sendiri? Kalau mertuaku di culik! Kau harus tanggung jawab!" Seru Mark yang berjalan mendekati Shita, dia langsung memeluk Shita dan mendaratkan satu kecupan di kepala Shita.
"Terima kasih, karena mempermudah usaha papa dan mamaku, mereka sampai lebih cepat karena bantuan kamu." Ucap Shita pada Mark.
"Tidak ada terima kasih beib, mereka orang tuamu, jadi mereka juga orang tuaku, yang ada aku yang berterima kasih, karena mereka menghadirkan sosok baik hati dan cantik sepertimu." Kecup*n lembut dari bibir Mark mendarat di pipi Shita.
"Kenapa dia bersikap manis seperti ini?" Ringis batin Shita.
Perlakuan Mark pada Shita membuat Ana menahan senyumnya.
"Sayang, kamu pulang saja bersama tuan muda, biar papa dan mama menemani dan menjaga Ara." Pinta Sammy.
"Tuan muda," Mark mendengus, karena Sammy memanggilnya tuan Muda.
"Terima kasih, karena memberikan cuti." seru Ana sambil memandang ke arah Mark.
Mark hanya menanggapi dengan senyumannya.
Dengan sangat terpaksa Shita pulang bersama Mark. Tangan Mark selalu melingkar di pinggul Shita. Membuat mata yang melihat yakin, kalau kehidupan mereka harmonis.
Ara menatap sayu ke arah Mark yang selalu menggandeng Shita. "Jika benar tuan muda menganggapmu. Aku bahagia Ta, setidaknya rasa bersalahku karena menjebakmu berkurang."
"Ara mau makan?" Pertanyaan Ana membuat Ara terkejut. Namun dia hanya menggeleng merespon pertanyaan Ana.
"Tante, terima kasih." Ringis Ara.
Ana tersenyum dan membelai pucuk kepala Ara.
****
Perjalanan pulang.
Shita tidak memperdulikan Mark sama sekali, dia hanya memandangi pemandangan dari jalanan yang dia lalui. Sedang Mark sesekali curi-curi pandang pada wanita yang duduk di sampingnya.
"Kau ingat janjimu? Kau bilang akan melakukan apapun dan bersedia menghabiskan masa tua disisiku." Pertanyaan Mark memecah kesunyian.
"Ingat!" Jawab Shita begitu dingin.
Keadaan hening kembali, Mark mendengus, dia lebih memilih fokus menyetir.
****
Sampai di kediaman Mark, Shita turun lebih dulu, dia berjalan cepat meninggalkan Mark. Mark lagi-lagi mendengus kesal melihat kelakuan Shita. Dia melangkahkan kakinya memasuki rumahnya. Sedang Shita sudah tidak terlihat lagi di pandangan matanya.
Saat sampai di depan pintu kamarnya, pintu kamar itu sudah terbuka. "Cepat juga langkah kakinya." Gerutu Mark. Benar saja, Shita sudah ada didalam kamar. Telihat Shita masuk ke kamar mandi. Dia tidak memperdulikan Mark sama sekali.
__ADS_1
Mark melangkah masuk kedalam kamarnya, dia mengunci pintu kamar dan meneruskan langkah kakinya, sambil melepas jas yang dia kenakan, kemudian melepaskan kemejanya, dia melempar semuanya kesembarang arah, sepatu dan kaos kakinya pun dia lempar seenaknya saja. Dia merehatkan tubuhnya yang lelah di sofa dengan bertelanjang dada, hanya mengenakan celana panjangnya. Dia menyandarkan tubuhnya, dengan merentangkan kedua tangannya di sandaran sofa.
Suara pintu kamar mandi yang tebuka membuat Mark merubah arah pandangannya ke arah pintu kamar mandi, terlihat seorang gadis keluar dengan rambut basah dan mengenakan handuk yang melilit di dadanya. Terlihat Shita melangkah menuju ruang ganti pakaian.
"Tunggu!" Seru Mark.
Langkah kaki Shita tertahan, mendengar seruan Mark.
Mark bangkit dan mendekati gadis itu, siapa lagi, dia Shita, istrinya. "Kapan kau menjalankan kewajibanmu sebagai seorang istri?"
"Bukankah kau aku sudah melakukan itu tadi malam!" Jawab Shita dingin.
Mark tersenyum, tidak mungkin dia bilang kalau tidak terjadi apapun tadi malam, kecuali ciuman.
"Aku tahu, tapi … aku ingin kau melakukannya dengan kesadaran dan rasa cinta?"
"Aku tidak bisa dan aku tidak tau, karena aku belum pernah." Jawab Shita.
"Hubungan badan itu mengalir sendiri beib, tanpa belajar khusus kamu akan bisa, proses itu mengalir sendiri dari dalam jiwamu. Saat kita melakukannya, instingmu akan membimbingmu beib."
"Bisa kita lakukan sekarang?" Mark semakin mendekatinya.
Shita diam tidak menjawab pertanyaan Mark. Mark berdiri di belakangnya, hembusan nafas Mark yang mengenai permukaan kulitnya membuatnya merinding.
Mark menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Shita. "Biarkan proses alami ini membimbing anggota badanmu, cukup buka diri dan hatimu, dan rasakan." Bisik Mark, dia terus berkegiatan di sana. Membuat Shita sedikit menggeliat.
Mark mengangkat wajahnya. Dia memutar arah tubuh Shita, hingga mereka saling berhadapan. "Aku ingin menagih janjimu?" Suara Mark terdengar bergetar.
"Jika kau ingin melakukannya lakukan saja! Kau bisa melakukan apapun yang kau mau bukan? Ayo! Lakukan apa saja ke inginanmu padaku, ayoo lakukan saja! Aku tidak akan punya kesempatan untuk menolak keinginan tuan muda angkuh sepertimu!" Jawab Shita sambil melepaskan dengan kasar handuk yang melingkar di tubuhnya.
"Shita …." Ucap Mark lirih.
Mata Mark terbelalak melihat pemandangan yang tersuguh di depan matanya. Dia mendekatkan dirinya, tangannya membelai wajah Shita. "Aku ingin melakukannya, namun aku berharap kau melakukan semua ini demi cinta." Tangan Mark menjalar ke bagian tubuh yang lain.
Mark kembali menciumi leher jenjang shita dengan lembut. Melihat Shita diam saja Mark menggiring tubuh yang polos itu kearah tempat tidur. Dengan semangat Mark menikmati setiap jengkal tubuh indah Shita.
Mark beridiri untuk melepaskan hal ter akhir yang masih melekat padanya. Lalu kembali menindih tubuh wanita yang pasrah diatas tempat tidur itu. Mark mulai memasang ancang-ancang. Sedang Shita membuang wajahnya kearah lain. Air matanya terus menetes.
Mark menjatuhkan dirinya begitu kasar di samping Shita, membatalkan keinginannya yang mulai memuncak. Perasaannya begitu kesal melihat Shita yang terpaksa menyerahkan dirinya, Mark berharap Shita melayaninya dengan tulus, keterpaksaan Shita jelas terlihat, karena dia terus menangis seperti itu.
"Shita! Maafkan aku, aku menikahi kamu memang untuk balas dendam! Tapi bukan balas dendam Ara saja, aku sakit hati, karena calon istriku yang lari bersama Gildan. Ucap Mark.
Shita langsung merubah arah wajahnya menghadap ke arah Mark. "Aku? A--aaa-ku jadi sasaran balas dendam kalian?"
"Nesya, calon istriku, dia lari bersama kakakmu, aku dan Ara adalah korban, hingga kami saling bertukar kesedihan." Ucap Mark. Dia bangun dan pergi menuju kamar mandi.
Shita bangun dari berbaringnya, dia duduk di tempat tidur, bersandar pada sandaran tempat tidur itu dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga bagian dada. "Mereka korban bambang? Mereka membalas bambang lewat aku? Lihat bambang! Ketakutanku selama ini terjadi!" Ringis Shita.
Seketika air matanya tumpah. Shita memeluk bantalnya dan kembali berbaring. Hingga dia tertidur dengan posisi meringkuk memeluk bantal.
Sedang Mark, masih menghabiskan waktunya dengan berendam dalam bathtub. Menetralkan ledakan dalam dirinya yang meninggi, namun harus ditahan, karena batal meluncur.
Lama berendam Mark kembali ke kamar dengan mengenakan baju tidurnya, dia segera merebahkan dirinya di samping Shita, dengan posisi membelakangi gadis itu.
"Baiklah Shita, aku akan memberimu kesempatan, agar bisa merasa lebih nyaman dulu dekat denganku." Lirih hati Mark, dia mulai memejamkan matanya.
******
Melihat dukungan kalian dari jempol dan komen serta jumlah favorite di karya ini, membuat Author terharu dan bahagia. Perdana Author dapat dukungan yang indah seperti ini di karya genre romantis ini.
Sebagai ungkapan terimakasih Author atas dukungan kalian semua, Author up 1 eps lagi. Author sangat bahagia, makanya Author sempatkan nulis di sela-sela kesibukan RL.
__ADS_1
Terima kasih semuanya. 🥰🥰🥰