
Mark sangat bahagia, dia sungguh tidak merasa kesulitan, walau sepanjang waktu mengenakan sarung tangan dan masker. Demi bisa dekat dengan Shita. Acara panti asuhan sudah selesai. Beberapa orang mulai membersihkan lapangan yang ada di belakang panti itu. Sedang Mark, masih memandangi Shita di kejauhan.
"Tuan muda," Sapa Abi.
"Hem," Jawab Mark.
"Aku tidak mengusir, tapi sebaiknya tuan muda pulang dulu, besok dan hari-hari berikutnya silahkan tuan muda kembali, yah, walau hanya sebagai pedagang ice cream." Seru Abi.
"Aku---aku boleh kembali lagi?" Tanya Mark, wajahnya begitu bahagia.
"Hem, selama nona muda tidak menyadarinya, selama itu pula tuan muda boleh melakukan seperti kegiatan hari ini." Seru Abi.
Mark langsung memeluk Abi. "Terima kasih Abi." Ucap Mark.
Abi menepuk punggung Mark. "Sama-sama tuan muda." Jawab Abi.
Setelah acara itu, Mark selalu datang kepanti Asuhan sebagai penjual ice cream tersebut. Dia datang kesana dengan mobil yang lain. Sebelum turun dari mobilnya, dia selalu memandangi Shita dari kejauhan, jika merasa cukup memandangi Shita, Mark segera ganti baju, memakai lensa mata, alat perubah suara, masker penutup wajah, sarung tangan juga topi. Atribut itu selalu siap, demi membantu dirinya agar bisa dekat dengan Shita.
Seminggu sudah, Mark menyamar jadi penjual ice cream di panti asuhan itu, agar bisa melihat istrinya.
Seperti biasanya, Shita duduk santai dekat mobil ice cream yang setiap hari memberikan ice cream gratis buat anak-anak panti. Saat Shita duduk menikmati ice cream darinya, saat itu pula Mark sangat bahagia bisa sedekat itu dengan istrinya.
Setelah menghabiskan ice creamnya, Shita kembali lagi kedalam gedung panti Asuhan. Sedang Mark kembali bersantai dalam mobil ice cream, sambil bekerja lewat laptopnya. Karena yang bekerja membuat ice cream dan melayani anak-anak panti, cukup dua orang pegawai asli ice cream tersebut. Mark hanya keluar dari mobil, jika ada Shita di luar sana.
Shita berdiri di dekat jendela memandangi mobil ive cream itu. Entah kenapa dia merasakan perasaan aneh, jika bersama pelayan itu.
"Ekkhem!" Suara batuk palsu seseorang membuyarkan lamunannya.
Shita memutar wajahnya, menghadap sumber suara itu. "Kak Jane?" Seru Shita.
"Apa yang kamu lihat?" Tanya Jane.
"Entahlah kak, pelayan ice cream yang bernama Marco itu membuat hatiku merasa aneh." Rengek Shita.
"Jangan bilang kau suka pegawai itu, kasian dia Shita."
"Lho, kasian kenapa kak Jane?"
"Kasian, umurnya akan terbuang, kalau Mark tau pelayan itu mencuri hatimu, aku yakin Mark akan membunuhnya." Seru Jane.
"Mark lagi." Rengek Shita.
Sedang Jane berusaha menahan tawanya, karena dia tahu, kalau Marco itu adalah Mark.
"Ah, sudahlah, aku mau kedalam saja." Rengek Shita, dia pergi meninggalkan Jane.
Setelah Shita pergi, seseorang mendekati Jane dan memeluknya dari belakang.
"Dari mana kau?" Tanya Jane, dia tahu kalau itu Abi.
"Biasa, menyelesaikan pekerjaan tukang ice cream di bawah sana." jawab Abi.
"Aku bingung, bagaimana Shita dan Mark nanti." Gerutu Jane.
"Biarkan mereka bahagia, dengan kebahagiaan mereka saat ini." jawab Abi.
"Kau benar, Shita begitu bahagia dekat dengan penjual ice cream itu, begitu juga Mark." Rengek Jane.
__ADS_1
"Aku orang yang paling keterlaluan. Tuan muda Emanuel Group, aku jadikan penjual ice cream." Abi berusaha menahan tawanya, sambil memandang kearah mobil ice cream di luar sana.
"Kapan mereka akan bersama?" Tanya Jane, pada Abi.
"Saat Shita sudah bisa memaafkan Mark." jawab Abi.
"Itu mustahil, Shita pernah bilang padaku, memaafkan Mark dan Ara dulu mudah, karena kegilaan mereka karena ulah Gildan, sedang Mark dan Cindy, Shita bilang itu hanya--"
"Itu sebabnya," Abi langsung memotong perkataan Jane.
"Aku tahu Shita tidak akan memaafkan Mark, karena perbuatannya dengan Cindy, semoga aku mendapat ide untuk bisa membuat mereka bersama."
"Bagaimana, kalau Shita tidak mau?" Tanya Jane, sambil melirik sedikit wajah Abi.
"Maka aku akan mencari ide lain." jawab Abi.
"Misalnya?" Jane melepaskan dirinya dari pelukan Abi, dia memutar arah tubuhnya, menghadap Abi.
"Mungkin dengan mencari cara, agar Mark mau melepaskan Shita, kasian jika Shita selamanya di sini."
"Abi, kau memang banyak hutang jasa pada tuan Haka, tapi ingat, jangan lupa membahagiakan istrimu, karena kesibukanmu pada tuan muda itu." sela mama El, dia mendekati Abi dan Jane.
"Kebahagiaan kami, jika masalah dua orang ini selesai mama." seru Jane, sambil meraih tangan mama El.
Abi mengirim pesan pada Ana, dia memberitahu di mana keberadaan Shita, namun dengan syarat, jika ada yang menanyakan Shita, Ana harus berbohong, dengan mengatakan Shita ada di rumah, bersamanya.
***
Merasa cukup aman, karena Mark tidak lagi mencari Shita, setelah tau di mana keberadaan Shita dari Abi, Ana, Ara, Loiz dan Sammy, langsung ke panti asuhan mengunjungi Shita.
Shita tengah bersantai di ruangan yang cukup luas bersama anak-anak panti yang lebih besar. Tawa anak-anak itu sungguh membuat Shita bahagia.
Suara itu langsung membuat Shita mematung, dia sangat kenal suara itu. Dia tersenyum, air matanya menetes saat melihat empat orang yang berarti dalam hidupnya ada di panti itu. Ana langsung berlari mendekati Shita. Ana langsung memeluk anak perempuannya itu.
"Mama kangen kamu sayang." Ringis Ana.
Shita tidak bisa bicara lagi, hatinya sungguh bahagia melihat papa, mama, dan dua temannya. Setelah berpelukan dengan Ana, Shita langsung memeluk papanya.
"Papa, maafkan aku. Pasti masalah ini membuat papa repot lagi." Ringis Shita.
"Tidak sayang, papa mengerti keputusan kamu." Seru Sammy sambil mengusap lembut punggung Shita.
Shita juga berpelukan dengan Ara dan Loiz.
"Kami rindu kamu Shita, bagaimana keadaan kamu?" Tanya Ara.
"Aku baik, semua ini karena bantuan Abi." Jawab Shita.
"Kami juga tahu kamu di sini dari Abi." Seru Loiz.
"Apa Mark tau?" Wajah Shita nampak cemas.
"Tidak, Mark sudah menyerah. Dia tidak lagi memburu kamu," seru Ara.
"Apa aman kalau Shita pulang?" Tanya Ana pada Sammy.
"Kurasa, lebih baik aku tetap di sini. Aku tidak sanggup, kalau tiba-tiba Mark datang." Seru Shita.
"Kami ikut apapun keputusan kamu sayang." Seru Sammy.
Mereka semua saling melepaskan rindu. Terlalu lama di sana sungguh tidak enak, Mereka ber empat izin pamit pada Shita dan pada pengurus panti Asuhan.
__ADS_1
"Shita, kami akan berkunjung lagi, tapi tenang, kami akan cari alasan yang tepat, agar tidak mencolok." Seru Ara.
"Sebentar lagi acara tahunan panti asuhan ini, jadi untuk beberapa hari kedepan, akan banyak orang yang datang memberi bantuan, kalian bisa datang, anggap saja kalian relawan di panti ini, yang membantu mengumpulkan donasi buat acara nanti." Seru mama El.
"Terima kasih mama El, tapi sebaiknya hanya Ara saja yang sering datang, kalau aku atau papa Shita, rasanya sangat mencolok." Seru Ana.
"Tidak apa-apa mama, maafkan aku, karena aku merepotkan semua orang." Rengek Shita.
"Tidak sama sekali sayang." Seru Ana.
Ana, Ara, Loiz dan Sammy pergi dari panti asuhan itu.
********
Di mana Cindy?
Sejak di gertak Gimar pagi itu, Cindy pergi dari Apartemennya. Dia tinggal di rumah bibi Jasmine, Jasmine adalah adik dari ibu Cindy, dia istri seorang polisi. Jasmine tidak mempunyai anak, sehingga dia sangat senang, Cindy mau tinggal bersamanya.
Ternyata, tinggal di rumah Jasmine tidak membuat Cindy tenang, setiap waktu dia mendengari keluh kesah pamannya yang polisi itu, karena tugas dari atasan yang menyuruh patroli mencari istri tuan muda yang pergi itu.
Cindy berusaha tidak tahu menahu masalah itu, diterima bibinya di rumah ini, menurutnya itu sudah lebih baik. Setelah kejadian itu, Cindy tidak berani kulia atau keluar rumah bibinya. Dia hanya menghabiskan waktu membantu bibi Jasmine.
Seminggu ini suami bibi Jasmine pulang lebih cepat, membuat Jasmine dan Cindy heran.
Seminggu yang lalu ....
"Sudah pulang?" Sapa Jasmine.
"Iya, akhirnya aku bisa bernafas lega, istri tuan muda itu sudah di temukan, kata atasanku, istri tuan muda itu kembali kerumah kedua orang tuanya." Seru suaminya. Yang bernama Gobby.
"Aku juga senang, akhirnya kamu bisa santai kembali." Seru Jasmine.
Sedang Cindy, menggerutu dalam hati, dia sungguh tidak rela Mark berbaikan dengan Shita.
"Paman, bibi, aku izin ke kamar," seru Cindy.
"Iya, sayang." Jawab Jasmine.
Setelah sampai kamarnya, Cindy segera menelpon Ara.
"Iya," jawab Ara dengan nada yang begitu malas.
"Ara, apa kamu tau, apa sebab Shita kabur?"
"Aku tidak tahu jelasnya, yang aku tau, Shita melihat Mark melakukan hal bodoh dengan wanitanya."
"Siapa wanita itu?"
"Aku tidak tau." Jawab Ara.
"Apa Shita dan Mark sudah baikan? Maksudku, apa dia memaafkan Mark lagi? Seperti dia memaafkan kamu dan---"
"Cindy! Jangan ingatkan aku pada perbuatan hina itu." Bentak Ara.
"Maafkan aku."
"Shita tidak kembali pada Mark, dia kembali kerumah orang tuanya." Jawab Ara.
"Oh, aku senang kalau Shita di tempat yang tepat, aku hanya khawatir, akan keadaannya saja. Makasih Ara."
Cindy dan Ara menyudahi panggilan telepon mereka. Cindy sangat puas, mendapat kabar yang dia dengar itu.
__ADS_1