
Semuanya sudah keluar dari ruang penanganan Mark, hanya para dokter dan perawat saja yang ada di dalam ruangan itu. Melihat dokter baru keluar, Abi langsung mendekati dokter itu.
"Dokter Andreas, bagaimana tuan muda?" Tanya Abi.
Wajah dokter Andreas terlihat muram, dia hanya menjawab pertanyaan Abi dengan menggelengkan kepalanya.
"Markkk!!!" Teriak Shita begitu histeris.
Ara dan Ana hanya mampu memeluk Shita, mereka juga ikut menangis, karena melihat kehancuran Shita.
"Sayang, jaga bayi kamu sayang, itu kenang-kenangan yang paling indah dari Mark." Ringis Ana.
Shita berusah mengontrol dirinya. Dia baru kehilangan Mark, dia tidak mau kehilangan janin yang masih bertumbuh dalam rahimnya.
Gimar berlari mendekat kearah Abi, di ikuti beberapa pengawal Emanuel Group.
"Abi, ternyata Cindy adalah keponakan dari seorang polisi. Paman dan bibi Cindy, ditemukan tidak sadarkan diri, perkiraan dokter yang memeriksa pasangan itu, sepertinya mereka mengonsumsi, obat tidur dengan dosis tinggi." Seru Gimar.
"Jadi, Cindy mencuri sejata api itu?" Tanya Abi.
"Dugaan demikian," jawab Gimar.
"Di mana wanita gila itu sekarang?" Tanya Abi.
"Menurut laporan terakhir, mobi yang dikendarai Cindy, melaju kearah barat." Seru salah satu petugas keamanan Emanuel Group.
"Papa, boleh aku pinjam kunci mobil?" Tanya Shita.
"Tentu sayang, ini." Seru Sammy, sambil memberikan kunci mobil pada Shita.
"Kamu mau kemana Shita, biar kami antar," tawar Ara.
"Aku hanya ingin sendiri." Jawab Shita.
Shita berjalan mendekati petugas keamanan Emanuel Group. "Boleh aku lihat jalur yang dilewati pembunuh itu?" Tanya Shita.
"Ini nona muda," jawab petugas itu, sambil memperlihatkan layar laptop kepada Shita.
Saat petugas keamanan itu sibuk mengotak-atik laptopnya, saat yang sama, Shita mengambil pistol petugas keamanan itu, dia langsung berlari secepat dia bisa.
"Hey! Nona muda mengambil senjataku!" Teriak petugas keamanan itu.
__ADS_1
"Kalian semua kejar nona muda, aku akan jaga tuan muda." Perintah Abi.
Mereka semua langsung mengejar Shita.
"Loiz, kita ikuti Shita, tante dan om, kalian di sini saja." Pinta Ara.
Ana dan Sammy mengangguk, sedang Loiz dan Ara langsung ikut mengejar Shita.
Shita terus berlari, hingga dia sampai di parkiran, dia langsung masuk mobil Sammy, dan melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi, bahkan dia menabrak palang portal parkir rumah sakit itu. Dia ingin balas dendam pada Cindy. Dia terus mengebut kearah mobil Cindy diperkirakan melaju.
Di belakang Shita, tiga buah mobil juga ikut mengebut mengejar nona muda itu. Lumayan jauh sudah jarak yang dia tempuh, namun dia tidak menemukan mobil Cindy. Saat mendekati jembatan, Shita menurunkan kecepatan mobilnya, dia melihat seorang wanita yang berdiri di dekat palang jembatan itu. Shita langsung memarkirkan mobilnya, setelah memastikan kalau itu Cindy.
Dia turun dari mobilnya, Cindy masih tidak menyadari kehadiran Shita, dia nampak kacau di ujung sana, terlihat Cindy sedang menangis.
"Kau wanita sialah! Kau wanita murah*n! Kau harus mati di tanganku jal*ng! Kau telah membunuh suamiku!" Teriak Shita, sambil menodongkan senjata api yang dia pegang kearah Cindy.
Cindy merubah arah pandangannya, dia menatap kearah sumber suara itu, mulutnya menganga, melihat Shita menodongkan senjata kearahnya.
Shita mulai menarik pelatuk senjata api itu. "Kau tidak pantas untuk hidup jal*ng!" Teriak Shita.
Tangan itu adalah tangan Ara, dia berhasil merebut senjata api yang Shita pegang. "Jangan kau kotori tanganmu untuk membunuh wanita itu, kau punya masa depan yang cerah, beda dengan aku, masa depanku sudah hancur." Kini giliran Ara yang menodongkan senjata Api itu kearah Cindy.
Mengingat tembakan barusan bukan main-main, Cindy ketakutan, dia lari kearah jalan raya. Saat yang sama.
Gubrakkk!!!
Salah satu mobil yang melaju di jalanan itu, sengaja menabrak Cindy dengan begitu keras.
Ara dan Shita melotot melihat kejadian itu. Senjata api yang di pegang Ara diambil lagi oleh orang lain.
"Jangan main sejata api manis," seru salah satu petugas keamanan Emanuel Group, yang menyimpan kembali senjata yang dia ambil dari tangan Ara.
Penumpang yang ada dalam mobil yang menabrak Cindy turun mengahampiri mereka, ternyata itu adalah petugas keamanan Emanuel Group yang lain. Dia mendekati Cindy yang tergeletak dan bersimbah darah itu. Dia meletakkan pistol yang dia bawa kedekat Cindy.
"Kalian semua pergilah, urusan Cindy, biar kami yang atur." Seru Gimar. Gimar mulai memberi instruksi pada bawahannya, untuk mengurus Cindy.
"Ayo, kita kembali ke rumah sakit," seru Loiz, yang sedari tadi hanya mematung, melihat semua kejadian itu.
"Loiz, kamu kembali sendiri saja, aku akan menemani Shita." Seru Ara.
__ADS_1
Ara dan Shita, kembai kerumah sakit mengendarai mobil Sammy, yang tadi di bawa Shita. Sedang Loiz mengikuti mereka dari belakang. Sepanjang perjalanan Shita membisu, dia tidak tahu harus apa. Kematian Mark adalah duka terdalam dalam hatinya. Sedang Ara hanya fokus menyetir.
Akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Ara membantu Shita berjalan, wanita itu nampak lemas.
"Shita, duduk di sini, biar aku yang mendorong kamu." Seru Loiz, dia meminta Shita duduk di kursi roda.
Dengan dibantu Ara, Shita duduk di kursi roda, dia sungguh lemas karena rentetan kejadian barusan. Shita membisu, impiannya berdamai dengan Mark kandas. Air mata selalu membasahi pipinya.
Shita tidak meyadari, kalau mereka sudah sampai di ruang penanganan Mark. Dia terus melamun, mengingat masa indahnya dengan Mark. Lamunannya buyar, saat seseorang memeluknya.
"Shita, maafkan Mark, dia memang laki-laki yang buruk, tapi sejak bersamamu, Mark yang baik kembali lagi." Ringis wanita itu, sambil memeluk Shita. Wanita itu mertua Shita, Randha.
Shita hanya menelan salivanya, perasaannya begitu sesak. Randha melepaskan pelukannya pada Shita.
"Sayang, kamu harus kuat demi kami semua." Ucap Randha, sambil mengusap air mata yang membasahi pipi Shita.
"Sebaiknya nona muda istirahat di kamar khusus tuan muda, anda terlalu lelah hari ini, Abi sudah mempersiapkan kamar buat anda, sebentar lagi, dokter kandungan akan memeriksa anda." Pinta dokter Andreas.
Shita tidak menanggapi orang-orang di sekitarnya. Dia larut dalam dukanya. Sedang Abi mendorong kursi roda Shita, menuju kamar yang akan di tempati Shita untuk menjalani perawatannya nanti. Semua orang khawatir dengan keadaannya. Langkah Abi, di ikuti oleh, Ana, Ara, Loiz dan Sammy. Mereka diminta Abi, menemani Shita.
Sesampai di ruangan khusus, hati Shita semakin hancur, air matanya mengalir begitu deras, karena di kamar ini dia dan Mark memulai semuanya.
"Lepaskan saja nona muda, jika itu membuat anda lega, menangislah." Ucap Abi.
Shita di bantu Ara dan Ana berbaring di tempat tidur itu, tangisnya tidak bisa di bendung, bayangan Mark begitu jelas. Seakan Mark berbaring di sampingnya dan menggodanya.
"Sayang …." Ringis Ana, air matanya juga menetes melihat Shita sehancur itu.
****
Scroll bawah ya😉
bersambung.
Yuk baca juga cerita lainnya yang ada di Noveltoon. Setiap Author punya ciri khas mereka masing-masing.
Ini coretan dari teman-teman aku yang ada di Noveltoon. Kami semua, sangat suka novel tuan muda yang nomer 1 itu, karena suka kami ter inspirasi untuk menulis. Kami ter inspirasi, tapi kami menulis ala ide kami sendiri, kami buat cerita ala halu kami, bukan jiplak Adegan yang ada di novel orang lain.
__ADS_1