Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda

Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda
Bab 70 Menguping


__ADS_3

Semenjak pertemuan sore itu dengan Mark, Cindy jauh berubah, dia nampak murung dan sangat pendiam. Membuat bibi Jasmine khawatir padanya.


"Cindy sayang, kamu sakit?" Tanya bibi Jasmine.


"Tidak bi,"


"Cindy, supaya kamu tidak selalu mengurung diri saja, lebih baik nanti kamu ikut bibi ke acara tahunan, yang akan dilaksanakn sebentar lagi di panti asuhan Emanuel Group."


"Aku malas bi." Rengek Cindy.


Bibi Jasmine pasrah melihat keadaan Cindy, dia tidak bisa menyalahkan anak itu, Cindy seperti ini, karena kedua orang tuanya hanya perduli dengan aset dan perusahaan mereka saja, bahkan Cindy sempat dijual pamannya yang lain, karena ketidak perdulian kedua orang tuanya, padanya.


****


Di panti Asuhan Emanuel Group.


Di ruangan tempat biasanya penghuni panti menonton televisi, di sana hanya ada mama El dan Jane. Keduanya nampak asyik mempersiapkan beberapa persiapan pendukung buat acara tahunan Emanuel Group.


"Jane …." Panggil mama El.


"Iya mama."


"Apa yang Mark perbuat, hingga Shita semarah itu padanya?" Tanya mama El.


Di saat yang sama Shita menahan langkahnya, tidak jadi bergabung keruangan itu, karena mendengar namanya dan nama Mark disebut.


"Ini hanya kesalah fahaman Shita mama, tapi kami tidak mungkin membela Mark di hadapan Shita, walaupun, Mark hanyalah korban." Ringis Jane.


"Korban? Apa maksudmu?" Mama El ingin mendengar yang lebih jelas lagi.


"Mark, sudah lama memutuskan hubungan dengan Cindy, dia meninggalkan Cindy saat Mark memilih bersama Nesya." Terang Jane.


Shita mematung, dia terus menguping pembicaraan Jane dan mama Al.


"Terus, kenapa hal itu bisa terjadi? Maaf, mama mendengar sedikit cerita itu dari Abi.


"Niat Mark, hanya ingin menolong Cindy, tapi ternyata, Mark malah masuk jebakan Cindy. Menurut kabar yang kami dengar, Mark diberi Cindy obat perangsang, hingga Mark tidak bisa mengendalikan dirinya, hingga kejadian itu dilihat Shita."


Mama El menghela nafasnya begitu berat. "Kasian sekali tuan muda, baru merasakan cinta yang sebenarnya, ujian cintanya malah seberat ini. Terpisah dengan istrinya, andai mereka bersama, pasti mereka sangat bahagia." Ringis Mama El.


"Mark sangat berubah mama, mama tau bagaimana Mark yang dulu? Sekarang tidak lagi mama, sekarang dia mulai bisa merelakan sesuatu. Mark tahu, Shita ada di sini, dia tidak datang menjemput Shita, karena dia tahu, Shita tidak mau melihatnya."


"Semoga keduanya bisa menyelesaikan masalah mereka."


"Semoga mama." Seru Jane.


"Jane, kenapa tidak kau ceritakan kejadian yang sebenarnya pada Shita? Andai dia tahu, bagaimana seseorang di bawah kendali obat, mama yakin, Shita akan memaafkan Mark."


"Membuat Shita percaya akan hal ini sulit mama, mengingat, Mark menjebak dirinya dalam ikatan pernikahan ini, bahkan Mark menikahi Shita, hanya karena Ara, yang menginginkan Shita menderita. Ara memberikan tubuhnya pada Mark, dan Mark menyiksa Shita dalam ikatan ini. Namun Tuhan berkehendak lain. Mark malah benar-benar jatuh cinta pada Shita."

__ADS_1


"Apa maksud kamu Ara sahabat Shita?"


"Iya, mama. Dulu Ara patah hati karena ditinggal Gildan kakak laki-laki Shita, bahkan Ara berulang kali mencoba mengusik Shita. Aku beberapa kali menyelamatkan Shita, tapi saat Mark dan Ara menjebak Shita untuk menikah dengan Mark, aku dan Abi tidak berdaya. Kami tahu, setiap malam Ara dan Mark menghabiskan waktu bersama, bahkan saat malam pernikahan Shita, Mark menghabiskan waktu bersama Ara. Namun kebencian Ara memudar, karena kebaikan hati Shita."


"Shita wanita yang baik, semoga nasibnya juga akan lebih baik kedepannya."


"Semoga mama."


Sedang Shita merasa sesak, mendengar semua cerita Jane. Ternyata dia di bohongi Cindy. Shita menyeret kakinya menuju kamarnya. Memikirkan dirinya dan Mark.


********


Keesokan harinya.


Shita berusaha nampak tegar, walau perasaannya begitu kacau. Bagaimanapun dia sangat merindukan Mark saat ini. Seperti biasa, pelayan yang bernama Marco itu datang padanya dengan membawa ice cream buat Shita.


"Terima kasih." Jawab Shita, setelah menerima ice cream itu.


"Kenapa wajah anda murung?" Tanya Marco.


Shita menarik sudut bibirnya, hingga mengukir sebuah senyuman. "Mungkin faktor kehamilan." Shita berusaha menutupi perasaannya.


"Owh," seru Marco sambil mengangguk.


"Terima kasih Marco, permisi, aku mau kedalam dulu." Seru Shita.


Marco hanya menganggukkan kepalanya. Sedang Shita melangkahkan kakinya menuju panti asuhan itu.


Shita menoleh padanya. "Apa?" Jawabnya.


"Tidak ada, aku hanya memastikan kalau telingamu sehat." Seru Marco.



Shita tersenyum karena ulah Marco.


Mark mematung, melihat Shita tersenyum padanya. "Dia semakin cantik." Gumamnya.


"Mari kita akhiri semua ini." Seru seseorang yang mendaratkan tangannya di bahu Mark.


Mark memutar sedikit wajahnya, menoleh ke arah samping. "Abi?" Mark terkejut dengan kedatangan Abi.


"Tuan muda, kita selesaikan semuanya, saat acara tahunan panti asuhan berlangsung, temui nona muda, dan bicara padanya."


"Dia pasti akan kabur lagi saat melihatku."


"Aku jamin tuan muda, dia tidak akan pegi, pasti dia juga ingin kejelasan hubungan ini."


"Jika dia mau menemuiku, aku akan menemuinya nanti."

__ADS_1


"Semoga itu hari baik buat anda, tuan muda."


"Semoga," jawab Mark.


******


Setelah jam makan siang, keadaan nampak hening, karena setiap orang mulai sibuk dengan aktivitas masing-masing. Abi mulai mendekati Shita yang hanya duduk sambil membaca buku.


"Selamat siang nona muda." Sapa Abi.


"Selamat siang Abi." Jawab Shita.


"Nona muda, apakah anda mau meluruskan masalah anda dengan tuan muda?"


Mata Shita melotot mendengar pertanyaan Abi. "Apa maksudmu?"


"Apakah nona tidak lelah dengan semua ini? Selesaikan masalah anda dengan tuan muda. Aku pastikan, tuan muda akan mengikuti keinginan anda."


"Aku belum siap bertemu dengan Mark."


"Nona muda, sebentar lagi di panti ini mengadakan acara tahunan, saat itu aku mengundang tuan muda. Saat hari itu tiba, aku mohon selesaikan masalah kalian. Andai nona muda ingin kembali kerumah anda, aku yakin, tuan muda akan melepaskan anda."


"Jika dia benar-benar rela melepaskan kami, tanpa mengganggu keluargaku, anakku, dan orang-orang terdekatku. Aku dengan senang hati menemuinya."


"Benarkah?" Wajah Abi nampak antusias.


"Aku tau nona sangat kecewa pada tuan muda, tapi bisakah, anda berusaha santai? Saat tuan muda berkeliaran di dekat anda? Jangan sampai orang-orang tahu, tentang keretakan hubungan kalian." Pinta Abi.


Shita hanya menganggukkan kepalanya.


"Abi, boleh aku bertanya satu hal?"


"Silahkan nona muda."


"Apa, Mark tahu keberadaanku? Rasanya mustahil dia tidak tahu, secara sudah banyak mata yang melihat aku berkeliaran di panti ini.


"Maafkan saya nona muda, tuan muda tahu di mana anda. Tapi dia tidak mau membuat nona merasa terancam atau terganggu. Sebab itu juga pencarian nona dihentikan."


Shita membisu mendengar perkataan Abi. "Aku akan menemui Mark, saat acara nanti, tapi kuharap kau menepati janjimu, karena aku ingin kembali kerumah kedua orang tuaku saja."


"Baiklah nona muda, kami hanya mengikuti apa keinginan anda."


*****


Di rumah bibi Jasmine.


Beberapa hari ini suami bibi Jasmine tidak dinas, karena sakit. Setelah membantu pamannya makan siang, Cindy langsung mengambilkan obat pamannya. Sedang bibi Jasmine, masih di luar rumah, karena ada izin yang harus dia urus. Di kamar itu, hanya ada Cindy, dan suami Jasmine.


"Paman, obat yang diminum yang mana?" Tanya Cindy, sambil memandangi botol obat yang bersusun di meja kecil itu.

__ADS_1


"Yang botol, dengan tutup biru, kalau botol tutup putih itu obat tidur."


Cindy segera mengambilkan obat buat pamanya, dan membantu pamannya meminum obat tersebut. Saat Cindy ingin keluar dari kamar itu, matanya melirik sesuatu. Hingga dia memikirkan hal yang liar, yang tiba-tiba ada dalam benaknya.


__ADS_2