Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda

Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda
Bab 27 Abi pergi


__ADS_3

Mobil yang di setir Abi memasuki parkiran khusus yang ada di gedung Emanuel Group. Abi dan Gimar masih berdiam dalam mobil. Entah apa yang dipikirkan keduanya. Keduanya masih terlarut dalam lamunan masing-masing. Hanya hembusan nafas keduanya yang terdengar jelas.


"Aku mau masuk kedalam Mar, keputusanku bulat, aku pergi, maksudku ... aku mengundurkan diri," ucap Abi.


"Itu pilihan kamu Bi, aku tidak bisa mencegahmu."


Keduanya langsung turun dari mobil dan melangkahkan kaki mereka memasuki gedung Emanuel Group. Semua pegawai yang berpapasan dengan merkeka melempar senyuman lalu sedikit menundukkan kepala mereka, menghormati dua pegawai tertinggi Emanuel Group itu.


Abi dan Gimar terus berlalu, mereka dengan santai melangkahkan kaki mereka hingga memasuki lift khusus, yang hanya di gunakan Mark, Abi, Gimar dan beberapa petugas keamanan kantor yang memiliki kartu access khusus untuk membuka lift itu. Kini Abi dan Gimar berada di ruangan khusus milik Abi.


Gimar hanya mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan Abi, sambil memandangi rekan kerjanya itu membereskan barang-barang.


"Gimar!" Teriak Abi.


Dengan langkah yang cepat, Gimar berjalan ke arah Abi. "Ada apa?" Tanya Gimar langsung saat dirinya sudah mendekat pada rekan kerjanya itu.


"Ini berkas-berkas penting perusahaan ini, ini ponsel khusus, isinya sandi-sandi untuk file penting dan kode keamanan bank milik perusahaan." Seru Abi sambil memberikan benda pipih yang berbentuk persegi panjang itu.


"Kenapa aku merinding menerima semua ini?" Seru Gimar sambil memandangi tumpukkan berkas yang ada di meja Abi.


"Sekarang, semua ini tugasmu, ingat kalau kau pusing, telepon aku, walaupun aku bukan pegawai disini, tapi aku tetap setia pada tuan muda, jangan khawatir, aku tidak akan membocorkan apapun!" Seru Abi sambil menepuk bahu Gimar.


"Kau mau kemana?" Gimar langsung bertanya saat melihat rekan kerjanya itu melangkah menuju pintu.


Abi berbalik, kini seluruh tubuhnya menghadap.ke arah Gimar, "Aku mau ke apartemen, aku ingin membereskan semua barang-barang!" Seru Abi sambil melangkah mundur. Melihat Gimar diam, Abi merubah arahnya, diapun berjalan dengan normal meninggalkan ruangan tersebut.


Sedang Gimar, dia langsung memunguti berkas-berkas tersebut dan menyimpan ponsel yang Abi berikan padanya. Gimar berjalan menuju ruangannya membawa bermacam berkas.


Sesampai ruangannya, Gimar mengambil 1 file, dia ingin tahu bagaimana pekerjaan Abi selama ini. Gimar memijat kedua keningnya setelah membaca satu lembar kertas laporan. "Gila! Ternyata kerja dengan otak sangat pelik! Enakan kerja pakai otot, tinggal libas! Nggak perlu mikir!" Gerutu Gimar sambil melempar kembali file yang sedari tadi dia pegang.


Gimar meneruskan pekerjaan rutinnya selama ini, melihat pekerjaan yang di tangani Abi hanya membuat kepalanya pusing.

__ADS_1


***


Setelah meninggalkan gedung Emanuel Group, kini mobil yang di kendarai oleh Abi memasuki basement gedung apartemen itu. Setelah keluar dari mobilnya, Abi menuju sebuah mobil yang bewarna hitam, mobil jarang dia gunakan, hanya sesekali menghidupkan mobil itu untuk menghangatkan mesin mobil tersebut setiap pulang bekerja.


Mobil Itu adalah mobil pribadinya sendiri, yang dia beli dengan uangnya sendiri, bukan property milik Emanuel Group yang selama ini dia pakai. Senyuman terukir di wajah Abi, dia menepuk bamper mobil tersebut. "Akhirnya, kau akan menemani hariku manis," seru Abi, sambil menepuk kembali bagian lain boddy mobilnya itu.


Abi memindahkan beberapa barang yang ada di mobil yang biasa dia pakai ke mobil yang selalu terparkir tersebut. Selesai memindahkan semua barang, Abi lansung berjalan menuju lift, tujuan selanjutnya, membenahi barang-barang miliknya yang ada di apartemen mewah tersebut.


Hanya butuh waktu tiga jam, barang-barang sederhana milik Abi sudah selesai dia kemas. Dia berjalan meninggalkan apartemennya, menuju tempat keamanan gedung tersebut.


"Pak," sapa Abi menyapa petugas keamanan yang bertugas.


"Pak Abi?" Petugas keamanan itu menyapa Abi kembali.


"Ini kunci mobil dan kunci Apartemen saya, nanti kalau pak Gimar atau tuan muda Mark datang, serahakan saja, saya dapat tugas baru, saya permisi pak," seru Abi.


Petugas keamanan itu segera menerima yang Abi berikan padanya, matanya terus menatap kepergian Abi yang menarik koper besar dan memeluk sebuah box.


***


Mobil Abi terparkir di tempat parkir yang ada di pemakaman. Abi mempercepat langkahnya memasuki Area pemakaman tersebut. Hingga langkah kakinya sampai disebuah Makam khusus yang sangat terawat. Abi melepas kacamata hitamnya, karena air matanya menetes begitu saja saat melihat nama yang ada di batu nisan yang ada di depan matanya.


"Tuan besar …." ucap Abi begitu tertekan.


"Tuan besar, maafkan saya, saya tidak mampu menyalakan pelita dalam hati tuan muda, saat ini saya mundur tuan besar."


Abi sosok yang sangat tegas, siapa sangka saat bersimpuh di gundukan tanah tuan besarnya, air mata Abi keluar begitu deras.


"Tuan besar, maafkan saya, saya tidak mampu menjaga dan membatu tuan muda langsung, saya mundur tuan besar, sekarang tuan muda sangat keterlaluan." Abi menarik nafasnya yang terasa berat karena tidak bisa menunaikan ke inginan tuan besarnya yang terakhir. Yaitu membuat Mark menjadi laki-laki yang bisa menghargai setiap wanita.


"Maafkan saya tuan besar," Abi bingung, perkataan apalagi yang harus dia katakan. Dia sangat kecewa dengan dirinya sendiri. Yang tidak becus mewujudkan ke inginan tuan besarnya yang kini sudah tiada.

__ADS_1


Selesai menimpahkan rasa bersalah dan permohonan maafnya pada tuan besarnya itu, Abi meletakan bunga Anyelir putih yang dari tadi dia pegang di dekat nisan tuan besarnya tersebut dan memasang kembali kaca mata hitamnya, agar wajah sedihnya tertutupi oleh kaca mata hitam yang membuat penampilannya nampak cool.


Abi segera pergi dari makam tersebut, tujuannya kali ini kediaman Mark, untuk berpamitan pada nyonya besar, pak Iqmal dan bu Halia istri pak Iqmal. Orang berjasa lainnya dalam kehidupan Abi.


***


Kesedihan Abi semakin memuncak, saat dia berpamitan pada Iqmal dan Halia, dua sosok yang menjadi orang tuanya selama ini. Abi berada di kediaman Iqmal yang terletak di bagian belakang rumah tuan mudanya tersebut.


"Abi … tuan muda memang seperti itu, bapak mohon, jangan pergi," pinta Iqmal.


"Selama ini saya diam pak, dia melecehkan setiap wanita saya diam, karena wanita yang lecehkan memang wanita yang menjual harga diri mereka demi dolar. Tapi sekarang, tuan muda mau mempermainkan sumpah pernikahan. Maaf pak, saya tidak bisa diam lagi." ringis Abi.


Halia hanya menangis, walaupun Abi bukan anak kandungnya, namun dia sangat menyayangi laki-laki tersebut.


"Selalu kabari kami," pinta Halia sambil memeluk pemuda itu.


"Tentu bu, nomer kalian tidak ganti kan? Soalnya aku akan ganti nomer, aku tidak ingin ber urusan dengan tuan muda, jika kehidupanku nanti sudah tenang, aku ingin membangun sebuah keluarga." Ucap Abi.


"Nomer telepon kami tidak akan berganti, kami selalu mendo'a kan kebahagiaan kamu nak Abi."


Lama melepas rindu di rumah belakang itu, kini tiga orang itu berjalan menuju rumah besar tersebut. Randha tidak bisa berkata apa-apa, selama ini Abi sudah sangat baik dan sabar menghadapi Mark yang super keterlaluan.


"Kau tetap anak tante, kapan-kapan kunjungi kami, bagaimanapun kami orang tua kamu," Randha langsung memeluk pemuda yang menjadi kebanggaan suaminya tersebut.


Setelah berpamitan pada semua orang, kini Abi pergi dan langsung menuju rumah kecil yang sudah lama dia beli, rumah impiannya dengan Jane. Yang dia beli beberapa tahun lalu. Sebelum melajukan mobilnya Abi mengetik pesan di ponselnya.


[Jane, maafkan aku, karena aku lebih dulu akan menempati rumah impian kita tanpamu.]


***


Jane yang membaca pesan tersebut nampak emosi, sedang dia saat ini masih sibuk. "Awas kau Abi! Setelah pekerjaanku selesai aku akan menghukummu!" Gerutu Jane.

__ADS_1


__ADS_2