
Jangan lupa jempol nya, kasian Author remahan ini kalo nggak dapat jempol😉ðŸ¤
*****
Mark menangkis semua pertanyaan dan perasaan yang timbul di hatinya, dia segera ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya. Terus berusaha keras membuang perasaan aneh yang selalu datang dengan gaya angkuhnya.
Sedang di luar sana, Shita berjalan santai menuju lift untuk turun ke lantai dasar, karena di lantai tersebut restoran hotel itu ada. Shita masih menggerutu mengutuki dirinya sendiri.
Pukkk!
Dia memukul jidatnya dengan telapak tangannya. "Shita, tolong jangan kau salah gunakan hatimu, laki-laki itu tidak pantas untuk kau berikan hatimu padanya, dia saja tidak punya hati dan perasaan! Mana pantas dia menerima hatimu!" Gerutunya.
Sesampai di depan lift, Shita beruntung tidak lama ada orang yang keluar dari lift itu, wajah Shita langsung murung melihat orang itu. Siapa lagi, sosok yang sangat sulit untuk memberi senyuman, ralat! Walaupun dia senyum, tidak kalah menyeramkan dengan wajah datarnya, dia Gimar.
"Selamat pagi nona muda," sapa Gimar.
Shita tidak memperdulikan Gimar, dia segera masuk kedalam lift dan langsung menekan tombol, pintu lift pun langsung tertutup. Shita meneruskan ke inginannya untuk sarapan, sedang Gimar meneruskan tujuannya menemui tuan mudanya.
Sesampai di depan kamar hotel Mark berulang kali Gimar menekan bell, beberapa saat Gimar tersadar. "Bodoh! Tuan muda pasti menginap di kamar wanita penakut itu!" Gerutu Gimar memaki dirinya sendiri. Mengingat tuan mudanya itu hobi makan perempuan. Gimar langsung menuju kamar hotel yang di tempati Shita. Satu kali menekan bel pintu, pintu langsung terbuka.
"Selamat pagi tuan muda," sapa Gimar langsung.
"Selamat pagi, ayo masuk!" Seru Mark.
"Hei, apa itu benar tuan muda? Kapan dia bisa membalas salam orang?" Ucap Gimar dalam hatinya. Namun dia melangkahkan kakinya masuk ke kamar itu. Kamar yang nampak berantakan, handuk, baju dan lainnya berserakan di mana-mana. Gimar membulatkan bibirnya melihat-lihat keadaan kamar tersebut.
"Aku menyuruhmu masuk bukan untuk melihat-lihat kamar ini, langsung saja katakan apa maksudmu!" Seru Mark.
"Owh! Maaf tuan muda," jawab Gimar, dia langsung menyampaikan tugas kantor pada Mark dan beberapa pesan dari Sammy.
"Baiklah, hari ini aku akan bekerja, kamu suruh orang bereskan kamar ini, setelah aku pergi, kamu bawa saja cowardly doll itu kerumahku."
"Cowardly doll?" Gimar bingung sendiri.
"Siapa lagi? Si penakut itu!" Gerutu Mark.
"Tapi, kulihat tidak ada lagi ketakutan dari wajahnya," ucap Gimar sambil membayangkan wajah Shita saat bertemu dengannya di depan lift tadi.
"Kamu benar, dia tidak penakut lagi, tapi bagiku dia tetap boneka penakut," seru Mark.
Gimar menggaruk telinganya yang tidak gatal melihat expresi Mark. Ada yang aneh dari garis wajah tuan mudanya itu.
"Baiklah, aku akan bersiap dulu, ingat kamu antar si penakut itu kerumah, oh ya, jangan bawa apapun barang dari rumah si cowardly doll itu, kecuali kebutuhan kuliah dia, yang lainnya belikan saja semua kebutuhan dia," seru Mark, dia pun menghilang di balik pintu kamar mandi.
*********
Selesai bersiap-siap, Mark langsung pergi, sedang Gimar duduk manis di sofa menunggu kedatangan nona mudanya tersebut.
__ADS_1
Shita dengan santainya masuk kedalam kamarnya, karena melihat Gimar saat turun tadi, Shita yakin, Gimar dan Mark pasti pergi ke kantor mereka.
"Akkkk!" Shita berteriak, karena kaget melihat sosok yang duduk begitu santai di sofa. "Kau? Kenapa kau masih di sini?"
"Kenapa aku di sini? Apalagi kalau bukan untuk menyeret anda untuk terjun bebas dari jendela itu kalau anda tidak mau ikut denganku!" Bentak Gimar.
"Kau mau bawa aku kemana?" Tanya Shita, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya.
"Ke neraka!" Jawab Gimar begitu sinis.
Shita melangkahkan kakinya memasuki kamar itu.
"Mau kemana!" Tanya Gimar.
"Mengambil tas dan ponselku," jawab Shita.
Gimar memperlihatkan sesuatu yang dia pegang. "Semua sudah aku pastikan, semuanya lengkap ada di dalam sini," seru Gimar sambil memberikan tas Shita yang dia pegang.
"Kau!" Shita begitu geram barang-barang pribadi di acak-acak orang lain.
Saat Shita meraih tasnya, tangan Gimar langsung mencengkram kuat pergelangan tangan Shita.
"Hei lepas!" Shita berusaha berontak.
"Jangan melawan, kalau melawan aku tak segan untuk menyakitimu!" Bentak Gimar.
"Barang-barangku!" Rengek Shita.
"Jangan bawa barang rongsokanmu itu!" Jawab Gimar begitu ketus.
****
Kini Shita masuk kedalam mobil Gimar. Dia duduk sendirian di kursi belakang mobil tersebut. Gimar mulai meninggalkan hotel. Mobil itu mulai melaju cepat di jalan raya.
"Kemana kau membawaku?" Shita mencoba bertanya lagi.
"Kalau anda banyak bertanya, tujuan ini akan aku rubah, aku akan mengantar anda ke rumah pemotongan hewan, biar anda di jagal sekalian!" Ucap Gimar dengan nada sinis.
Melihat sorot mata Gimar dari spion di depannya membuat Shita menelan saliva nya karena takut. Dia memilih untuk bungkam.
Gimar terus fokus menyetir melajukan mobilnya begitu cepat. Laju mobil itu perlahan berkurang saat mulai mendekati sebuah pintu pagar yang menjulang tinggi. Nampak beberapa orang berbadan tegap mengenakan seragam yang sama membuka gerbang yang tinggi tersebut. Mereka nampak memberi hormat pada Gimar.
Mobil Gimar melaju perlahan memasuki halaman yang sangat luas tersebut. Sebuah rumah mewah yang nampak seperti istana menyambut pandangan mata Shita.
"Rumah siapa ini?" Tanya Shita.
"Yang pasti bukan rumah anda nona muda," sahut Gimar ketus.
__ADS_1
"Jangan bertanya lagi Shita, jawaban dia hanya membuat tekanan darahmu menjadi naik," gerutu hati Shita.
"Selamat pagi," sapa seorang pelayan laki-laki yang pernah bertemu dengan Shita pas hari pernikahan.
"Pagi," jawab Shita.
"Antar nona muda ini ke kamar tuan muda," seru Gimar.
Shita baru sadar, kalau rumah ini adalah rumah Mark.
Pelayan laki-laki itu nampak sedikit menunduk. "Baik." Jawabnya pelan.
"Apakah perintah tuan muda lewat telepon tadi sudah di laksanakan?" Tanya Gimar.
"Baru saja selesai, tadi istri saya dan beberapa pelayan wanita sudah menata rapi pada tempatnya." Jawab Iqmal yang terus sidikit menunduk.
"Baiklah, selamat bertugas kembali pak Iqmal, saya permisi," seru Gimar. Dia langsung pergi dari rumah besar Mark.
"Nona muda, mari ikut saya," pinta pelayan itu.
Shita mengikuti laki-laki itu. "Pak, nama saya Shita, nama bapak siapa?" Tanya Shita.
"Saya Iqmal, saya bertugas atas tanggung jawab semua pelayan di rumah ini," jawabnya.
"Ada berapa orang pak yang tinggal di rumah ini?" Tanya Shita.
"Majikan kami dulu ada tiga, tuan muda Mark, nyonya besar Randha dan nona Shima, sekarang anda juga majikan kami nona muda."
Langkah kaki Shita meniti tangga, dia mengikuti pelayan itu naik kelantai dua rumah itu. Kini mereka sampai di depan pintu yang cukup besar. Pelayan itu meraih kunci di sakunya lalu membuka pintu kamar tersebut.
"Ini kamar tuan muda dan kamar anda juga," seru Iqmal.
Shita nampak bingung.
"Saya permisi nona muda," seru Iqmal sambil menunduk.
"Pak, saya harus apa?" Tanya Shita.
"Anda silahkan bersih-bersih seluruh rumah ini,"
"Bapak serius?"
"Jika anda ingin melihat seluruh pelayan yang tidak bersalah seperti kami mendapat hukuman, maka lakukan saja." Jawab Iqmal.
Shita langsung terdiam.
"Tolong nona, jangan buat masalah ya, kami sudah cukup menderita karena ulah tuan muda, semoga anda bisa lebih berbaik hati lagi pada kami, permisi," ucap Iqmal. Dia langsung pergi meninggalkan Shita yang masih mematung di depan pintu kamar itu.
__ADS_1