Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda

Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda
Bab 31 Merayakan


__ADS_3

Jane masih bingung, dia datang langsung berteriak-teriak, dia diam, saat mengetahui kalau Abi mengundurkan diri dari pekerjaannya selama ini.


"Kenapa?" Pertanyaan Abi membuat Jane tersentak dari lamunannya.


"Maafkan aku …." Rengek Jane dengan nada yang manja.


Abi diam memandangi raut wajah Jane.


"Maafkan aku, aku kira kau meninggalkan aku dan bersama wanita lain," rengek Jane.


"Itu tidak mungkin! Aku sangat mencintai kamu," seru Abi sambil membuka tangannya. Dengan perasaan gembira, Jane langsung berlari dan memeluk Abi.


"Akankah mimpi kita selama ini akan segera terwujud?" Ucap Jane lirih yang masih larut dalam pelukan Abi.


"Kita lihat dulu, kalau bisa secepatnya kenapa tidak," Abi memeluk Jane semakin erat.


"Jane …." ucap Abi lirih.


"Hemmm," Jawab Jane yang masih larut dalam kehangatan pelukan Abi.


"Aku mohon, demi kebaikanmu, demi kebaikan papamu, tolong jauhi Mark, demi aku dan demi hubungan kita, ku mohon," pinta Abi.


Jane melepas pelukannya. "Boleh aku tau, kenapa kau mundur dari jabatanmu selama ini?"


"Mark menyuruhku mencelakaimu dan papamu," jawab Abi dengan begitu santai.


"Jane, aku mohon, tolong jauhi Emanuel Group, siapapun itu, bukankah selama ini aku juga menjauhimu selama jadi antek Emanuel Group!"


"Baiklah, aku tidak akan memperdulikan Mark lagi, sekalipun dia ingin membom kota ini," jawab Jane pasrah.


"Anak pintar!" Seru Abi sambil mengacak-acak rambut Jane.


"Makan malam yuk!" Rengek Jane.


"Aku malas keluar,"


"Aku yang beli ya," tawar Jane dengan begitu girang.


"Laki-laki macam apa aku ini, meminta wanitaku membeli makanan,"

__ADS_1


"Kau laki-laki istimewa, jangankan beli makan kau suruh apapun aku rela," seru Jane.


"Baiklah manisku, sana pergi aku lapar, hei jangan lupa beli cemilan untukku,"


"Cerewet!" Jane pergi meninggalkan Abi, untuk membeli makan malam buat mereka.


****


Shita masih termenung di kamarnya. Sedang mama dan papanya begitu bahagia, akan memiliki menantu seperti Mark, sedangkan dirinya? Dia sangat yakin bagaimana gambaran hidup dengan Mark nantinya seperti apa.



"Begitu besarkah dosaku? Hingga aku harus memiliki pasangan seperti Mark!" Tidak terasa air mata Shita mengalir begitu deras, meratapi nasibnya, yang akan menjadi istri seorang bajing*n.


Tokkk tok tok!


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Shita. Shita segera menghapus air matanya, dia segera berjalan ke arah pintu dan membukakan pintu kamarnya.


"Mamaaa?" Shita berusaha mengukir senyuman di wajahnya.


"Kamu menangis?" Ana mengangkat dagu putrinya hingga wajah Shita jelas dia lihat.


Shita menepis lembut tangan Ana yang memegangi dagunya. "Aku menangis karena aku sedih, kalau aku menikah, aku tidak akan bersama mama dan papa lagi."


Shita langsung memeluk Ana. "Mama menikah dengan laki-laki yang baik, sedang aku? Aku menikah dengan laki-laki buruk. Mama menikah mengukir kebahagiaan baru, sedang aku? Aku akan tenggelam dalam lautan derita yang Mark ciptakan, mama tolong aku," ringis hati Shita.


Ana mengusap lembut belakang putrinya, dia pun sangat berat melepaskan putrinya. "Sayang, ada baiknya juga kamu menikah, karena dalam waktu dekat ini, mama dan papa akan pergi ke luar kota, papa dapat proyek di sana sayang," ucap Ana.


Shita sangat terkejut dan refleks melepaskan pelukannya. "Mama akan pergi ninggalin aku?"


"Tidak sekarang sayang, nanti setelah pernikahan,"


Shita terdiam memandangi wajah Ana. Perasaannya kian sesak, jika ibunya pergi, kemana dirinya akan berbagi. "Mark, kenapa kamu begitu jahat! Kamu membelengguku dalam ikatan pernikahan, sekarang kau menjauhkan papa dan mama dariku," gumam hatinya. Tatapan Shita masih memandang Ana begitu sayu.


"Sudah tidur sana sayang, kamu sudah bicarakan sama Bo'im, kalau kamu berhenti?"


"Iya mah, sudah, bahkan kak Bo'im senang banget aku berhenti, dia bilang dia sangat khawatir sama aku selama aku bekerja."


"Baguslah, ayo tidur sana." Seru Ana.

__ADS_1


Shita menutup pintu kamarnya dengan perlahan saat Ana sudah pergi dari sana. Dia pergi kekamar mandi mencuci wajahnya. Kemudian berjalan kembali menuju tempat tidurnya sambil melepas baju panjangnya. Dia merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya. Entah kenapa hati itu terasa sangat sesak. Shita tengkurap diatas tempat tidurnya sambil memeluk bantalnya. Meratapi nasibnya.



"Kenapa harus aku? Kenapa bukan wanita yang mau menikah denganmu yang kau pilih untuk jadi istrimu tuan muda!" Rengek Shita.


Perasaan sesak, takut dan sakit yang bercampur jadi satu, membuat gadis itu terlelap dalam tidurnya.


****


Sedang di sudut lain, Ara dan Mark berpesta. Merayakan keberhasilan mereka. Sangat banyak model dan penari yang ada di pesta tersebut. Pesta diadakan Mark di sebuah hotel berbintang miliknya, semua orang berpesta di area kolam renang. Suara percikan air semakin menghebohkan suasana, saat semua yang ada ramai-ramai terjun ke kolam renang.


Ara masih berdansa klasik dengan Mark dan beberapa pasangan yang berdansa lainnya. Merk dan Ara masih hanyut dalam dansa di tepi kolam renang. Senyuman Ara begitu lebar mengingat bagaimana Shita menangis di mobilnya.


"Terima kasih beib, aku saaangat! Bahagia, tidak pernah aku sebahagia ini," seru Shita sambil tersenyum lebar.


"Aku senang kau bahagia. Pesta ini, untuk merayakan keberhasilan pertama kita, lain kali kita akan berpesta lagi jika berhasil menyiksa hati gadis itu."


"Terima kasih .…" ucap Ara sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Mark, sehingga mereka larut dalam pertemuan bibir mereka sambil berdansa.


Mark terus berjalan pelan menggiring tubuh Ara ke tepi kolam renang.


Byurrr!


Mark sengaja menerjunkan dirinya dan Ara masuk kedalam renang.


"Akkkk!" Teriak Ara begitu histeris. Namun teriakan Ara terhenti saat Mark membungkam mulut Ara dengan mulutnya. Suasana dingin kolam renang seakan memanas dengan kegiatan mereka.


Sedang yang lainnya tidak memperdulikan tuan muda dan wanitanya itu. Mereka asyik dengan kegiatan mereka masing-masing. Mereka sudah biasa melihat tuan muda itu dengan wanita-wanitanya.


***


Mark mengatur pernikahannya dan Shita. Mark sengaja mempercepat pernikahan agar semakin cepat pula menyiksa wanita itu.


Sedang Shita terus berusaha menutupi kesedihannya. Dia menjalani kehidupannya seperti biasa, seolah tiada ada masalah di hatinya. Senyuman terus terukir di wajahnya saat bertegur sapa dengan teman-temannya. Kecuali Ara, Shita menumpahkan perasaan sakit di hatinya pada Ara, orang yang sangat Shita percaya.


Tidak terasa hari pernikahan semakin dekat, hotel tempat acara sumpah di ikrarkan juga mulai bersiap menghias tempat pernikahan pengusaha muda tersebut.


Sedang pengusaha itu mabuk asmara dengan wanitanya yang bernama Tsamara itu. Ara yang dianggap Shita sahabatnya.

__ADS_1


Karena Gimar mengurus izin Shita agar tidak kuliah, pihak kampus sangat mudah memberikan izin tersebut. Kini Shita hanya menghabiskan waktunya di kamarnya. Menanti detik demi detik kehidupan tenangnya akan ber akhir. Shita melamun, pandangannya kosong, entah matanya itu menatap apa. Deringan ponsel membuyarkan lamunannya. Shita segera meraih ponselnya.


Matanya seketika melotot, melihat nama pemanggil yang tertera di layar ponselnya. Shita masih mematung memandangi layar ponselnya. Hingga panggilan itu terputus karena tidak kunjung dia jawab.


__ADS_2