Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda

Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda
Bab 74 Maafkan Mark.


__ADS_3

Keadaan sangat hening, Shita mulai terlihat sedikit tenang, walau air matanya masih menetes. Semua yang ada dalam ruangan itu, Ana, Ara, Sammy, Loiz, Randha, dan Shima. Mereka semua membisu, duduk tenang di tempat duduk mereka, masing-masing.


Ceklak!


Suara pintu terbuka, nampak terlihat dua orang yang masuk. Abi dan Gimar.


"Kami sudah urus semuanya," seru Abi.


"Sebelum semua ini sampai pada tahap akhir, saya selaku sekretaris pribadi tuan muda Mark Emanuel, juga sebagai petinggi di Emanuel Group, saya ingin meminta maaf pada kalian semua." Ucap Gimar dengan nada yang begitu lemah.


Gimar menarik nafasnya begitu dalam, dia berdiri menghadap kearah kedua orang tua Shita. "Pak Sammy, semua masalah yang terjadi dalam keluarga anda, dari kegagalan Gildan mendapatkan proyek itu, awal dari semua itu atas campur tangan tuan muda, hal itu tuan muda lakukan, karena Nesya yang memanfaatkan tuan muda Mark, kehancuran perusahaan anda, semua itu juga karena tuan muda Mark. Tuan muda sakit hati dikhianati Nesya, dan pernikahan Shita dan tuan muda, semua ini terjadi, karena tuan muda Mark mengancam Shita, jika Shita menolak, anda akan di penjara selamanya. Semua peristiwa yang mencekam ini terjadi atas kejahatan tuan muda. Bu Ana, Pak Sammy, maukah kalian memaafkan tuan muda?" Tanya Gimar.


Sammy menganga mendengar penjelasan Gimar, kemudian dia memandang kearah Shita, anak perempuannya yang memikul semua penderitaan karena ulah kakak laki-lakinya.


Tangan seseorang memegang pundak Sammy. Tidak lain itu tangan istrinya, Ana. "Papa, maafkan Mark, bagaimanapun semua penderitaan Mark juga karena Gildan dan istrinya, sekarang Mark benar-benar mencintai Shita, maafkan dia." Ucap Ana.


"Istriku benar, bagaimanapun Mark sudah menjadi menantu kami, dan menjadi orang yang sangat special bagi Shita. Kami memaafkan Mark, maafkan juga anak kami, Gildan." Ucap Sammy.


"Saya bahagia bapak mau memaafkan kesalahan tuan muda, yang sangat besar itu." Gimar memandang kearah Ara.


"Araaa." Ucap Gimar.


"Aku juga memaafkan dia." Ucap Ara.


"Terima kasih semuanya, aku bahagia, kalian semua memberikan maaf untuk tuan muda Mark." Ucap Abi.


"Andai ada kesempatan kedua, maukah kalian menerima tuan muda Mark? Walau kalian sudah tau semua kejahatannya?" Tanya Abi.


"Semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, Abi." Seru Ana.


"Baiklah, mari kita akhri semua ini." Seru Abi.


Tiba-tiba seseorang berjalan masuk kedalam ruangan itu, membuat mata mereka yang ada di ruangan itu melotot, kecuali Shita. Dia tidak mengetahui keadaan sekitar, bahkan tidak mendengari obrolan yang berlangsung. Dia masih mematung memikirkan Mark, dan tenggelam kesedihannya.


Semuanya hanya menutup mulut mereka dengan telapak tangan mereka masing-masing, saat melihat Mark berjalan kearah mereka. 'Maafkan aku." Ringis Mark, dia menagkupkan kedua tangannya di hadapan Sammy dan Ara.


Sammy tidak menjawab perkataan Mark, dia hanya langsung memeluk Mark. Semuanya menangis, menyadari Mark masih hidup. Mark melepaskan diriny perlahan dari pelukan Sammy, dia langsung berjalan kearah Shita.


Mark duduk di samping tempat tidur Shita, dia membelai pucuk kepala Shita. "Beib …." Bisik Mark.


Seketika Shita merubah arah pandanganya, dia tersenyum, tapi juga menangis. Melihat Mark ada di depan matanya. Shita langsung bangun dari tempat tidur. "Mark?" Ringisnya.

__ADS_1



Antara percaya dan tidak, Shita terus memandangi wajah Mark. "Kau nyata?" Ringisnya lagi.


"Aku masih hidup, maafkan aku," ucap Mark, lirih.


Shita langsung memeluk Mark, menumpahkan semua perasaan yang ada dalam hatinya. Isakan tangisnya terus terdengar. Dia bahagia, namun tangis itu tetap tidak mau berhenti. Shita dan Mark tenggelam dalam pelukan mereka.


Sedang di sudut sana, Gimar dan Abi memberi isyarat pada semua orang, agar mereka semua keluar dari ruangan itu. Kini hanya tinggal Mark dan Shita, yang ada di ruangan itu


Mark melepaskan pelukannya, dia menegakkan wajah Shita, dia menghapus air mata yang membasahi pipi Shita dengan jemarinya.


"Maafkan aku, karena membuatmu sekacau ini." Ucap Mark.


"Aku tidak tahu, bagaimana aku, jika kau benar-benar meninggalkan kami." Ringis Shita.


Shita menatap sayu wajah Mark, perasaannya sangat bahagia, Mark baik-baik saja, dan laki-laki itu, berdiri tepat di hadapannya.




"Mari kita mulai semua dari awal, tanpa rasa terpaksa." Ucap Mark.


*****


Keadaan di luar ruangan.


Semua mata menatap tajam ke arah Abi. Gimar juga menatap tajam pada Abi.


"Kau buat kami semua ketakutan!" Bentak Gimar.


"Maafkan aku, semua ini terjadi di luar kendaliku, karena keadaan mendukung, aku memanfaatkan keadaan ini." Ucap Abi.


"Bagaimana kalau tadi nona muda keguguran karena tertekan!" Bentak Gimar.


"Aku hanya ingin kalian semua memaafkan Mark, tadinya rencanaku, mengirim orang untuk pura-pura mencelakai Mark, tapi ternyata, Tuhan turun tangan untuk menyatukan mereka." Seru Abi.


Semua mata masih menatap tajam kearah Abi, membuat Abi terpojok, karena sorotan tajam mata-mata itu.


"Baiklah, aku akan mulai cerita." Seru Abi.

__ADS_1


Flash back Abi dan Mark.


Pagi hari sebelum menuju panti Asuhan, Mark langsung datang ke alamat yang diberikan Abi padanya. Sesampai di alamat itu, Abi sudah menunggunya di sana.


"Ada apa Abi?" Sapa Mark, ketika melihat Abi.


"Aku punya rencana, agar nona muda mau kembali pada anda."


"Apa rencanamu?"


"Ayoo ikuti saya tuan muda."


Mark mengikuti Abi, mereka berdua masuk kedalam rumah itu, di dalam sana ada beberapa orang yang sudah menunggu mereka.


"Tuan muda, bisa anda lepas baju anda?" Tanya Abi.


"Kau mau apa?" Mark keberatan melepas bajunya.


"Ingin memasang rompi anti peluru, yang sudah kami desaign." Jawab Abi.


"Kau ingin menembakku?" Tanya Mark.


"Tidak, saya sudah menyiapkan orang, yang akan pura-pura menusuk nona muda, saat itu anda melindungi dia, jangan khawatir, anda tidak akan terluka, tapi rompi ini tetap akan mengeluarkan banyak darah, jangan khawatir tuan muda, aku jamin anda tidak akan terluka, walau peluru sekalipun yang mengenai anda." Terang Abi.


"Jangan lukai Shita ku." Seru Mark.


"Aku tidak akan berani, semua ini juga akan ada kodenya agar anda tau." Seru Abi.


Mark pasrah, dia mengikuti apa mau Abi. Akhirnya persiapan Abi pada Mark selesai, Mark berangkat lebih dulu.


Sesampai di panti Asuhan, Mark hanya berdiam diri dalam mobil, mmepersiapkan dirinya untuk bertemu Shita, juga menunggu instruksi dari Abi. Namun Mark mendapatkan pesan dari Abi, kalau rencana mereka tertunda, karena mobil teman Abi mogok.


Mark menggeleng, rencana Abi sempurna, tapi faktor lain, tidak mendukung. Setelah selesai membaca pesan dari Abi, Mark malah melihat Cindy. Dia yakin Cindy akan mencelakai Shita. Mark langsung berlari menuju area dalam Panti Asuhan itu. Benar saja dugaan Mark, ternyata Cindy ingin menembak Shita.


Mark datang di saat yang tepat, hingga peluru yang tertuju buat Shita, bisa ia tahan, dengan tubuhnya yang mengenakan rompi anti peluru yang sudah di desaign Abi. Saat peluru mengenai tubuhnya, saat itu juga, darah keluar dari rompi itu, sungguh tampak meyakinkan.


Keadaan menjadi heboh, Abi tidak menyangka, rencananya malah seperti ini. Rencana dia dan Mark tidak ada yang mengetahui, Abi melanjutkan rencana mereka yang gagal, melihat kepanikan Shita dan semua orang. Abi langsung memanfaatkan keadaan. Saat ambulan datang, hanya Abi dan Mark yang ada dalam mobil ambulan. Abi pun menyusun rencananya lagi.


"Saatnya, anda memulai segalanya dengan permulaan yang baik tuan muda." Seru Abi.


"Apa itu?" Tanya Mark, dia meringis, walau tubuhnya tidak kena peluru, namun dia merasakan sakit, pada area yang kena tembakan peluru.

__ADS_1


*****


Bersambung dulu ya .…


__ADS_2