
Mark menepati janjinya, hari ini Ana dan Sammy kembali menempati rumah lama mereka. Mark dan Shita mengantar Ana dan Sammy kerumah lama mereka. Melihat kebahagiaan kedua orang tuanya, tanpa Shita sadari dia memeluk Mark didepan kedua orang tuanya.
"Terima kasih, rumah ini sejarah perjuangan keluarga kami." Seru Shita yang masih memeluk Mark.
"Tidak akan aku biarkan harta berharga istriku hilang begitu saja." Seru Mark.
Shita melepaskan pelukannya, dia tersenyum sendiri, luapan kebahagiaan yang dia rasa, membuat dia kehilangan rasa malunya.
"Boleh aku menengok kamarku?" Seru Shita.
"Tentu sayang," seru Ana.
Shita berlari menaiki anak tangga. Sedang Mark, Ana, dan Sammy hanya memandangi Shita. Terlihat Shita sudah menghilang, tidak terlihat lagi oleh pandangan mata mereka.
"Maafkan aku, karena kekecewaanku waktu itu---"
"Kami mengerti Mark, maafkan anak kami juga, semua sudah berlalu." Ana memotong kata-kata Mark, Ana tidak mau, kalau Sammy tau kebangkrutan mereka karena kemarahan Mark waktu itu.
"Aku juga minta maaf, karena kobodohannku waktu aku kekeh menolak Gildan---"
"Itu sudah berlalu, kami maklum, kamu melakukan itu pasti ada alasan tertentu. Sudahlah," seru Sammy, sambil menepuk halus bahu Mark.
"Kalau kamu ingin menyusul Shita, naik saja, kamar dia paling ujung." Seru Ana.
Mark tersenyum sambil menggaruk telinganya. Dia segera menaiki anak tangga menyusul Shita kekamarnya.
Setelah membuka pintu kamar yang di tuju, tidak terlihat sosok Shita di sana, Mark melangkahkan kakinya masuk kekamar itu. Matanya menyapu pemandangan kamar itu, pandanganya terhenti saat memandang seorang wanita yang berdiri di balkon. Mark segera mendekati wanita itu.
"Apa yang kamu lihat?" Tanya Mark, sambil memeluk Shita dari belakang.
"Tidak ada, aku hanya rindu berdiri di sini dan memandangi taman-taman itu, kau tahu, saat kecil kami menghabiskan waktu di taman itu." Seru Shita sambil menunjuk ke arah taman.
"Aku senang melihat kau bahagia." Mark menumpukan wajahnya di ceruk leher Shita.
"Suatu saat nanti, anak-anak kita yang akan berlarian di taman itu, bermain bersama kakek dan neneknya di taman itu saat kita berkujung kesini." Bisik Mark.
"Khayalanmu terlalu jauh." Seru Shita.
"Mengkhayal gratis, terserah aku!" Seru Mark, dia semakin mengencangkan pelukannya. Tangannya mulai menelus*p masuk kedalam baju Shita. Shita tersenyum dengan ulah Mark.
"Hei, kita ukir sejarah di sini, kita belum pernah …." Mark mendalami maksudnya.
……………..
Shita dan Mark menghabiskan waktu di kamar Shita yang ada di rumah lama mereka.
"Apa yang kamu lihat beib? Foto cewek seksi?" Tanya Shita.
"Jam tangan, ini sudah rilis, tapi aku belum sempat beli." Seru Mark sambil memperlihatkan foto jam tangan pria yang ada di layar ponselnya pada Shita.
"Oh," jawab Shita sambil membulatkan bibirnya.
Setelah mengumpulkan tenaga mereka kembali, keduanya turun ke bawah untuk begabung bersama Ana dan Sammy. Mark memakai kaos milik Sammy, sedang Shita memakai baju mamanya. Karena keduanya sama-sama tidak bawa baju ganti.
Shita tidak melihat sosok ibunya di ruang tamu. "Mama mana pah?" Tanya Shita pada Sammy.
"Mama di dapur sayang, sepertinya sedang memasak." Jawab Sammy.
"Beib, aku mau bantu mama ya," pinta Shita.
"Aku juga mau bantu." Seru Mark.
"Bantu apa?"
"Bantu lihatin kamu." Jawab Mark.
__ADS_1
Shita menggeleng mendengar jawaban Mark.
Kini mereka berdua berada di dapur, Mark bersandar di pintu dapur, menonton kegiatan memasak Shita dan Ana. "Wah, ini pertama kalinya aku akan makan masakan istriku." Seru Mark. Dia melangkah mendekati Shita.
"Maafkan kami nak Mark, kami menyuguhi anda makan siang dengan masakan kami nantinya, sedang di rumah nak Mark, saya lihat yang bekerja memasak di rumah anda, adalah orang-orang yang profesional." Sela Ana.
"Orang-orang profesional mental mereka kuat mah, kalau--"
"Kalau yang bekerja orang yang tidak profesional, sehari bekerja mereka langsung bunuh diri mah, menantu mama ini erggg! Serem …." Seru Shita, dia sengaja memotong kata-kata Mark.
Ana menggeleng melihat reaksi wajah Mark. Dia berjalan membawa beberapa wadah yang bertumpuk. Menuju westafel.
"Sini mah, biar aku saja yang bawa ke westafel." Shita mengambil wadah-wadah itu dari tangan Ana, dan mulai mencucinya.
Mark mendekati Shita, dia berdiri di samping Shita, tangannya menyibakkan rambut Shita ke begian belakang, dan mulai mendekatkan wajahnya. "Kamu cantik pakai celemek ini." Bisik Mark.
Shita tersenyum, dia terus melakukan pekerjaannya. Tanpa Shita sadari Mark menenggelamkan wajahnya di leher Shita. Membuat Shita terperanjat. "Ini dapur!" Bisik Shita.
"Tau, siapa bilang ini restoran." Seru Mark. Dia kembali menenggelamkan wajahnya, ceruk leher Shita adalah tempat favorit Mark, untuk bermanja.
Ana masih berdiri di dekat kompor, sambil memasak masakan yang dia masak. "Shita sayang, tolong ambilkan piring sayang." Pinta Ana.
Permintaan Ana membuat Mark harus meng akhiri kegiatannya. Shita berjalan mengambilkan piring dan memberikan piring yang dia ambil pada Ana.
"Kita makan siang sekarang sayang, setelah selesai menata, kamu panggil papa ya sayang," pinta Ana.
"Aku saja yang panggil papa mah," jawab Mark.
Ana mengangguk dan tersenyum. Mark langsung keluar memanggil Sammy, sedang Shita dan Ana menata makanan di meja makan.
Kini mereka berkumpul di meja makan, dan mulai menikmati makanan mereka masing-masing.
"Mama, papa, sebentar lagi akan ada acara besar di gedung Emanuel Group, saya harap nanti kalian datang, kasian Shita hanya sendiri di sana nanti kalau kalian tidak datang." Seru Mark, setelah habis mengunyah makanan yang ada dalam mulutnya.
"Kami akan usahakan datang, setiap tahun kami juga selalu datang," seru Ana.
"Tapi tahun ini, kalian adalah bagian keluarga dari CEO yang menyebalkan itu." Seru Mark.
Sammy dan Ana hanya tersenyum.
"Aku tidak ikut ya, aku belum siap publik mengetahuk diriku." Rengek Shita.
"Oh, kau malu ternyata mempunyai suami sepertiku, terserah kamu saja." Ucap Mark lemas.
"Shita …." Seru Sammy lembut.
"Maafkan aku, baiklah, aku hadir, tapi apa kamu siap, karena aku akan jadi bahan bully an wanita cantik di sana, pasti mantan-mantan kekasihmu nanti membandingkan dirinya dengan aku." Rengek Shita.
"Tidak akan ada yang berani bully istri seorang tuan muda sepertiku, kalau ada kurobek mulut mereka." Seru Mark.
Shita mengalah, padahal dia sama sekali belum siap tampil sebagai istri tuan muda pemilik Emanuel Group. Setelah selesai makan siang bersama, Shita dan Mark izin pamit. Setelah dari rumah Ana, mereka berdua kembali kerumah tinggal Mark.
****
Seminggu sudah semua yang indah ini dilalui. Shita terbiasa setiap pagi membantu Mark memakaikan setelan kerjanya, di selingi tingkah manja dan nakal Mark padanya. Namun satu hal yang menyesakkan dada Mark, Mark sangat keberatan Shita memakai mobil kesayangannya itu. Mark menatap lembut wajah Shita yang berada tepat di depan matanya. Shita tengah memasangkan dasi di leher Mark.
"Sudah," seru Shita sambil menepuk lembut dada Mark.
"Beib …." Ucap Mark lirih.
"Hem," jawab Shita dengan memasang senyuman manis di wajahnya.
"Aku ingin seluruh dunia tahu, kalau kau istriku." Tangan Mark melingar di pinggang Shita.
__ADS_1
"Terus? Aku harus bilang waw!" Ledek Shita.
"Beib, kau tak kasihan padaku, istri seorang pengusaha di negri ini memakai mobil butut." Rengek Mark.
Wajah Shita yang tadi terlihat manis langsung berubah masam.
"Tolong, simpan saja mobil itu di garasi rumah ini. Aku tidak sanggup harus cemburu pada bunny itu, masa aku cemburu pada mobil?" Rayu Mark.
"Aku sangat menyayangi mobil itu," ringis Shita.
"Aku tahu, sebab itu mobil itu kubeli buatmu, tapi jangan pakai itu, ku mohon." Ringis Mark.
Shita menarik nafasnya, menghembuskan kembali dengan lembut. "Baiklah, aku tidak akan memakai bunny untuk kuliah, tapi aku akan pakai jika kerumah mama papa, bagaimana?"
"Aku setuju, terima kasih beib." Mark mendaratkan ciuman di alis Shita.
"Dengan satu Syarat!"
Mark memandangi wajah Shita. "Syarat apa beib?"
"Kau harus belikan mobil itu! Pilihkan sendiri mobil itu, jangan menyuruh pegawaimu, aku ingin kau yang pilihkan langsung dengan rasa cinta. Aku harus menyimpan mobil perjuanganku, tapi itu sepadan, karena aku dapat mobil dari seseorang yang penuh cinta, bagaimana?"
"Tentu aku setuju beib." Satu ciuman mendarat lagi di bibir Shita.
"Hemmp!!!" Shita menepuk bahu Mark, karena Mark membuatnya tidak bisa bernafas.
"Apa?" Seringai senyuman terukir di wajah Mark.
"Aku harus kuliah," rengek Shita.
"Aku lupa," Mark tersenyum, mereka berdua segera keluar dari ruang ganti pakaian dan segera turun kebawah untuk sarapan bersama.
Keceriaan selalu terasa di meja makan. Mereka semua asyik dengan sarapan mereka.
"Kaka ipar, kaka ipar sudah tunjuk salon untuk membantu kaka berias diri buat acara malam ini?" Tanya Shima.
"Dia tidak boleh berhias terlalu cantik, aku tidak suka!" Seru Mark.
"Kalau begitu, kita sama-sana bersolek sendiri saja," seru Randha.
"Iya mah," jawab Shita dengan mengukir senyuman di wajahnya.
"Kalau Shima, silahkan bersolek semampu yang kamu mau, kan kamu single, kali aja ketemu jodoh di acara perusahaan nanti malam." Goda Randha.
Shima tidak membalas kata-kata Randha, wajahnya terlihat masam, dia terus menyuap makanannya dengan perasaan kesal, karena di ledek mamanya sendiri.
*******
Shita kuliah pagi ini di antar langsung oleh Mark, melihat Shita turun dari mobil Mark, ada hati yang hancur di pinggir jalan sana.
Cindy berdiri tak jauh dari gerbang kampus, langkahnya terhenti, saat melihat mobil Mark berhenti di halaman kampus. Dia memandangi ke arah mobil Mark tersebut. "Mark, aku harus apa? Aku tidak bisa melupakan kamu." Tidak terasa air mata Cindy menetes.
"Cindy, kamu kenapa?" Suara sapaan seseorang membuat Cindy terperanjat, dia segera menghapus air matanya.
Cindy memandang ke atah sumber suara. "Ara?! Kau sembuh?" Cindy begitu histeris melihat Ara. Namun aura wajah Cindy kembali berubah saat melihat laki-laki yang berdiri di samping Ara.
"Siapa dia?" Tanya Cindy.
"Dia Loiz, sahabat masa kecil kami." Seru Shita yang langsung menjawab pertanyaan Cindy.
"Kami sejak TK satu sekolah, hingga SMA, tapi beberapa bulan lalu dia pindah, ternyata dia tidak bisa jauh dari kami," seru Ara.
Ara, Shita, dan Loiz tertawa, sedang Cindy hanya menganga, tidak merasakan kelucuan dari kata-kata Ara.
"Jangan diam saja, Lou, ini teman kami Cindy, dia teman model Ara juga." Seru Shita.
__ADS_1
Cindy dan Loiz berkenalan. Setelah berbincang kecil, mereka semua masuk ke dalam kampus, untuk mengikuti kelas mereka.