
Langkah kaki Shita sangat gontai, seakan beban di hatinya ikut membelenggu kaki itu. Pernikahan adalah hal yang sangat dia impikan, tapi pernikahan impiannya adalah menikah dengan laki-laki yang dia cinta, bukan hal paksaan yang sedang berlaku sekarang. Tidak terasa langkah kaki gadis itu telah mengantarnya ke luar hotel. Kini langkah kakinya menyusuri trotoar. Shita melirik kertas yang dia pegang.
"Andai ancamannya bukan berdampak pada papa dan mama, lebih baik aku lempar diriku sekarang ke jalan agar di lindas truk!" Gerutu hati Shita.
"Shitaaa! Hei!" Teriakan wanita yang tidak asing di telinganya, Shita memutar tubuhnya menghadap sumber suara tersebut.
"Ara?" Ucap Shita.
"Ayo kemari!" Teriak Ara begitu lantang.
Shita segera berjalan kearah mobil yang parkir di tepi jalan.
"Ini mobil baruku, Bank yang bernafas yang memberikan ini padaku! Anggap saja Bank yang bisa berjalan!" Seru Ara begitu riangnya.
"Bank berjalan?" Shita bingung dengan ungkapan Ara.
"Cowok tampan yang memenuhi semua ke inginanku, dia Bank bagiku!" Seru Ara.
Shita menggelengkan kepalanya, merasa kasian dengan sahabatnya itu, masih saja menjadi pemuas nafsu laki-laki kaya. "Kapan kau berubah Ara." Rengek Shita.
Mendengar ucapan Shita, Ara menghembus nafasnya dengan kasar. "Ayo naik, mumpung aku lagi bahagia, aku antar kemana pun kau mau!" Seru Ara.
"Baiklah, aku tidak boleh menolak seseorang yang ingin menolongku, antar aku ke alamat ini," Shita memberikan kertas pemberian Gimar sebelumnya, pada Ara.
"Baiklah, kita berangkat!" Seru Ara.
Ara langsung masuk ke kursi kemudinya, sedang Shita duduk di samping Ara. Setelah keduanya masuk, Ara segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
"Kenapa Ta? Wajahmu terlihat sangat sedih." Sesekali Ara melirik Shita.
"Kalau aku cerita, kamu mau jamin tidak akan bocorkan rahasia ini?"
Ara langsung menepikan mobilnya dan berhenti di pinggir jalanan tersebut. "Aku sahabatmu, ayo cerita." Ucap Ara begitu lembut sambil memiringkan tubuhnya menghadap Shita.
"Kamu ingat tuan muda yang membantu awal karier kamu?"
Ara memutar bola matanya. "Bukan awal karier kali, bahkan sampai sekarang! mobil baru ini darinya!" Gerutu hati Ara. Ara mengukir senyuman di wajahnya dan segera menjawab pertanyaan Shita.
"Iya, aku ingat, dia laki-laki yang menyebalkan dan suka jajan!" Seru Ara.
__ADS_1
"Iya, yang itu."
"Terus! Apa hubungannya masalah kamu sama dia?" Tanya Ara, pura-pura tidak tau.
"Aku dipaksa menikah dengan dia," rengek Shita. Butiran crystal bening lolos begitu saja dari mata gadis itu. Hal itu bagaikan salju yang menyejukkan hati Ara.
"Jangan mau! Menikah dengan dia membuat hidupmu bagai di neraka!" Seru Ara.
"Aku tau, tapi aku tidak bisa menolaknya."
"Kenapa?" Tanya Ara, seakan dia iba pada Shita, padahal dia sangat bahagia melihat Shita sedih seperti ini.
"Ada hal yang tidak mungkin aku ceritakan. Keadaan ini memojokkan diriku Ra, aku sangat terpaksa menjadi istri tuan muda itu," rengek Shita. Air matanya seketika membasahi pipinya. Ara menarik beberapa lembar tissue dan memberikannya pada Shita.
"Terima kasih," ucap Shita sambil menghapus air matanya.
"Maafkan aku, karena aku tidak bisa membantu kamu," Ara menepuk lembut bahu Shita.
"Antar aku Ra," pinta Shita yang masih menghapus air matanya dengan tissue yang Ara berikan tadi.
"Iya aku antar kamu," seru Ara
"Ini baru awal, kita lihat nanti, bagaimana Mark menyiksa hatimu, aku yakin kau sangat benci dengan lelaki seperti Mark itu." Gerutu hati Ara. Ara terpaksa menyembunyikan kebahagiaannya. Melihat kesedihan Shita, rasanya dia ingin melompat-lompat kegirangan.
"Jaj--jangan! Maksud aku nggak perlu," Shita takut Ara akan mengetahui ancaman Mark, jika Ara ikut kedalam juga.
"Ya sudah turun sana, apa perlu aku antar kamu sampai kedalam dengan mobil ini?"
"Iya aku turun sekarang, makasih Ra," ucap Shita sambil turun dari mobil Ara.
Shita menatap sayu kearah mobil Ara yang melaju meninggalkan Caffe tersebut, hingga mobil itu menghilang dari pandangan mata. Shita menarik nafas begitu dalam dan menghembuskannya perlahan, ia lakukan hal itu berulang kali, setelah merasa nyaman Shita melangkahkan kakinya memasuki Caffe tersebut
Shita tercengan, melihat keadaan Caffe tersebut. Karena papanya sudah ada disana. "Kapan papa bebas?" Gerutu hati Shita. Shita masih mematung, mulutnya menganga melihat Mark dan papanya berbicara begitu santai.
"Hallo beib …." Sapaan manja dari mulut Mark mengejutkan Shita. Apalagi laki-laki itu berjalan ke arahnya.
"Kami sangat lama menunggu kamu," ucap Mark yang terus berjalan mendekati Shita. Mark mendaratkan kecup*n lembut di kepala Shita.
Mark berbisik di telinga Shita. "Kau harus berterimakasih atas bantuanku, aku mengatur sandiwara ini," Mark mengedipkan sebelah matanya pada Shita.
__ADS_1
Mata Shita membulat mendengar perkataan Mark. Namun Mark tidak memperdulikannya. Dia melingkarkan tangannya di pinggul Shita dan membawa gadis itu berjalan mendekati Sammy yang sedari tadi memandangi mereka.
"Maafkan saya, saya ingin memberikan kejutan bersamaan dengan kabar bahagia yang akan kami sampaikan," seru Mark sambil menarikkan satu kursi untuk Shita.
"Papa!" Namun Shita langsung memeluk papanya.
"Papa bebas karena tuan muda Mark sayang," seru Sammy sambil menepuk lembut bahu putrinya.
"Hei! Lepaskan aku!" Teriakan seorang wanita membuat Sammy dan Shita yang larut dalam pelukan mereka terperanjat.
"Hei! Jangan kasar pada calon mertuaku," seru Mark yang berjalan mendekati Ana.
"Mertua?" Ana keheranan.
"Maaf, ini semua kejutan untuk kalian, karena kami ingin menyampaikan kabar bahagia yang membuat kesan yang begitu sulit di lupakan," seru Mark, sebelah tanganya menujuk kearah Sammy dan Shita.
"Papaaa?!" Ana langsung berlari menuju Shita dan Sammy, mereka bertiga berpelukan, membuat Mark mual melihatnya, Mark langsung merubah arah pandangannya. Agar tidak melihat pemandangan yang tidak dia sukai itu.
Ana melepaskan pelukan mereka. "Tunggu, lelaki itu bilang calon mertua, apa kamu dan tuan muda itu?"
"Kami menjalin hubungan dan sekarang kami ingin serius," ucap Shita begitu santai. "Tidak mungkin pah mah, aku jujur kalau aku terpaksa demi kalian," gerutu hati Shita.
Mark berjalan mendekati mereka. "Itu benar," Mark melingkarkan kembali pergelangan tangannya di pinggang Ara.
"Penculikan tante, hanya untuk ini, di sini aku memberi tahu kalian, kalau aku dan Shita akan menikah secepatnya. Padahal kami ingin memberitahu secepatnya, namun kasus om Sammy, membuat aku dan Shita menundanya dan aku bertekad, jika bisa membebaskan Sammy, maka kami akan membagi kabar bahagia kami pada kalian," seru Mark sambil meng eratkan lingkaran tangannya di pinggang Shita. Membuat Shita merasakan gandengan itu sebuah signal ancaman pada dirinya.
Mark dan Shita terus bersandiwara di depan mata Ana dan Sammy, mereka menikmati makanan yang tertata di meja makan, sesekali menyelipkan obrolan santai, hanya antara Sammy, Ana dan Mark. Sednag Shita memilih diam membisu menikmati makanannya.
****
Jam menunjukkan jam sembilan malam, ini pertama kalinya Abi tidur cepat, entah kenapa malam ini matanya terasa berat, hingga dia tertidur di sofa tamu yang ada di rumah barunya
"Deguppp!" Jane menutup dengan keras pintu mobilnya dia berjalan cepat menuju rumah Abi, dia segera membuka pintu rumah dengan kunci cadangannya.
"Hei! Apa maksudmu tinggal di sini tanpa aku!" Teriak Jane begitu keras, hingga Abi pun terperanjat.
"Beib, kapan kamu datang?"
"Jelaskan sekarang!" Teriak Jane.
__ADS_1
"Jane, aku mengundurkan diri dari Emanuel Group, jadi aku harus tinggal di sini tanpa kamu, karena kita belum menikah, aku tidak bisa tinggal seatap denganmu kalau kita belum menikah," seru Abi.
Seketika Jane bungkam. Mulutnya menganga lebar mendengar penjelasan Abi barusan. Ternyata dia salah sangka, dia mengira, kalau Abi memutuskan hubungan dengannya.