
Mark segera berjalan menuju pintu dan membukanya. Terlihat wajah Halia nampak panik.
"Ada apa bu?" Sapa Mark.
"Nona muda berangkat kuliah!" Jawab Halia langsung.
"Dasar!" Gerutu Mark. Dia langsung kedalam mengambil tas kerjanya. Dia segera berlari keluar. Mark menyapu pandangan di area halaman rumahnya.
"Tuan muda, nona muda sudah pergi jalan kaki." Sapa salah satu petugas keamanan yang berlari kearah Mark.
Mark mendengus, dia tidak menjawab laporan dari petugas keamanannya. Dia segera berlari menuju mobilnya dan masuk kedalam mobil.
Dengan perasaan kesal, Mark melajukan mobil meninggalkan halaman rumahnya, matanya menyisir jalanan, mencari sosok Shita. Tidak jauh terlihat seorang perempuan berdiri di tepi jalan. "Itu dia, pasti dia menunggu taksi." guman Mark. Dia segera menepikan mobilnya.
Melihat mobil Mark yang berhenti di dekatnya wajah Shita berubah seketika. Dia segera melangkahkan kakinya secepat yang dia bisa dari tempatnya semula. Mark yang melihat Shita menghindar, dia segera turun dari mobilnya dan berlari mengejar gadis itu.
"Hei! Berhenti!" Teriak Mark. Namun, gadis yang berjalan cepat di depannya itu semakin mempercepat langkahnya, sama sekali tidak menghiraukan teriakannya.
"Oh, kau mulai berani melawan!" Teriak Mark. Dia mengehentikan langkahnya, kedua telapak tangannya memegang pinggangnya. Sedang pandangan matanya lurus kedepan menatap tajam gadis itu. "Kau sudah tidak sayang lagi dengan kedua orang tuamu?" Teriak Mark.
Shita langsung menghentikan langkahnya, dia memutar arah tubuhnya menghadap Mark. Jarak mereka tidak terlalu jauh.
"Kau mau apa lagi? Sekarang aku akan melawanmu? Kau mau apa, mau membunuhku? Atau apa? Aku tidak perduli!" Jawab Shita.
Raut wajah Shita menampakkan kemarahan yang teramat besar. Perasaannya aneh, marah pada Mark, kecewa pada Ara, namun juga kecewa dengan dirinya sendiri. Dia merasakan bagaimana sakit hati Ara pada Gildan, hingga dirinya jadi pelampiasan Ara menumpahkan rasa sakitnya. "Setelah aku mati, aku tidak akan melihat lagi penderitaan orang tuaku." Jawab Shita lagi.
"Baiklah, ternyata kau bukan lagi Cowardly doll kesayanganku!" Seru Mark.
Wajah Shita masam mendengar kata Cowardly doll. "Cowardly doll?" Shita mengulangi kata itu.
"Kau jahat! Semua wanita kau anggap boneka yang seenaknya kau ajak bermain, setelah kau puas, kau buang begitu saja dan mencari mainan baru. Tapi harus kau ingat! Aku bukan bonekamu!" Ucap Shita dengan nada kesal.
"Aku tidak jahat, yang membuatku jahat itu rasa sakit hatiku karena aku di khianati, andai aku tidak sakit hati karena pengkhianatan, aku sosok yang setia, namun hatiku sakit dan Ara juga mengalami hal yang sama, apa salah jika aku dan Ara saling berbagi?"
Shita menatap Mark dengan penuh kebencian.
"Aku suka padamu, karena kau penakut, namun juga lucu." Kalimat itu lolos begitu saja dari mulut Mark, membuat yang mendengarnya melongo.
Mark memandang lembut kearah Shita, mata Shita juga fokus memandang kearah Mark, keduanya terdiam saling pandang. Seketika mata Shita melotot memandang Mark, diiringi langkah kaki yang begitu cepat, secepat yang dia bisa. Dia terus berlari ke arah Mark. Sedang Mark tersenyum melihat expresi Shita yang berlari begitu semangat mendekati dirinya. Saat Shita dekat dengannya Shita langsung mendorong Mark. Mereka berdua terjatuh.
"Aw!" Ringis Mark, karena mereka berdua terjatuh ke semak tanaman yang ada di pinggir jalan itu. Posisi tubuh Shita di atas tubuh Mark, hingga hanya Mark yang merasa kesakitan. Saat yang sama juga, sebuah mobil meluncur cepat di tempat bekas mereka berdiri. Keadaan langsung heboh, di kerumuni banyak orang.
"Sial! Kenapa aku menyelamatkanmu! Harusnya kubiarkan kau mati, agar aku merdeka." Gerutu Shita.
Mark ingin membalas kata-kata Shita, namun beberapa orang langsung membantu mereka untuk bangkit.
Saat Shita dan Mark menegakkan tubuh mareka, lagi-lagi mata Shita terbelalak, saat mengenali mobil itu.
"Ara?" Ucap Shita dan Mark bersamaan.
Shita dan Mark saling pandang.
"Berani sekali dia mencoba mencelakaiku!" Gerutu Mark.
"Kau memang pantas untuk di bunuh, kenapa juga aku menyelamatkanmu, bodohnya aku!" Gerutu Shita memaki dirinya sendiri.
"Kau!" Mark geram mendengar kata-kata Shita barusan. Namun gadis itu malah berlari ke arah mobil yang nampak memprihatinkan, karena menabrak tembok beton yang lumayan kokoh.
Keadaan mendadak heboh karena kecelakaan tunggal itu. Mark memanggil petugas keamanan yang bekerja padanya. Sedang dia pergi dari sana, menghindari perhatian publik yang akan nanti akan menyorotinya. Tapi tidak dengan Shita. Dia menemani Ara yang tidak sadarkan diri.
*********
__ADS_1
Flash back.
Ara menyetir dalam keadaan mabuk berat, entah berapa kali mobil itu oleng di jalan dan hampir menyerempet mobil pengguna jalan yang lain, dengan perjuangan yang tidak mudah, dari Apartemennya, akhirnya Ara sampai di sekitar kediaman Mark. Namun, dia memarkirkan mobilnya di tepi jalanan yang tidak jauh dari rumah Mark. Dari tempatnya parkir, masih sangat jelas memantau lalu lalang yang keluar masuk dari gerbang tinggi itu.
"Aku akan mengorbankan nyawaku untuk membunuhmu Mark! Aku tidak sakit kau tinggal begitu saja, tapi aku tidak rela, sahabatku yang bagai malaikat itu berada dalam cengkraman iblis sepertimu!"
Ara dengan sabar menunggu mobil Mark keluar dari pagar yang menjulang tinggi tersebut. Senyum Ara mengambang saat melihat Shita keluar dari pagar rumah itu.
"Dasar laki-laki iblis!! Dia memberi simpanannya mobil! Tapi istrinya malah jalan kaki!" Ara marah-marah sendiri dalam mobilnya.
"Tenang Shita, aku akan membawa iblis ini bersamaku ke neraka!" Ara mulai menghidupkan mesin mobilnya saat melihat mobil Mark juga keluar dari pagar itu. Ara tidak melajukan mobilnya, saat dia melihat Mark berhenti di pinggir jalan. Terlihat Mark turun dari mobil dan mengejar Shita.
Ara masih mematung melihat semuanya di kejauhan. "Tabrak dia sekarang Ara!" Gerutunya. Ara menghidupkan mesin mobilnya. Suara mesin mobil itu terdengar meninggi, Ara menginjak pedal gas begitu dalam dan semangat, dia langsung melepaskan kaki yang satunya dari pedal rem mobilnya. Mobil itupun melesat cepat menuju arah Mark.
Melihat Shita berlari ke arah Mark. "Shitaaa!" Teriak Ara yang langsung membanting setirnya agar tidak menabrak sahabatnya itu. Mobil yang dia kendarai menghantam keras tembok beton yang ada di depannya. Kantong udara yang menjadi standart keaamanan mobil yang dimiliki Ara langsung mengambang saat hantaman keras itu terjadi. Namun Ara tetap tidak sadarkan diri. Setelah menabrak tembok beton itu.
Flash back off
*
*
*
******
Beberapa saat, petugas kepolisian dan satu unit Ambulan datang ketempat kejadian. Ara langsung di evakuasi menuju rumah sakit. Kini Shita berada dalam ambulan yang melaju cepat di jalanan, membawa Ara, menuju rumah sakit. Perhatian Shita pada Ara buyar, karena bunyi ponselnya. Terlihat nomer asing yang menelpon dirinya.
Shita langsung menggeser icon hijau pada layar ponselnya. "Hallo?" Sapa Shita.
"Kau di mana?" Suara menyebalkan yang sangat Shita kenali.
"Hei apa telingamu tuli!" Bentak seseorang yang berbicara di ujung telepon.
"Aku di ambulan, sepertinya telingamu yang tuli! Kau tidak mendengar bunyi sirine yang begitu keras?!" Shita balik membentak, namun tetap menahan suaranya.
"Untuk apa kau menemani orang yang ingin menghancurkan kamu! Pergi dari sana!" Teriak Mark.
"Aku menemani orang yang ingin menolongku!" Shita langsung memutuskan panggilan secara sepihak. Dia malas berdebat dengan Mark. Shita menyimpan nomer telepon Mark, dan dia beri nama TPN serta nada dering khusus untuk nomer itu jika memanggilnya.
Shita menatap sayu ke arah Ara yang di tangani salah satu perawat yang ada dalam mobil ambulan itu. "Ara, aku tahu kau sakit hati, marah dan kecewa, tapi setidaknya sayangi nyawamu." Gumam Shita sambil memegang tangan Ara.
Sedang di tempat lain, Mark melamun memikirkan Shita. Pikirannya melayang entah kemana, namun satu sosok itu tetap ada dalam lamunannya itu.
"Shita, terbuat dari apa hatimu? Kau tahu sendiri kalau Ara jahat padamu, tapi kamu malah membantu dia saat ini," Mark menggeleng sendiri membayangkan Shita.
*****
Di Rumah Sakit
Shita masih menunggu Ara yang tengah menjalani perawatan. Shita bingung harus menghubungi siapa, pikiran Shita hanya kedua orang tuanya, Shita meraih ponselnya, mengumpulkan nafasnya dan keberaniannya sebelum menekan nomer yang akan dia panggil.
Setelah Shita memutuskan memanggil papanya, tidak lama panggilan terhubung.
"Halo sayang?" Terdengar sapaan sangat lembut dari ujung telepon sana.
"Papaaa." Rengek Shita.
"Ada masalah sayang?" Tanya Sammy langsung.
"Ara kecelakaan," Shita mulai menceritakan sedikit kronologi kecelakaan Ara.
__ADS_1
"Papa dan mama akan segera kesana, tapi kami butuh waktu sayang." Suara Sammy terdengar begitu panik.
"Makasih pa, tapi papa hati-hati ya," rengek Shita.
Setelah mengucapkan kalimat penutup, Shita menyimpan kembali ponselnya dan duduk di ruang tunggu, menanti kabar perkembangan Ara.
Wajah Shita yang tadi cemas berubah menjadi tegang, saat melihat beberapa orang petugas kepolisian berjalan ke arahnya. Shita langsung ambil langkah seribu, untuk bersembunyi. Setelah merasa aman mendapat tempat persembunyiannya, Shita menghubungi nomer telepon yang menelponnya saat di ambulan tadi, yaitu Mark.
Di belahan sana sunggingan senyuman begitu lebar diwajah Mark, saat melihat Shita menelponnya.
"Halo," sapa Mark begitu datar.
"Um, bolehkan aku minta pertolongan dan bantuanmu?"
Pertanyaan Shita membuat Mark berpikir untuk memanfaatkan keadaan. "Apa!?" Suara Mark terdengar begitu datar dan tidak perduli.
"Jangan adukan masalah tadi ke ranah Hukum ," pinta Shita.
"Kau bodoh? Aku tidak akan melepaskan begitu saja orang yang berusaha membunuhku! Bahkan aku akan pastikan Hukuman yang paling berat bagi sahabatmu itu!" Jawab Mark.
Terdengar hembusan nafas yang begitu berat di ujung telepon sana, membuat Mark semakin tersenyum dan bernafsu untuk memanfaatkan keadaan ini.
"Ku mohon, jangan laporkan Ara." Rengek Shita.
"Aku pikir-pikir dulu!"
"Mark, aku akan melakukan apa saja, asal kau melepaskan Ara, tapi, biarkan juga aku merawatnya." Pinta Shita.
"Apapun?"
"Iya, aku akan melakukan apapun, asal kau jangan menyeret Ara ke meja hukum." Pinta Shita, suaranya terdengar begitu frustasi.
"Wanita ini benar-benar wanita gila! Andai aku jadi dia! Akan ku bunuh wanita seperti Ara itu. Hei … apa dia bilang? Melakukan apa saja?" Mark bergumam dalam hati.
"Mark …." Terdengar suara yang amat pilu dari ujung telepon sana.
"Kau bilang akan melakukan apa saja?" Mark mengulangi kata-kata Shita.
"Apapun! Bahkan menghabiskan umurku untuk berada di sampingmu." Shita tidak tahu lagi harus apa. Dia begitu kalut memikirkan nasib Ara. Dia tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan.
Senyuman Mark kian lebar. "Baiklah, aku akan pikir-pikir dulu." Mark langsung memutuskan panggilan teleponnya.
*****
Di salah satu sudut rumah sakit Shita menyandarkan tubuhnya di tembok, perasaan yang campur aduk membuatnya tidak bisa berharap lebih, sakit hati dan marah pada Ara, namun rasa sayangnya pada Ara lebih besar dari pada rasa sakitnya. Sehingga memikirkan nasib Ara sekarang yang kuat menjadi tujuannya, tanpa perduli hal buruk yang sudah Ara buat padanya.
Shita menyeret kakinya kembali mendekati ruangan yang menangani Ara. Di kejauhan terlihat seorang dokter berbicara dengan petugas kepolisian. Shita mengumpulkan keberaniannya untuk mendekati dokter itu.
"Permisi dok, di dalam itu sahabat saya, bagaimana keadaannya?" Tanya Shita.
"Berdasarkan kesimpulan medis saat ini, sahabat anda menyetir dalam keadaan mabuk. Kami tengah melakukan tes pada darah pasien, untuk mengetahui kadar alkhol yang terkandung dalam darahnya." Dokter terus menerangkan keadaan Ara dengan bahasa medisnya.
"Beruntung, mobil sahabat anda memiliki pengaman, berkat balon udara yang mengambang, cedera yang di alami sahabat anda tidak parah, sebentar lagi dia akan di pindahkan ke ruang perawatan."
Shita merasa sangat lega mengetahui Ara baik-baik saja.
"Tapi sepertinya, dia mengalami tekanan yang begitu berat, nanti dokter kejiwaan akan memeriksa keadaan kejiwaan sahabat andan." Terang dokter lagi.
Dokter kembali berbicara dengan pihak kepolisian, sedang Shita menyeret kakinya berjalan menuju kursi yang berjejer menunggu Ara selesai di tangani oleh tim medis.
***
__ADS_1