
Karena sepi jempol kalo nggak di palak, Author malak jempol di awal bab.
Maafkan diriku yang meminta jempol kalian sebagai nutrisi penyemangatku.
*****
Shita berusaha berontak, namun tenaganya kalah kuat. Orang itu memojokkan Shita ke pintu toliet yang sudah dia tutup.
"Kau!" Bentak Shita saat melihat sosok yang membekapnya.
"Selamat siang beib," seru Mark sambil membelai pipi Shita dengan jemari tangannya.
"Mau apa kau kemari?"
"Pelankan suaramu beib, atau kau ingin semua orang melihat kita berduaan di sini, oww, apa memang itu yang kamu harapkan?" Tatapan mata Mark begitu tajam.
"Apakah tidak ada bagian bumi ini yang bisa membuatku tenang tanpa melihatmu!" Bentak Shita sedikit berbisik.
Mark menatap mata Shita begitu tajam dan dalam, membuat Shita membeku, tatapan itu begitu menusuk hatinya, namun juga menakutkan. Perlahan Mark mendekatkan wajahnya, sedang Shita terdiam pada posisinya yang sudah terpojok tidak mampu menghindar lagi. Hingga mulut Mark mengunci mulutnya.
Mark tenggelam dalam pangutannya, rasanya berbeda dengab c*mbuan liar nya dengan banyak wanita selama ini. Membuat dia hanyut dan semakin mendalami pangut*nnya. Shita membiarkan Mark meng explore setiap ruang pada rongga mulunya. Hingga Mark benar-benar tenggelam.
Shita yang ikut larut tiba-tiba tersadar, saat merasakan sesuatu yang keras di bawah sana, terasa di bagian pahanya. Belum lagi tangan Mark yang mulai menelusup membelai perutnya dan mulai menggerayang naik menuju bagian dadanya. Mata Shita melotot, saat sadar dia dan Mark tengan berc*mbu.
Brukkkk!
Mark terdorong, hingga dia terduduk di atas closed.
"Dasar laki-laki sialan! Kau mengambil ciuman pertamaku di toilet!" Wajah Shita memerah menahan kemarahan dan perasaan yang timbul. Dia langsung pergi dari toilet, menutup pintu toilet dengan kasar dan meninggalkan Mark yang masih memandanginya.
Sedang Mark masih terdiam. Dia membetulkan posisi duduknya. "Sial! Kenapa aku malah senang dia mendorongku?" Gerutu Mark.
*****
Shita berjalan dengan cepat, wajahnya begitu masam mengingat kejadian barusan. Tidak terasa langkah kakinya yang melangkah secepat yang dia bisa, sudah menghantarkannya sampai di luar kampus.
"Hei Shita, dia suamimu, kenapa kamu semarah ini dia mencium mu? Kau marah karena di cium dalam toilet atau marah karena ada yang meledak dalam dirimu?" Shita memelankan langkahnya, memejamkan matanya, jemarinya menyentuh bibirnya, sambil mengingat kejadian dalam toilet tadi. Entah kenapa itu terasa indah.
Brukkk!
Bayangan yang indah barusan hilang seketika saat dia menabrak seseorang.
"Nona muda, kalau sedang berjalan jangan memejamkan mata anda," sapa seseorang, suaranya tidak asing, siapa lagi, sekretaris suaminya, Gimar. Wajah tampan tapi expresinya menyeramkan, sekalipun dia tersenyum.
"Kau seperti hantu!" Gerutu Shita
"Masuk nona muda, tuan muda meminta saya untuk menjemput anda," seru Gimar.
Shita masuk kedalam mobil Gimar. Melawanpun percuma saja, hanya buang-buang tenaga.
*****
__ADS_1
Tujuan awal Mark menemui Cindy, namun batal, karena perasan aneh itu hadir kembali. Mark pergi meninggalkan kampus itu. Kini dia melajukan mobilnya menuju apartemen di mana wanita itu tinggal.
Mark berjalan begitu semangat menuju apartemen Cindy. Sambil merapikan dasi dan jas nya Mark menekan bel pintu apartemen Cindy.
Saat pintu terbuka. "Kau?" Cindy sangat kaget dengan kehadiran Mark.
"Hallo beib, kenapa dulu kamu tiba-tiba menghilang." Seru Mark.
"Pergi dari sini!" Cindy berusaha menutup pintu apartemennya. Namun di tahan oleh Mark.
"Tolong pergi! Di sini ada sahabat istrimu!" Rengek Cindy.
"Dari mana kau tau kalau aku menikah?" Mark masih menahan pintu tersebut.
"Dari mana aku tahu itu tidak penting! Tolong, pergi dari sini Mark, di dalam ada temanku."
"Aku tidak perduli, sekalipun di dalam itu kekasihmu!"
"Mark, ku mohon pergi dari sini!" Cindy berusaha menutup pintu.
"Tidak mau! Kecuali kau mau janji, datang ke Club malam yang sering kita datangi dulu!"
"Aku tidak bisa!" Cindy berusaha menutup pintu.
"Kalau kau tidak mau, aku akan masuk kedalam."
"Jangan! Baiklah, aku akan datang malam ini."
Mark tersenyum. "Baiklah, janji kau akan datang?"
Mendengar nama Ara, Mark mengalah, dia membiarkan Cindy mengunci pintunya. "Pantas dia tahu kalau aku menikah," gerutu Mark sambil melangkah meninggalkan Apartemen Cindy.
Dalam apartemen.
"Siapa tadi Cind?" Tanya Ara.
"Oh, teman aku, cuma perlu sebentar," jawab Cindy.
******
Malam harinya, Cindy mendatangi Club malam, dimana dulu biasanya dia menghabiskan waktu dengan Mark, sebelum Mark jatuh cinta dengan Nesya. Cindy berdiri memandang ke segala penjuru, mencari sosok yang memintanya datang ke tempat itu.
"Mencariku?" Suara itu membuat Cindy terkejut, juga bersamaan dengan lingkaran tangan seseorang di pinggulnya.
"Kau makin cantik manis," bisik Mark yang mulai menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Cindy.
"Lepaskan aku! Kau sudah menikah, aku tidak ingin jadi perusak rumah tangga orang!" Cindy mendorong tubuh Mark, hingga tubuh yang tadinya menempel itu sedikit menjauh dari tubuhnya.
"Aku memang menikah, tapi tidak ada cinta di antara kami, aku menikah hanya karena---" Mark bingung menjelaskan, kalau dia menikahi Shita hanya demi menyenangkan Ara.
"Owh, jadi benar kalau kau menikah karena di jodohkan," seru Cindy.
Mark tersenyum, karena mendapatkan ide untuk kebohongannya. "Dari mana kamu tahu manis," Mark mendekati Cindy lagi.
__ADS_1
"Aku satu kampus dengan Ara, ternyata Ara teman istrimu,"
"Kamu kuliah lagi?" Mark semakin mendekati Cindy.
"Iya, aku kuliah lagi, aku lelah bersembunyi." jawab Cindy.
"Baguslah, pendidikan itu penting sayang," ucap Mark begitu lembut.
Apalagi yang Mark lakukan jika menemukan wanita yang dia sukai, tentu membabat mangsanya tanpa ampun.
***
"Kau membuat aku tidak berdaya Mark," ringis Cindy sambil memper erat pelukannya pada Mark. Mereka berdua masih dalam balutan selimut yang sama tanpa mengenakan apapun, hanya selimut itu penutup tubuh mereka.
Sedang Mark, pikiranya terbang entah kemana, entah kenapa, perasaan indah saat bercinta liar dengan wanitanya, tidak semenyenangkan dan tidak indah seperti dulu lagi. Namun Mark masih kekeh dengan ambisinya, mencoba membuang perasaan yang mulai menyiksa hatinya.
***
Sejak pertemuannya dengan Cindy, Mark tidak lagi mendatangi Ara. Sedang sikapnya pada Shita, Mark berusaha membuang perasaan anehnya pada Shita, dengan berusaha membuat gadis itu kesal padanya. Apalagi sejak mencium gadis itu, perasaan itu semakin kuat. Mark juga berusaha keras agar bayangan itu enyah dari pikirannya dan berharap perasaan itu hilang untuk selamanya.
Mark memusatkan pikirannya, dia memilih menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya. Membuat tugas Gimar lebih ringan. Karena tuan mudanya itu sangat rajin bekerja. Hal ini semata Mark lakukan agar melupakan Shita. Dengan sibuk dengan banyak hal, Mark sedikit lupa tentang Shita, walau saat bertemu sejenak di kamar membuat batinnya kembali bergejolak.
***
Lima bulan sudah jalinan pertemanan antara Cindy, Ara dan Shita terjalin. Mereka terlihat akur, saat di kampus. Tanpa Shita sadari. Sedang teman lama Shita menjaihinya, karena mereka tidak suka Shita berteman dengan kedua wanita itu. Sedang Shita tidak perduli dengan kehidupan Ara dan Cindy. Walau Shita mendengar kalau Ara dan Cindy rela menyerahkan diri mereka demi impian mereka.
Shita merasa sangat terhibur bergaul dengan Ara dan Cindy, bahkan Shita diberi mereka kepercayaan memegang sandi keamanan Apartemen Ara dan Apartemen Cindy. Kapanpun mereka ingin bersama, Shita tinggal masuk dengan meng aksess kode keamanan itu.
***
Ara berjalan seorang diri menyusuri lorong menuju apartemennya. Selama ini Mark tidak lagi datang padanya. Bukan itu yang Ara khawatirkan, tapi Shita. Ara begitu sesak melihat Shita yang terlihat tidak punya beban sedikitpun. Dengan wajah yang begitu lemas, Ara membuka apartemennya.
"Mark?" Ara sangat terkejut melihat laki-laki itu ada di apartemennya.
"Hai beib," sapa Mark begitu halus.
Ara masih mematung melihat Mark yang tiba-tiba ada di apartemennya.
Mark berjalan mendekati Ara, dia menarik wanita itu kedalam apartemen dan segera menutup pintunya, tanpa Mark sadari, pintu belum tertutup sempurna.
Mark bermanja di lekuk tubuh Ara, tangannya menggerayang kemana-mana, sedang si pemilik tubuh hanya diam. "Kau marah karena aku lama tidak berkunjung?" Bisik Mark.
"Aku tidak punya hak untuk marah, ini sudah nasibku, kau datang saat kau mau dan pergi saat kau bosan!"
"Oh, manisnya …." Seru Mark.
"Beib, malam ini kosongkan jadwalmu, aku ingin merayakan malam ulang tahunmu, hanya berdua denganmu di kamar ini." Bisik Mark.
Seketika mata Ara melotot, dia lupa kalau malam ini adalah hari lahirnya. "Kau tau?" Ucap Ara seakan tak percaya.
"Jangankan hari ulang tahunmu beib, ukuran Bra dan celana dalam kamu pun aku tahu," ucap Mark dengan seringai liciknya.
Di dalam sana dua orang saling bersilat dan menjelajahi diri masing-masing, saat yang sama, Cindy yang datang ingin bertemu Ara mematung mendengari percakapan Ara dan Mark. Saat melihat cumbuan dua orang itu kian liar, Cindy segera meninggalkan Apartemen Ara.
__ADS_1
***