
Yuhuuu ... ini masih Flash back Mark dan Abi yup.
******
Keadaan heboh, Abi tidak menyangka, rencananya malah seperti ini, melihat kepanikan Shita, Abi langsung memanfaatkan keadaan. Saat ambulan datang, hanya Abi dan Mark yang ada dalam ambulan itu. Abi pun menyusun rencananya lagi.
"Saatnya, anda memulai segalanya dengan permulaan yang baik tuan muda." Seru Abi.
"Apa itu?" Tanya Mark, dia meringis, walau tubuhnya tidak kena peluru, namun dia merasakan sakit, pada area yang kena tembakan peluru.
"Aku akan telepon dokter Andreas, meminta bantuannya untuk sandiwara kematian tuan muda." Seru Abi.
"Si*l! Kau menginginkan aku mati?!" Bentak Mark.
"Tidak, mari kita lihat, bagaimana rasa cinta nona muda pada anda, kita akan atur semuanya," seru Abi, dia langsung menelpon dokter Andreas sahabat Mark.
***
Di Rumah Sakit.
Persiapan pendukung di Rumah Sakit pun sudah disiapkan oleh dokter Andreas.
"Kita beruntung, untung alat pendeteksi ini masih di tinggal oleh pruduser film kemaren, kita masih bisa gunakan, untuk sandiwara tuan muda yang jatuh cinta itu." Ucap dokter Andreas, sambil memantau persiapan kamar penanganan medis buat sandiwara Mark nanti.
Sesampai di Rumah Sakit, Mark langsung ditangani dokter Andreas, hanya mengobati nyeri pada tubuhnya akibat kena tembakan.
"Kamu beruntung Mark, karena mengenakan rompi anti peluru ini," seru dokter Andreas.
"Sandiwara kami gagal, eh yang datang malah orang yang benar-benar ingin membunuh Shita." Gerutu Mark.
"Abi, lebih baik kau keluar, setelah cukup waktu, aku akan keluar dengan bakat aktingku yang selama ini terpendam," seru dokter Andreas.
Abi langsung keluar dari ruangan itu, sedang dokter Andreas membantu Mark, dengan persiapan pendukung yang lainnya.
Alat pendekteksi yang bisa di kendalikan jarak jauh pun sudah siap. Karena semua sudah siap, Shita pun diminta dokter Andreas masuk keruangan itu, untuk bertemu Mark.
Saat Shita berteriak, hampir saja Mark tersentak karena kaget, untung dia ingat kalau ini sandiwara kematiannya. Saat dokter Andreas masuk dengan tim medis lainnya, sedang Shita dan yang lainnya sudah keluar dari ruangan itu.
"Buka saja matamu, semua orang sudah pergi." Seru dokter Andreas.
"Kasihan sekali istriku, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada calon bayi kami?" Bentak Mark.
"Tenang, setelah ini, kita pastikan keadaan calon bayi kalian." Seru dokter Andreas.
Mereka tengah bersantai di ruangan itu, sedang orang-orang di luar sana menangis, karena mengira Mark sudah mati.
Ketenangan Mark, tiba-tiba berubah, saat Abi masuk lagi kedalam, mengatakan kalau Shita pergi memburu Cindy.
__ADS_1
"Sial! Kalian harus pastikan keselamatan istriku, kalau bisa bunuh saja wanita itu!" Bentak Mark, tapi di masih menahan nada suaranya.
***
Mark mondar-mandir, menunggu kabar terbaru dari Shita. Dia sungguh tidak tenang, hampir satu jam berlalu, akhirnya Abi masuk lagi.
"Nona muda tidak apa-apa, untung saja Ara datang disaat yang tepat, kata Gimar tadi di telepon. Katanya, tadi nona muda ingin menembak Cindy." Seru Abi.
"Bagaimana Cindy?" Tanya Mark.
"Entahlah, karena menurut laporan, keadaannya sangat kritis, salah satu petugas keamanan kita, sengaja menabrak Cindy."
"Beri petugas keamanan yang menabrak Cindy, beri dia bonus yang banyak, juga kenaikan pangkat." Seru Mark.
Semua orang berkumpul di kamar perawatan khusus buat keluarga Emanuel Group yang sakit. Sedang Gimar baru datang dari urusannya dengan pihak kepolisian. Abi langsung menghampiri Gimar.
"Bagaimana urusan dengan Cindy?" Tanya Abi.
"Semua beres, tidak ada yang menuntut atas kematian Cindy, karena aku menyuruh anak buah kita meletakkan pistol yang sama, yang kami terima dari kepolisian, pistol yang sama juga saat ia gunakan untuk menembak nona muda sebelumnya, jadi seolah anak buah Emanuel Group, menyelamatkan nona muda mereka yang akan di tembak wanita itu." Seru Gimar.
"Bagus, kau mulai cerdas!" Seru Abi, sambil menepuk bahu Gimar.
Melihat Gimar akan pergi, Abi langsung bertanya. "Hey, kau mau kemana?"
"Aku ingin membuat naskah, buat nona nanti, bukankah nona muda harus mengu---" Ucapan Gimar terhenti saat melihat Mark bediri di depan pintu ruangan medis.
"Kau? Tuan muda?" Gimar sangat bahagia melihat Mark masih hidup. Dia berjalan ke arah Mark, sedang Mark masuk kembali kedalam ruangan itu.
"Sekarang, kamu bantu tuan muda mengucapkan perminta maafan pada semua orang," seru Abi.
"Baiklah, mari kita temui nona muda kita." Seru Gimar.
Mereka pun langsung menuju kamar, yang di tempati oleh Shita. Semua yang ada dalam ruangan itu, sangat berduka. Namun semuanya malah terperanjat, saat melihat Mark, ada di depan mata mereka semua. Karena isyarat dari Abi, semua orang faham, mereka langsung keluar dari ruangan itu, hanya ada Shita dan Mark yang ada dalam kamar itu. Dalam kamar itu Shita terus menangis dalam pelukan Mark. Sedang di luar ruangan, semua tatapan mata tertuju pada Abi.
Flash back off.
Dalam kamar perawatan khusus yang di tempati Shita. Shita berusaha berhenti menangis, namun rasa bahagia karena Mark masih hidup, membuat air matanya tumpah begitu saja.
"Hey, berhenti menangis, jangan keluarkan lagi, sudah terlalu banyak ini keluar." Mark terus mengusap air mata Shita dan menghujani wajah cantik itu dengan ciuman.
Shita tidak bisa berbicara, dia terus memandangi wajah Mark. Dia menahan nafasnya sebentar, mengumpulkan energi untuk bicara. "Bagaimana bisa? Aku melihat kau tertembak." Ringis Shita.
"Semua itu berkat Abi," Mark mulai menceritakan rencana Abi.
"Apa kau terluka? Coba kulihat," Shita berjalan kearah belakang Mark, dia berdiri di belakang Mark dan memastikan kalau Mark tidak terluka. Mark pasrah, dia melepaskan bajunya, agar Shita puas.
"Tidak terluka, bagaimana mungkin, sedangkan waktu itu kau berdarah sangat banyak sekali." Ringis Shita.
__ADS_1
"Itu karena kejeniusan Abi." Seru Mark.
Shita menghapus air matanya, dengan jemarinya. Dia merasa malu, karena ketahuan Mark akan perasaan hatinya. Sedang Mark berjalan kearah pintu.
"Mau kemana kau?" Tanya Shita, karena Mark setengah berlari menuju pintu.
Sesampai pintu Mark menguncinya dengan perlahan, agar tidak menimbulkan suara. Selesai mengunci pintu dia berlari lagi kearah Shita. "Mengamankan keadaan." Bisik Mark sambil menenggelamkan wajahnya di tempat favorite yang selama ini tidak bisa ia lakukan.
"Pakai bajumu, aku lega kau tidak terluka." Ringis Shita, dia merasa aneh, karena Mark bermain manja di ceruk lehernya.
"Kau yang membukanya, maka kau harus menyelesaikannya." Bisik Mark.
Shita menggeleng dan tersenyum, karena perbuatan Mark.
******
Keadaan di luar kamar masih hening, semua mata masih menatap tajam kearah Abi.
"Okey, aku akan jelaskan semuanya, tapi kalian sudah memaafkan tuan muda bukan? Rencana terakhirku ini, muncul tiba-tiba, saat Mark kena tembakan dari Cindy." Abi mulai bicara.
"Kenapa Mark baik-baik saja? Kami melihat bagaimana Mark tertembak." Seru Ara.
Abi mulai menceritakan semuanya dari awal, dari rencananya menusuk Mark, tapi sandiwara itu gagal, tapi rencananya tetap berjalan, karena Cindy.
"Kau sangat pintar Abi, karena kejadian ini, kami semua bisa melihat bagaimana perasaan anak kami pada Mark, kami tidak akan mengganggu hubungan mereka, walau awalnya Shita terpaksa menjadi istri tuan muda itu." Seru Sammy, sambil menepuk lembut pundak Abi.
"Ayo kita kembali," seru Ana. Mereka semua berjalan kearah pintu.
Abi memegang gagang pintu itu, saat perlahan membukanya.
"Astaga! Dikunci!" Gerutu Abi.
Semua orang saling pandang.
"Itu tandanya kita harus pulang, Shita sudah ada yang menjaganya." Seru Loiz.
Sangat terpaksa semua orang pulang ketempat masing-masing. Karena pintu kamar itu sudah dikunci.
*****
End ....
*
*
*
__ADS_1
*
Di depan Author kasih bonus chapter😉