Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris

Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris
Tidak bisa berdamai


__ADS_3

Ingatan tentang kejadian dimana nenek membuat janji dan kejadian dimana Alex membawa Nayla kerumah membuat semuanya kaget namun, tetap dengan ekspresi santai.


"Tuan, Nyonya tersiram air panas dan mengunci dirinya di kamar," ujar sekertarisnya, membuat lamunan nya hilang entah kemana saat suara ketukan dan Beno masuk dengan wajah ketakutannya sambil menatakan kejadian yang pelayan sampaikan padanya sekarang. Terdiam mengangkat wajahnya seketika langsung bergegas.


Tanpa bicara lagi Alex berdiri dengan wajah kesal dan segera berjalan tanpa menatap Beno lagi.


Telpon masih tersambung dan tertempel di telinganya. Beno hanya diam melihat bosnya melewatinya begitu saja dengan wajah kesalnya.


Mematikan sambungan.


"Beno." Nama yang disebut segera keluar setelah menahan agar tidak kaget dengan gerakan bosnya yang tiba-tiba dan barusan menutup panggilan telpon namanya kembali terpanggil.


"Iya.. Tuan." Sudah ada di samping Alex tiba-tiba.


"Kenapa? Apa yang kalian lakukan." Beno menatap kaget apa yang bawahannya lakukan.


Melihat semua pekerja yang ada di bawah tanggung jawab asistennya Beno atau sekertaris dua.


Mereka terlihat membuat masalah tidak terlalu parah tapi, waktunya sangat tak tetap.


"Gazi dan Fatir." Keduanya menoleh saat melihat yang memanggil mereka adalah Beno.


"Pa-pak... Ka-kami." Alex mengeraskan rahangnya.


"Jika kalian tak bisa bekerja dengan benar lebih baik kalian jadi tukang somay didepan."


Melangkah pergi menginjak beberapa kertas berserekan di lantai.


Beno mengusap keningnya, memijitnya mencubit kulit dahinya, kertas-kertas malang pikirnya sambil menatap lantai, tiba-tiba melampiaskan tinjunya pada udara.


Gazi dan Fatir hanya terdiam ketika hendak bersuara. Niatnya di urungkan.


"Beruntung kalian... Huuuh... jantungku berdebar tadi! Apa yang kalian lakukan Sih," ujar Beno gemas menatap keduanya kesal.


"Kami tidak tahu pak, tadi seorang oB datang dan meletakkan sesuatu sebelum aku pergi ke toilet dan Fatir sedang pergi membuat kopinya sendiri didapur, kami kita dia tidak berbuat apapun tidak tahunya beberapa kertas keluar dari mesin foto kopi tak berhenti dan kosong."


Beno mengerutkan keningnya.


"Ya, ya sudahlah kalian kembali bekerja lagi dan pastikan tak ada berkas yang hilang atau rusak dan jika ada kabari aku atau sekertaris dua nanti kita pikirkan bersama."


Keduanya mengangguk.


Selesai sudah kini Gazi hendak pergi ke tempatnya, sampai di kursinya seketika curiga dengan benda di atas kardus dekat kursinya.


"Ini apa..." Seketika Beno kaget mendengar suara benda jatuh.


"Pak.. Gazi keracunan." Teriak Fatir, refleks Beno langsung datang dan melihat kotak hijau yang Gazi pegang dan menumpahkan benda bubuk berwarna hijau kemerahan didalan kaca berbentuk guci mini.


"Sial." Umpatnya.


Segera menelpon wakilnya dan datang dengan segera padahal ia sedang ada di luar kota mengurus hubungan kerja sama dengan Venzo crop.


*


Di tempat nya duduk dengan nyaman.


"Apa lagi yang terjadi?" Kata Farhan dengan wajah yang sangat senang.


"Belum ada laporan lagi Tuan," ujarnya.


Farhan menganggukkan kepalanya.


"Baguslah setidaknya mereka lebih tidak seperti manusia dibanding aku yang hanya ber otak licik," ucapnya menatap kedepan sambil tangannya mengisyaratkat Bione pergi.


Mereka bilang menantu terbaik dan tersayang ternyata Darma putri dari Venzo corp yang seharusnya menjadi pasangan Alex bukan gadis kuda.


Hah! Lucu sekali, batin Farhan sambil beralih tatapannya, menatap keluar jendela yang memberi jalan angin masuk dan menerbangkan kain horden perlahan-lahan.


Dalam perjalanan seketika Alex mendapat telpon dari Beno jika Gazi keracunan serbuk hijau dan itu serbuk paling bahaya didunia.


Pemiliknya hanya orang yang mendapat mandat khusus untuk mengurusnya.


Alex meninju kemudinya.


"Bermain-main lagi, Apa mereka tak bosan, hah." Gemasnya seketika memutar arah mobilnya ke rumah sakit sebelum kembali pulang.


Sampai di tempat seketika Alex menatap tajam Fatir dan Beno, melihat Gazi yang di bawa keruangan rawat setelah keluar UGD.


Didepan ruang gawat darurat rumah sakit dekat kantor.


Beno dan Zulfikar saling menatap lama dan menghembuskan nafasnya kasar. Alex meneliti Fatir seketika Fatir di buat bingung.

__ADS_1


"Beno urus Fatir pastikan dia tak menghirup serbuk hijau tadi saat menolong Gazi."


Beno menatap Fatir.


Mimisan.


"Adooh." Beno langsung memegang kepalanya.


"Ayo cepat kau harus berobat." Beno langsung menarik Fatir seketika Fatir ambruk tepat saat ada perawat laki-laki membawa kursi roda.


Zulfikar dan Alex saling diam.


"Tuan."


Menunduk takut menatap atasannya yang wajahnya sangat tak bersahabat.


"Kau urus siapa yang meneror kantor."


Seketika beberapa perawat berlarian keluar dan saat rasa penasaran Alex dan Zulfikar besar mereka ikut melihat apa yang terjadi.


Ramai ambulan berdatangan dan beberapa pasien darurat yang keluar dari ambulan adalah karyawan dari kantornya.


Alex semakin emosi.


"Aku tidak perduli keluarga bagaimana jika dia sekarat tetap seret kehadapanku, tidak perduli mereka begitu banyak atau orang terdekatku sekalipun."


Zulfikar mengangguk dan segera menelpon seseorang sambil berjalan pergi meninggalkan Alex sendirian.


Alex hendak berjalan keluar seketika Beno datang membawa kabar.


"Tuan, Maaf.... Nyonya besar berulah lagi membuat luka bakar nyonya muda semakin parah dan saat akan di obati beliau melakukan...." Alex seketika berbalik pergi ketika kabar terburuk di akhir kalimat Beno ia dengar.


"Kau urus mereka aku tidak akan biarkan mereka semua bernafas dengan tenang." Alex menaiki mobilnya dengan kasar melaju kencang sampai tak perduli dengan lampu merah di depannya dan teruk atau kendaraan besar ia salip.


*


Sampai dirumah Alex melihat susana dalam rumah begitu sepi.


Dengan langkah lebarnya ia langsung pergi kekamarnya.


Membuka pintu perlahan setelah mengatur emosinya.


Nayla menyadari pintu terbuka.


Alex masuk sambil kembali menutup pintu tak menghiraukan ucapan Nayla, ia tetap mendekat seketika berjongkok di hadapan Nayla.


"Apa yang kau lakukan?"


"Menjauhlah... jangan mendekat jangan menyentuhku."


Alex menatapnya tajam."Tunjukkan tanganmu cepat."


Nayla bergeming.


Alex tak bisa sabar, seketika menarik tangan yang di sembunyikan Nayla dengan kasar.


"Lepas!" Terlihat tangan terluka begitu merah sampai kulitnya mengelupas.


"Kenapa kau tak mengobatinya."


"Aku lebih suka aku di bunuh langsung, kenapa menyiksa?"


"Aku bertanya dan kau hanya menjawabnya bukan mengalihkannya."


"Aku mau mati! Ada saran dimana mayat tidak bisa di temukan?"


Rahang Alex seketika mengetat keras marah menatap emosi.


"Kau! Aku tak akan membiarkanmu mati begitu saja, kau tinggal menurut dan selama perjanjian berjalan kau bisa bebas melakukan apapun, jika kau seperti ini aku akan berubah pikiran dan malah membunuhmu dengan memberikan beberapa bagian tubuhmu untuk makanan hewan buas."


"Aku tidak takut," ujarnya berani. Alex mencengkram lebih kuat tangannya.


Nayla berusaha lepas.


"Sakit, lepas!"


"Kau ingin mati kan, aku akan lakukan tapi, setidaknya rasa sakitnya harus sama seperti yang aku rasakan."


"Aku tidak tahu apapun, orang tuamu ayah ku dan Abdullah, kalian hanya bisa saling menyalahkan."


"Siapa yang menyalahkan, Kau? Aku? Atau kau yang minta dimunuh? Jawab saja?!"

__ADS_1


"Lepas!"


"Kau ingin aku bagaimana?"


Nayla terdiam tertunduk menahan air matanya berusaha tak menangis padahal air matanya hampir tumpah.


"Alex lepaskan tanganku, kumohon sakit!"


Terlepas dan seketika Alex mengangkat Nayla dan membaringkan di sisi ranjang tempat Alex biasa berbaring.


Menyiapkan salep dan mulai duduk tenang mengobati tangannya.


"Kau harus minta maaf," ucap Alex dengan mudahnya dan nadanya sangat lembut.


"Aku tidak salah dan aku sudah minta maaf berulang kali aku juga sudah membantu tapi, aku tetap salah lalu apa yang harus kukatakan, mengatai mereka semua licik bodoh dan tak punya adab," ucap Nayla dengan emosi.


Seketika itu gerakan tangan Alex yang membungkus luka Nayla berhenti sebentar dan kembali berlanjut sampai selesai.


"Istirahatlah." Tanpa menjawab ataupun menatap wajah Nayla. Alex berdiri dan pergi keluar kamar sambil meletakkan kotak obatnya.


"Aku tidak mau membuat masalah tapi, mereka membuat masalah duluan, aku berani bertanggung jawab jika aku membuat masalah lagi dan masalahnya memang aku yang buat."


Alex tak menghentikan langkah terus melangkah sampai kembali menutup pintu.


Nayla yang bicara sambil menatap kesamping seketika menoleh saat mendengar suara pintu terbuka lalu tertutup.


*


Nayla tetap marah dan tak mau bicara dengan Alex walaupun sudah dua minggu bersama dengan Alex dan tinggal di rumah nenek.


"Kau kenapa tidak bilang jika kau terluka, Aku ganti perban di kakimu," ucapnya sambil membuka kotak obat dan ketika akan meraih kaki Nayla untuk mengganti perban seketika Nayla menarik kakinya menjauh dari tangan Alex yang mau membantu mengobati dan mengganti perban.


"Aku tidak mau."


Alex menatap marah.


Selama beberapa menit sunyi seketika Alex mengambil dan mencengkram kaki Nayla dengan kencang mengganti perbannya dengan perlahan walau Nayla terus menolak Alex membantunya.


"Lepas!"


Bergeming dengan teriakan Nayla.


"Lepas!... Kau tuli!"


"Lepaskan aku sekarang dasar Badjing*n."


"Aku tak mau!" Jawabannya sedik meninggi.


"Pergi, pergilah!"


Nayla terdiam saat Alex berdiri menjulang tinggi didepannya, Nayla yang hanya sebatas dada Alex terdiam dan perlahan mengkat wajahnya dengan takut.


"Masuk kedalam kamar dan istirahat saja," ujarnya dengan lembut.


"Jika aku ingin bertemu Nyonya Alexzavero, bagaimana? Tuan Alex." Cakra menatap dengan ramah kedua pasangan yang sedang terlihat marah.


Berdiri bersandar dekat mobilnya.


Alex dan Nayla baru saja selesai menghadiri acara kolega dan tidak sengaja perban kaki Nayla yang terluka karena jatuh tersandung dua hari sebelum pergi ke acara ini.


Dan itu semua ulah Darma tapi, terlihat seperti Nayla yang ceroboh.


"Maafkan kami tapi, istriku yang lemah dan paling aku cintai tak bisa terlalu lama berada di luar rumah, ia harus pulang." Sambil membuka pintu mobil dan meminta Nayla masuk kedalam mobilnya tapi, asisten Cakra menhan pintu dan langkah Nayla yang di cegah untuk masuk kedalam mobil.


"Maaf nyonya."


"Urusan kita tidak akan selesai jika hanya Zul dan Beno yang mengurusnya, Tuan Alex."


"Langsung saja, Tuan Alex aku kemari karena ingin mengajukan perdamaian dan karena itu kami...."


"Tidak ada permintaan dan perdamaian kerja sama, Kau harus bertanggung jawab dengan ulahmu sendiri."


Lalu pergi sambil mendorong asisten Cakra yang menghalangi langkah Nayla.


Mobil melaju pergi meninggalkan Cakra dan asistennya.


"Tanya pada mereka bagaimana perkembangan orang-orang Alex yang masih dirawat."


"Laporannya mereka semua selamat dan tak sampai dua minggu lebih hanya seminggu lebih mereka di rumah sakit sekaligus melakukan rawat jalan bahkan semua dokter yang kita kirim untuk menangani orang-orang Alex mereka tertangkap."


Cakra tersenyum.

__ADS_1


"Setidaknya aku melihat wajah istrinya dan itu sudah bisa membuatku senang."


__ADS_2