Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris

Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris
Permain Darma


__ADS_3

Melihat Nayla tak berdaya Darma menjambaknya lebih kencang menarik kebelakang kepalanya dan menatap wajahnya dengan mendanga. Darma tak puas hanya memukuli Nayla sampai tak berdaya.


"Aku tidak suka apa yang aku punya kau dapatkan karena, aku lebih pantas!"


Sentak marahnya menatap wajah babak belur Nayla.


"Ambilah... Ambil kubilang ambil Nona, Ambil!"


Teriak nayla marah, kekuatannya ternyata tak sepenuhnya habis. Untuk membentak Darma masih sanggup ia lakukan sekarang.


Badannya terasa sangat sakit sekarang tapi, ini bukan masalah karena Nayla sering terluka bahkan jatuh dari tangga sampai patah tulang jadi pukulan raket kayu itu tak masalah dan sakit tak seberapa saat tahu ini ulah Darma. Pikir Nayla cukup untuk terlihat menyedihkan dan mudah di tindas. Alex tak ada dan ini bukan wilayah Garendra, alias wilayah bebas.


"Heh... kau sombong." Berdiri dan menghampiri kursi menatap rupa dan bentuk wajah serta pakaian Nayla yang sangat buruk bahkan darah terlihat mewarnai beberapa tempat di bajunya juga wajahnya yang tergores lecet sampai mengeluarkan darah segar lalu bercampur keringat dan debu.


Darma tersenyum sinis.


"Bos?" Suara anak buahnya membuatnya menoleh kebelakang.


"Apa?" Anak buahnya tak menjawab dan justru memberikan sebuah amplop coklat dan Darma membukanya membacanya tak lama Haila datang dan menghampiri Darma.


Darma mendengar suara langkah lagi di belakangnya, menoleh ke belakang.


"Nyonya besar meminta itu dan anda harus menyelesaikannya sekarang, Nona." Haila menatap datar Nayla yang habis di aniayaya Darma bahkan Haila tak berniat membantunya sama sekali.


Nayla balik menatap Haila datar.


Darma tersenyum mengangguk dengan kedipan mata sekali. Merapikan kembali dokumen perceraian dan menatap Nayla penuh ejekan.


Haila pamit undur diri dan sempat sebelumnya mengambil gambar Nayla untuk melapor pada Nenek.


Darma balik menatap Nayla setelah kepergian Darma dan meletakkan berkas perceraian itu diatas meja.


"Heh... sok alim sok murah hati, Lihat keadaanmu layak di sebut gelandangan, Dasar murahan!"


Nayla menatap Haila yang menjauh lalu menatap kertas didalam amplop coklat diatas meja.


"Jika aku murahan, kau apa? Hah! Apa? Kau mau bilang kau putri? Kau keturunan bangsawan, cih! berkacalah!"


Darma menatap marah Nayla yang mengolok-ngoloknya dengan kenyataan yang ada.


"Sikapmu tak mencerminkan orang dengan otak cerdas, berpendidikan, wanita terhormat ataupun mandiri dengan rasa hormat tinggi, Tidak! Kau bahkan lebih baik di sebut tukang palak atau kau pereman yang mengandalakan amarah dan paksaan, hoh di tambah, ancaman!"


Nayla menatap balik mata yang terlihat begitu membencinya.


"Kenapa Tak suka? Kenyataan!" Teriak Nayla.


Tamparan keras melayang membuat pipi kiri kembali merah.


Nayla hanya diam tertunduk di lantai terikat tangan di belakang dan kaki di lipat kebelakang seperti berlutut. Posisinya sama sekali tak berubah bahkan dari jatuh didudukkan lagi.


"Nenek mengirimkan surat cerai dan kuharap kau bahagia." Terkekeh sinis.


Seketika Nayla tertawa membalas ucapan Darma.


"Bagus segera berikan dan aku akan menandatanginya."

__ADS_1


Darma menatap kesal kenapa mudah sekali ia mengatakannya.


"Bagus lah." Darma pergi meninggalkan Nayla sendirian.


Telponnya bergetar dari dalam saku.


*


Di ruangannya Alex meminta semua dokter dan perawat yang memeriksanya menjauh.


"Keluar!" Seketika itu semua kaget dan terdiam.


Nenek meminta semua keluar dan tak lama Alex menghampiri telpon dinding dekat sofa sambil tertatih berjalan pelan dan akhirnya ia menelpon Beno memintanya datang dan membawkaannya pakaian.


"Alex." Menatap Neneknya dengan sedikit rasa kesal dan benci juga tak teganya.


"Kenapa?" Menahan nadanya.


"Nenek sudah menceraikan Nayla kau tak perlu mencarinya lagi atu berusaha membantunya."


Alex menatap neneknya marah.


Tak lama datang Beno membawa mantel hitam.


Segera merebutnya dan meminta kunci mobil secara paksa.


Beno terpaksa memberikannya tapi, tetap mengikutinya.


"Tuan biar..."


"Tapi, Tuan."


Alex menatap marah.


"Apa lagi Ben... Lakukan saja." Menahan emosinya nada suaranya di rendahkan sengaja.


"Baik Tuan, tapi, izinkan saya ikut biar Zulfikar yang mengurusnya, untuk Nyonya besar."


Alex males ngatakan sesuatu lagi tenaganya sudah hampir terkuras.


Mereka berdua pergi dan Beno memberitahukan dimana Nayla berada.


Sebenernya Alex sudah menemukan keberadaan Nayla dari Haila yang membuatnya bergerak juga. Dari rasa penasarannya. Haila mengantarkan Beno tanpa sengaja ke tempat dimana Nayla berada dengan alat pelacak tentunya yang terpasang di mobil Haila.


Tapi, baru akan menjemput Nayla. Alex menelponnya meminta di bawakan pakaiannya.


Terpaksa putar balik dan mendatangi Alex di rumah sakit.


Zulfikar juga sudah menghubungi ayah Darma, Zulfikar tahu bosnya pasti akan melakukan hal yang sama, menghubungi ayah Darma.


Mereka bisa tahu itu semua perbuatan Darma dan Nenek karena mereka menemukan salah satu orang suruhan nenek yang ikut bersama orang suruhan Darma.


"Ben... cepat!" Didalam mobil Alex terus meminta Beno melajukan mobil dengan cepat.


Secepatnya Mobil terus di gas sampai kecepatan diatas rata-rata.

__ADS_1


Darma yang baru selesai menelpon seketika masuk kedalam dan meminta anak buahnya membuka tali lalu mengambil kursi dan memberikan lap untuk tangan Nayla agar kertas tak kotor karena darah keringat juga debu dari tangan Nayla.


Pena di tangan Nayla.


Dengan santainya Nayla membuka setiap lembar membaca lalu menandatangani di beberapa bagian. Darma melihat dan memperhatikan dengan baik.


"Sudah!" Darma menariknya kasar dan tersenyum puas.


"Baiklah." Menoleh pada anak buahnya sekestika mereka menutup kepala Nayla dengan kain hitam dan mengikatnya di kursi.


Dor....


Nayla terdiam.


"Darma... lepaskan aku!" Teriaknya sekencang mungkin.


"Jika sudah cerai lalu mati, itu tak akan menimbulkan masalah besar, lalu dengan cepat aku akan segera menjadi istri Alex."


Nayla begitu geram tapi, ia terikat dan tak bisa berbuat apapun.


"Aku sudah cerai sekarang dokumen juga ada tanda tanganku, Apa lagi!"


"Kau Mati Nay!"


Seketika suara tembakan dari luar membuat Nayla diam lagi dan Darma menoleh kebelakang.


"Darma, Ayah tak mengajarkanmu untuk seperti ini lebih baik kau pulang atau ayah yang menyeretmu."


Nayla mendengar suara lain dan saat yang sama Alex datang dan melewati ayah Darma dengan tenangnya terus menatap Nayla yang sudah berantakan bahkan mata elangnya bisa melihat kertas diatas meja.


Rasa penasarannya menariknya lebih dekat ke meja dan melihat surat perceraian.


Sambil memegangi perutnya. Alex berusaha tegar dan kuat.


Suara robekan terdengar begitu nyaring di ruangan itu sampai ke serpihan terkecil dan membuangnya diatas bakaran sampah di dalam ember besi dimana baranya masih menyala.


"Kau tak bisa lakukan ini tanpa izinku." Seketika melepas ikatannya di bantu Beno dan menarik kasar penutup kepalanya.


Nayla menatap Alex dan melirik Darma yang terdiam di belakang Alex.


Dor...


Tembakan Darma meleset dan itu membuat Nayla kaget, sangat jelas dimanata Alex jika Darma sangat membuatnya terganggu fokusnya tak menghiraukan suara ledakan pistol.


Alex tak terkejut, hanya dia.


Ayah Darma geram dengan perbuatan putrinya sekarang tanpa suara dan pembicaraan panjang lagi Ayahnya menarik paksa sang putri untuk kembali pulang dan meminta maaf pada Alex dengan rasa malu.


"Kau pikir kau selamat?" Alex menatap marah wajah Nayla sampai akhirnya, tangannya mencengkram dan menarik paksa Nayla keluar.


Tapi baru saja lima langkah berjalan Alex merasa sesuatu aneh.


Nayla jatuh di pelekukan Alex yang cepat menyadari jika Nayla akan pingsan.


Badan Lemahnya tak ia rasa. Alex sendiri menggendong Nayla masuk kedalam mobil dan meminta Beno segera pergi.

__ADS_1


__ADS_2