
Sang ayah tak bisa berlama-lama sampai ayanya menyentuh dadanya kembali, seperginya Nayla dengan Alex. Ayah hanya bisa diam sambil merasakan sakit tertusuk di jantungnya.
Saat akan jatuh berlutut beberapa Anak buah Alex membantunya dan memberikan kursi juga minum air.
Mereka juga bisa berbaik hati tapi, mereka juga bisa sekejam iblis.
Mereka tidak begitu perduli dengan orang yang ada di hadapan mereka tapi, Tuan mereka meminta menjaga orang sekarat ini karena putrinya sudah menjadi istri Tuannya.
"Lebih baik Anda pulang dan beristirahat, Kami tak bisa membiarkan anda pulang sendiri."
"Iya.. Ba-baik lah." Sedikit tertekan juga agak terharu karena mereka sempat perhatian.
*
Ketika suasana semakin tegang dan terasa begitu mencekam Alex hanya bisa terdiam.
Tamparan sang nenek membuat bekas di pipi kirinya.
"Kau pikir aku akan setuju dengan kelancanganmu membawa masuk gadis miskin, Alexzavero!"
"Kau ingat baik-baik ucapan Ku... aku nenek mu dan kau mengatakan sendiri semua terserah padaku, jika aku sudah membawa Darma dan meminta untuk kalian bersatu dalam ikatan pernikahan tapi, Kau! Apa yang kau katakan sekarang kau membuatku malu didepan Darma. Aku ingin kau mengatakan secara baik."
Alex terdiam untuk sekarang.
"Nek... Ini bukan masalah besar lagi pula itu sudah cukup menjelaskan jika Alex memang memiliki pilihan sendiri, Nenek harus menerimanya." Darma ikut bicara seakan ia harus melakukan itu dan Nenek sama sekali tak marah.
"Tidak!" Sahut cepat nenek setelah mendengar penjelasan Darma.
"Siapa yang mau menerima menantu tak ada ikatan dari kasta bangsawan dan berpendidikan baik, dia hanya gadis pekerja buruh dengan lulusan menengah atas dan bekerja dengan keluarga ini menjadi penjaga kuda, Tuan muda Garendra." Menekan semua perkataannya dengan wajah kesal setengah kecewa dan marah.
Alex hanya diam.
Hingga beberapa detik kemudianAlex merasa semakin kemari Nayla semakin di jatuhkan harga dirinya dan Alex adalah suaminya.
Bukan perasaan simpati tapi, tak nyaman yang membuat Alex ingin sekali marah.
"Nek dia perempuan yang baik, dia istriku dia sah menikah denganku secara hukum negara dan agama." Dengan amarah yang besar tapi, tetap tenang mengatakan didepan sang nenek seolah ia tak marah sama sekali.
Nenek berdecih tak percaya jika yang sedang bicara sekarang adalah Alexzavero cucunya sendiri.
Lirikan sadis tak suka dari sang nenek terhadap cucu nya berani berdebat dengannya.
__ADS_1
"Istri Sah Tapi, apa kau menjelaskan semuanya padaku, apa kau mengatakan pada semua keluarga Garendra jika kau menikah kemarin? Kau ini pewaris tahta keluarga Garendra, Alexzavero Garendra.... Cucuku!" Memelas memanggil nama sang cucu laki-laki yang yang begitu terlihat dewasa sekarang. Tapi, kenapa malah menikah dengan gadis asing yang tidak tahu asal usulnya bahkan Darma yang cantik bahkan berwawasan luas, jelas asal usulnya malah di permalukan.
"Nek..." Alex kalah sekarang, Tak bisa marah atau menyangkal apapun tapi, ada beberapa batas tak bisa Alex lewati jika neneknya menuntut hal apapun itu termasuk tentang pernikahan Alex, saat ini juga!
Saling diam hingga beberapa menit berlalu dan Nenek tiba-tiba mencengkram kuat tongkatnya sambil berdiri berusaha tegap.
"Cukup! Aku tak mau bicara denganmu untuk sementara dan kau jangan perlihatkan wajahmu untuk sekarang didepanku, Aku mau Darma yang bersamaku, Razefian tak akan aku bolehkan bertemu denganmu juga."
Seketika Nenek terhuyung kebelakang dan Alex tak bisa membantu karena nenek menahan dengan isyarat tangan tuk berhenti mendekat. Nenek berdiri memaksakan energi yang sudah tinggal sedikit karena terkuras berdebat dengan Alex, untuk tetap terlihat kuat didepan musuhnya sekarang, cucunya sendiri.
"Nenek..." Alex hanya bisa diam melihat tanpa ada tanggapan dari nenek yang biasa Alex lihat jika terpanggil.
"Darma minta bibi membantu mu untuk mengantarku ke kamar biarkan anak sok dewasa ini pergi tanpa berpamitan denganku."
Alex terdiam.
"Istri sah.. Tapi, di sembunyikan apa dia mau menikah lebih dari satu, anak itu benar-benar sulit di mengerti... tidak ada istri sah di sembunyikan bahkan tak di bawa berkenalan denganku dulu dan main langsung menikahkannya." Ocehan Nenek sepanjang jalan dan yang masih bisa Alex dengar.
Alex kembali duduk mengusap kasar rambutnya.
Tak ada pilihan lain untuk membuat hubunganku dengan nenek membaik, aku harus bisa mengambil jalan sendiri dan Nenek tak bisa menentang batasanku dan Nayla, batinnya.
Alex bangkit dari duduknya dan di saat bersamaan sang paman membuat ulah dengan mulai mengambil beberapa saham kecil yang baru Alex pelihara beberapa bulan dan Pamannya selalu saja bisa mengambil saham ini. Alex menutup informasi dari bawahannya yang di jelaskan lewat pesan imel.
Di tempat lain tepat saat akan memasak susu di panci saat ketika ia akan melepas bungkus tisu mengisi tempat tisu dapur.
Seketika ponsel asistennya berdering.
Diangkatnya. "Iya.. Bos."
"Kau jangan biarkan paman mengambil semua saham kecil itu. Aku sudah menikah dan paman tak ada hak mengambilnya."
Sambungan terputus begitu saja. Beno menghela nafasnya.
Apa yang sulit apa yang mudah. Bosnya itu, Aihh...
Sebenernya ini perebutan hak waris hanya karena hak waris Pak bos sampai menikah dadakan dan perempuan itu langsung di nikahinya, bener-bener gak habis pikir Beno.
Setelah mendidih Beno menuangkan susu panas ke dalam gelas dan meletakkannya di atas meja pentry membawa ponselnya pergi kedalam kamarnya sambil menelpon.
Kembali lagi kedapur membawa leptop.
__ADS_1
Di sebrang sana Asistennya alias wakil sekertarisnya Zidan.
*
Didalam kamarnya Nayla sama sekali belum tidur bahkan belum mengganti pakaiannya Nayla sama sekali belum berganti pakaian.
Sejak datang ke KUA dia memakai pakaian formal dres terusan warna coklat susu dan rambut yang masih ditata di sanggul biasa.
"Permisi." Di berengi ketukan.
"Nyonya..."
Segera bangkit dari duduknya dan menghampiri pintu membukanya bersamaan dengan pelayan yang mau membukanya.
"Bibi."
"Nyonya... maaf mengganggu waktu istirahat anda," ucapnya sambil mengamati dengan wajah ramah.
"Iyaa Tak masalah, bi."
Bibi masuk setelah Nayla persilakan. Didalam kamar Nayla di antar untuk melihat pakaiannya dan juga membantu Nayla supaya bisa membersihkan badannya.
"Nyonya..."
Nayla melamun setelah mandi dan didepan cermin sambil menyisir.
"Eh iya." Sahutnya terkejut saat sadar di pantulan cermin bibi membawa nampan berisikan sesuatu seperti susu dan kawan-kawannya.
Bibi sempat pergi keluar saat Nayla mandi dan kini Nayla sedang menyisir rambutnya bibi datang dan apa bibi melihatnya melamun.
"Iya Bi terimakasih," sahutnya lagi sambil berjalan menghampiri bibi.
"Jika ada yang di butuhkan lagi Nyonya bisa mengatakannya pada saya atau pelayan lainnya," ujarnya dengan begitu ramah.
Nayla tersenyum mengangguk.
"Terimakasih Bi, Nanti aku bilang lagi kalo butuh sesuatu." Bibi mengangguk dan pamit pergi.
Setelah Bibi benar-benar pergi entah kenapa perasaan Nayla begitu gelisah dan tak nyaman.
Apa ia slah lagi? Ini sebenarnya dari awal juga sudah sedih dan di tambah perasaan tak nyaman.
__ADS_1
Duduk agar perasaan gelisah dan kesal juga takutnya mereda tapi, malah panik semakin menggila.
"Kenapa gak enak banget perasaannya. Kenapa?" Serasa frustasi tapi, wajahnya begitu tenang hanya tatapan matanya begitu menjelaskan semuanya.