
Zoya merasa aneh dan asing ketika mendengar suara ketukan pintu. Ia rasa ia tak memesan apapun dan para pelayan sudah beristirahat.
Ketika kedua kakinya melangkah dan hampir dekat dengan pintu tangan besar menyentuh bahunya.
Kaget sampai mengumpat dan ternyata Ian.
"Napa lo, lebay banget..."
"Lo yang tiba-tiba, diem deh!"
Ian mengedikkan bahunya dan berjalan cepat melewati Zoya yang hampir sampai pintu ketika akan membukanya kedua tangan Zoya menahan tangan Ian.
Kepalanya menggeleng.
"Kenapa?" bisiknya.
"Jangan pokoknya... ngintip aja dulu bentar lewat cctv." Kata Zoya berbisik. Membuka ponselnya Ian mulai mencari aplikasi cctv rumah Alex di ponselnya dan kamera teras dekat pintu depan berdiri seseorang dengan jas hujan dan kebetulan di luar hujan deras.
Seseuatu di tangannya seperti kantong hitam tapi, cairan merah menetes.
Ian menatap Zoya, begitu juga wajah panik zoya menatap Ian.
"Gue lapor ama kakak," ucap Zoya bernajak pergi. Seketika itu Ian menahannya.
"Jangan.. gak usah gue ada, emang gue apan." Kesalnya karena dianggap tak bisa apapun.
Zoya menatap tak percaya tapi, dengan percaya dirinya Zoya melihat ian mencari alat pukul besbol di keranjang payung.
"Lo buka pintu gue yang siap-siap." Zoya tak percaya tapi, Ian berusaha membuatnya yakin.
"Gak usah lah.. gak percaya gue tapi, kalo Kak Alex percaya." Ian mendengus sebal seketika tangannya bergerak membuka kunci dan menarik pintu kedalam.
Kilat dan guntur bersamaan membuat orang berdiri didepan pintu terlihat menyeramkan seperti film-film horor.
"Aaaa...." Sama sama berteriak ketiganya membuat Ian dan Zoya langsung diam saat lihat wajah siapa disana.
"Om Beno!" Panggil zoya. Ian melihat wajah Beno seketika jengkel.
"Apaan sib Beno, Gak jelas lo."
Beno terkekeh.
"lo berdua teriak ya kaget juga gue.. Saat tatapan mata Zoya Ian turun kebawah tangan kiri Beno saat itu Beno juga mengikutinya.
Ian menatap Beno datar.
"Bawa apaan lo, Sampe macem-macem gue abisin lo, buat jelek harga diri gue depan cewek."
Bono masuk sambil menampung tetesan cairan di pelastik dengan ember.
"Ck... ini daging buat pliharaan Nyonya,"
ucapnya. Zoya menatap bingung seketika Ian langsung mendekat melihat.
"Peliharaan apa makan daging segar dan masih baru?" Belo mencuci tangan dan mengelap lalu menelpon pelayan untuk menyimpannya.
"Singa!" Zoya membulatkan matanya.
"Belom dateng sekarang hewannya baru bisa dateng waktu Nyonya udah ngelahirin dan itu bareng sama kelahiran anaknya, Surat-suratnya juga butuh banyak proses walaupun pake uang tapi, ini satwa di lindungi."
Ian mengangguk mengerti. Zoya manggut manggut.
__ADS_1
"Ok lah Aku pamit Tuan dan Nona." Kata Beno kembali Formal.
"Oiya.. jangan langsung buka pintu seperti tadi dengan tongkat takutnya lawanmu menggunakan pistol." Ian langsung menyimpan tongkatnya.
Beno terkekeh.
Dasar anak-anak sok berani ,pikir Beno.
Langkah beno perlahan menghilang dari pintu yang tertutup sambil keluar tangannya menutup pintu.
Tinggal Zoya dan Ian.
"Yaelah... tau beno ngapain juga kita ketakutan." Zoya menatap kesal.
"Apaan lo, Gue takut!" Zoya terkekeh.
"Lo...Lo yang ketakutan Yan..." Ian menatap remeh senyumnya sinis tak terima.
"Gue gak takut gue cuman siaga... lo itu terlalu sok menilai gue penakut padahal Lo sendiri yang ketakutankan tadu, ngaku lo ama gue yekan... Ngaku lo, zo." Seketika Zoya berbalik.
"Sory gue gak mau ngaku karena gue emang gak ketakutan melainkan. gue terpaksa waspada, mirip ketakutan tapi, gue sengaja waspada apa salahnya gak mungkin kan... gue bangunin pelayan, lo ngaco sih!"
"Heleh sompreeet... lo alasan doang lo." Zoya mengacungkan jari tengahnya dengan senyuman lebar.
"Apa lo bilang maaf gue gak denger... Wleeek." Zoya menjauh pergi masuk ke kamarnya.
Ian menggeleng.
"Zo!" Seketika langkahnya terhenti berbalik menatap malas Ian. Ian menatap datar.
"Lo gak kaget gue ada hubungannya sama Alex yang nikahin paksa Kakak Lo?"
"Bodo amat gue gak ngurusin." Ian menunduk terkekeh.
"Gue tahu usaha lo buat bisa berdiri sendiri itu lumayan keras dan mereka yang gak suka lo terus ngejatuhin lo."
"Biarin aja itu urusan gue.. gue harap lo gak usah ikut campur berlebihan terimakasih lo khawatir ama gue karena Lo gue bisa sedikit lega. Makasih Yan."
Ian menatap datar ada rasa aneh menyerang hatinya dan tatapan mata lembut sayu juga kosong bersamaan itu bisa Ian lihat.
"Makasih? Dia bilang makasih? Buset sarap tuh bocah!"
Ian melangkah ke lain arah pergi ke ruang baca alex memilih kesana karena ia tak mau tidur di kamar tamu lebih baik di sofa ruang kerja.
*
Di Dalam kamar Nayla dan alex saling diam tak tahu di bawah ada kejadian horor lalu setelahnya kejadian saling terpesona antara Zoya dan Ian. Nayla diam membaca buku dengan lampu baca diatas nakas samping tempatnya tidur.
Alex yang baru selesai mandi karena keringatnya hampir banyak dan kaosnya basah. Dengan baju tidur kimono satin biru dongker.
"Nay... aku mau keluar kota beberapa minggu kedepan hanya dua tiga hari, jangan pernah pergi atau menjauh dari Ian atau Zoya."
Nayla mengangkat wajahnya menatap Alex.
"Untuk apa, cari istri baru atau mau nikah paksa lagi, oh enggak bikin rumah terus nikah paksa siapa kek yang alesannya punya masalah masa lalu terus abis tu hamil pas aku juga gak tahu, iya?"
Alex menggeleng.
Alex untungnya sabar.
Menghela nafasnya sambil menghampiri remot tv dan duduk di kursi sambil menonton.
__ADS_1
"Kenapa bisa sampai kesana, aku hanya urusan bisnis." Nayla mengedikkan bahunya.
"Terserah, aku menurut saja tenang saja, pulang selamat jangan sampai anak mu ada kau tidak..." Alex menatap dengan sayu.
"Iya.. aku akan jaga diri, untuk setelah mu itu tidak ada.. aku yakinkan itu, kamu saja Nay." Nayla mendecih.
"Gombal." Katanya lagi.
"Biarlah, sama istri sendiri mah gak masalah, kalo aku gombalin bibi baru itu bahaya, Dan berapa kalo kamu bolos cek up kehamilan." Nayla tiba-tiba menguap.
"Aku ngantuk... aku tidur duluan ya," ucapnya beralasan ngantuk aslinya ia menghindari pertanyaan Alex karena ia tiga kali bolos dan Della mengomeli Alex karena dokter kandungan Nayla itu menanyai Della terus.
"Iyaa sudah malam terserah padamu." Ucap alex pasrah saja berjalan mendekati istrinya dan menaikkan selimut sedikit menaikkan suhu acnya.
Di saat yang sama Alex juga berpikir dengan menatap wajah lelah Nayla yang langsung tertidur nyaman.
Alex sebenarnya ingin mendatangi Darto dan juga Melda meluruskan masalah, Alex juga malas kelahiran putranya akan ada kerusushan. Termasuk Marcella yang tak gentar terus saja mengincar dimana keberadaan Prabudya.
Alex yang sudah tahu dimana Prabudya tak akan membiarkan Marcella sadar lebih cepat, Tantenya itu harus di beri arahan keras untuk mengerti.
Sejarah Garendra yang hanya pengusaha kecil bisa jadi pengusaha besar ini pun karena bantuan dari Prabudya salah satu orang yang mengenal kakek buyut Alex.
Untuk ayah Nayla Alex tak aka menyianyiakan semua tanggung jawab yang sudah Alex pegang.
Marcella yang ada di apartemennya kini tersenyum bangga.
"Sebentar lagi Alex pasti pergi dan aku akan membuat Nayla menjauh darinya seumur hidup bersama keturunannya lalu membereskan semua Perusahaan Garendra untuk menjadi miliknya."
Marcella menekan satu tombol di laptonya lalu menutupnya dan bangkit dari duduknya.
Di pabrik kulit hewan Beberapa bagian gedung pabrik terbakar hebat sampai tinggal setengah gedung yang selamat karena pemadam kebakaran datang kurang dari sepuluh menit.
"Aksesnya agak sulit karena padat dan jalanan berkelok juga didekat perkampungan termasuk ada banyak anak kecil berkeliaran malam ini didesa karena ada hajatan juga didekat sana.
Satpam jaga menelpon beno dan mengatakan kronologis kejadian.
Saat Beno di telpon ternyata ada Zulfikar di sampingnya.
"Lelah, kau tahu Le lah!" Beno menatap malas.
"Aku yang akan pergi memeriksanya jangan lupa kunci pintu jangan membawa wanita kemari atau apartemenmu ku bakar!" Mendengus sebal bangkit melepas jas dan membuka dua kancing teratas lalu menggulung kemeja hitamnya.
"Mie aku mau masak mie... wanita sekarang itu bukan tipe ku, jika seperti Valenzia aku akan memikirkannya."
Di kamarnya Valenzia tersedak jus pisang stowberinya.
"Hem.. gakk enak banget kesedek siapa sih, pengen ku banting palanya." Kesalnya karena ingin menikmati malah tersedak.
Beno menatap jengah...
"Terserah apapun itu tapi, bersihkan jika tertinggal kotoran, ingat apartemen bagusmu ku bakar!" Mendengus sebal sepeninggalan Beno yang perlahan menjauh.
"Galaknya mirip-mirip bos dah."
Beno benar-benar kesal caranya Marcella mengancam tak lihat kalo Beno istirahat, bisa tidak kalo mau membuat ancaman itu tunggu beberapa jam beno istirahat baru buat ancaman nyatanya.
Beno mendengus juga sedikit lega menatap jam dan ponsel.
Di luar sana semua bahan alat juga isi pabrik di pindahkan ke rumah utama, Ian mengawasi pemindahan barang awalnya ia bingung. Lalu menjelaskannya dan meminta Ian pulang untuk mengurus itu.
Padahal Ian baru saja ingin tidur di ruang baca. Kakak tak tahu jam istirahat tuh gitu, ngeselin!
__ADS_1