
Nayla dan Dipto sampai di kebun binatang safari mereka berjalan-jalan bersama rombongan mobil keluarga lainnya yang sedang memanjakan anak-anak mereka dengan memperlihatkan satwa yang ada di taman safari.
"Kau senang?" Tanya Dipto khawatir.
"Iya.. terimakasih, Aku masih tak menyangka bisa masuk kemari dan ini harga tiketnya juga mahal, aku berterimakasih juga karena jalan-jalan ini kau mengeluarkan uang untuk ku juga."
Nayla agak segan sebenarnya tapi, ingat perlakuan awal Dipto bertemu dengannya membuatnya kesal.
"Tahu kau bisa sebaik dan seramah ini kenapa waktu itu kau terlihat.. agak," ucapnya tak bisa di lanjutkan takut menyinggung.
Dipto terkekeh.
"Aku terlalu menyukaimu, tak bisa terima kenyataan kalo kamu udah menjadi istri dari cucu Garendra di tambah kamu makin cantik bersamanya. Aku juga menyelidiki semuanya sedikit selah bisa aku lewati dan ternyata kau dan Alex..."
Nayla mengangguk anggukan kepalanya.
"Iyaa aku dan Alex, kami hanya melakukan pernikahan terikat terpaksa dan diatas kertas, tapi kami sah dan punya buku nikah."
"Aku tidak keberatan jika, nanti saat alex melepaskanmu dan setatusmu janda sungguhan, aku mau menerimamu."
Nayla terkejut sedikit. Menatap Dipto yang menatap lurus kedepan.
"Jangan bahas itu lagi, aku tak suka menyinggung masalah itu lagi karena kau menanyakannya terpaksa kita bicara, juga tak sadar menyinggung kearah sana."
Dipto tersenyum dalam hati, ia hampir dekat dengan keberhasilannya. Mengenal satu sama lain adalah hal yang paling ingin Dipto lakukan dan sekarang akan terus bersama proses, singkat saja tak usah terlalu lama.
Seketika mobil Dipto berhenti di pemberhentian dan terparkir sempurna di tempat semua mobil pribadi juga bus safari terparkir setelah berjalan mengelilingi juga melihat satwa liar di dalam taman.
"Sekarang aku ingin pergi ke rumah orang tua ku, apa-apa kau bisa mengantarkan aku, Dipto?"
Dipto tertegun sebentar dan kemudian kembali santai seperti semula.
Sambil melepas sabuk pengamannya Nayla menunggu Dipto bicara.
"Ehm.." menggaruk pelipisnya.
"Ihya.. bisa kok, apa kau tidak apa-apa takutnya?"
Nayla berdecak kesal.
"Ya aku yang bertanggung jawab aku sudah bisa keluar dan aku ingin pergi kerumah ayah."
Dipto menerima saja perintah atau permintaan tolong itu. Bagi Dipto itu tak masalah.
"Tapi, kita makan sebentar tak masalah bukan kau hatus bawa sesuatu kerumah orang tuamu, kan kau juga sudah menikah."
Nayla menganggukkan kepala, benar juga yang Dipto bilang.
"Ya kau benar juga."
Mereka berdua keluar dan pergi ke salah satu resto siap saji.
Saat bicara terkekeh atau turun dari mobil sampai duduk di dalam resto siap saji. Semua foto yang di ambil dengan kamera ponsel berhasil di simpan dan terkirim langsung lewat pesan khusus.
Saat bersamaan di ruangan Alex Zulfikar mendapatkan notifikasi dari foto yang terkirim ke akun pesan singkatnya.
"Bos.. Nyonya bersama... Dipto!" Alex mengangkat wajahnya dan menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya.
"Kau jemput paksa setelah pukul delapan malam, aku memberinya ke bebasan sekarang."
Zulfikar mengerti dan menghubungi bawahannya untuk terus mengawasi Nayla.
__ADS_1
Dipto dan Nayla dalam perjalanan menuju rumah Nayla.
Saat lampu merah Dipto melirik spionnya di samping kiri mobil.
Ternyata ada yang menyadari kehilangan sesuatu sekarang, pikir Dipto licik.
Lampu kembali hijau semua kendaraan yang berhenti di lampu merah kembali berjalan.
Nayla diam menikmati pemandangan dari luar jendela dan tak sadar kalo sebenarnya anak buah Zelfikar mengikuti nya dan Dipto sampai ke rumah ayahnya.
Di awal lampu merah Dipto sengaja mengatur siasat di kepalanya agar bisa mengecoh semua mata-mata yang Alex buat untuk mengawasi Nayla.
Anak buah yang di perintah zukfikar kehilangan jejak dan meminta anak buah yang berjaga di setiap sudut kota melacak dan mengikuti sampai mana mereka pergi.
Tepat saat mendekat ke lingkungan tempat Nayla tinggal saat akan mobil Dipto masuk Nayla menghentikannya.
"Jangan! Jangan masuk berhenti disini saja dan ya jika... jika kamu mau masuk tak apa jika tidak juga tak apa aku, berterimakasih sangat. Sebenarnya, Sebenarnya juga aku takut kalo sampe ada anak buah Alex disana aku kasihan melihat anak buah mu kemarin yang di bantai Alex jadi sekarang kamu bisa pulang atau ikut bertamu?"
Nayla menatap ragu wajah Dipto.
Bukan ucapan tapi, kekehan yang bersamaan dengan melepas sabuk pengaman setelah memarkirkan mobil dengan benar.
"Alex memang kejam tapi, aku sudah biasa kita sering berduel Nay, cuman belum ada yang tumbang saja." Dengan santainya mengatakan itu layaknya lelucon yang memang boleh di tertawai.
Nayla yang kebingungan dengan sikap dan tingkah Dipto yang santai menanggapi apa yang akan terjadi jika berhadapan dengan Alex.
Nayla tak bisa memberi saran atau peringatan kedua kali nya jika maunya Dipto seperti itu ya sudah tinggal masalahnya Nayla akan pulang dengan hadiah apa nanti sampai rumah.
Tidak! Jangan memikirkan Alex sekarang. Nayla harus fokus bertemu ayahnya.
Nayla ikut turun dan mengejar Dipto yang mau masuk kedalam gang dimana jalan ke rumahnya melewati gang itu.
"Kok, bisa tahu gang ini?"
Nayla terdiam sebentar dan kembali berjalan.
"Iya.. Aku lupa," ucapnya di akhiri kekehan malu.
"Terimakasih membantu ayahku, maaf aku belum bisa mengganti uangmu yang terpakai."
Alangkah lucunya Nayla ini, bagaimana Alex sampai tak mau Dipto dekat itu karena Nayla berbeda dari perwmpuan kebanyakan.
"Santai saja aku bukan tukang pinjam uang yang harus kau bayar tepat waktunya."
Dipto terkekeh dan Nayla ikut tertawa juga.
Saat sampai di rumah Nayla membuka pagar dan meminta Dipto masuk sebagaimana tuan rumah mempersilakan Tamunya.
Saat mengetuk pintu.
Zoya yang mendekat dan akan membukanya.
"A..."
"Kakak..."
Zoya kaget dan seketika itu juga terkejut dua kali karena ada Dipto di belakangnya.
"Tu-tuan... Tuan Argo?" Zoya menutup mulutnya sakit terkejutnya dengan anggukan kepala Dipto.
"Aaa!" Teriaknya tertahan terdengar melengking kecil tapi, keras juga.
__ADS_1
Nayla tersenyum malu menatap keduanya.
Saat berdehem menyadarkan Zoya. Zoya juga ingat seketika dengan siapa Dipto datang.
"Kakak?! Kenapa kakak pergi dari rumah, lebih baik kakak pulang jangan pernah kembali kerumah ayah!"
Nayla menatap heran tak mau tahu apa yang Zoya pikirkan buruk apapun tentangnya yang penting ayahnya.
Nayla menerobos masuk tak perduli mendorong Zoya.
"Aku bilang kakak pulang saja kerumah suami kakak dan kakak..."
"Zoya diam lah Kakak iparmu sedang bicara dengan ayah dan kau... Kau Nayla kenapa kau datang dan dengan... ah ya ampun, Argo?"
"Iya, nyonya..."
Sapanya dan ibu juga Zoya sama-sama tersipu malu.
"Sekarang masuklah dan Nay kau temui suamimu di kamarmu dan segera pergi karena dia sejak siang di sini."
Nayla terkejut, tidak mungkin kalo waktunya bersamaan seperti ini.
Nayla menerobos tak persuli dan tak sadar dengan ucapan yang sebelumnya jika, suaminya ada disini dan bicara dengan ayahnya, Nayla tak ingat jika ia pernah dengar itu dan baru sadar saat ucapan itu terulang.
Kedalam kamarnya dan benar saja, Nayla melangkah masuk melihat seorang lelaki berdiri didepan meja rias juga meja belajar di samping lemari pakaian yang terbuka tertutup untuk pakaian dilipat.
"Kau.. kau kenapa?"
"Istriku yang nakal!"
Nayla terdiam seakan terikat dan dan di bungkam paksa oleh aura pekat Alex yang mendominasi ruangan.
Alex melangkah mendekat ke Nayla dan seketika melewatinya dan menutup pintu mengunci dan memasukkan kuncinya kedalam saku jasnya.
"Sekarang aku suami dan kau tanggung jawabku, Seorang perempuan yang terikat tak bisa keluar bersama lelaki asing yang bahkan suaminya tidak tahu."
"Apa! Kau bilang aku selingku!"
Alex kesal bukan main, Nayla sengaja mengeraskan suaranya.
Seketika mencengkram kuat rahang Nayla dan membenturkan tubuh lemah Nayla ke dinding.
"Aku tidak suka kau bertindak kurang ajar!" Desaknya. Nayla sampai menahan diri untuk tidak takut dan menangis.
"Lalu apa aku harus mngatakan kalo aku juga berhak marah, iya kau bahkan pergi dengan Darma tanpa ada larangan, lantas aku yang bersama Dipto apa salahnya?"
Alex menarik tangan Nayla dan melemparnya ke ranjang.
Seketika membuka jasnya kasar dan membuka dua kancing atas kemeja dan menggulung lengan kemejanya.
Melepas ikat pinggang dan menindih Nayla secara tiba-tiba.
"Kau! Menjauh dariku! Kita bahkan sudah menulis kontrak untuk..."
"Apa." Suara Alex terdengar datar dan tatapan mata tajam.
"Aku bisa lebih kejam jika kau tidak menurutiku, Aku bisa membuatmu menjadi wanita dengan anak tanpa suami dan tanpa kehidupan yang bahagia aku akan menghabisi semua kebahagianmu di rumah ini juga di desa san kota ini bahkan kau harus pergi jauh jika perlu kau akan melompat mati bersama anakmu."
Nayla membulatkan matanya.
"Kau benar-benar jahat!"
__ADS_1
" Iyaa Aku Jahat dan karena ayahmu dan Abdulah lah yang membuatku jahat, Anak mana yang tak sedih bahkan kacau dunianya saat kedua orang tuanya meninggal bahkan terbujur kaku di depan matanya dan tangannya menggenggam tangan mungil adiknya yang lebih mungil sambil menangis dan memanggil ayah dan ibunya untuk bangun, Hah!"
Nayla memejamkan kan matanya. Lelehan air mata berhasil tumpah dan itu akibat bentakan cukup keras didepan wajahnya dengan ekspresi Alex yang begitu menakutkan baginya.