
Nayla yang hendak turun dari mobil dengan gaunnya yang panjang dan di angkat sedikit agar tak mengenai perbannya juga tersangkut sepatu haknya saat berjalan.
"Hati-hati," ujar bibi yang datang tiba-tiba membantu membawakan tasnya Nayla dan memberikan sandal yang nyaman yang ia bawa dari dalam.
"Makasih Bi," ucapnya ramah.
Bibi tersenyum.
Seketika Darma menghampiri Alex dan bergelayut manja. Nayla menghentikan langkahnya dan menoleh bersamaan bibi yang juga ikut berbalik badan.
"Alex, kenapa kau tidak meminta sopir saja mengatarkannya, Nenek meminta ku menjemputmu untuk pergi ke rumah paman dan bibi dari keluarga jauh nenek yang cucunya sedang dirawat."
"Kau bisa menelponku kenapa kau menyusul." Menatap datar Darma dengan sorot tajamnya.
"Aku hanya memastikan kau tidak kesulitan." Melirik Nayla sedikit remeh tapi, Nayla hanya menatap datar Darma yang sinis.
"Masuk lah istirahat dan minta apapun yang kau butuhkan pada Bibi," ucapnya sebelum masuk ke dalam mobil lagi dan mengacuhkan Darma.
Darma datang dengan mobil yang entah kapan datang dan tiba-tiba bergelayut di lengan Alex.
Nayla kembali menatap Darma setelah melihat Alex dan mobilnya menjauh lalu mobil lain yang sepertinya datang dengan Darma.
*
Saat mobil Alex menjauh Nayla berbalik melangkah pergi. Ia pikir Darma akan pergi juga.
"Jangan bangga kalo Alex sering memperhatikanmu tapi, Kau hanya mendapatkan Alex tanpa Nenek, Namamu sangat tak pantas bersanding dengan Garendra." Lalu pergi tak melihat Nayla lagi. Ucapan itu terdengar menyindir sekali.
"Nyonya muda anda..." Bibi menyadari kata-kata Darma sangat tak pantas tapi, ketika melihat wajah Nayla sedikit tenang Bibi mengurungkan niat memperpanjang ucapannya.
"Aku gerah bi, Ayo kekamar saja buatkan es jus buah saja atau teh mawar dingin seperti biasa."
"Baik Nyonya."
"Oiya bi, Cireng dan bumbu rujak juga Seblak bakso yang bibi beli masih, Aku mau lagi?"
"Oh masih Nyonya, Mau saya buat kan lagi, pake nasi atau..."
"Kek biasanya aja Bi, mumpung gak ada orang dirumah, Bibi juga masak lah kita makan berdua." Nayla dan bibi jika hanya mereka berdua seperti ibu dan anak walau usia agak jauh tapi, mereka bisa juga di sebut adik dan kakak. Kadang teman gabut bersama.
*
Baru saja perut kenyang dengan camilan ke sukaan.
Nenek dan Darma tiba-tiba masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk dan, melihat Nayla yang duduk di kasur dengan tenang memunggungi mereka.
Beruntung Bibi pintar menyimpan makanan seperti itu dan mereka menyelesaikan makan makanannya dengan cepat.
Nayla merasa ada yang mendekat.
__ADS_1
Melirik ke samping.
"Bisa kau turun dan buatkan aku teh lalu Nayla," melirik Darma kesamping.
"Darma ingin makan, kau masaklah, setidak pernikahan terpaksa ini berguna menambah anggota baru yang suka relawan melayani, keluarga ini."
Nayla menyembunyikan rasa kesalnya.
Dengan wajah lembut dan senyum ramah Nenek bicara dengan Nayla.
Nayla menoleh dan mengangguk dengan wajah yang ramah menyimpan benci.
Nayla ingat jika Nenek adalah orang di tuakan di sini dan dirinya adalah orang lain yang terpaksa terikat dengan semua keluarga dengan ikatan pernikahan suami pemaksanya.
"Iya."
Nenek mengangguk setelah Nayla menyetujui ucapannya yang mengandung perintah yang sengaja di buay supaya bisa membuat Nayla tertekan.
Nayla bangkit dari duduknya dan pergi ke dapur melewati nenek dan Darma.
Nenek juga pergi tapi, Darma meminta izin untuk tinggal sebentar.
"Jangan terlalu lama." Darma mengangguk.
Nenek pergi.
"Kamar ini harusnya menjadi milikku." Melangkah ke ruangan dimana adanya barang-barang Alex disimpan dan termasuk parfum juga pakaian Alex yang di pakai sebelum pergi ke acara resmi juga non resmi.
Di dapur Nayla selesai memasak di bantu bibi tanpa ketahuan nenek.
"Nyonya sudah duduk saja," ucap bibi. Nayla tersenyum dan menuruti apa yang bibi sarankan.
Saat makanan untuk Darma terhidang.
Nayla beranjak keluar dari dapur melihat Darma barusan keluar dari kamarnya dan kamar Alex.
"Darma?" Seketika terkejut panggilan untuknya membuat Darma mendesah kesal. Matanya mengerling melirik sinis Nayla.
Menarik nafasnya dan menghembuskan nafasnya perlahan sebelum berbalik dan saat berbalik badan, Darma melihat Nayla menatapnya curiga dari bawah.
Wajahnya kembali sombong dan melangkah turun ke tangga.
"Makananku?" Masih terlihat percaya diri.
Nayla menoleh menunjuk dengan dagunya.
Seketika Darma mengikuti arah pandangan Nayla. Darma kembali menatap Nayla sombong dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan terimakasih.
Nayla menatap ke lantai dua dan merasa ia sangat penasaran tapi, jika pun benda ada yang hilang ia juga tak merasa mengambil, jika di tuduh? Terserah jugalah. Padahal yang asing di kamar itu adalah Nenek dan Darma kalo mereka membuat masalah ya terserah lah.
__ADS_1
*
Pergi ke taman dengan berjalan perlahan dan saat melihat kursi di sana segera cepat ia menghampirinya.
Duduk dengan nyaman dan sejuk di bawah atap gazebo.
"Nyonya muda. " Beno datang dengan tiba-tiba membuat Nayla hampir kaget dan hanya memejamkan matanya sebentar dan menoleh.
"Maaf saya tiba-tiba datang, Saya di minta Tuan untuk mengajak Nyonya ke kantor besok, menangani beberapa hal."
Nayla menatap bingung. Melirik Beno lebih tajam lagi.
"Bukannya surat kontrak sudah di tandatangani untuk apa lagi, aku kesana?"
Beno melihat jam di tangannya.
"Waktunya jam delapan tepat saya sudah menjemput anda usahakan anda tidak bangun kesiangan, dan di ponsel anda akan ada beberapa kebutuhan yang sudah saya transfer atas permintaan Tuan," ujarnya.
"Loh, Eh..." Seketika suara pesan masuk di ponsel Nayla menghentikan ucapannya.
"Haah... Banyak sekali, apa ini? Untuk apa?" Beno mengangguk dan pergi tanpa menjawab dan mengatakan salam pamitnya undur diri.
"Ini apaan sih kok gak jelas banget."
Terpejam kembali sambil menyandarkan punggungnya.
Lelah semua batin dan pikirannya.
menikah tiba tiba, di paksa dan sekarang apa di suruh mengurus bisnis, oh lucu sekali. Apa kali ini ia akan dianggap sebagai istri sungguhan, setelah itu di buang seperti sampah saat kontrak berakhir.
Tidak mungkin untuk kedudukan istri, jawabnnya dalam otak.
Mana bisa tanda tangan kontak menikah beberapa bulan lalu di batalkan tidak bisa, Nayla itu harus tepat ucapan dengan perilaku. Tidak bisa ragu-ragu begini.
Mau Alex apasih, Nikah maksa tiba-tiba nyuruh ngurus bisnis tanda tangan kontrak udah apa lagi hah, jadi pawang hujan!
"Dah lah terserah yang penting aku tidak bermasalah lagi dengan nenek dan terluka lagi seperti waktu itu," ucapnya diri sendiri dan menghela nafas kasar.
Yap, bagi Nayla hidup di tekan tak masalah yang penting fisiknya tak lagi terluka.
*
Beno masuk ke dalam ruangan Alex didalam rumah seketika melihat sesuatu di salah satu jas kemeja Alex.
"Rambut siapa ini?" Padahal ia tahu ada Nayla di kamar itu tapi, Beno merasa jika bukan Nayla pemilik helaian rambut ini.
Alex memilih menyimpannya dan pergi membawa beberapa jas dan membawa dasi.
Alex melangkah keluar kamar. Pintu tertutup saat itu juga ada yang sedang bersembunyi agar bisa masuk ruangan pribadi Alex.
__ADS_1
Senyumannya begitu puas.