
Saat keluar dari Bandara dan membawa banyak makanan.
Nayla yang memang langsung menurut perintah Alex untuk pulang tapi, ia tetap ingin makan ini itu yang ada di setiap tempat jajanan di dalam bandara.
Nayla sudah membeli banyak dan sekarang memakannya hanya beberapa dan sisanya Alex dan Beno yang memakannya.
"Nay... jangan membeli yang tak berguna kau tak kasihan Beno terlalu kenyang karena kau!"
"Tapi, aku maunya sedikit tapi kau membeli hampir banyak."
"Kau yang memilih dan mau!"
Nayla diam menatap keluar jendela mobil.
Saat mobil dalam perjalanan menuju hotel.
Di hotel kini Zia dan Della menikmati makan malam dengan tenang.
Di mobil kini sangat-sangat canggung. Tapi, tiba-tiba Nayla bersin bersin tak terkendali dan tiba-tiba menangis.
"Alex... Alex... turunkan aku!" Sambil menangis. Alex yang menatap ponsel dan sibuk dengan urusannya. menoleh cepat dan melihat seluruh kulit putih Nayla berubah merah bahkan sampai terlihat bengkak.
Alex benar-benar marah, perasaannya benar-benar tak bohong jika ia tetap disana Nayla akan dilihat banyak orang.
"Tidak.. Jangan turun tahan sebentar kita akan sampai di hotel." Nayla tak tahan. Alex juga tak tega melihatnya terus seperti kepanasan dan gatal.
"Beno.. minta Della bersiap. Minta pihak hotel mengosongkan lobi dan menyiapkan kamar dengan fasilitas terbaik."
Beno yang fokus mengemudi segera menghubungi Zia.
Di tempatnya. Zia yang baru saja selesai makan dan baru saja bicara dengan Della tentang cerita lucu terkejut dengan panggilan darurat Beno.
Della bisa lihat wajah Zia pucat dan khawatir. Telpon dari siapa yang Zia terima. Della diam dan tak bertanya dulu.
"Kita harus segera!" Della tak banyak bertanya sejak melihat ekspresi Zia dan sekarang Della paham kenapa Zia seperti, lebih baik Della mengikuti Zia sekarang.
Zia meminta Della bersiap dengan alat dokter seadannya di kamar yang sudah di arahkan oleh pihak hotel. Sisanya Zia akan minta salah satu orang Zulfikar yang ada di negara ini membawa alat medis darurat jika di butuhkan alat medis lain lagi.
Zia dengan cepat mendatangi pengelola hotel lainnya untuk segera melakukan negosisasi cepat perkara pengosongan lobi dan halaman juga lif bahkan meminta tamu yang ada untuk tidak keluar kamar dulu.
Di dalam mobil Nayla benar-benartak tahan dengan semuanya.
"Alex... Huhu... panas perih gatel." Rengeknya dan terus bersin.
Alex hampir murka dan ingin membunuh pelayan itu tapi, ia mati saat sebelum Nayla menunjukkan reaksinya.
Jelas ini racun serbuk yang membuat kulit melepuh. Alex tahu serbuk itu karena dunia bawah yang ia tangani pernah menerima pengiriman barang seperti ini tapi, ia tak memproduksi. Hanya satu orang terobsesi dengan obat-obatan dan racun, Cakra.
Alex harus menenangkan Nayla tanpa menyentuhnya.
Tapi, ia tetap tak tahan.
"Sabar.. maaf aku tak bisa memelukmu sekarang tahan sebentar ya!" Nayla hanya diam menangis dan khawatir dengan bayinya.
"Anakku, Alex... Hiks.. anakku bagaimana?"
Beno yang saung menghentikan mobil dan meminta petugas membawa kursi roda. Beno juga menggunakan sarung tangannya.
Alex benar-benar frustasi sekarang. Apa pilihan membawa Nayla pergi menjauh dari nenek itu bahaya. Tapi, kenyataannya sekarang Nayla tak baik-baik saja.
Hanya beberapa pihak hhotel yang melihat Nayla dan Zia sudah mengurus mata dan mulut juga telinga mereka untuk tak membagi apa yang mereka ketahui pada orang lain lagi.
Sampai di kamar Della terkejut bukan main.
"Alexzavero kau mau membunuh Nayla?!"
Kesal bukan main Della mengambil alih kursi roda dari Beno dan meminta Nayla turun perlahan.
Della ingin merobek wajah dan mencabut telinga Alex dari tempatnya.
"Diam dan jangan memarahiku, kau mau membunuh ibu dan anaknya." Della diam.
__ADS_1
Karena tak ada yang keluar Della jadi marah lagi.
"Apa yang kalian lakukan, keluar dari sini. Zia bantu aku!"
Alex tak mau keluar tapi, Della menatapnya tajam seperti belati yang mau mengoyak wajahnya.
Zia segera membawa semua keluar dan membantu Della mengobati Nayla.
"Minta lidah buaya dari beberapa tempat dan juga beberapa lendir siput yang di produksi masalah... di negara ini aku tahu ada banyak bahan obat kuli alami."
Zia mengangguk dan menelpon Beno.
Didepan Beno langsung bergegas.
"Tidak.. Ben panggil Dueto untuk membawa semua itu dari markas di dekat toko es krim." Beno mengerti dan segera menghubungi Dueto anak buah Zulfikar yang mengurus masalah dunia bawah di negara ini.
Dueto yang baru keluar lab di datangi seseorang dan berbisik.
Matanya membulat lebar dan langsung meminta menyiapkan tiga boks dan meminta polisi membawanya ke hotel tempat Alex berada.
Di depan lobi tak lama polisi datang membawa tas dan juga memberikan amplop putih.
Beno menerimanya tanpa banyak basa basi dan sejurus kemudian Beno mengetuk pintu kamar dan Zia mengambil obatnya.
Della yang masih membersihkan luka garukannya terkejut karena secepat itu.
"Koneksi luar biasa." Bisiknya ketika melihat Zia sudah menyiapkan semua salepnya.
"Bagian mana yang haru..." Zia menatap Della ketika akan mengolesinya.
"Seluruh badannya dan bagian perut juga bagian itu lebih banyak." Zia mengerti dengan arahan Della. Selesai obat di pakai di seluruh kulit.
"Efeknya hebat..." Della melihat perubahan cepat pada kulit Nayla.
"Sekarang kau tidur dan ini tak akan bermasalah pada bayimu, tenang ya Nay." Della meriksa kondisinya ulang dan memeriksa janinnya juga dengan alat seadanya.
Zia meningkatkan suhu ruang dan kelembapan udara dengan aroma rempah.
Sejam kemudian Alex menunggu hingga lebih dari dua puluh menit berikutnya Alex tak tahan. Baru melangkah akan membuka pintu. Della sudah muncul dengan wajah lelahnya.
"Berhenti membuat pembicaraan tak penting kau istirahat aku akan mengurus itriku, lagi pula kau terus mengatakan hal yang tak aku lakukan sama sekali. Kau bahkan tak tahu berurusan dengan siapa, jaga sikap."
Della mendesah malas. Berbalik pergi memilih menjauh. Alex sudah dengan mood buruknya.
Della tak mau membuat nayla terganggu dan memilih mengalah. Alex marah dan kesal menjadi satu.
"Minta mereka mencari Cakra aku yakin dia masih disini."
Beno mengangguk mengerti.
Zia di minta Alex pergi dengan isyarat.
Masuk kedalam kamar dan melihat kondisi Nayla berangsur pulih Alex lemas dan ketika melihat bagian perut yang membesar itu hatinya langsung berdenyut nyeri tak karuan.
Rasanya Alex ingin menangis.
Di tempat Cakra akan lepas landas tiba-tiba rombongan Dueto datang dan Beno turun setelah Cakra di pegang oleh dua anak buahnya.
"Kenapa... kalian mau mengajakku ke acara pemakaman." Beno mendekat dan menampar keras wajah Cakra sampai berdarah.
"Kau tak bisa mengatakan hal yang bahkan itu berguna untuk mu sekarang!" Dueto membawa pergi Cakra ketempat Alex.
Di ruangan dengan cahaya dari bulan seketika suara langkah terdengar mendekat. Tembakan beruntun keluar dan hampir melubangi dada kiri Cakra, beruntuk peluru meleset dan hanya melubangi. Mantel hitamnya.
"Sekejam apapun kau tak akan membunuh orang bukan?" Alex menghentikan langkahnya.
"Bukan aku pak tua," ucapnya datar dan tak lama seorang wanita paruh baya dengan gaun silver selutut dan mantel bulu hitam berjalan dengan hells nya yang tinggi mendekat ke arah cakra.
"Dia akan menghabisi mu," ucap Alex memberikan pistolnya pada wanita itu.
"Kau tak bisa menjaga Dipto dan malah melukainya, Ayah macam apa kau!" Langsung menuding dan mencaci maki Cakra tanpa menerima penjelasan detailnya.
__ADS_1
Dor.. Dor.. Dua kali tembakan membuat tangan atas, paha atas Cakra berlubang.
Alex hanya diam menonton berdiri di belakang wanita itu dengan jarak yang cukup jauh berdiri di samping Beno dan Dueto.
"Informasi yang didapat jika ibu kandung Dipto dan istri paling Cakra sayang ada di negara ini dan Cakra sengaja menyembunyikannya." Jelas Beno sedikit sambil sesekali menoleh kerah dua orang yang sedang saling marah.
Alex mengangkat sebelah alisnya.
"Ya sudah, biarkan mau berapa lama wanita itu mengamuk pada suaminya, Aku akan mengurus milikku."
Alex yang berbalik dan belum melangkah seketika menoleh menatap Dueto dan Beno bergantian.
"Biarkan urusan mereka yang selesaikan, kau tunggu informasi dari Dueto jika Cakra tak tersiksa parah ileh wanita itu baru kau yang urus Cakra. .. tempatkan beberapa orang dekat Dueto untuk dua manusia aneh disana." Beno mengerti. Dueto juga mengerti dan mengangguk mengikuti Beno.
*
Dua hari berlalu masalah kemarin perlahan surut dari pikiran Alex sekarang Alex ingin bersantai sebentar di hari libur. Dua hari lalu juga setelah Alex dari tempatnya melihat istri Cakra mengamuk. Alex langsung memeriksa dan melihat perkembangan Nayla secara langsung.
Dan ternyata efek obatnya manjur.
Alex meminta untuk semua yang ada di ruangan ini harus bersih dan steril.
Beno langsung melaksanakannya.
Sekarang kembali pulang ke rumah Nayla perlahan pulih dan bisa melakukan apapun yang ia mau tapi, tak terlalu berlebih. Saat akan minum dan Nayla sudah habis dua botol Alex langsung membantunya mengambilkan tiga botol lainnya.
Ketika Nayla akan mengurus kucingnya. Alex meminta pelayan yang mengurusnya.
"Diam lah sebentar Aku akan tenang jika kau tetap di kamar dan istirahat."
"Aku menyukainya dan apa masalahmu."
Seketika itu ponsel Nayla berdering dengan nomor asing.
"Hallo."
"Nay.. aku mau bicara dengan mu di kantor Alex bosok kau bisa aku tak bisa datang kerumah Alex kemungkinan itu bermasalah..."
"Iya.. aku bisa besok di kantor suamiku siang saja saat kedai tak terlalu ramai."
"Baiklah... terimakasih."
Sambungan telpon terputus. Alex menTap tajam.
"Siapa ?"
"Abdullah."
Alex mengangkat sebelah alisnya. Seketika itu ponsel Alex kini yang berdering.
"Halo."
Pembicaraan yang panjang dan Nayla tak terlalu menanggapi dengan mendengarkan baik-baik.
"Aku akan datang, katakan mereka untuk menunggu sebentar."
"Mau kemana?" Tajam pendengaran Nayla saat alex bilang ingin pergi.
"Kau di rumah."
"Tidak aku mau ikut..."
"Nay.. aku mau bertemu nenek."
Langkah Nayla berhenti saat akan mengganti pakaiannya.
Berbalik menatap Alex.
"Tidak apa-apa bilang saja aku belum selesai bekerja dengamu."
*
__ADS_1
Nenek terdiam dengan Darma dan Vansiska.
Tatapan mereka seperti ingin mencemooh Nayla.