
Darma selalu bisa mendapatkan apa yang dia inginkan termasuk Alex. Darma harus bisa mengambil kembali tempatnya yang diambil Nayla.
Sebenarnya tak ada yang mengambil Alex darinya dan mengambil tempat di sebelah Alex yaitu menjadi istri dari Alexzavero Garendra, hanya saja saat takdir berpihak pada nasib baik Nayla dan takdir tahu jika niat Darma apa jika bersama dengan Alex sungguhan.
Darma menatap wajahnya saat bercermin di kamarnya sendiri.
Darma merapikan rambut panjangnya dan pakain tidur celana dan kemeja satin lengan pendek.
Ia akan melewati Nayla dan Alex yang pasti belum masuk kedalam mereka selalu saja ada di ruang keja dan itu membuat Darma terus memutar otak agar ia bisa mengambil waktu tepat menggoda Alex.
Saat menuruni tangga Alex melihat Darma duduk di ruang tengah dan membaca buku sesekali memainkan ponselnya.
alex acuh saja dan terus berjalan.
Tapi, Darma mengira Alex melihatnya dan memperhatikannya lalu malu dan segera pergi.
Alex dengan wajah garangnya mengejar Nayla yang keluar dan pergi gazebo dekat taman hijau di belakang dekat taman bunga.
"Merepotkan." Dumelnya saat ia merasa tahu ia salah.
Nayla memaksa untuk tidak mau ikut di jemput oleh Beno, dan meminta Alex membatalkan rencananya untuk mengajari nayla mengelola bisnis keluarga besarnya.
"ya Kau lagi, Aku tidak bilang tidak ya tidak, Alexzavero, Astagfirullah!"
"Tapi, aku memaksanya, istriku!" Nayla membulatkan matanya.
"istri? Matamu Istri!" Seketika Alex mendesah kesal.
"Kau datang besok atau kau...."
"Atau kau kukurung dalam kamar di penjara selama aku belum memberi izin keluar kamar.... Bodo amat lakuin aja, Aku tidak perduli itu, terserah!"
Nayla dengan kesal melanjutkan ucapan Alex yang sudah ia hafal jika mulai mengancam, memang Nayla malas dan tidak mau di kunci di dalam kamar sampai waktu tak tentu tapi, apa ya harus takut terus menerus.
Nayla melirik alex yang sepertinya menahan kesal karena perempuan keras kepala seperti Nayla sulit untuk diatur bahkan diminta menurut sedikit.
Alex menatap kelain arah mengusap rahangnya.
"Aku juga tak perduli, Pergi! Tetap pergi!" Nayla membulatkan matanya.
Menoleh melihat Alex yang malah pergi meninggalkannya.
"Yaa Terserah lakukan, Aku bangun siang, nunggu aja kalo sanggup!" Seketika Alex berbalik menarik Nayla dalam gendongannya dan berjalan santai.
Nayla reflek terkejut dan meronta minta di turunkan.
"Lepaskan aku, Lepas..." Berbisik merapatkan giginya. Seketika mencubit kecil setiap kulit tengan yang bisa ia cubit.
Alex tak terpengaruh baginya itu hanya tusukan jari anak lima tahun.
Ketika Nayla mencubit kulit lehernnya Alex bernti melangkah dan Nayla melepas cubitannya.
"Makannya turunkan aku dan aku juga tak membuatmu marah terus, cepet tua kapok!"
__ADS_1
Alex berdehem, "Kau terlihat lebih bisa kunikmati malam ini, persetan dengan kontrak, aku bisa menyobeknya dan kita bersatu malam ini," ucap Alex dengan gampangnya dan mereka berdua sedang didengar oleh Darma yang ternyata ada didekat mereka.
Tangan Darma mengepal erat.
"Tidak, tidak akan kubiarkan Nayla merasakan Alex, Alex itu milikku lihat aku akan melakukan suatu untuk mu, dasar gadir aneh."
Alex merasa ada yang memeperhatikan instingnya mengatakan jika itu Darma ranpa menolehpun Alex membatin saja sudah cukup sepertinya.
Alex melangkah lagi pergi ke kamarnya.
"Kau... apa yang mau kau lakukan, turunkan aku, cepat! Turun!"
Alex tak mendengarkannya sampai ia menutup dan mengunci pintu masih dengan menggendong Nayla lalu melemparkannya di atas kasur dengan satai.
"Kau!"
"Aku tak melakukan apapun," ucapnya tanpa rasa bersalah dan pergi ke dalam kamar mandi.
*
Selesai dengan jas dan kini dasi Nayla bersiap mengambil jam tangan untuk Alex.
Yap, pagi ini Nayla bagun pagi-pagi sekali dan Tuan sempurna membuatnya tak bisa tidur semalam dan memintanya menyiapkan semua perlengkapan kerja dan tanpa ada yang terlewat termasuk membuatkan bekal juga membuat makan siang di kantor tapi, bahan dari rumah.
Nayla hampir stres pagi ini.
"Pake jam ini sama saja, Alex!"
"Oh, Ya ampun... Alex kau mau bekerja bukan berjualan arloji di pinggir jalan, Aku itu harus menyiapkan semua kebutuhan yang kau bilang subuh tadi, kenapa kau semakin menyusahkan aku saja," ucap Nayla sangat kesal.
Alex berdiri dan mengambil jam tangan kulit di tangan kanan Nayla.
"Aku suamimu." Lalu pergi begitu saja tanpa mau lihat bagaimana ekspresi terdiam terkejut Nayla.
"Tidak akan pernah! Aku tidak sudi!" Seketika melangkah keluar denga. pakaian formal atasan blush putih tulang dan kulot hitam dengan sedikit motip di bagian bawah bunga perak lalu sepatu hak yang nyaman di pakai dan tak membuat tumit atau bagian kaki Nayla lecet.
Lalu dompet juga tas khusus. Nayla terlihat seperti wanita berkelas dan sibuk dengan karirnya bahkan Darma yang ada di meja makan menatap iri.
Bagaimana bisa perempuan aneh itu terlihat sempurna bahkan terlihat cocok bersanding dengan Alex sekarang.
"Kau mencuri dari mana?" Celetukan dari Nenek yang baru datang dan duduk di sisi kanan Alex untuk sarapan.
"Aku..." Nayla yang mendengarnya merasa tak nyaman bahkan rasanya ia tak bisa mengatakan apapun selain aku.
"Alex, bagimana dengan hal yang kita bicarakan minggu lalu?" Darma melirik Nayla yang acuh dan memilih menyiapkan sarapan untuk Alex dan masih dengan rasa terpaksa karena Alex bukan orang yang ia cintai.
"Kita akan lakukan hari ini, dan asisten pribadiku yang baru akan ikut untuk sekalian belajar." Nenek terdiam berhenti mengolesi roti dengan selai.
"Apa... apaa yang kau bilang, Alex dia gadis biasa bukan Darma bahkan dia bisa membuat perusahan bangkrut juga melakukan kesalahan kecil, kau ingat jika ayahnya dan Abdullah orang terdekat ayahnya itu telah membuatmu..." Mengangkat tangannya menatap Nenek dengan lembut.
"Maaf Nek, ini hari yang baik, Aku mendapatkan pekerjaan besar hari ini dan jangan buat mood juga suasana kacau, Aku akan mengurusnya, karena itu aku menhadikan istri."
Nayla tak percaya ini. Ternyata topengnya malah semakin jelas terlihat.
__ADS_1
Jika bukan orang baik tetap lah bukan orang baik bahkan sejauh sebanyak apapun perlakuan baiknya terhadap mu.
Nayla tersenyum getir dalam hati, beruntung ia tak lansung jatuh dalam setiap perbuatan baiknya jika sampai hatinya luluh Nayla akan hancur berkeping-keping.
Ironis sekali kebahagian yang tak pernah tinggal lama bahkan kesedihan sering datang padahal kebahagiaan tak singgah lama.
"Rotiku, nona." Seketika terkejut dan memberikannya. Nayla memilih bangkit membawa susunya kedapur.
Nayla menyiapkan bekal dan semuanya sambil meminum susu gandumnya.
Saat bibi mau membantu Nayla menolak dengan perasaan sedih.
Bibi tak tega dan perlahan ikut membantu walaupun sedikit.
"Makasih bi." Sambil mengusap sedikit air mata yang hampir keluar.
Nayla melangkah pergi setelah berpamitan dan menghabiskan susunya.
Meninggalkan Alex Darma juga Nenek yang menatapnya dengan tatapan datar.
"Tidak sopan." Desis Nenek seketika bersamaan dengan dorongan kursi. Nayla yang di bicarakan disitu tapi, telinga Alex yang panas.
Benar-benar tak nyaman baginya.
Nenek menatap cucunya.
"Kau belum menghabiskannya..."
Alex tersenyum paksa dan berpamitan mengikuti Nayla.
Darma mengepal memegang pisau dan garpu.
"Nayla dan Nayla!" Jeritnya dalam hati.
Menatap nanar punggung Alex yang perlahan menjauh.
"Sepertinya sikap Alex belakangan ini sangat dekat bahkan perhatiannya hanya untuk Nayla, kita sulit mendekati Gadis itu karena Alex terlalu memperhatikannya bahkan tak terlewat detik menit."
Darma menoleh menatap Nenek dengan tatapan yang heran.
"Nenek?"
"Apa maksud Nenek Alex terlalu terobsesi dengN Nayla sekarang, kenapa? Kenapa bisa?"
Nenek menatap Darma menghela nafasnya.
"Cinta telah datang tanpa mereka berdua sadari dan lama kelamaan kau akan pergi dari rumah ini."
Darma meletakkan alat makannya dengan kasar diatas piring keramiknya.
"Nenek...."
"Kita akan mengusirnya sebelum kau yang terusir."
__ADS_1