Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris

Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris
Cemburu


__ADS_3

Perkataan semalam yang Nayla ucapkan di ruang kerja mengganggu pikirannya.


Nayla menghampiri Alex yang menatap cermin sambil mengenakan kemeja.


Seketika Nayla menarik bahu Alex membaliknya menghadapnya dan memakaikan dasi. Lalu jam tangan Jas dan sepatu lalu memberikan kursi.


"Biar aku pakai sendiri. Tunggulah di mobil. Bawakan aku sarapan saja, jangan masak di kantor lagi."


Nayla langsung berdiri pergi seperti robot yang menurut saja tanpa ada penolakan.


Alex seketika menatap ounggung Nayla yang berjalan menjauh.


Di lantai bawah. Darma menunggunya dengan menyiapkan sarapan lebih dulu untuk Alex.


"Kau bahkan tak pantas di sebut menantu baik atau istri yang patuh." Ejeknya seketika Nayla melewatinya begitu saja dan pergi ke dapur mengambil sarapan untuk di bawa.


"Maaf tapi, dia tidak akan sarapan dirumah dan ini bekalnya." Nayla tersenyum miring.


Sesekali ia membuat Darma merasa kalah tak masalah bukan?


Didalam mobil Nayla terdiam menatap keluar jendela.


Ingatannya tentang semalam membuatnya sangat malu.


Kenapa juga ia merasa tak enak setelah mengatakan itu tapi, tak apalah biarkan saja.


Tapi, tetap tak enak di hati rasanya.


*


Sampai di kantor Alex langsung menerima telpon dari orang kepercayaannya Zulfikar yang di minta membantu. Alex memang menyelidiki sendiri tapi, Zulfikar ia butuhkan juga Jika Beno sudah dapat tapi, itu bukan yang terlihat.


Alex menyelidiki Argo Dipto iskandar sampai pada ia bekerja di bagian apa dan ke sehariannya sebelum dan sesudah bekerja.


Di tempat parkir luar ruangan saat tak sengaja Alex merokok di belakang bersama Gazi dan Fatir tiba-tiba matanya melihat seorang wanita yang tak asing dan itu Nayla.


Kenapa bisa dengan Dipto?


Alex mendekat ke arah mereka dan dan saat mereka berbalik badan Alex juga berbalik dan bersembunyi di balik mobil.


Fatir yang melihat itu mengajak Gazi menghampiri bosnya.


"Bos biar kita yang melakukannya."


Alex menatap keduanya seketika merapikan jasnya dan berdehem.


"Yaa, lakukan jangan sampai ketahuan."


"Gunakan alat sadap." Tambahnya. Gazi mengerti dan mereka menggunakan masker. Mendekat ke target.


Di saat yang sama Beno datang dan melihat tingkah tiga orang yang sangat aneh menurutnya.


"Bos." Alex menoleh.


"Masih melakukannya?" Heran melihat Gazi dan Fatir.

__ADS_1


"Memangnya kenapa, Istriku ini, bukan istrimu!" Beno terdiam. Ucapan bosnya memang membuatnya selalu sadar diri.


Menjelaskan sekali bosnya ini kalo dirinya memang belum menikah.


Dasar bos keterlaluan, kenapa tak memberinya gaji lebih dan memberinya jatah libur, jika begini apa dia bisa menikah.


Alex masuk ke dalam mobil dan melihat rekaman juga suara yang terdengar jelas.


"Kenapa ketemuan, Kita gak kenal," ucap Nayla tanpa basa basi.


"Tapi, aku mau kenal kamu," ucap Dipto dengan memelas.


"Aku istri orang aku dah nikah, Suamiku cemburuan dan aku terlalu di sayang suami, jangan hubungin atau berusaha ketemu aku, walaupun gak ada suamiku dideket aku, masalahku terlalu banyak dan kamu dateng ngajak kenalan itu nambah masalah, sekarang kamu mau pergi silakan mau makan juga terserah," ucap Nayla dengan rentetan kalimat yang hampir membuat Dipto menyerah tapi, membuat alex ingin terbang rasanya.


Tunggu kenapa terbang?


"Tidak aku tidak menyukaimu!" ucapnya menatap layar ponselnya.


Beno yang ada di bangku kemudi hanya menggeleng.


Fatir dan Gazi menahan tawanya. Melihat ekspresi Bosnya yang sedikit kaget masalahnya ini pertama kalinya mereka melihat ekspresi itu, selama bekerja mereka hanya melihat wajah garangnya.


"Lama!" Nayla berdiri dan akan pergi seketika tangan Nayla di pegang dan tarik agar tak bisa pergi.


"Lepas!" Nayla menatap marah tangan Dipto yang menahannya.


"Lepaskan aku akan ingin pergi kau terlalu banyak diam," ucap Nayla dengan tegas.


"Baik.. aku akan memesan makanan tapi, temankan aku makan sebentar," ucapnya dengan memelas.


"Terimakasih," ucapnya melihat Nayla kembali duduk di hadapannya.


"Iya... Cepat pesan aku tak punya waktu." Seketika pesanan datang.


Mereka makan bersama.


Seketika itu layar telpon Alex berganti dengan panggilan dari dari wakil sekertaris Beno.


"Katakan!"


"Bos, Cakra menghancurkan beberapa proyek dengan meletakkan barang bahaya juga bom yang tidak tahu kenapa bisa ada dalam kontruksi setengah jadinya."


"Apa lagi?" Nada Alex mulai kesal.


Seketika Beno menyerahkan tabletnya dan memperlihatkan bom di beberapa titik kontruksi yang bisa di lihat teransparan.


"Sialan, Cakra!"


"Urus itu sebelum malam jangan sampai aku yang kesana dan membuat kalian jadi tumbalnya." Beno diam saja, jika sudah seperti ini baik Beno atau wakilnya tak bisa bicara atau menyangkal bahkan memberi saran.


"Baik bos!" Telpon tertutup.


Saat yang sama Nayla merasa perutnya tak enak bahkan mual rasanya.


Saat bersamaan Gazi merasa aneh dan saat akan menghampiri Nyonya nya Gazi di datangi tiga pramusaji memberikan makanan manis gratis.

__ADS_1


Nayla menghilang dan dan Saat bersamaan Nayla hilang kesadaran dan Dipto melepas kaca matanya dan memapah Nayla keluar dari tempat makan juga ngopi.


Fatir yang melihat sekelebat bayangan Nayla di papah Dipto segera menelpon Alex langsung karena tiga kali Beno panggilan tak terangkat.


Alex yang sedang merokok. Merasa getaran di sakunya seketika. Melihat panggilan dari Fatir.


"Bos.. Nyonya di bawa Dipto pergi."


Singkat saja seketika telpon di putus sepihak.


"Sudah kubilang selidiki dengan benar." Menarik melepas Dasinya dengan kasar dan melemparkannya pada Beno seketika masuk kedalam mobil dengan santai pergi meningglkan Beno sendirian di tempat parkiran khusus luar ruangan.


Beno menelpon Zulfikar.


"Informasi apa yang kau dapatkan sampai Bos yakin Dipto orang yang perlu di curigai haah."


"Dipto itu Putranya Cakra dan Dipto menyukai Nayla sejak lama bahkan sebelum bertemu dengan Bos."


Beno terdiam memutus sambungan telponnya. Wajahnya kalut seketika pergi masuk kedalam kantor ia baru ingat ada banyak tugas penting yang Alex, bosnya punya dan sepuluh menit lagi akan di mulai.


*


Di tempatnya Nayla sadar dan berada di ruangan yang terlihat seperti kamar dan apa yang ia lihat ini ia di ikat diatas tempat tidur.


"Nayla... Kau di paksa menikah dengan Pewaris Garendra kenapa kau tak berpikir aku jalan keluar mu untuk bebas."


Nayla menoleh kesana kemari dengan pandangan yang agak buram. Berusaha mengerjap mata beberapa kali sampai akhirnya tatapannya memandang ruangan jelas.


Ternyata Dipto dengan santainya bermain rubik di tangannya bersandar pada dinding dekat jendela balkon.


"Kau!"


"Dipto!"


Nayla tak percaya kenapa dia bisa dan bagaimana Nayla bisa disini dan kapan ia datang dan pergi.


"Kau tak perlu takut sayang, Aku akan membahagiakan mu bahkan kau akan lupa jika kau menikah dengan Alexzavero Garendra cucu pertama pewaris Garendra."


Nayla menatap sengit.


"Kubilang Lepas Dasar monster, kau Gila!"


Dipto tertawa begitu keras sampai membuat Nayla terdiam ketakutan.


"Apaa?"


"Gila kau bilang Nay?"


"Yaa.. aku gila!"


"Aku gila karena kau tak bisa menjadi milikku dan Alex lebih cepatengikatmu dengan pernikahan sebelum aku mengenalmu, Kau tahu aku menyukaimu sejak lama, dan aku tak mau tahu kau milik siapa dan sudah tidur dengan siapa dan terikat ikatan apapun aku ingin kau menjadi milikku sekarang dan selamanya."


Seketika Dipto mendekat dan duduk di dekat Nayla.


Melihat kaki panjang mulus Nayla yang sudah tak menggunakan kaoskaki bahkan rok span panjanhnya tersingkap sampai lutut.

__ADS_1


Melihat tatapan lapar Dipto. Nayla mulai panik.


__ADS_2