Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris

Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris
Pilihan tak seimbang


__ADS_3

Dipto mendapatkan Nayla dan Alex sudah sangat murka.


"Lepas!" Nayla berusaha terus menarik tangannya untuk lepas dari Dipto.


"Tidak! Tidak akan aku melepaskanmu lagi aku sudah bilang aku benar-benar mengiginkanmu sekarang aku hanya ingin kau dan kau tahu Abdulah akan di bunuh Alex secepatnya."


Fakta baru di suasana yang tak pas membuat Alex semakin meradang dan apa yang di katakan Dipto itu bohong.


"Alex!" Menatap meminta penjelasan.


"Tidak Nayla, aku bisa jelaskan aku tak berniat sama sekali aku hanya kemarin bertamu ke kedainya dan bicara baik walau dengan suasana tegang dengannya."


Nayla menggeleng.


Seketika itu Beno menembak bahu Dipto dan dengan cepat Alex menarik Nayla.


Membawanya masuk ke dalam mobil dengan cepat. Beno meminta anak buahnya mengurus Dipto.


Seketika matanya terbuka melihat ruangan yang tak asing.


Nayla hanya mimpi. Ia memimpikan kejadian tadi.


Nayla tak tahu kenapa bisa menarik narik nama Abdulah. Apa benar Alex akan menghabisi Abdullah ?


Nayla mengusap kasurnya dan mengusap rambutnya beralih mengikatnya dan bangkit dari atas kasur.


Melangkah keluar dengan berjalan pelan dan saat ia melangkah keluar kamar sambil menuruni tangganya perlahan di sana di dapur suara orang sedang memasak atau sibuk dengan alat masak.


"Alex?" Ketika terlihat disana siapa yang sedang memasak.


Dari kejauhan menuruni tangga perlahan dan perlahan mendekat. Nayla terus menatap wajah Alex yang sama sekali tak terlihat berekspresi baik.


Luka di dadanya juga begitu terlihat dan Nayla akui tubuh Alex begitu bagus saat tak menggunakan atasan sama sekali.


Rumah ini rumah pribadi Alex yang pertama kali Nayla datangi.


"Kau memasak?" Alex menoleh melihat siapa yang mengajaknya bicara.


"Aku sangat lapar kau suka makanan ini?" Alex membuat sepageti dengan saus merah merona dan irisan cumi.


Nayla yang melihat itu menatap ragu.


"Aku tak tahu rasanya tak, tak pernah memakannya." Alex tersenyum mengusap kepala Nayla dan beralih pergi ke meja makan dan melepaskan semua alat masak yang sudah di cucinya bersih.


"Kita makan bersama biar anakku tidak terlalu tak tahu makanan enak seperti ibunya."

__ADS_1


Nayla mendesah kesal.


"Terserah apa katamu." Makan bersama Nayla ternyata menyukainya seketika saus menempel di bawah bibir Nayla.


Tatapan mata Alex terpaku pada saos yang ada di dekat bibir bawah Nayla.


Nayla terdiam ketika Alex menatapnya dengan diam dan terlihat terpaku dan seketika itu tatapan mata tajam keduanya bertemu.


Alex berdehem dan menoleh kesamping mengambil air minum. Nayla mengambil nafas banyak dan duduk dengan merasa canggung sekarang.


"Kau.. mau minum." Melihat tak ada air didepan Nayla. Alex beralasan sekaligus berinisiatif berdiri mengambilkan air minum untuk mengalihkan perasaan canggungnya.


Ayolah Alex pernah tidur dengan Nayla tapi, kenapa masih malu seperti ini.


Tapi, itu hanya sekali dan saat malam itu saja dan itu pun menghasilkan benih yang hidup sampai sekarang.


Nayla terdiam melihat punggung alex tanpa balutan kain sehelai pun dan gerakan lengan ketika mengambil gelas lalu menuang air kedalam gelas dan ketika Alex menghadap kedepan saat itu bagian perut kotak dan dada bidang yang sangat padat besar dan menggoda iman Nayla.


Tanpa sadar warna wajah Nayla memerah dan Alex bisa lihat itu dan sedikit senyum tipis.


Sangat lucu.


"Apa kau bertemu dengan Abdulah?" Nayla tiba-tiba ingin mengatakan ini dan seketika gerakan tangan Alex meletakkan gelas di hadapan Nayla memelan dan duduk dengan perlahan.


"Iya aku bertemu dengannya."


"Apa aku membantu mu mengobati luka?"


Alex menhgeleng dengan tatapan datar.


"Kau tertidur didalam mobil dan aku mengobati luka ku sendirian."


Nayla terdiam.


"Kau menggendongku?" Tanya nya lagi seakan Nayla tak yakin apa yang Alex katakan.


Alex menoleh menatapnya sambil mengunyah makanannya. Nayla merasa bersalah. Menunduk malu.


"Lalu kau mengobati sendirian dan aku tertidur dan...." Alex merasa suara nya sangat terdengar lemah dan hampir ingin menangis bergetar halus.


"Tak masalah, kau terlalu lelah melalui hari ini dengan berat." Alex menatap lembut Nayla yang tertunduk malu.


Nayla menunduk malu dan tak melihat tatapan lembut seorang Alex. Nayla perlahan mengangkat wajahnyaenatap Alex yang perlahan kembali melanjutkan makannya.


Saling lama terdiam seketika Alex menoleh menatap Nayla lalu bicara sambil menatap nya.

__ADS_1


"Aku memberikan beberapa pelayan di rumah ini dan tempat yang tak akan membuat mu bosan. Sementara kau tak bisa keluar rumah ini karena aku telah membuat surat itu terlihat nyata didepan mata Nenek."


Nayla mengangguk ragu, mau tak mau dan demi anak mereka Nayla terpaksa melakukannya. Surat cerai itu benar-benar membuat Nayla tak bebas kenapa juga Alex mengubah keputusannya. Bukannya kalo udah bilang kontrak, ya kontrak aja.


Menghela nafasnya pelan.


"Tapi, kau juga bisa keluar rumah tapi, tak terlihat orang." Alex melanjutkan lagi ucapannya. Melihat Nayla terlihat kecewa.


Nayla mengerti maksud Alex adalah dengan mobil dan meminta orang membeli apa yang ia mau dan jika akan keluar benar-benar dari mobil berarti Alex akan melakukannya, menyewa atau membeli tempat itu... ini firasat Nayla, jika salah.


"Lalu jika aku ingin benar-benar terlihat semua orang?" Alex meletakkan garpunya sedikit kasar dan menghadap Nayla menatap datar.


"Kau mau kemana aku akan menyewa tempat itu tak perduli itu konyol atau bodoh yang penting Nenek tak bertemu denganmu, atau kau suka tempat itu aku akan membelinya dan memberikannya untukmu dan jika kau mau ada orang di sekitar sana, aku bisa mengaturnya asalkan kau tak terlihat oleh mereka tapi, kau masih bisa melihat mereka," ucapan Alex begitu rinci dan terdengar sangat mudah, itu seperti orang yang tawar menawar buah di pasar lalu membeli semua ketika sudah tahu harganya.


"A-apa maksudnya aku tetap bisa keluar tapi, tak akan pernah terlihat siapapun sampai kau sendiri yang mengizinkan untuk aku terlihat nyata didepan umum." Maksud Alex di ucapkan lagi oleh Nayla lebih singkat.


"Istriku Pintar." Mengusap kepala Nayla lalu bangkit dan pergi mencuci piring bekas makannya.


Sejak kapan dia pencemburu dan posesif seperti dan apa dia bilang istriku? pintar? Nayla sepertinya terlalu lama tidur siang.


*


Beberapa bulan berlalu kini perut Nayla terlihat sedikit bucit dan besar.


Nayla menatap cermin dan seketika wajahnya sedih karena ia tak bisa keluar rumah ini walau hanya melihat banyak nya orang di mall di taman atau di jalan merasakan matahari dan angin di luar sana hanya rumah dan halaman. Tentang pergi keluar dengan mobil itu sama sekali tak bisa Nayla lakukan alex berubah pikiran lagi, alasannya nenek den semua orang yang dekat dengan nenek mengawasinya.


Suasana itu-itu saja yang Nayla bisa rasakan.


Bosan!


Saat ia berbalik Alex menatapnya dengan senyuman lebar sambil mendekat. Nayla hampir kaget karena tiba-tiba ada Alex disana.


"Aku ingin melihat dunia luar?" Mohonnya. Saat Alex memeluknya dan mengecup dahinya. Kembali memeluk dan melepaskannya.


Alex menatap lain arah. setelah Nayla memperlihatkan raut wajah lucu memohonnya.


"Baiklah, kemana?" Terpaksa mengiyakan jika tidak, mungkin Nayla akan bertambah stres.


Sebenarnya Alex sering mendapatkan aduan jika Nayla terlihat begitu tak baik jika terus seperti ini tapi, Nayla terus menahan rasa tak nyamannya.


Sekarang mungkin bisa. Alex punya ide agar Nayla bisa bebas dari mata-mata Nenek.


"Nonton bioskop ke mall terus makan di luar terus liat kota malam terus ke tempat-tempat yang ada di semua kota." Antusias sekali. Alex mengiyakannya dan dalam bayangannya Alex akan membawa Nayla keluar negeri saja itu kebih aman dengan jet pribadinya hari ini.


"Kalo begitu bersiaplah, aku akan mandi." Nayla mengangguk segera mempersiapkan dirinya dan Alex. Akhirnya ia bisa keluar juga.

__ADS_1


Setelah selesai dengan semuanya Nayla terdiam ketika mendengar suara tak asing ternyata Beno dan Abdulah datang.


"Nayla."


__ADS_2