
Alex duduk di sofa dekat dengan kasur dimana, Nayla masih memejamkan matanya tidur dengan posisi tak berubah bahkan seluruh alat rumah sakit di pindahkan di rumah juga infus dan cairan infus lainnya tersedia di rumah ini.
Jika Alex tak perduli dengan nya Alex akan membawanya kerumah sakit dan membiarkan di rawat disana tanpa ada yang menunggu tapi, Alex melakukan ini semua.
Ia memperhatikan grafik yang bergerak normal.
"Kenapa dia tidak sadar. Apa dia ingin sekali pergi dariku dengan cara ini."
Alex menghela nafasnya. Mengusap wajahnya dan kembali meminum secangkir kopinya.
Seketika suara ponsel membuyarkan lamunannya.
Di tempat tidurnya Nayla mengeluarkan setets air mata.
"Kenapa badanku lemah sekali kenapa sulit sekali bicara bergerak dan membuka mata, Aku lelah seperti ini aku ingin pergi saja selamanya kenapa malah terbaring tak berdaya," kata Nayla dalam hatinya dan itupun hanya ia yang bisa dengar.
Nayla tahu apa yang Alex katakan tapi, untuk perdebatan tadi pagi Nayla sama sekali tak tahu karena ia benar-benar tertidur.
Nayla tak bisa menggerakan bulu mata bahkan jari kelingking kakinya ia sama sekali tak bergerak. Tapi, batin Nayla sadar ia merasa ia harus membuka matanya.
Nayla terdiam dan air mata mengering setelah menangis yang tak terlalu lama.
Bulu matanya basah dan itu sudah mengering bersamaan air mata.
Terdengar ketukan pintu.
Tiba-tiba bibi datang bersama pelayan lainnya membawa handuk dan air hangat yang sudah di campur empah dan wewangian dari tanaman obat alami.
"Tuan, saya permisi.." Alex mengangguk.
Dan mempersilakan bibi melakukan seperti biasanya saat waktu Nayla di bersihkan.
Tirai di pasang dan para pelayan mulai membersihkan Nayla.
Alex memilih melangkah keluar saat merasa tak nyaman sendiri didalam kamar.
Melangkah kedapur dan mencari buah pisang dalam kulkas.
Saat yang sama ponselnya bergetar dengan laporan asisten baru untuk zulfikar. Alex membacanya sampai biodata Valenzia.
"Lakukan saja, apa yang di butuhkan aku tidak tahu akan akan mengurusnya lagi setelah masalah perebutan harta waris ini selesai."
Beno menerima pesan balasannya.
"Baik, Tuan."
Di tempatnya Farhan menatap Cakra dan juga Dipto dengan tatapan yang takut juga berusaha berani.
"Kau kalah dan Alex menang kau bahkan malah dengan sengaja menyeret Nayla untuk di habisi Darma dan Neneknya Alex."
"Itu semua di luar dugaan, Tuan Cakra !" Belanya menatap Cakra dengan berani.
Dipto mengepalkan tangannya jika bukan karena Cakra yang menahannya Dipto sudah membunuh Farhan disini sekarang juga.
"Kalo begitu kita tunggu dia sadar dan buat rencana lain menggunakan putramu."
Farhan terdiam kaget.
__ADS_1
"Jangan pernah bawa anakku dalam masalah kita."
Cakra tersenyum.
"Aku tak bisa meminta istrimu karena dia patner ranjangku, sepertinya aku lupa, kalo kau dan dia sudah cerai!"
Farhan marah dan kesal.
"Kau membuat rumah tanggaku hancur dan kau merebut istriku, cukup sampai sini dan jangan usik putraku."
Cakra mengedikkan bahunya.
"Semua tegantung usahamu lah, jika kau berhasil menyingkirkan Alex aku akan membuatmu hidup tenang jika tidak, kau harus menggunakan putramu untuk membayar semua rencana yang gagal."
Dipto masih menatap marah.
"Kita pulang waktu kita terbuang sia-sia karena pengemis ini."
Farhan menatap dan mendengar dengan amarah yang seketika meledak didalam kepalanya.
Sekarang Farhan sangat jatuh di bawah dan sama sekali tidak bisa melawan. Di tambah lagi keponakannya yang terlihat begitu lebih dekat dengan istri kontraknya.
Di tambah lagi, Alex sama sekali tak mati ataupun koma dengan racun mematikan itu.
Farhan sangat sulit melakukan hal baya lainnya jika racun mematikan saja bisa Alex lawan dengan baik.
"Sial."
Farhan sangat marah dan kesal bersamaan dengan dirinya sekarang.
"Kenapa harus lumpuh, kenapa?"
Di rumahnya sekarang Nenek baru saja bersantai dan sekarang kedatangan Tamu.
"Nenek..." Darma datang dengan membawa sesuatu.
"Lihat nek, aku barusana membelinya dan ini baru saja di sajikan, masih sedikit hangat dan enakkan."
"Iyaa.. Kueh rendah gula ini enak, terimakasih, sayang."
Seketika memeluk Darma dan Darma terpaksa membalasnya, wajahnya berubah masam dan murung.
Darma hanya ingin Alex dan apa yang Alex punya.
"Dimana Alex Nek?"
"Ada dia di kamarnya mungkin menemani wanita aneh itu."
Darma mengangguk anggukkan kepalanya.
"Aku juga mau menjenguknya." Nenek menatap Darmadan tersenyum manis.
"Jenguklah dia." Kata nenek dengan Santai.
Darma mendapat izin dari nenek untuk menjenguk tapi, Darma tidak tahu kalo Alex akan sangat marah besar melihat kedatangannya.
Keinginan Darma untuk dekat dengan Alex semakin hari setiap saat bahkan perdetiknya meningkat, membuatnya buta kalo ia habis membuat onar, masalah yang besar dan tak termaafkan.
__ADS_1
Tapi, Darma tetaplah Darma dengan tingkat percaya dirinya ia mengetuk pintu dan tak mendengar suara ia membukanya.
Melihat ruangan kosong Darma melihat Nayla yang terbaring diatas kasur masih dengan keadaan yang kaku bahkan suara alat medis yang mewarnai ruangan yang kosong ini.
"Kasihan sekali, sudah tak berdaya ya, menyusahkan kenapa tidak mati sekalian."
Darma mendekat dan menatap kearang selang infusnya.
Mematikan saluran infus dan tersenyum senang.
"Selamat tinggal, Aku akan segera memiliki Alex dan kau akan pergi ke Akherat."
"Kembalikan apa yang kau ubah, Darma." Suara berat nanrendah itu membuat Darma terkejut.
Membalikkan badannya.
"Kembalikan lagi atau aku ambil apa yang kau miliki saat ini juga."
Darma tersenyum mendekat.
"Kembalikan apa Alex, aku sama sekali tak menyentuh apapun," ucapnya.
Alex melewati Darma yang terlihat menghampiri dan menatapnya dengan ekspresi memelas.
"Keluar dari kamarku."
"Tapi, Alex?"
"Keluar!" Kaget sampai membuatnya terlonjak dan menutup matanya karena saking keras dan besarnya suara Alex membuatnya terlonjak di tempat.
"Aku..aku bisa jelasin, Aku barusan masuk dan aku...aku pun gak nyentuh apapun."
Alex berbalik badan setelah memebenarkan saluran infus Nayla menatap tajam kedua mata Darma yang hampir basah.
"Pulang atau aku seret langsung ke rumahmu untuk pulang."
Darma mengepalkan kedua tangannya marah. Ia tidak ingin melihat Nayla terus terusan di bela Alex tapi, ini nyata Alex membela Nayla dan berbuat kasar padanya.
Dengan sedih kecewa Darma pergi dari kamar Alex dan mendatangi Nenek mencari perlindungan.
"Sayang..." Melihat alex turun bersamanyanya.
Nenek tahu tanpa harus di jelaskan lagi.
"Alex dia hanya menjenguk lagi pula dia tak sengaja mungkin melakukannya."
Alex diam tak mau mengatakan apapun.
Alex heran dengan neneknya kenapa terus terusanembela Darma yang sudah tahu semuanya penuh ekting dan sandiwara asli tanpa celah dan itupun Nenek bisa terpengaruh.
Biasanya nenek akan marah dan langsung tahu mana bohong mana jujur.
Kali ini pasti pemikiran keduanya sama, Alex tahu itu.
"Aku akan di kamar dan tetap, Jangan ada yang masuk saat aku tidak izinkan dan kau hampir melakukan pembunuhan pada Nayla, untuk kedua kalianya."
"Dia hanya wanita yang menikah paksaan kau, Alex..." Bela Darma.
__ADS_1
"Tapi, kami sah hukum agama dan negara!"
Seketika Darma terdiam bungkam dan begitupun Nenek yang hanya diam berusaha memutar balikkan otak atas sikap cucunya barusan.