
Kesempatan perang dingin Nayla dan Alex sama-sama menguntungkan Darma dan itu sangat bisa Darma sukai.
Kemarin Darma shopping di temani Alex. Makan eskrim dan berjalan-jalan.
"Nayla... kau pasti irikan, Alex lebih memilihku untuk diajak jalan dan kau seperti pembantu di rumah."
Kata-kata pamer kasih sayang yang padahal Nayla tahu jika Alex selalu membawa Zulfikar atau Beno bersamanya saat pergi bersama Darma. Itu tidak romatis, Nayla tahu itu.
Kita dengerkan saja apa lagi yang mau Darma pamerkan, dasar mengganggu kesenangan orang.
Hari yang memang sangat malas untuk Nayla lewati tapi, terpaksa karena hari lainnya masih akan terjadi besok. Darma menatapnya dengan remeh.
"Kenapa?" Tanya Nayla meletakkan kembali piasu di atas talenan dan menatap Darma malas.
"Tidak tapi, kau cocok menjadi tukang masak atau tukang bersih-bersih di rumah ini dari pada istri."
"Oh." Jawab Nayla dari ucapan Darma sangat membuat Darma langsung melayangkan tatapan sinis dan cibiran.
Nayla pergi meninggalkan dapur bukan karena mengaku cemburu tapi, malas dengan Darma yang banyak dramanya.
Langkah Nayla berjalan pergi keluar rumah lewat pintu belakang yang memang hanya ada pelayan dan tukang kebun.
Berjalan terus mencari udara segar seketika ponsel di tangannya bergetar bernada panggilan dengan nama, Tuan jelek.
"Halo?"
"Pulang atau aku seret kau pulang."
"Tidak mau, Seret saja jika bisa." Nayla mematikan telponnya dan di sebrang sana Alex meradang kesal dengan sikap Nayla.
Saat asik berjalan tak sengaja Nayla melihat kucing kecil di tengah jalan dan ada mobil.
Dengan cepat ia menghampirinya dan membawanya ke sebrang saat itu juga mobil yang melaju cepat hampir menabrak kucing itu.
"Nayla!" Ucap kaget si pengemudi saat tahu siapa perempuan ceroboh yang hampir ia tabrak.
Dipto sedang melajukan mobil diatas rata-rata dan ingin menghadiri acara yang hampir mulai.
Tapi, melihat wajah Nayla ia mengurungkan niatnya pergi ke pesta dan malah menyamar.
"Nona!" Panggil Dipto setelah turun dari mobil dan Nayla yang berjongkok mengusap anak kucing itu menoleh.
"Iya." Jawabnya dengan berdiri tegak dan anak kucing itu berjalan menjauh.
"Saya minta maaf jika boleh tahu siapa yang punya anak kucing yang di terlantarkan itu, keterlaluan," ucapnya berusaha mencari topik pembicaraan.
Nayla menoleh ke arah anak kucing.
"Entah lah... dan kau tidak asing?" Nayla menatap matanya dari balik maskernya dan topi.
__ADS_1
Nayla membulatkan matanya seketika sadar siapa yang ada di depannya.
"Dipto?" Kalah lagi dengan Nayla Dipto terlalu menggunakan hatinya jika bersama Nayla.
"Maaf, Nay.. aku sengaja supaya kau tidak menjauh dariku." Nayla mundur perlahan.
Dipto merasa sikap waspada Nayla sangat cepat.
"Tidak-tidak... aku tidak akan membuatmu takut atau menculikmu lagi, aku sebenarnya ingin pergi ke acara temanku dan aku tak sengaja melaju cepat dan...dan hampir menabrakmu." Mengusap tengkuknya sambari mrnatap kelain arah.
Dipto masih tetap menggunakan masker dan topinya.
"Ehm.. Aku harus pergi." Nayla berbalik pergi dan seketika teringat sesuatu.
"Kau jujur tidak menguntitku kan?" Dipto menjawabnya dengan gelengan kepala.
Nayla menatap kanan kiri, dan rasa takutnya juga hilang entah kemana.
"Aku mau pergi dan sebentar menjauh bisa kau ajak aku jalan-jalan?" Dipto merasa mendapatkan lampu hijau dan merasa ini kesempatan yang baik dan ia tak akan menyia-nyiakan kan kesempatan ini.
"Tapi, apa kau percaya dan tidak takut aku menyakitimu?"
Nayla terdiam.
"Kau lelaki kan, kau harus pegang ucapanmu jika kau tidak ingin menyakitiku, kita akan jadi teman jika kau tidak jahat padaku?"
Nayla mengulurkan tangannya. Seketika Dipto menatap dengan malu.
Dipto langsung pergi ke mobil dan membukakan pintu lalu Nayla masuk dengan perasaan malu.
Mereka pergi dari sana di perhatikan anak kucing kecil yang tiba-tiba di datangi seorang wanita.
"Kerja bagus Dipto." Darma tersenyum senang dan pergi dari sana dengan bahagia sambil mengirim pesan dari ponselnya. Dan ternyata itu untuk Dipto.
Saat mengemudi ada pesan masuk dan itu datang dari Darma.
"Bawa Nayla kemanapun kau mau buat dia nyaman dan buat dia berniat memutuskan pernikahannya dengan Alex, Walaupun kontrak pria dan wanita tidak akan tidak diam-diam suka jika terus bersama bukan?"
Pesan singkat itu di baca Dipto tanpa di perhatikan curiga oleh mata Nayla.
Nayla sibuk menatap keluar jendela mobil.
Dipto tersenyum manis.
Membuat apa yang harus menjadi milikku dan selamannya harus jadi milikku itu hal yang sangat sangat sulit dan mudah, batinnya dengan gembira dan bersemangat melirik Nayla sesekali.
Nayla membuat ponselnya sunyi untuk panggilan Alex.
Dan di rumah Alex meminta Zulfikar melacak ponsel Nayla.
__ADS_1
Bukannya mudah tiba-tiba koneksi internet memburuk.
Nayla asik menikmati pemandangan jalanan dan Alex kesal bukan main.
Tiba-tiba di ruang kerjanya.
Darma mengetuk pintu.
"Alex aku membawakan camilan."
Alex menatap horor Zulfikar dan Gazi di hadapannya.
"Baik Tuan," ucapGazi i yang langsung berdiri dan pergi membukakan pintu untuk Darma.
Darma melihat wajah Gazi mengangguk dan twrsenyum ramah layaknya menyapa orang tak di kenal.
Gazi mempersilakannya masuk.
"Kenapa? Kau membawa itu kemari? Nayla dimana?"
Darma seketika murung, kenapa Nayla lagi yang di cari.
"Aku bisa dan Nayla tidak, aku ada kenpa harus mencari dia." Alex menatap Zul dan Gazi keluar dari ruangannya sebentar.
Mereka berdua memberikan waktu dan ruang untuk Alex dan Darma bicara.
Alex menatap. Tanpa mempersilakan dia duduk.
"Kau bisa tidak kembali saja ke rumahmu dan jangan gunakan Nenek untuk terus memberikanmu izin tinggal di rumah ini, Aku muak!"
Darma merasa hatinya perih sekali.
"Muak?" Air mata tiba-tiba keluar dari kelopak matanya.
"Alex aku mencintaimu, hari-hari yang kita habiskan bersama kemarin, apa kau tidak bahagia, atau hanya aku saja. Alex Aku ada di hadapanmu dan Nayla tidak, ia bahkan tak bisa membuatmu bahagia dan nyaman tidak seperti aku yang bisa membuatmu nyaman juga tenang berada di dekatku."
Alex menatap nyalang dnegan wajah tanpa ekspresinya.
"Apa kau bilang nyaman? Kau bilang tak ada rasa apapun begitu? Atau maksudmu, kau lebih berhak dari pada Nayla yang sah menjadi istriku."
"Kau pengganggu Darma!" Sentak Alex setelah bicara panjang dan kalimat sentakan itu membuat Darma tertohok langsung ke hatinya.
"Kau!... kenapa Kau?"
"Kau tidak bisa membuatku nyaman, aku dan diriku yang tahu apa yang bisa membuatku nyaman atau tidak perasaan saling suka hanya aku yang tahu, jika Nayla tak suka ya sudah kita menikah ikatan terpaksa untuk hak waris yang mana, siuapa tidak jatuh ketangan Paman! Kau? Tahu apa kau tentang kehidupanku, berhenti mengganggu dan pulang lah ke rumahmu. Ayah dan anak, sama-sama membuat ku pusing."
Darma mengepalkan tangannya dan berbalik pergi dengan amarah yang menjadi tangisan.
Alex menatap Darma yang menjauh.
__ADS_1
Ia terpaksa bicara kasar dan melukai hati Darma itu supaya Darma paham dan mengerti untuk tetap menjadi perempuan baik.
Alex sadar jika Darma ayah juga Cakra dan Dipto ada hubungan samar di balik acara balas dendamnya Cakra dan Garendra.