
Nayla yang baru saja datang kerumah sakit untuk ikut periksa kehamilannya. Duduk bersama ibu-ibu lainnya yang juga menunggu panggilan antrian.
"Dia masih muda?" Nayla mendengar itu.
Menyapa dengan senyuman, ibu tua dengan wanita lebih tua dari Nayla sepertinya, perutnya juga sudah sedikit besar. Mereka duduk didepan Nayla.
"Sudah hamil?"
Seketika Nayla merasakan getaran di ponselnya.
Selama ini Nayla tak pernah membayangkan jika ia akan datang dan periksa sendiri kehamilannya. Nayla tak akan mampu membayangkannya.
Tapi, ia sengaja memilih ini karena semua terpaksa dari pada Alex memberikannya uang ia akan tambah di cap buruk dan Nenek tak akan bisa ikhlas memberikannya pada Nayla.
Dari pada seperti itu lebih baik, Anak ini adalah hal yang paling Nayla mau.
Tidak masalah orang bilang apa tentang dirinya dan anak yang ada di kandungannya. Ia tak perduli.
Nayla tetap akan mengandung mengurus dan menyayangi harta berharganya.
Uang bisa di cari tapi, teman sulit didapatkan.
Setelah Alex menceraikannya nanti ia akan sendirian dan Alex akan menikah lagi lalu dia bersama anak ini selamanya. Alex tak bisa membawanya darinya.
Nayla membayangkan masa indah jika nanti anaknya lahir.
"Mb makannya kalo mau main game kayak gitu pake pengaman dong, masa masih muda udah hamil, kasian orang tua capek biayain kuliah sekolah tinggi, anaknya malah hamil duluan."
"Iya Bu makasih." Nayla harus terbiasa dengan ucapan ini.
Jika ia tak emosi ini tak akan panjang urusannya, tapi ia sebenarnya kesal dan emosi sekali.
"Kasian ya anaknya jadi anak haram."
"Iya.. Jangan-jangan anaknya gak di akuin bapaknya, liat aja dia periksa sendiri kehamilannya."
Nayla harus sabar.
Sampai antriannya terpanggil Nayla masuk dan berbaring lalu di periksa langsung dokter kandungan.
Setelah dari mengecek kehamilannya sesuai jadwalnya. Nayla langsung pulang dan ternyata pak sopir sudah datang tanpa Nayla telpon.
"Mari Nyonya."
Nayla mengangguk sambil mengatakan terimaksih masuk kedalam mobil.
"Pak langsung ke kantor aja."
__ADS_1
*
Mobil langsung pergi ke kantor dan saat sampai di kantor Nayla masuk ke dalam lift santai saja sampai di lantai ruangan Alex berada. Nayla tetap tenang hingga pintu ruangan Alex tak di kunci.
Alex melihat pintu terbuka dan saat itu menampilkan wajah Nayla.
Darma sontak kaget dan tersenyum senang.
Nayla terdiam di tempatnya melihat Darma ada disana dan menggunakan kemeja Alex juga rambutnya berantakan sedangkan Alex duduk di kursi kerjanya santai masih dengan kaca mata dan mata menatap mackbooknya.
"Hallo, Nay... Aku seharian bersama suamimu." Bisiknya dengan gerakan bibir.
Nayla menatap datar dan pergi melewati Darma begitu saja.
"Ini berkas yang kemarin aku selesaikan dirumah. Sisanya aku bereskan sebelum waktu aku pegi tiba."
"Kau pergi?"
Nayla negerutkan dahinya.
"Iyaa kan sesuai kontrak yang kau mau, Kau yang mengatakannya jika sudah berakhir, ya sudah."
Alex menelpon Zia untuk membawa Darma keluar, ketika Darma akan ikut campur saat itu Zia datang dan Darma tahu itu pasti perintah Alex.
"Aku tidak mau keluar!"
Alex malas bicara dan berdebat dengan Darma.
Darma kesal dan sedih.
Ia tak bisa terus-terusan sakit hati dan kecewa seperti ini.
Bangkit dengan sendirinya dan keluar dari ruangan Alex.
"Dimana lift langsung ke besment?" Zia langsung mengantarkan Darma tanpa menjawabnya pertanyaannya.
Di dalam kamar istirahatnya. Nayla menatap Alex marah.
"Apa lagi, aku hanya menyelesaikan tanggung jawabku, kau kan bicara sendiri kalo sudah selesai kontrak aku bebas."
"Nay.. Nay... Kau hamil, dan itu anakku, aku tak bisa melepaskanmu."
"Alex! Pernikahan kita terpaksa kau yang memaksaku, kau akan memberiku imbalan uang jika kontrak selesai tapi, aku kan bilang kemarin kalo aku ingin anak, berarti aku tidak butuh uangmu, nenek seperti itu, kau pasti sudah pintar dan tahu kenapa aku memilih anak dari pada uang."
Alex mencengkram kedua bahu Nayla.
"Nay.. aku masih suamimu, dan aku tak akan pernah menceraikanmu saat kau sedang hamil. Kau harus tetap bersamaku!"
__ADS_1
"Heh... Paksaan lagi, Aku bilang aku ingin selesai aku ingin bebas. Selalu nenek mengatakan dan mengungkit pernikahan kita itu paksaan dan kau tergoda olehku, Aku tak menggodamu sama sekali aku juga tak butuh uang atau harta, tidak! Tapi, tiap kali Nenek menatapku, aku ini seperti wanita tak baik buruk bahkan jal*ng di matanya."
Alex menatapnya dalam-dalam.
"Dengarkan aku, Aku akan memberikanmu rumah dimana awal kau tinggal kau bisa melakukan apapun disana dan kau tetap menjadi istriku, Aku tidak akan pernah menceraikanmu sampai kapanpun!"
"Itu keputusan finalku!" Tekan kalimat Alex lagi dengan wajahnya serius mata menatap langsung kedua mata Nayla yang sudah basah air mata.
"Tidak!"
"Nayla..."
"Aku tidak mau... pokonya bebaskan aku dan aku tidak mau melihatmu, Sakit hatiku, aku tidak tahan jika orang lain mengatakan aku dan anakku tidak baik jika sampai aku diberi julukan pel*cur itu tak masalah tapi, jika anakku di sebut anak haram aku benci! aku benci itu!"
"Aku mohon Alex hutang ayah dan Abdulah sudah lunas bukan dan aku juga sudah hampir menyelesaikan masa pernikahan kontrak ini, jadi aku mohon lepaskan aku, bebaskan aku...dan anakku."
"Dia anakku, Anak ku juga Nay.. Kau tak bisa egois mengatakan dia anakmu saja. Itu kita berdua yang berbuat sehingga ada dia di dalam perutmu, kau bodoh!"
Nayla tahu itu tapi, setelah cerai Nayla tak punya siapapun.
"Tidak!" Menggeleng.
"Dia anakku, anakku saja."
"Aku akan menjadi kejam jika sikapmu begini Nay... aku tak punya pilihan lain, Kau tidak akan menerima surat ceri dariku ataupun perkataan talak dariku."
Alex berbalik pergi keluar ruangan dan meninggalkan Nayla yang duduk lemas di tepi kasur.
Seketika tangisnya pecah.
Apa ia salah meminta anak apa Nayla salah jalan lagi.
Ini bukannya hal tak penting untuk orang seperti Alex kenapa ia malah mempertahankan ikatan tanpa cinta ini.
Kenapa?
Nayla ingin bebas! Tolong lah siapapun yang bisa bantu Nayla lepas dari ikatan ini.
Alex memilih keluar dan merokok di atap sendirian. Menatap kedepan. matanya menerawang jauh kedepan tantang apa yang ia katakan pada Nayla.
Ia sama sekali tak bisa membiarkan anaknya hidup tanpa figur ayah. Nayla yang masih gadis mungkin Alex bisa lepaskan tapi, Nayla mengandung anaknya.
Jika tidak ada Nayla anaknya tidak akan ada. Jika sudah lahirpun Alex tetap akan mengikat Nayla bersama nya tidak aka. pernah ia lepaskan.
Tidak ada niatan Alex untuk memisahkan mereka.
Alex pusing. Kenapa semuanya malah berantakan seperti ini belum lagi, Dipto.
__ADS_1
Alex tak tahu kalo Dipto menyukai Nayla jika sampai ia melepaskan Nayla dan anaknya juga Dipto akan langsung senang dan mengambil kesempatan mendekati Nayla lelausa termasuk Darma yang akan melukainya dengan muda.
Alasan perceraian bisa jadi senjata mereka menyerang Alex balik.