
Alex yang masuk ke dalam kamar istirahat melihat Nayla tertidur sambil menangis.
"Maafkan aku." Seketika mengecup kening Nayla dan sedikit menaikkan suhu ruangan agar sedikit sejuk.
Keringatnya terlihat begitu banyak mungkin dia sangat lelah menangis tadi. Alex juga membenarkan posisi Nayla untuk tidur dengan nyenyak.
Kembali keluar dari ruangan itu Beno dan Farhan disana dan Bione juga disana.
"Maafkan aku." Malu dan terpaksa mengatakan itu. Alex menatap heran.
"Paman mau mengatakan sesuatu tak berguna? Aku sibuk!"
Farhan mendesah kesal.
"Aku tidak mudah datang kemari setelah mengelabuhi cakra aku melakukan semua perintahnya aku juga yang meracuni dan termasuk juga aku yang terus meneror semua karyawanmu termasuk racun berbahaya waktu lalu uang membuat dua pegawaimu dirawat."
Alex terdiam matanya menatap tajam.
"Aku ingin bicara berdua." Bione tak bisa meninggalkan Tuannya tapi, Alex tak ingin di ganggu.
Beno menatap Bione.
"Kau termasuk!" Alex menatap Bione yang tak pergi mengikuti Beno yang sudah keluar.
Bione melangkah pergi setelah di angguki Farhan.
Pintu tertutup.
Kini tinggal kedua lelaki dewasa.
"Kau tahu aku terpaksa." Alex mendecih.
"Menurut paman nyawa ku permainan?" Alex tak bisa percaya dengan apa yang pamannya lakukan dan perbuat dan sekarang tiba-tiba meminta maaf lalu apa lagi, bantuan?
"Aku kemari hanya meminta maaf itu saja. Aku memang di bayar Cakra untuk melakukan itu semua aku, juga sudah cerai dengan tante mu ia wanita simpanan Cakra sekarang."
Alex terkejut dengan kabar itu. Pamannya mudah sekali menceritakan keluarganya padanya. Untuk apa Alex tahu? Alex tak akan percaya begitu saja.
"Benarkah?"
Alex menatap paman dengan tatapan yang tak percaya tapi, ya seolah ia mengerti perasaan kecewa pamannya.
"Paman, Paman ingin apa? aku tak punya waktu."
__ADS_1
"Aku tak mau apapun, dan begitu benar jika kau yang memegang semua hak waris ini tapi, aku masih tidak rela, aku jujur. Tapi, untuk kabar kehamilan istrimu aku memeberikan ini saja. Maaf hanya kado murah yang bisa aku berikan. Mungkin setelah ini aku akan benar-benar berubah lagi, aku minta jaga istrimu dengan baik. Nenek sering menekan batinnya saat kau tak dirumah. Kau harus pikirkan mental ibu dari anakmu." Alex terdiam saat sebuah kotak coklat di letakkan pan diatas meja dekat sofa dan memindahkan beberapa barang di samping kursi rodanya.
"Aku akan pergi, dan putraku, Arka. Jangan bunuh dia cukup hukum dia. Aku tahu dia akan melukaimu atau semua orang terdekatmu, ia mengira kalo aku cerai dengan ibunya karena aku dan kau dan masalah kita."
Alex menatap pamannya dengan tatapan yang sulit terbaca. Seketika Bione masuk dan membawa Farhan pergi tapi, sebelum benar-benar melewati pintu Alex mengatakan terimakasih.
"Aku pulang." Jawab pamannya dengan senyuman tipis yang Alex tak pernah lihat sama sekali bahkan Bione pun tak tahu jika tuannya itu tersenyum.
Ucapan terimakasih dari Alex sudah mengatakan kalo Alex sudah memaafkannya.
Dan sekarang Alex dengan semua kado itu. Alex memeriksanya dam melihat semuanya satu persatu.
Pakaian bayi dari warna netral dan juga kain popok yang bermerek.
Jika Nayla itu, Alex pastikan ia akan langsung memarahinya karena ini kain gendongan dan popok yang hanya di punya brand terkenal dunia.
Alex akan menyimpan ini dan memastikan semua aman tanpa ada maksud yang buruk.
Beno masuk tanpa di panggil sepertinya Beno sudahelihat dari depan ruangan Alex jika Bione dan Farhan sudah keluar ia akan memastikan keadaan tuannya.
"Ben... Kau urus semua ini pastikan semuanya baik baik saja, Letakkan di rumahku, jangan rumah utama." Beno mengerti dan langsung membawanya pergi seketika berhenti. Alex menatapnya.
"Panggil zul!" Beno mengangguki nya sambil kembali berbalik pergi.
Tak lama Beno pergi Zul masuk dan melihat jika Zul baru saja datang dari luar.
"Baik Tuan." Alex berbalik dan duduk di sofa dengan merenggangkan punggungnya sedikit menyandarkan leher dan kepalanya.
"Tuan." Suara Zul sekaligus ketukan dan pintu terbuka.
"Masuklah." Zul masuk setelah di minta Alex mendekat dengan isyarat tangannya.
"Semuanya sudah di selidiki lebih awal dan apa yang Farhan sampaikan barusan jika memang sama ia jujur Tuan," ucap Zul seperti tahu tapi, kenyataannya Zul bisa tahu dari alat sadap suara di ruangan Alex.
Alat sadap itu akan berfungis jika ada orang lain di ruangan itu dan jika hanya Nayla dan Alex, Zul langsung menonaktifkan sementara.
Seperti Darma dan Alex diruangan itu bisa Zul ketahui apa yang Darma katakan pada Alex sebelum Nayla datang.
"Semuanya benar." Alex meletakkan kertas laporan Zul diatas meja. Dan duduk menatap tajam berkas diatas meja itu.
"Arka?" Seketika itu Zul memberikan amplop coklat berikutnya.
Alex kembali membukannya dan ternyata ada laporan rumah sakit pembelian obat terlarang senjata dan juga foto-foto Arka dengan beberapa wanita dan pembunuhan yang bukan ia lakukan tapi, semua beres dengan Dipto yang ada didekatnya.
__ADS_1
"Periksa semua orang yang berhubungan dengan Arka dan awasi anak itu." Zul mengangguk mengerti.
Dan saat Zul akan berbalik pergi Alex memanggilnya.
"Minta beberapa leyan jadi telinga di rumah nenek selama Nayla disana. Dan minta Beno membereskan surat perpisahanku dengan Nayla agar ia bisa secepatnya pindah ke rumahku."
Zul mengangguk mengerti lalu pergi.
Bukan kah ini sangat mendadak. Ada apa dengan paman yang tiba-tiba meminta maaf dan memberikan semua hadiah bahkan mewasiatkan anaknya.
Alex merasakan firasat tak enak. Seketika tatapan matanya menatap ke arah pintu ruang istirahat.
*
Pukul lima sore. Nayla terbangun dan melihat kearah jam dinding di atas tv.
"Sore?" Bangun dan merasakan kepalanya sangat pusing. Berusaha di paksakan untuk tetap berdiri. Nayla melangkah menjauh dari kasur seketika terhuyung dan jatuh di pelukan Alex.
Alex menatap wajah Nayla yang pucat.
"Kau merasa mual?" Nayla menggeleng.
"Pusing." Pelannya berucap tapi, Alex tetap bisa mendengar apa yang Nayla katakan. Sekali angkat Alex mengendong Nayla membawanya duduk kembali bersandar diatas kasur.
Mengambilkan air hangat dan meminta Fatir membawakan teh.
Seketika itu terdengar ketukan di pintu. Alex membukanya ternyata Fatir dan nampan teh hangat itu diambil Alex lalu Fatir berbalik pergi keluar ruangan Alex.
"Minum ini sedikit." Nayla menggeleng.
"Eneg..." menatap teh di tangan Alex.
"Sesendok saja." Alex meletakkan teh di atas nakas dan mengambil sendok menyendokkan sedikit dan menyuapkan ke mulut nayla.
Sampai beberapa kali suap Nayla menghentikannya dan memilih meminumnya langsung.
Alex tetap memperhatikannya.
Setelah setengah ia minum seketika Nayla memberikannya pada Alex dan dengan santai menerimanya.
Nayla sadar sepenuhnya jika Alex mengurus dan perduli padanya.
Nayla ingat juga ada anak didalam kandungannya. Seketika itu Alex menangkap ekspresi sedih dari wajah Nayla.
__ADS_1
"Kau ingin sesuatu lagi?"
"Ceraikan aku?"