
Alex turun dari mobil tanpa memperdulikan Nayla yang turun belakangan membawa jas juga barangnya.
"Kenapa tidak bawa sendiri sih." Kesalnya. Alex bisa dengar itu.
"Dasar pura-pura tidak dengar." Alex terus melangkah pergi seketika sampai di ruang utama semua berkumpul saat itu Nayla dan Alex melewati mereka begitu saja.
Saat di tengah mereka berdua menaiki tangga suara nenek terdengar.
"Dia bukan menantuku tapi, istri sirih cucuku dan Istri aslinya ada disini, Mereka menikah hanya untuk supaya warisan tak jatuh ke tangan Farhan."
Nayla berjalan lagi tak menoleh ataupun perduli dengan ucapan itu.
Alex melirik ke samping Nayla tahu alex mendengarnya mungkin ia akan menambahkan ucapan Nenek tersayangnya.
Alex mencengkram tangan Nayla dan menghentikan langkahnya.
Mereka berbalik melangkah dan menghampiri kerabat dari Nenek yang datang dari daerah yang jauh dan mereka akan menginap beberapa malam mungkin.
" Perkenalkan dia istriku dan Darma tidak jadi di jodohkan denganku, dan maaf jika kami kurangsopan tadi."
Apa yang Alex pikirkan sih, apa yang dia bilang istri dan bagaimana dengan Darma.
Orang ini tidak waras, pikir Nayla melepas tangannya dari cengkraman Alex dengan tekanan tangan lainnya. Yap, percuma, selalu susah melepaskan cengkraman tangan yang bahkan pegangannya longgar.
Darma tak suka pemandangan didekatnya dan Nayla merasa tak nyaman dengan tatapan itu, ia malas mencari perhatian.
Seketika Nayla di hampiri seorang wanita yang usianya di bawah Nenek.
"Cantik ya, Lulusan apa? Keluarga mana yang membiarkan anaknya menikah dengan Garendra pasti orang tuamu sangat hebat ya dalam berbisnis dan mampu menyaingi Garendra."
Tertohok sampai menembus jantung. Nayla tak bisa bicara, seperti terperangkap sekaligus di paksa tak perlu bicara.
"Kenapa diam?"
Nenek menatap remeh menanti Nayla bicara jujur atau bohong.
"Dia istriku akan mencintainya apapun latar belakangnya aku akan menerimanya sekaligus orang tuanya hanya mengurus kedai biasa."
Satu ruangan langsung sunyi.
"Kami permisi." Semua diam tak ada yang menjawab sapaan alex lagi-lagi semua hanya bisa diam seribu bahasa dan Nenek tersenyum penuh arti.
Saat menjauhnya pastru baru beberapa minggu itu semua membicarakannya dengan sangat kejam dan sadis bahkan Darma merasa mendengar cerita terbaik yang langsung membuat suasana hatinya membaik.
__ADS_1
Jika berkumpul dengan semua keluarga suami lebih baiknya diam.
Darma jadi belajar hal yang tidak boleh ia lakukan nanti saat menjadi istri Alex.
Di saat yang sama Carka melakukan apa yang ingin ia capai dengan menghancurkan bisnis Alex mulai dari barang fisiknya.
Contohnya bangunan proyek setengah jadinya ini.
Setelah semua pekerja tertidur Cakra memulai siasatnya dan berakhir dengan bom tertanam seolah tidak ada yang tahu.
Di tempat yang sama Dipto mengelap kaca matanya.
Sambil menelpon Cakra ayahnya.
"Bagaimana dengan usahamu, sudah bertemu dengannya, cantik bukan... jika sudah memulai lakukan dengan benar jika ia lebih pintar kau harus lebih cepat."
"Baiklah Ayah... aku akan segera mengambilnya membuat Alex di permalukan." Dengan santainya telpon terputus dan Cakra pergi dari tempat proyek dengan langkah santainya ia menghubungi Darma yang sedang mengagumi kamar Alex ketika Alex dan Nayla tidak ada di dalam kamar.
Darma sangat suka parfum dan bau badan Alex.
Saat yang sama. Alex di omeli Nayla dengan bertolak pinggang.
"Mempermalukan, Kenapa harus turun dan bilang hal itu, Ini permainanmu kan, kau mau aku di permalukan kan kan... Ngakulah, kau selalu senang melihatku tertindas bahkan aku jadi korban dari Nenek dan Darma. Alex," ucapnya kesal seketika memanggil nama Alex dengan menggebrak meja.
"Kenapa?" Sqntai menatap mata Nayla dengan tajam menakutkan.
"Tidak tidak mau lagi aku bertemu mereka dan kau, untuk apa aku mengerjakan ini semua kenapa aku harus membantumu, aku hanya istri dalam kontrak bahkan kita tak mencintai kau memaksaku menikahimu, kau mau balas dendam bukan Kau, kau seharusnya membunuhku kenapa malah menjadikan aku istri," ucapnya berentet panjang sampai Alex diam menatap mata Nayla lebih dalam yang terlihat terus menantang alex dengan tatapan mata sok di beranikan.
Nayla sebenarnya takut tapi, dia harus berani karena ia tak mau kalah dengan orang kejam seperti alex yang membuatnya tak bisa kuliah dan menghanguskan beasiswanya juga menikahinya dengan alasan balas drndam dan apa yang di balas apa yang dendam dia seperti menjadikan Nayla sungguhan pendamping hidup.
Nayla sangat takut dan ini lebih mengerikan di bandikan di bunuh secara langsung atau di siksa dengan Dendam terpendam.
"Serem!" Alex mengangkat sebelah alisnya mendengar Nayla berucap menatap lantai sambil bergidik ngeri.
"Sudah?" Nayla menatap kesal.
"Kerjakan semua sendiri aku mau tidur." Melangkah pergi ke pintu seketika tak bisa terbuka. Nayla terus menarik berusaha membuka mendorong bahkan mencari tombol.
Alex terus memperhatikan tingkah random Nayla.
"Buka pintunya!" Marahnya pada Alex.
"Kau belum selesai bekerj tak ada jalan keluar bahkan jika kau pergi dengan orang lain sekalipun."
__ADS_1
"Apa kau, apa maksudmu kau berharap aku selingkuh, Hah.. terimakasih ide itu tapi, aku tak suka perselingkuhan lebih baik aku menghilang dari hadapanmu daripada harus membuatmu merasa tersakiti."
Alex tertarik dengan pembicaraan ini.
"Kenapa?"
"Kenapa?" Nayla mengulangi ucapan Alex.
"Apanya, Alex Kau itu bodoh atau apa, ya pikirlah sendiri, Kau tanya mulu, aku tak mau menjawabnya!"
Seketika Menendang pintu mendobrak bahkan menghantamnya dengan kursi.
"Nayla!" Tepat berhenti sebelum Kursi terlempar ke pintu.
Alex di buat bingung. Nayla sebenarnya menyeramkan beda dari bayangan wanita atau perempuan tenang dan lembut di luar sana.
"Apa! Buka pintunya! Aku ingin tidur! Aku malas berdebat dengan mu!"
Alex melangkah mendekat seketika Nayla meletakkan kursinya tepat saat kaki Alex di bawah salah satu kaki kursi.
Sakit!
Nayla tanpa merasa bersalah dengan santai melangkah ke sofa.
Alex mendekatinya dan di duduk di sampingnya dengan kasar memberikan tugas diatas pangkuan Nayla.
"Kerjakan dan jika selesai cepat kau bisa keluar."
"Berhentilah bersikap seolah kau tak membenciku!"
Alex berhenti bergerak.
"Bencilah aku sepuasmu lalu campakan aku, Aku tak mau menjadi seorang yang membuatmu kecewa lagi aku tahu rasanya kehilangan, Maafkan mereka." Suasanya seketika terasa haru, Alex bisa merasakan atmosfer ruangan yang Nayla ciptakan begitu terasa pekat.
Alex diam.
"Aku akan melakukan apa maumu tapi, tolong jangan dendam dengan keluargaku lagi, jika mereka punya hutang dan kesalahan di masalalu kumohon padamu," ucapnya terhenti mengambil nafas.
"Kumohon padamu, limpahkan semua kesalahan padaku bayangkan aku mereka yang membuatmu tersakiti dan bayangkan saja aku sebagai benda pelunas hutang keluargaku, Aku hanya punya ayah di dunia ini dan aku ingin melihat ayahku bahagia sebelum sakitnya membawanya pergi dari dunia ini."
Alex merasa bersalah, Alex juga merasa ini tak pantas Nayla ucapkan. Alex ingin menguatkan bahu Nayla tapi, ia sangat membenci wanita di sampingnya tanpa alasan Alex menikahinya dan kadang mengasarinya.
"Baik, aku akan melakukan apa yang kau mau," ucap Alex dengan tenang sambil melangkah ke mejanya dan Nayla tersenyum menatap pekerjaan di pangkuannya.
__ADS_1
"Terimakasih, Tuan muda."
Alex terkejut.