Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris

Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris
Jemputan yang beda


__ADS_3

Ian terdiam.


Ian tahu kalo nenek tak suka dengan Nayla tapi, apa sampai membuang semua kueh enak ini.


Ah. Ian akan bawa ini ke kamar dan meminta toples untuk ia bawa kekamar jangan piring.


Saat Ian masuk kedalam kamar dan meletakkan kueh di dekat meja komputernya. Ian jika tidak ada susu coklat dengan es di sebelahnya Itu rasanya aneh jadi Ian kembali keluar setelah meletakkan kotak kueh dekat komputer dan pergi lagi untuk membuat es susu coklat.


Segera turun lagi dan menyiapkannya sendiri.


Tiba-tiba suara gaduh terdengar.


"Siapa yang membuat makanan ini!" Nenek marah menatap para pelayan.


Ian tetap menuruni tangga perlahan sambil mengamati situasi.


"Buang semua!" Katanya lagi dengan galak. Bibi sampai terkejut.


Ian tak senang Neneknya sampai seperti itu.


"Jangan di buang." Ian langsung menghentikan para pelayan.


"Kalo nenek tidak mau biar aku yang makan dan bibi juga lainnya boleh memakannya, menyimpannya. Nenek tidak suka. Ayo ambil saja." Kata Ian dengan santainya meminta pelayan membawa masing-masing kuehnya.


Nenek menghela nafasnya lalu pergi dari sana.


Nenek tidak mau sampai membentak Ian ia sedang ingin membentak orang sekarang, jangan sampai cucu kesayangannya yang satu ini ia bentak juga, lebih baik Nenek pergi dari sana.


"Ian..." Panggil Alex ketika ia baru saja melihat Ian memasukkan dan membungkus semuanya untuk dirinya sendiri ke dalam toples.


"Kueh itu?"


"Oh," Ian baru paham.


"Nenek minta di buang, bener kata kak Nayla, kalo sampe aku tidak di kasih nenek lihat bisa di buang, Aku kebagian sih setoples tapi, waktu aku mau membuat es susu coklat Nenek marah-marah pada para pelayan, karena kueh buatan Kakak ipar."


"Ya sudah bereskan semua dan kau kerjakan tugas kuliah mu aku tahu tugas kuliahmu menumpuk kan?"


Ian menatap malas. Lalu pergi begitu saja. Jika Alex sudah mode orang tua Razefian jadi sangat malas menatap atau bicara lagi.


Saat sudah tak ada siapapun di dapur Alex mengambil sesuatu di kulkas minuman kopi kaleng yang langsung ia sedu dengan es batu dalam gelas panjang.


*


Di dalam kamar Nayla membereskan dan mengganti seprai juga horden membersihkan dan menganti pengharum ruangan yang lama juga mengisi air dalam pelembab udara di kamar.


Tak lupa meminta bantuan pelayan lain membersihkan saringan ac.


Nayla yang sejak bangun dari tidur panjangnya saat itu menjadi lebih rajin mengurus kamar ini layaknya kamar nya sendiri.


Dalam beberapa menit dengan bantuan pelayan semua selesai. Ketika akan melangkah keluar kamar setelah membersihkan pakaiannya dan bau debu dari tubuhnya.


Hendak melangkah keluar.


Nenek sudah menunggunya didepan kamar.


Sebenarnya Nenek kebetulan lewat. Kebetulan juga Nayla akan keluar.


"Kau membuat makanan dengan bahan dari rumah ini tanpa izinku, kau terbiasa melakukan segalanya termasuk pernikahan dengan cucuku tanpa izin orang tua ya."

__ADS_1


Nayla bingung kenapa mengungkit lagi, Nayla hanya membuat kueh untuk camilan hari minggu ini apa salah nya sih, atau ia memang salah memakai dapur menggunakan semua hal benda dan barang di rumah ini.


"Kau dengar ya, Kau hanya sementara, jadi jangan pernah menganggap kau akan tinggal selamanya."


Nenek pergi setelah mengatakan itu.


Nayla tak mau memikirkannya dan berjalan berlawanan arah dengan santai pergi ke tempat Alex.


Mengetuk pintu dan masuk dengan sopan.


Beno dengan pakaian santai Hoddi dan celana cargo pendek lalu Zulfikar dengan setelan jaket kulit celana levis ksos polos hitam.


Lalu Valenzia disana dengan pakaian santai dan hijap pasmina yang tetap tertutup sampai dadanya.


"Nyonya." Sapa ketiganya.


Alex melirik Nayla dan mengisyaratkan semua untuk keluar sebentar.


"Bawa saja di hari senin dan jumat untuk berkas biru lalu sisanya Zulfikar dan Zia yang mengurusnya."


"Baik pak." Jawab Zia dengan sopan.


Lalu sempat melempar senyum manis pada Nayla yang di tanggapi dengan senyum biasa dan anggukkan.


"Kau bicara apa saja dengan Ian?"


"Tidak ada selain sapa."


"Kau tak mau jujur?" Tanya lagi seperti memojokkan.


"Tidak ada," jawabnya lagi tenang.


"Jangan mempengaruhi adikku." Nayla mengangguk saja.


Di tuduh selalu tak baik, biarlah lagi pula sebentar lagi ia akan pergi dari sini.


Seketika Nayla merasa ingin sesuatu dari Alex tapi, apa ia bisa mengambil tanggung jawab itu.


"Apa aku bisa minta sesuatu?" Seketika Alex menatapnya.


"Katakan?" dengan tenang tanpa menatap dan hanya menatap sebentar ketika Nayla memanggilnya.


"Aku ingin anak."


Alex menghentikan gerakan pena untuk merevisi berkasnya.


*


Pagi tiba. Nayla bangun lebih awal dan Alex harus keluar rumah lebih dulu mengurus masalah di area Zulfikar dan nanti jam delapan baru ia akan masuk kantor lagi.


Nayla jadi berangkat sendiri di temani sopir.


Sebenarnya Alex mau mengajak tapi, Alex ingat jika Semalam ia membuat Nayla kelelahan karena permintaan Nayla.


Nayla sebenarnya tak ragu dengan apa yang ia ucapkan kemarin jadi dengan keberanian ia memintanya.


Alex sempat terkejut tapi, ia tetap melakukannya sejujurnya ia juga ingin tapi, ia tak mau mengatakannya.


Mereka benar-benar membuat anggota baru itu semalam. Untuk pertama kalinya Nayla menjatuhkan egonya untuk masa depannya dengan anaknya nantinya.

__ADS_1


Masalah jika Alex tetap mau berpisah Nayla juga tak masalah karena ia hanya ingin anak dan ia akan pergi jauh.


Baru setengah perjalanan mobil berhenti, tiba-tiba mobil mogok tanpa alasan padahal mobil rajin di servis.


"Nay.. bareng saja?" Suara dari belakang membuyarkan lamunannya.


Dipto? Pikir Nayla saat melihat sepion mobil yang ternyata mobil di belakangnya adalah Dipto.


Nayla benar-benar malas berurusan dengan mereka semua tapi, kenapa mereka selalu datang di saat Nayla semangat hidup lagi sih!


Pak sopir yang sibuk memeriksa mesin ikut menoleh.


"Nyonya ini akan lama jika Nyonya mau saya pesankan taksi? Itu lebih baik." Pak sopir juga tahu siapa Dipto jika Nyonya nya tak nyaman ia menyarankan hal ini.


"Saya naik taksi aja." Jawab Nayla cepat.


Seketika Dipto keluar mobil mendengar Nayla lebih memilih naik Mobil taksi di bandingkan mobilnya.


"Taksi." Mobil biru yang pak sopir panggil berhenti dan ketika Nayla akan naik Dipto menghentikannya.


"Aku malas melihatmu." Nayla kembali membuka pintu mobil taksi dan kembali di tutup Dipto.


Nayla mundur dan pura-pura melihat jam di ponselnya, padahal ia melakukan sesuatu pada ponselnya.


"Aku ingin pergi sekarang, pergilah menjauh dariku!" Tatapan Nayla tajam pada Dipto.


Seketika itu sebuah mobil ferari warna merah metalik berhenti tepat didekat mobil Nayla yang mogok.


Zia keluar dari mobil dan mengangguk sopan menatap lalu menyapa.


"Nyonya." Nayla berbalik pergi dan Dipto seketika menahan nya.


"Nay.. denganku saja." Seketika itu Nayla menatap tangan Dipto dan menatap tajam Zia.


Dipto langsung melepaskan tangan Nayla membiarkannya pergi dan sopir taksi tadi di beri uang oleh sopir Nayla karena membuang waktu di sini.


Nayla yang Dipto lihat lebih memilih segala yang Alex miliki merasa marah dan kesal semua emosinya terkumpul dalam kepalan tangannya.


Sopir Nayla menelpon bengkel langganan menganggap Dipto tak ada.


Dipto segera pergi dari sana setelah Nayla juga pergi dari sana.


Nayla yang duduk di sebelah Zia menatap keluar jendela dengan lamunan nya.


Ia harus sebisa mungkin tak membuat masalah selama beberapa minggu ini dan semoga apa yang ada didalam rahimnya benar-benar hidup.


Nayla diam lagi dan kosongkan pikirannya lagi.


"Aku ingin es buah." Nayla Tiba-tiba ingin es buah yang di jual pinggir jalan. Zia segera menepikan mobilnya dan hendak turun tapi, Nayla dengan cepat memberikannya uang.


"Alpukat satu, es buah satu dan kau kalo mau beli juga, Zi." Vina mengangguk mengerti dan turun dari mobilnya.


Sampai di kantor Alex menatap Nayla yang memegang bungkusnya satu berwarna pink dengan warna lain seperti buah didalamnya dan satu hijau.


Plastiknya bening jadi bisa terlihat.


"Kau berangkat dengan Dipto?"


Nayla menoleh.

__ADS_1


"Aku minta kau yang datang, kenapa Zia?"


__ADS_2