
"Bukan Aku... Alex, bukan aku tapi, Nayla.. Nayla lah yang membuat masalah, dia pembawa sialnya.."
Alex mengeram marah pelan.
Percuma baginya berdebat, Alex memilih diam dan meminta Zulfikar mengambil air dingin untuk membasahi tenggorokannya. Jika bisa air dingin dari air mineral itu membasahi amarahnya agar dingin lagi.
"Alex ..Alex!" Teriak Nenek marah. Karena Alex seolah olah tak mendengarkannya.
Dari dalam seorang dokter lelaki dan seorang dokter perempuan keluar. Alex bergegas berdiri dan menghampiri dokter bertanya tentang kondisi adiknya.
Dokter pamit setelah menjelaskan perkembangannya dari adiknya.
Alex benar-benar ingin marah dengan neneknya.
Alex pergi masuk dan meminta Zul dan Beno menjaga pintu.
Ketika Nenek ingin menemui Ian juga Beno menahannya.
"Maaf nyonya tapi, Tuan meminta untuk dirinya saja yang masuk sekarang. Anda tak bisa." Jelasan dari Zulfikar membuat Nenek marah.
"Siapa kalian berani membuatku tak bisa menemui cucuku," ucap nenek geram.
"Tuan." Nenek marah. Dan memaksa masuk tapi Beno terus menghalanginya.
Darma hanya menonton dan melihat dengan sedikit senyuman tipisnya.
Tapi, tak sadarnya Darma jika Zulfikar memperhatikannya.
Darma mendekat ke nenek dan merangkulnya mengajaknya menjauh.
"Nenek lebih baik kita istirahat dulu, Alex sedang mengurusnya... Alex butuh waktu nek." Lembut Darma mengajak Nenek untuk tenang.
Nenek terdiam seketika dirinya sadar.
"Aku akan pulang, Kau juga Darma pulang lah, nenek ingin istirahat." Darma mengangguk dan mengantar nenek pergi dari hadapan Beno dan Zulfikar.
Di rumah Nenek langsung pergi masuk kedalam Ian dan duduk sambil mengusap seprainya.
"Maafkan nenek."
Maaf.
*
Didalam ruang rawat yang terlihat Ian terbaring lemah dan terpejam dengan alat medis juga infus darah dan infus cairan.
Alex duduk di sebelah kiri nya yang masih sama dan belum berpindah.
"Kau tak bosan, bangun lah hampir tiga jam ini kau memejamkan mata."
"Maafkan nenek, maafkan aku... jika aku ada disana bukan kamu yang terbaring disini."
Perlahan air mata jatuh. Alex tak bisa menahannya lebih lama ia juga merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Ian.
Kenapa Ian yang celaka kapan Ian datang dan bagaimana bisa.
Nayla?
Alex ingat ia punya Nayla.
Alex yang bingung dengan keadaan bingung juga dengan Nayla.
Tiba-tiba suara dari depan pintu membuat Alex teralihkan dan merasa harus melangkah ke luar ruangan.
"Siapa yang bilang?" Kata Marcella menatap Beno dan Zulfikar dengan kesal. Marcella ingin mengunjungi keponakannya kenapa malah di hadang siapa sih mereka ini, menatap Beno dan Zulfikar sinis dan bergantian.
__ADS_1
Pintu terbuka ternyata Alex dan Marcella langsung mendekatinya.
"Alex!" Pekiknya girang ketika akan mendekat Marcella berhenti dengan isyarat badan Alex yang berbalik menyamping menolak sapaan girangnya.
"Beno Zul kalian bergantian jaga Ian aku harus pergi sebentar."
Zul dan Beno mengangguk mengerti.
"Dan Fatir Atau Gazi jika bisa minta mereka juga batu temankan kalian."
"Kami mengertu," jawab Zul tegas dan langsung masuk kedalam bersamaan meninggalkan Marcella dan Alex berduaan di depan ruangan.
"Kau menyuruh orang asing masuk tapi, kau tak mengizinkan Tante? Hay... Sayang Tante ini adik dari keluarga nenekmu, ya walaupun sepupu ayahmu bisa di bilang seperti itu tapi, lupakan silsilah merepotkan itu, tapikan Alex Tante ini ingin melihat dan menjenguk keponakan, apa salah?"
Alex menatap tajam.
"Tidak salah tapi, hanya perlu sedikit saja yang menjaga, harap mengerti saja... Tante juga terlihat tak baik untuk kami berdua bukan karena Tante mantan penjahat dan keberuntungan dari keluarga kaya maka tante tak terlihat sengsara setelah masa hukumannya..."
"Iya.. tante mengerti tante memang bukan orang baik tapi, Kalian berdua kesayangan tante." Alex menghela nafasnya.
"Tante datang tiba-tiba tanpa permintaan Nenek dan tinggal bersama Nenek, apa maksudnya?"
Marcella merasa tersudut dan merasa keponakannya itu terlalu mencurigainya.
"Apa... apa-apaan ini, Tante itu bukan orang yang seperti kamu bayangin. Aku datang ya datang aku rindu nenek ya rindu... aku ingin melihat dan mengobrol dengan kalian ya karena ingin."
Alex menatap dan berdiri dengan tegak.
"Nenek tidak bisa melihat Ian begitu juga Tante... aku hanya percaya diriku dan empat orang yang aku sering bekerja bersama mereka dan Ian ataupun dokter rumah sakit juga kenal dengan mereka berempat... sebaiknya tante pulang dan temankan Nenek, Aku tak bisa menjenguk nenek yang perasaannya hancur juga." Datar tanpa ekspresi. Alex berbalik pergi meninggalkan Marcella berdiri menatap kepergiannya.
Marcella diam-diam tersenyum miring dan mengepalkan tangan kirinya didalam kantung jasnya.
Di rumahnya.
Nayla masih syok walaupun sudah beberapa jam berlalu dari kejadian pagi ini. Zoya yang merasa tak pernah mau mendekati nayla sekarang harus mendekat ke Nayla.
"Kak." Panggilanya pelan sambil menutup pintu.
Nayla yang berbaring membelakangi pintu masuk dan Zoya yang datang lalu duduk di kursi sampingnya tetap diam dan tak bergerak.
"Kalo gak suka sama gue jawab aja sih kak ribet banget, keluh ini bibir kalo gak ngatain lo nyusahin ayah tahu gak."
Nayla tetap diam. Zoya agak kesal.
"Lo pasti syok berat dan lo pasti juga marah sama diri lo karena gak seberguna itu Lo sama keluarga suami lo."
"Ya... paham sih, dari awal pernikahan kalian itu karena Alex mau balas dendam sama lo karena ayah sama Abdula itu buat masalah dimasa lalunya Alex bahkan dia sengaja nikahin lo juga buat nyakitin lo, Dan tahu kak, lo itu beruntung kalo menurut gue, karena bencinya Alex berubah jadi cinta."
Nayla sebenarnya tak tidur atauemejamkan mata ia hanya diam berbaring pirinhembelakangi Zoya.
"Lo makan gih, emang lo doang yang harus isi nasi, noh jabang bayi lo juga," ujarnya lagi.
Nayla tetap diam.
"Gue juga minta maaf dan kalo lo gak suka gaya ngomong gue, mulai sekarang demi ayah ama bentar lagi gue jadi tante gue ubah deh... Lo yang penting jangan buat ayah sakit, Yang sedih dan kehilang ayah kalo ayah kenapa-kenapa gak cuma lo doang tapi, gue sama ibu gue juga."
Zoya menghela nafasnya.
"Terserah anda aja... sesenangnya aja lah Nayla." Geram sekali Zoya dengan Nayla.
"Kalo keras kepala bisa gak sih gak usah berlebihan, Egois bisa tapi, nyawa di perut pikirin juga napa!" Kesal Zoya hampir setengah berteriak.
Zoya menyerah dan memilih berbalik pergi.
Tiba-tiba mendengar pergerakan kain di tempat tidur dan selimut.
__ADS_1
"Aku akan makan." Suara itu. Akhirnya Zoya berhasil.
"Baik.. kalo gitu terimakasih." Juteknya sambil berbalik pergi meninggalkan Nayla.
Saat akan mengambil piring bubur diatas nakas yang masih hangat dikit tiba-tiba sebuah tangan putih memegang piringnya.
"Bantuin bentar." Alasan Zoya yang tak tahu kenapa berusaha dekat.
*
Alex baru saja sampai di rumah dan ketika akan masuk ia melihat mertua dan dari tangga Zoya keluar menuntun Nayla.
Della yang baru saja membuat sesuatu dengan Valenzia.
"Alex..." suara lemah Nayla membuatnya teralihkan fokus pada wajah anggota keluarga Nayla dan dua orang asing menyebalkan menurutnya walau Zia tak termasuk tapi, Zul sering membuat Zia diomeli dirinya ya Zul ulahnya dan kambing hitamnya Zia.
*
Pagi ini Nayla datang ke rumah sakit di temani Alex dan ada nenek tiba-tiba datang bersamaan bersama Marcella.
Dokter yang baru saja keluar ruangan Ian bersama dengan Beno dan Fatir seketika melihat keberadaan Alex dan Nayla.
Beno menatap Alex dengan anggukan kecil.
Alex mendekat Nayla di temani ibunya. Beno melaporkan apa yang dokter jaga itu bilang padanya tadi.
Alex mengangguk sambil mendengarkan.
"Apa kau bisa mendonor darah."
"Aku sedang hamil... apa bisa tapi, aku punya stok darah di bank darah."
Nenek disana mendengarkan.
Suster datang dan bertanya.
"Apa ada dari pihak keluarga?"
"Kalo saya boleh gak donor?" Suster tersenyum.
"Ibu lagi hamil tak bisa." Sambil tersenyum perawat itu bicara.
Nayla menghentikan langkahnya saat perawat perempuan itu menegaskan kalo ia sedang hamil.
Saat yang sama ternyata Fatir dan Gazi yang bisa menyumbangkannya.
Nenek tetap tak Alex izinkan masuk.
Nayla duduk didekat nenek. Tiba-tiba nenek pusing dan Marcella segera memanggil perawat.
Marcella membantu membawa nenek untuk di periksa.
Tiba-tiba Marcella harus menerima telpon penting.
Tinggal Nayla dan nenek berdua di sini.
"Pergi sana!" Usir nenek marah.
"Tunggu sampai nene ada temannya lagi, nenek kasihan jika sendirian."
Seketika Nenek menangis.
Alex yang mencari keberadaan Nayla akhirnya ketemu dan berdiri di jaraknya melihat kedepan sana.
"Nenek mintaa maaf," membuang wajah dan sambil meneteskan air matanya.
__ADS_1
Alangkah kaget Nayla tapi, tetap diam.