
Pemakaman yang sangat tenang dan sedih di setiap pelayat rasakan tak sebanding dengan Ian dan Alex rasakan.
Nayla juga bisa merasakannya karena sejak awal Alex menggenggam tangannya dan berusaha kuat. Tapi, Nayla tak bisa melihat ada nya kekirang di matanya.
Alex memang tak menangis tapi, matanya basah tak bisa di bilang tidak menangis.
*
Setelah beberapa hari meninggalnya Nenek Nayla dan keluarga Alex sedikit dekat tapi, tidak dengan Marcella yang tiba-tiba datang ke acara syukuran dan tak memperlihatkan ketidak senangannya.
"Semua terjadi karenamu, jika kau tidak menikah dengan Alex, Farhan dan Nenek juga tak akan mati."
Ketika itu juga Alex bertemu dengan sepupunya anak dari Farhan.
"Puas kau melihat ayahku mati, kau banggakan mendapatkan semua warisan garendra.. serakah!"
Alex mengusap keningnya perlahan cuca hari ini cukup panas.
"Cakra yang membunuhnya, Paman melakukan itu karena ia mau dan Paman sempat minta aku menjagamu apa ini balasanku setelah melakukan perintah ayahmu."
"Cih!" putra Farhan atau anaknya ini sama sekali tak mau mengakui kebaikan dari alex bahkan yang mencegahnya dari lembah narkoba juga hutang judi dengan lintah darat bersamaan.
Alex tak mau membuang waktu dengan menjelaskannya.
"Aku mengganti seluruh identitas dengan Frank Delavo kau tak bisa membuatku di tuntut atas perlakuanku, Kau tahu Cakra banyak membantu ku bahkan ia yang membuatku hidup lebih baik sekarang."
Alex mengedikkan bahunya.
"Kenapa kau datang diacara syukuran putraku?" Frank atau putra Farhan yang sudah mengganti identitas terkekeh dengan santai dan dianggapnya sangat lucu pertanyaan itu.
"Untuk apa lagi mengacaukan pesta... kueh lapis yang istrimu makan pasti sudah datang dan akan di makan lalu akan pergi ke surga selamamya."
Alex tersenyum.
"Dasar polos.. kau sama sekali tak paham apa yang kau lakukan dan musuhmu bukan preman pasar kau melakukan apapun padaku itu tak akan sampai padaku, Alexzavero itu aku, kau hanya anak kemarin sore."
Frank terdiam tampak berpikir. Alex mengedikkan bahunya lagi dengan santaiemberikan segelas jus sirsak di tangannya yang masih dingin.
"Oh.." Zul mendekat dan mengalukan tangannya di leher Frank.
__ADS_1
"Kejutan... Kueh mu ada di tempat sampah dan ada tamu mencarimu di sana.. ikutlah.." Zul menarik Frank dengan kasar tapi, orang lain melihatnya seperti bercanda.
Menyeret Frank kasar masuk ke dalam ruangan dimana polisi dan juga detektif duduk santai bersama Alex.
"Dia adik sepupuku," ucap Alex. Frank terdiam ketika ingin lari Zul membantingnya melipat kedua tangannya kebelakang.
"Kemarikan." Meminta borgol dari detektif yang sudah kenal siapa Zulfikar.
"Jangan pernah mengatakan hal yang buruk untuk orang yang membantumu tapi, katakan semua yang kau tahu tentang Cakra, bisa?" Frank menggeram marah.
"Apa yang kalian maksud aku tak mengerti!"
Alex menggaruk pelipisnya.
"Kau bisa introgasi semaumu pastikan tetap hidup dan berikan laporan terkininya... jangan sampai aku duluan yangenemukan Cakra, Detektif."
Kedua polisi dan detektif mengangguk paham dan membawa Frank alias putranya Farhan yang malah sia-sia masuk kedalam penjara.
"Tidak, Sial... alex aku akan membalasmu!" Beno tersenyum menatap Frank yang menatap Alex tapi tiba-tiba wajah Beno yang terlihat.
"Penjaramu seumur hidup dan tuntutan lainnya menunggu dengan sabar, sebaiknya pikirkan dirimu sendiri sebelum mencari masalah."
Detektif menarik dan menundukkan kepala Frank hinggaasuk kedalam mobil dan pergi tanpa terlihat oleh tamu undangan.
"Ini sangat memuakkan Kenapa anak itu tak berubah dan makin menyusahkan." Alex meminta pelayan membawakannya jus jeruk segar.
Beno tiba-tiba menyerahkan tabletnya dan memperlihatkan di mana keberadaan Cakra dan anak buahnya begitu juga bersamaan dengan telfon masuk dari detektif.
"Belum ada Dua jam mereka pergi." Zulfikar sedikit kaget tapi, ekspresinya datar.
Suara pecahan kaca dan tembakan menga di halaman belakang. Tanpa pikir panjang Alex kebelakang di ikuti Beno dan Zulfikar.
"Cakra !" Teriak Razefian membuat Alex terdiam detak jantungnya seketika berpacu cepat dan semua tamu undangan tetangga nya juga di sekap dan didepannya Frank anak dari Farham meninggal di tempat dengan luka tembak di dahi dan dadanya.
"Bagaimana balasannya... kauembenci musuh yang salah." Alex terdiam Tiba-tiba dari arah lainnya Ayah Nayla dan Dipto juga ibu Nayla datang Di saat bersamaan ada Zoya yang sudah terluka.
Ian meradang kedua tangannya terkepal.
Ketika maju. Darma menempelkan senjata di pelipis Zoya. Alex menarik adiknya untuk tidak mendekat.
__ADS_1
"Pelaku sebenarnya yang membunuh mu adalah..." Abdullah datang dengan tangan penuh darah dan terpotong. di bagian jari telunjuknya.
"Ya ampun, aku sedang bicara dan hadiah ini mengejutkan." Dipto menggaruk pelipisnya dengan ujung pistol.
"Katakan Abdullah." Seketika Nayla menjerit.
"Berhenti!"
"Ini semua apa lagi! Kenapa kalian senang sekali membuat masalah dan apa ini kalian membuat Abdulah seperti ini." Omelan Nayla tak tahan dengan keadaan sekarang tak tahu dorongan dari mana ia tak gentar sama sekali.
Alex bahkan mewanti-wanti dengan gelengan kepala.
Nayla menarik posau yang tertanjap di buah.
"Jika kalian tak letakkan senjata kalian aku akan membuat kalian merasa bersalah seumur hidup kalian! Dipto menggeleng.
"Tidak.. Nayla jangan! Jangan lakukan itu!" Dipto luluh tapi, Darma tidak dan memilih mengarahkan pistol ke Nayla.
Dor.. Suara gema dari peluru yang di lepaskan membuat semua menatap ke Nayla tapi, mata Nayla terpaku pada satu pria didepannya dan ketika melihat ada orang lain di belakang lelaki di hadapan Nayla terdiam.
"Abdulah!" Jeritan dan tembakannya itu seakan sama sekali tak Nayla dengar. Ayahnya menangis dan juga ibunya. Nayla harus bagaimana sekarang.
"Kenapa? Kenapa !" Nayla menangis dalam.pelukan alex yang tidak tahu bagaimana ia sampai dan meraih nayla kedalam pelukannya tapi, Abdulah yang tertembak kali ini.
"Kau kira menikah seorang Alexzavero itu mudah, Nay?" Dipto tak suka ucapannya di potong.
"Sadarlah kau tetap tak pantas dan kau harusnya tak datang!"
Nayla menatap marah Darma dengan air mata yang masih menggenang sempurna dan wajah panik juga khawatir yang masih terlihat jelas.
"Kenapa? Kau takut sekarang... apa kau mau menangis... kau lemah Nay."
"Kau bilang apa... kau bilang aku lemah.. kemari dan letakkan senjatamu!" Darma menertawakan ucapan Nayla dan benar saja Darma menghampirinya dan Alex menahan Nayla di belakangnya tapi, Nayla malah menyingkir kesamping dan menghadap Darma dengan jelas.
"Kau akan jadi ibu setidaknya kau berpikirlah dengan baik bagaimana seorang yang memilik nilai tinggi yang katanya baik!" Darma mengepalkan tangannya.
Seketika melayangkan tamparan tapo, di tahan Nayla dan tangannya meremas kuat pergelangan tangan Darma.
Alex memanfaatkan situasi dengan menghajar semua anak buah Cakra di bantu semua anak buah Beno Zul yang tidak tahu datang sejak kapan.
__ADS_1
Cakra geram karena ia tertangkap, sial niatnya hanya untuk menghabisi semua keluarga garendra tapi, kenapa Alex cepat sekali menggerakkan tangan dan kakinya.
"Berhenti sandiwara Darma." Tamparan keras Nayla terus di layangkan sampai lima kali berulang dan bergantian dan itu mampu membuat Nayla terlihat kuat dan Darma begitu lemah.