
Marcella tersenyum dengan tenang dan membenarkan kaca matanya.
"Semua siap dan Tante bisa menunggu dengan tenang. Aku akan mengurus keponakanku yang tampan itu."
Darma agak ngilu dengan senyuman sadis yang Marcella keluarkan.
Saat yang sama Vansiska menatap keluar jendela dan berdecih.
"Kenapa tak buat semuanya seolah ia keguguran, Anda sama saja cuvi tangan, nenek?" Vansiska menatap Marcella dan Darma yang ternyata saling menoleh ke samping.
Nenek mengehela nafasnya.
"Aku sudah mencobanya tapi, Alex selalu ada di sampingnya."
Vansiskan menghela nafasnya.
"Berbuat baiklah?"
Marcella mendecih keras dan berdehem sambil menjalankan mobinya.
"Kau tak bisa ikut dengan kami jika kau masih terus merasa lagu melakukan apa yang harusnya terjadi dan Nenek rencana kan." Marcella mengatakan dengan tegas.
Vansiska memilih diam.
Darma hanya tenang dan memilih diam.
Di dalam pesawat.
Alex menerima keputusan Nayla tapi, tak akan melepaskannya begitu saja. Alex sedikit terngiang-ngiang dengan ucapan Nayla dan juga permintaan Nayla.
Terkadang terlihat egois tapi, kadang tidak egois juga itu membuat Alex benar-benar merasa harus bisa lebih detail tentang Nayla.
Sekarang ia melakukan dan menjalankan pernikahan di balik kata ceria palsu di dunia yang melihat dan mendengarkannya.
Alex ingin semua yang ia lakukan itu berjalan mudah tapi, kondisi dan orang-orang nya tak membuatnya semudah itu.
Alex harus bisa berpikir lebih baik lagi. Jika Nayla sekarang menurut lalu bagaimana ketika anak kedua mereka lahir atau suasana berubah di masa-masa pertumbuhan anak.
Alex menyandarkan kepala belakanganya dengan nyaman di sandaran kursi dan mulai tenang.
"Nayla sekarang kamu merasa mual atau gelisah?" Tanya Della perlahan sambil memeriksa sedikit denyut nadi dan mata Nayla.
"Tidak.. aku baik."
"Baguslah Nay... kalo gitu pertahankan ya aku ada di kursi belakangmu." Nayla mengangguk dengan ucapan Della.
Della kembali duduk di tempatnya.
Nayla merasa mengantuk dan ingin tidur.
*
__ADS_1
Pesawat mendarat dengan sempurna dan terparkir dengan baik. Nayla turun dengan terus di tuntun Alex dan di berikan mantel hitam.
"Ini.. dingin ya." Katanya menatap dengan mata berbinar.
"Disini ada banyak jajanan kan aku mau yang di sana di situ sama kita harus jalan2 ketempat lain." Alex terdiam.
"Nay?" Nayla menoleh dan memperlihatkan wajah polos dan manisnya.
Nayla tersenyum seketik menarik wajah Alex mendekat dan mengecup pipinya kanan kiri. Terkejut, terdiam kaget dengan ciuman pipi dari Nayla.
Alex merasakan sesuatu aneh.
"Eh... maaf." Nayla langsung mengalihkan wajahnya dan berjalan pelan menjauh.
"Itu ibu hamil, keistimewaannya banyak jadi kalo ketemu bagian yang menyenangkan itu bagus kalo bertemu mood anjloknya, rasakan." Della menjelaskan sambil berdiri bersedekap disamping Alex.
Alex menoleh.
"Aku harus mendapatkan moodnya yang baik terus." Della melongo.
"Dasar bucin Tolol, Bulol." Zia membawakan tas Della dan Della membawa tangan Zia untuk di gandeng.
"Itu Bos mu!" Zia mengangguk sambil senyum santai.
Della memang seperti itu, suka sekali membuat Alex terlihat buruk dan aneh didepan bawahannya.
Alex juga tahu dirinya di jelekkan oleh Della. Biarlah sekarang Della melakukannya nanti Alex akan membalasnya lewat suaminya.
"Aku mau itu yang rasa stawberry." Alex mengangguk dan memesankan lalu Nayla berjalan duduk menunggu.
Alex datang dan melihat Nayla berdiri bersandar dengan perutnya lalu melihat dua anak muda duduk di kursinya.
"Kenapa?" Nayla menghampirinya sebelum Alex marah.
"Ini punyaku?" Alex mengangguk dan menyerahkannya.
Lalu rasa lainnya.
Nayla makin senang.
"Mereka mabuk perjalanan dan aku gak tega biarkan saja dia orang duduk di bangku ku," ujarnya santai sambil memakan camilannya.
Alex mengerti dan mengajak Nayla untuk duduk dan mencari tempat lain yang nyaman.
Sedang asik makan dan juga bercerita tanpa sadar Alex merasa jika yang ada di hadapannya bukan Nayla tapi, ibu hamil dengan banyak Mood berubah di satu waktu dan itu hampir membuat Alex bingung dengan banyaknya ekspresi dan perasaan yang terlihat di wajah dan sikap Nayla sekarang.
"Aku ingin, cerai?" Alex terdiam.
"Kita pergi ke hotel sekarang." Datar dan kini Alex kesal sekali dengan permintaan Nayla yang tak bisa Alex kabulkan.
"Apapun jangan membahas hal itu," ucap Alex datar dan tegas.
__ADS_1
"Kau melakukan apa pun sesukamu giliran aku minta itu saja kau tak bisa lakukan. Kau bisa memaksaku menikah." Nayla menjeda dan memilih minum lalu makan hingga kembali minum.
Tiba-tiba air matanya keluar dan mengalir sambil mulutnya mengunyah.
"Paksaan setiap saat paksaan lalu kau juga akan mengatakan akan berpisah dengan ku saat kau dapatkan warisan itu." Masih dengan mengunyah dan menangis.
Alex diam memilih memperhatiakan.
"Kini aku tahu aku selalu salah di manapun aku berada. Kau bilang akan memberikan kompensasi setelahnya kita menandatangani surat cerai tapi, aku tak mau kompensasi itu aku hanya mau anak, kau mengabulkannya dan saat aku minta cerai kau malah menahanku, sebenarnya kau mau denganku atau anak ini atau tubuhku."
Alex menghela nafasnya duduk dengan tegak tak santai seperti tadi.
"Aku sesak rasanya kalo tahu kau hanya mau.. mau anakku saja, lalu kau membuangku, Aku tahu aku gadis kampung tak seperti keluarga kalian walaupun tinggal di desa kalian tetap terlihat kaya.
Nayla meminum minumannya sambil mengusap air matanya.
"Alex tolong aku..."Alex berdiri dan mengambil tangan Nayla, menggenggamnya dan mengajaknya berdiri dengan perlahan.
Nayla mengikuti Alex.
Saat yang sama seorang wanita cantik berjalan tanpa melihat lihat dan ingin membuat Nayla terluka dengan kuah sup yang panas.
Alex sadar dan langsung menarik Nayla mejauh membiarkan pelayan itu pergi. Tapi, tak semudah itu.
Pelayan lainnya sengaja membawa minuman dingin dan menumpahkannya di pakaian Nayla.
"Haiis.. Maaf, Maaf!" pelayan itu ketakutan. Nayla tersenyum dan menggeleng.
"Tidak masalah aku tidak apa-apa." Kata Nayla sambil tersenyum. Nayla berdiri tegak dan menatap wjaah pelayan itu yang kian memucat.
Ketika tangannya terulur ingin menyentuh bahunya. Pelayan cafe itu mundur selangkah dah menggereakkan bibirnya.
'Maaf.'
Nayla menatap tajam dan dahinya mengkerut, apa maksudnya?
Pelayan itu tiba-tiba kejang dan keluar busa dari mulutnya.
Sama-sama kaget dan bingung bahkan beberapa orang yang ada disana terdiam bingung.
"Tiba-tiba aja dia kejang." bisik salah satu pelanggan cafe.
"Panggil ambulan cepat." Teriak orang lain dengan cepat pelayan itu di tangani. Alex menatap wajah pelayan itu dengan seksama dan melihat kejadian ini sedikit waspada.
Alex merasa ini tak beres lebih baik jangan langsung kembali. Nayla harus di ajaknya ke hotel.
"Kita pulang sekarang bajumu basah, nanti kita pesan online saja jika mau sesuatu lagi." Nayla tak mau membantah lagi karena ia sudah bingung harus apa sekarang kejadiannya membuatnya syok berat.
Dari kejauhan seorang lelaki tua menyeringai lebar.
"Kehilangan untuk selamanya."
__ADS_1
"Dipto aku membalaskan semuanya sebentar lagi Nayla akan menjadi milikmu, nak."