Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris

Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris
Terbongkar


__ADS_3

Alex terus membujuk Nayla dan menjelaskan jika semuanya sudah berlalu dan kini mereka akan menjalani hari-hari yang normal.


"Kenapa tidak di bunuh saja kenapa didak di cincang saja." Marah Nayla pada Alex.


Alex salah menurut Nayla, kerena memenjarakan Cakra dari pada membunuhnya langsung.


Padahal kabar terbaru Cakra hampir gila di selnya dan terus melukai dirinya karena teror yang alex berikan.


"Sayang... aku tahu aku salah, tapi kau sedang hamil kondisimu itu lo sayang... gak memungkinkan ngelakuin hal yang buruk."


Nayla berbalik.


"Sekarang baru percaya mitos, kemana aja..."


"Jangan marah sayangku, Kasihan anakku disana." Pelan dan terus melembut.


"Panggil dia anak mu lagi aku gak mau tidur sekamar lagi sama kamu!"


Alex menatap geram tapi, juga gemas.


"Hey.. hey... apa itu, istri tak boleh bersikap begitu sayang." Nayla hampir luluh tapi, tetap memalingkan wajahnya.


"Terserah... titik! Aku tidak mau dengan mu, kemana kekejamanmu, kemana yang bengisnya... dia membunuh ibu ayah Zoya dan aku juga Abdulah lalu pamanmu dan sepupumu, tangannya itu ringan membunuh orang tapi, hukumannya tak sebanding."


Nayla menatap alex marah lalu berbalik pergi seketika tersangkut karpet. Dengan cepat alex menariknya dan memeluknya. Nayla berakhir jatuh diatas perut alex dengan terduduk menyamping.


"Aduh.. sakit!"


"Ini semua gara-gara kamu, siapa yang suruh taro karpet disitu sih!"


"Sayang, udah ya marahnya udah malem ini."


Seketika Nayla bangkit sambil berusaha membawa perutnya.


"Terserah aku.. sana pergi," usirnya. Alex tak mau keluar dan malah menutup pintu sambil berlari menahan sakit di perut dan badannya.


"Tidak akan." Melempar kunci ke sembarang tempat. Aslinya hanya memasukkannya kebawah sofa. Tapi, tanpa kuncipun pintu bisa terbuka dengan sidik jarinya karena ini kamarnya dan ruangan pribadinya.


"Kau!" geram Nayla. Seketika menghampir pintu dan ingin merusaknya Alex bergegas menahannya menghadang.


"Eeitss tak boleh sayang, berhenti dong udah malem ini, Gimana kalo bobo aja.. kamu marah-marah masalah cakra. Dah lah polisi dan kasih dia hukuman dan hakim juga jaksa kepercayaam keluarga kasih dia hukuman juga, Inget sayang ada Karma kalo kita sembarangan Karma juga bisa balas kita lebih buruk."


Nayla terdiam mundur selangkah.

__ADS_1


"Oh iya.. Cakra bakalan kehilangan apa dia dah bunuh banyak orang dan kamu juga sering nuduh aku, Karma apa yang bakalan kamu dapet, Hah?" Alex terdiam.


Belakangan ini Nayla pintar sekali menjawab ucapannya.


Alex menggaruk tengkuknya. Seketika menyambar mengakat Nayla menggendongnya tiba-tiba dan meletakkannya di kasur perlahan walau nayla menolak gendongannya.


"Aaa alex!" seketika alex menaik turunkan alisnya.


"Apa sayangku..." Nayla mendorong jauh dadanya.


Seketik itu bukannya menjauh tapi tangan Nayla malah tertekuk dan sekali kecupan bibir bisa Alex dapatkan malam ini.


"Ayo tidur sekarang!" Alex menarik selimut dan menyelimuti tubuh Nayla tak lupa mengambil kecupan di kening Nayla.


Nayla terdiam dan mengusapnya lalu tidur membelakangi Alex dengan guling yang biasa alex gunakan.


"Oh ingin peluk?" Seketik Nayla mengacungkan tinjunya.


"Aku pukul burung kamu!" Alex terkekeh sangat lucu jika Nayla terus marah hingga membuatnya ingin sekali menerkamnya tapi, Alex tahu kondisi ini tak memungkinkan karena Nayla pasti masih Syok.


Alangkah baiknya Alex terus seperti ini jika Nayla yang meminta baru Alex akan melakukannya.


Waktu terus berjalan hingga tengah malam Nayla sudah tidur dengan menghadap Alex dan Alex masih terus membuka matanya dan sama sekali tak bisa tidur bahkan ketika matanya terpejam ia melihat bayangan Frank dan nenek lalu Farhan hingga mertua dan Abdullah.


Alex bangkit dan sebelum itu menaikkan selimut Nayla sampai leher dan menambahkan bantal di belakang Nayla lalu pergi keluar kamar untuk merokok di ruang kerjanya.


"Fatir Gazi tidurlah di kamar tamu nanti kalian bergantian dengan Beno dan Kau Zul jangan memaksakan untuk menerima barang sekarang. liburkan tiga bulan nanti kita lanjut setelah putraku lahir."


Fatir dan gazi bergegas pergi ke kamar tamu sebelah ruang kerja. Saat hanya Alex dan Beno juga Zul.


Ketiganya duduk berdekatan dan Zul membuka jendela.


"Korek." Minta Alex pada Beno yang langsung di sodorkan tanpa alasan dan bertanya apapun.


Alex menghembuskan asapnya dan beraandar. Kaos putih dan celana pendek rumahan selutut dengan wajah lelahnya dan kepalanya terasa begitu pusing.


"Bos..."


"Nayla minta Cakra langsung di bunuh tapi, aku tak bisa membiarkan mitos itu terjadi, Nayla sedang hamil besar waktu kelahirannya semakin dekat dan semakin lama pertumbuhan janin begitu cepat dan tubuh Nayla perlahan lemah aku tak bisa membuatnya terlalu banyak berpikir."


Beno mengangguk.


"Tapi, bos." Zul menyela saat baru selesai Alex bicara.

__ADS_1


"Dipto menenggelamkan dirinya ke dalam laut bersamaan mobilnya dan Melda menyangka itu ulahmu karena itu adalah orang kita yang membuat mesin mobil Dipto bermasalah." Alex terkekeh.


"Kau minta Manuel. Awasi Tante Marcella. Manuel yang selama ini selalu mengawasi tante Marcella sekarang lakukan lagi." Zul mengangguk mengerti.


Memang dulu Marcella pernah melakukan hal yang sama tapi, kali ini Alex menebaknya adalah tantenya lagi.


Malam berlalu hingga pagi dan saat sebelum subuh setelah menutup pintu Alex masuk kamar tanpa suara dan bergabung tidur.


*


Pagi yang cerah dan terlihat dari senyuman Alex karena Nayla membuatkannya sarapan kesukaan nya yaitu roti isi sayuran dengan mayones buatan Nayla sendiri bukan kemasan.


"Terimakasih Sa..."


"Janji dulu bawa aku pergi ke penjara aku ingin melihat keadaan Cakra."


Wajah Alex langsung murung.


Nayla menatapnya penuh harapan.


"Tidak!"


Nayla langsung bangkit tapi, tangannya di tahan oleh Alex.


"Jangan pergi kesana kumohon kesehatanmu lebih penting." Alex menatapnya serius tapi, tatapan itu takenyeramkan melainkan membuat Nayla salah tingkah.


"Dengamu, Yaa.. boleh lah!" Alex mendengus sebal.


"Baiklah sekali ini pagi ini saja." Nayla mengangguk mengerti.


Saat sarapan selesai Zoya pamit pergi dan tak lupa membawa bekal.


"Kak.. aku mau kerja paruh waktu aku malu minta uang jajan setiap hari, aku mau cari penghasilan sendiri." Seketika itu Nay mendekati Zoya.


"Kau bisa bekerja di manapun asal hati-hati jangan mudah percaya lelaki walaupun ia memaksamu menikah. Semua lelaki tak seperti Tuan Garendra yang langsung menikahimu saat mengatakan menikah." Sindir Nayla sangat pas dan Alex tetap santai dengan kopi dan ponselnya.


"Heh iya kak," ucapnya malu.


Zoya benar-benar berubah menurut Nayla. Sikapnya lebih dewasa dan pakaiannya mulai santai dan sederhana juga tertutup juga riasan yang sangat tipis hampir tak berias wajah sama sekali.


"Kau bekerja di kantor cabang kebetulan disana sedang membuka lowongan, jika ingin langsung masuk kau bisa gunakan nama..."


"Aku akan mencarinya sendiri." Tolak halus Zoya.

__ADS_1


Alex mengangguk mengerti.


Dari kehilangan Zoya belajar lebih mandiri dan nayla belajar kuat juga tak terlalu kuat karena ada Suami, Alex di sampingnya.


__ADS_2