
Alex baru saja selesai mandi dan akan mengenakan semua setelan baju kerja yang sudah di siapkan pelayan.
Beno yang berdiri jauh dari ranjang Alex sedikit melihat bayangan seorang terbaring di balik selimut dan menyisakan kepalanya saja.
Kasihan juga, batinya melirik Nayla yang masih tidur dan masih nyenyak dalam mimpinya.
Tiba-tiba nenek masuk bersamaan Alex yang keluar dari ruang ganti.
Nenek melirik Beno dan Alex.
"Aku akan memijatnya dan kalian keluar lah."
"Tidak perlu Nek, Aku tahu nenek tak pernah suka dengan Nayla jadi cukup menyiksanya."
Nenek tak terima jika di nilai menyiksa orang lain.
"Apanya, Aku hanya ingin membuat rileks dan terawat, Kau selalu menilaiku buruk, itu semua Nayla yang mempengaruhimu."
Alex malas berdebat.
"Tidak, ada yang boleh masuk ruangan ini dan hanya aku yang ada disini, jika ingin masuk harus ada izinku, ini kamarku."
"Dan ini rumahku!" Alex menatap Neneknya dalam-dalam.
"Nek, cukup berdebat, biarkan aku punya privasi, ini masalahku aku akan mengurusnya dengan baik."
"Apa yang mau kau urus, Alex kau terlalu terlihat mencintainya, lihat Darma di tarik kembali oleh ayahnya untuk pulang itu semua karena Nayla menjadi istrimu dan kau yang tidak bisa ambil keputusan."
Alex menghela nafasnya.
"Kalian semua keluar!" Perintah Alex dengan tegas di angguki Bebo dan para pelayan lainnya.
Mereka keluar dan menutup pintu.
"Lihat dia tidak bangun selama tiga hari, dia juga tak bisa begina sedikitpun, sebagai istri, kau? Kau hanya menjadikannya istri sementara kenapa begitu menjaganya, Harusnya kau lepaskan dia saat tujuan sudah tercapai."
Alex menatap Nayla lalu menunduk dan menatap Neneknya sendu.
"Nenek tolong lah maklumi dan mengerti keadaannya bagaimana, aku memang membencinya dan keluarganya tapi, semua itu kan ada batasannya."
Beruntung Nayla tidur dan tak mendengar apa yang Alex katakan juga debatkan dengan nenek.
"Apanya, Alex apanya!"
"Nenek bilang nenek tak suka gadis itu, dia itu tak baik keluarganya juga dan tata krama kesopanan semuanya sampai, sampai cukup tau, aku hampir malu di pesta karena dia."
Alex lelah jika berdebat.
Neneknya mengungkit masalah pesta resepsi dan juga acara arisan keluarga dan acara amal kolega.
"Dia tidak mempermalukan siapapun, dia biasa saja, dia bahkan tak membuat masalah atau kegaduhan, nek!" Tekannya di nada terakhir.
"Bela saja dia, lagi pula takut sekali nenek akan menyakitinya, niat nenek baik Nenek ingin mengurutnya Nenek hanya kasihan nenek juga tak mau membunuhnya," jelasnya lagi.
Banyak sekali ucapan yang keluar semua berbeda. Jika benar niat nenek hanya mengurut Nayla tidak sampai mendebat atau membuat masalah bahkan mau menghormati privasinya yang sudah Alex jelaskan dan katakan terang-terangan.
__ADS_1
"Nek..."
"Terserah... nenek tak mau lagi mengurusnya nenek akan diam dan lebih baik kau cepat bebaskan perempuan itu dari kontrak."
Alex terdiam di tempat bibirnya bungkam dan Nenek pergi keluar kamarnya.
Alex seketika merasa gerah melonggarkan kembali dasinya dan melepasnya lalu membuka dua kancing di atas Melangkah ke pintu dan melihat Beno berdiri tak jauh dari sana.
"Aku akan mengurusnya dari rumah dan kau bereskan semua wakilkan aku dalam rapat apapun, Stempel tanda tanganku gunakan saja lagi, aku tak bisa membahayakan satunya karena... Ya kau atur saja apapun seperti waktu aku mengurus Razefian di rumah sakit."
"Baik tuan." Beno segera pergi dan melakukan apa yang Alex perintahkan.
Seketika itu secara bersamaan ponsel Fatir Gazi dan Zulfikar bergetar dan berbunyi.
Pesan singkat, yang mengatakan jika mereka harus mengurus kantor dengan baik selama waktu yang tak bisa di tentukan.
Zulfikar melirik Beno yang tahu-tahu sudah terlihat di depan ruangan Fatir dan Gazi.
"Kau gila... ini semua secara bersamaan. Apa aku harus mengurus di nia bawah sekaligus, Dua anak baru ini tak bisa maen ikut saja, bahaya Tol*l!" Kesal Zulfikar pada Beno yang tiba-tiba membuat pengumuman.
"Bos yang minta... kau tahu seharusnya aku sudah berangkat sekak tadi dan aku sudah di kantor sebelum Kau datang." Menunjuk Zulfikar.
"Lalu?" Tanyanya seolah penasaran. Fatir dan Gazi ikut mendengarkan.
"Nyonya besar ingin menyentuh nyonya muda dan Tuan tak mau itu sampai terjadi. Tuan Tahu Nyonya besar yang membantu Darma kemarin tapi, Tuan diam saja seolah tak tahu."
Fatir dan Gazi hanya menganggu-anggukkan kepalanya paham. Beno menatap keduanya.
"Kalian berdua siapkan ruang rapat dan nanti periksa email dari ku buat materi dan juga tugas yang harus selesai sebelum jam makan siang."
Keduanya mengangguk mengerti segera pergi ke ruang rapat meninggalkan Zulfikar yang uring-uringan dengan Beno.
Beno terkekeh.
Seketika Zulfikar menatapnya sinis.
"B*go!" Lalu pergi meninggalkan Beno sendiri.
"Heh.. Jangan begitu aku tahu masalahmu banyak tapi, kau punya asisten perempuan di dunia bawah nanti dia akan datang sebentar lagi."
Zulfikar yang belum keluar dari ruangan seketika menoleh sambil memegang pintu kaca yang terbuka.
"Oh iyee Gue terkejut, huha... Bullsh*t Lo! F*ck!
Tiba-tiba seorang wanita keluar dari dalam lift dan menghampiri ruangan empat asisten Alex dan saat akan masuk ke dalam ruangan ia melihat Zulfikar yang mengumpat.
Dan saat yang sama Beno tersenyum tipis melihat kearahnya.
Ia mengangguk sopan menyapa Beno.
"Selamat pagi pak."
"Yaa.. astagfirullahhallazim!" Wanita itu menatap heran dan seperti menatap dengan sorot mata bicara.
'Apa dia sedang membuat lelucon, dasar tak waras!'
__ADS_1
"Yaa mata.. mata mu di jaga!"
"Ck.. berisik Zul... Ok. Valenzia dia Zulfikar dia atasanmu dan kau juga menggunakan hijap?"
Zulfikar terdiam, iya juga yaa.. Zulfikar baru sadar itu.
"Ben kau bencanda?"
"Tidak?!"
"Lalu dia pake hijap, bung."
"Ehmm.. Valenzia..."
Beno menatapnya.
Zulfikar mulai kesal lagi, sebenarnya otak sepupunya ini kemana sih.
"Ehm.. Zia saja pak, lebih gampang."
"Ah ya. Baiklah Zia, masuk dan kita bicara didalam, Atasmu sepertinya sedang datang bulan jangan hiraukan ekspresi wajahnya."
Zia tersenyum dan melangkah masuk melewati Zulfikar begitu saja.
Zulfikar mau tak mau ikut duduk mendengarkan jika perlu ya bicara.
"Zia.. Kau menggunakan hijap tapi, ini tugas yang... Maaf zia agak kasar dan apa kau siap melakukan semuanya, Kau tak di pernakan melakukannya kau cukup membantu, Atasnmu masalah lapangan kau tinggal laporan padanya dan dia akan mengurusnya kau cukup mengurus kantornya dan bagian dalam ruangan sedangkan dia luar ruangan, Kau akan tahu tugasmu saat kau ikut dia, Kau juga aga di berikan tunjangan kesehatan rumah dari kantor yang akan menjadi hak milikmu dan gaji yang cukup besar, Bos atau atasanku dan atasanmu juga dia sangat konsisten dan menilai kinerja dengan baik... jadi bagiaman kau mau mengiktinya atau kau mau di beri masa percobaan?"
"Saya akan bekerja sebaik mungkin pak, Jika boleh saya ambil masa percobaan sebulan saja jangan terlalu lama, saya takut cepat berubah pikiran."
"Aku suka dia, Dah ambil masa percobaan sebulan dan sekarang kau ikut aku bekerja, masalah hijap tak masalah dia hanya didalam lagian tak ada yang membuatnya tak baik jika memakai apa yang dia suka."
Beno tampak berpikir dengan apa yang Zulfikar katakan barusan.
"Baiklah Zia.. kau boleh melakukannya dan caramu menyampaikan bicara cukup bagus, apa adanya..."
Ketiganya bangkit.
Zulfikar mengulurkan tangan seketika di tangkis Beno.
"Terimakasih pak," ucapnya. Zia senang ada yang mengerti jika ia membatasi diri. Beruntung Beno ada jika tidak Zia bingung harus berjabatan tangan atau menolaknya.
"Oh.. Maaf zia." Kata Zulfikar sedikit ramah.
Beno menatapnya geli.
"Baiklah kita berangkat sekarang."
Melihat Zulfikar pergi dengan hati lega dan memiliki asisten sendiri sekarang tugas Beno menjadi wakil Alex lagi karena Nyonya mudanya yang harus Tuannya jaga.
*
Nenek melihat Alex masih dirumah dan tidak kekantor.
"Kenapa kau dirumah?"
__ADS_1
"Aku bekerja dari rumah."
Nenek mendesah kesal Niatnya ingin masuk kedalam kamar dan memeriksa keadaan Nayla yang sudah membaik atau bertambah buruk.