Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris

Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris
Kecelakaan


__ADS_3

Sesaat sebelum pergi Nayla harus menyiapkan diri dan hati juga beberapa kalimat dan jawaban untuk bisa sedikit bertahan.


Di kantor sekarang Nayla yang sudah datang dan masuk bersama Alex kerunagannya. Melihat nenek Darma dan satu wanita cantik.


"Apa-apaan ini?" Nenek menatap sinis.


Darma menatap tak suka mengerlingkan matanya dan Vansiska bingung dengan apa yang terjadi didepannya sekarang.


"Siapa dia?" Bisiknya keras dan sama seperti ikut bicara dengan pertanyaan Nenek yang belum terjawab.


"Nayla masih memiliki kontrak kerja sebagai asisten peribadi wanitaku. Dan Beno juga semakin lama semakin kesulitan dan butuh asisten."


"Kau sudah terlihat.... Apa kau sehat, kau pasti sudah punya lelaki lain selain cucuku kan?" Nayla yang awalnya senang malah terjatuh begitu dakit dnegan kenyataan kalo nenek selalu mencari kesalahan dan keburukannya.


"Tidak saya masih sendiri nek dan saya butuh uang untuk melanjutkan hidup jika anak saya lahir saya harus memiliki pekerjaan yang baik, karena Alex pasti tak akan menikah denganku lagi dan kembali..." Nayla menatap malu wajah ketiga wanita beda usia di hadapannya.


"Sok drama.. padahal ngincer Alex lagi buat balikan kan?"


Alex melangkah ke sofa dan Nayla pergi kemeja Alex mengambil dokumen yang sudah Alex sendiri kan dan sebelumnya Alex sudah bilang untuk membereskan sedikit masalah dalam laporan yang dokumennya diatas meja.


Nayla keluar dari ruangan itu dan masuk tmruangannya yang cuman di batas kaca.


Nayla bisa lihat ekspresi mereka dan mencuri pendengaran tentang obrolan mereka.


"Kau mengajaknya berbaikan? Kau mencarinya selama ini dan kau tidak lagi tinggal dengan nenek dan Ian."


"Nek.. aku sudah dewasa aku akan mengurus diriku sendiri."


"Nenek sama sekali tak suka dengan maksudmu yang aneh ingin berpisah mandiri tiba-tiba."


"Tapi, itu harus nek Alex sudah dewasa dan jika Alex terus disana Alex akan ketergantungan dengan keputusqn nenek."


Nenek mengeratkan pegangan pada tongkatnya wajahnya marah dan gelisah.


"Apa kau bilang... kalo, nenek emngekangmu dan terlalu mengaturmu, jika itu benar kenapa tak dari awal kau pergi dari hadapan nenek dan hidup dengan keputusanmu sendiri..."


"Nenek kita tak mau memperpanjang ini bukan dan nenek tak kasihan dengan dua cucu perempuan yang baru nenek jadikan cucu itu."


Nenek menghela nafasnya.


"Iya.. iya. Nenek kemari, karena Vansiska ingin sekali kencan denganmu."


Alex menatap lain arah dan menatap nenek memohon jangan terus memojokkannya.


"Aku tak bisa dan aku sibuk lagi pula baru kemarin aku cerai... mana mungkin aku langsung menemukan sosok yang lain selain istriku sevelumnya?"

__ADS_1


"Kau mencintai Nayla?" Seketika itu Nayla tersentak akget di mejanya wajahnya pucat dan juga tak sanggup menahan air matanya.


"Tidak, Aku tidak mengerti. Aku tak bisa menikah lagi, Nenek tak percaya dengan apa yang aku putuskan, lebih baik jika aku sendiri lebih dulu."


Nenek berdiri di ikuti Vansiska.


"Darma jelaskan pada Vansiska siapa Nayla dan kenapa Alex sampai tak bisa lepas dnegannya dan kau Alex, mau tak mau Vansiska harus datang kemari dan memberikan juga mencurahkan perhatiannya... Kau mau tak mau membuka hatimu."


Nenek tak tahu jika setatus Alex masih suami Nayla dan Nayla istri Alex.


Nenek pergi dari sana tanpa wajah bagaianya.


"Aku akan menghindar... aku tak akan mengulangi kesalahan yang sama. Daa sudah cukup tersakiti dan kenyataan ternyata Darma sedang mengandung anak Dipto sekarang tak bisa di pungkiri... Aku tahu dari dimana mereka sering bertemu diam-diam dan Darma sebenarnya hanya ingin statusku dan kekayaan bukan seperti yang nenek mengerti dan lihat biasa nya."


Nenek terkejut dan ini hampir membuatnya terkena serangan jantung.


"Kau mengarang cerita!"


Alex berbalik menatap mata nenek dan seketika itu Nenek bungkam.


Nenek pergi dari sana benar-benar pergi.


Alex menghela nafasnya kasar lalu menoleh keruangangan Nayla.


Nayla yang masih keterkejutannya hanya bisa pura-pura tenang dan tak sanggup memperlihatkan betapa senang dirinya.


*


Dari arah lain sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi di tambah dengan muatan banyak di kontainernya.


Zia tahu arah mobil itu kemana.


Seketika membanting stir kekanan sN beruntung tak menabrak sesuatu tapi, teruk itu berhenti dan melewati mobil yang Zia kemudikan didalamnya ada Nayla.


Kecelakaan hampir membunuh nayla dan bayinya.


Zia keluar dan Nayla tetep didalam mobil. Zia melihat sebuah mobil ringsek dan terlindas tapi, pengemudinya ada di luar mobil.


Ini benar-benar terlalu cepat.


Seketika itu lelaki tadi berdiri dan menatap Zia tajam dengan sekali anggukannya Zia paham siapa lelaki itu.


Di tempat pertemuannya Hotel Zeus dengan keluarga Alexander.


Alex keluar dan sebelumnya berpamitan dengan Arjuna.

__ADS_1


"Beno memberikan rekaman kecelakaan dan semuanya sudah selesain Nyonya ada di kantor lagi Tuan." Jelas Gazi sambil memberikan rekaman detik kecelakaan.


"Minta Zul untuk mengantar Nayla dan Zia." Gazi mengerti dan langsung menghubungi Zulfikar yang memang ada di kantor.


Beno langsung mendapat telpon dari bosnya.


"Baik Bos." Setelah lama diam mendengarkan omelan bosnya. Beno bergegas.


Di tempatnya saat ini Nayla yang baru saja tenang kini di tatap Zia lembut.


"Kita kembali pulang Nyonya?" Perlahan Zia bertanya. Nayla tersenyum paksa berdiri perlahan dengan cepat Zia membantunya.


"Iya.. ayo kita pulang." Zia mengantar Nayla dengan merangkulnya dan itu Nayla biarkan Zia merangkulnya.


Jika saat itu salah satu anak buah Beno tak mengorbankan dirinya. Nayla sudah hancur.


Beruntung juga ia tak naik taksi tadi. Jika ia benar-benar naik taksi maka yang terjadi selanjutnya mungkin kembali berbaring di rumah sakit.


"Zia terimakasih." Zia tersenyum mengangguk dan membantu Nayla naik kedalam mobil perlahan.


Zulfikar sudah siap di bangku kemudinya dan tak lama Zia juga duduk dengan sabuk pengaman di samping Zulfikar.


Mobil melaju normal sampai akhirnya bisa pulang dengan aman.


Alex menatap Arjuna dengan tatapan kesal.


"Apa kau perlu bantuanku tuan Zavero ?" Alex menatap Arjuna dengan kekehan kecil.


"Tidak.. Terimakasih Tuan Arjuna."


"Jika butuh sesuatu katakan saja..." Alex mengakat kedua alisnya dan anggukan kecilnya.


Mereka kembali bicara dan tak lama Gazi kembali datang. Arjuna tersenyum menatap Alex.


"Lebih baik kita lanjutkan lewat daring nanti malam, Tuan Zavero?"


Alex mengangguk dan berdiri lalu Arrjuna juga berdiri dan langsung menjabat tangan Alex.


Noe menganggukkan kepalanya pada Alex dan tersenyum ramah pada Gazi yang juga di sambutnya.


"Nyonya besar ada di rumah... Dan Nyonya muda tak bisa istirahat.." Gazi sedikit takut tapi, ia mengatakannya tanpa tergagap.


"Apa lagi yang nenek inginkan." Alex mendecak kesal mengendurkan dasinya sambil berjalan menjauh dari Gazi.


"Pukul berapa ini?" Tanya Alex.

__ADS_1


"Setengah sembilan malam." Alex hampir lupa waktu ia sebenarnya ingin menghentikan obrolan bisnisnya dengan Pewaris Alexander tapi, itu tak bisa karena ini menyangkut nama besar Garendra.


Alex tak sadar sudah malam dan Alex kira Nayla sudah istirahat dan ia tenang karena ada Zia dan Zulfikar dirumah tapi, malah Nenek ada disana sejak sore.


__ADS_2