Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris

Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris
Nayla penurut


__ADS_3

Ancaman yang begitu menakutkan bahkan terbayang di kepalanya jika Alex nekat membuatnya dan kehidupannya lebih buruk dari ini dan membuatnya memilih bunuh diri dengan anaknya dari pada harus hidup bersama anaknya.


Nayla tak sanggup membayangkannya.


Orang dengan golongan dan bahkan memiliki segalanya itu sangat membuat Nayla kesal juga takut secara bersamaan.


Ingin membalas tapi, ia tak punya kuasa ingin mengatainya tapi, Nayla takut masalah semakin runyam.


Nayla menatap wajah Alex yang masih diatasnya dengan air mata yang terus mengalir mungkin telinganya juga ikut basah dengan air matanya.


"Aku akan pergi, Aku akan mengikuti semua yang kau mau tapi, tolong jangan sentuh ayah ataupun Abdulah aku mohon."


"Heh? Itu tergantung bagimana sikap dan tingkahmu, jika kau berani melangkah lagi dengan keputusan aneh juga gila mu," ucapnya berhenti saat menatap ke luar jendela tepat samping ranjang Nayla.


Lalu menatap wajah Nayla dengan tersenyum dan mendekatkan bibinya di samping telinga kiri Nayla.


"Aku akan membawa kepala yang lengkap dengan apa yang harus kau lihat, aku tak akan Bermain-main dengan keputusanku ataupun ucapanku, Nayla."


Nayla kembali menangis tanpa suara tapi, Air matanya mengalir terus.


"Iya.. iya.. aku mengerti, Aku mohon, Tuan tolong lah aku, Aku mengerti dan jangan terus menyadarkanku, aku paham."


Ada rasa sesak dan takut tak terhingga. Alex masih memegang tangan. Nayla dan merasakan betapa basah dan gemetarnya tanga Nayla bahkan badanya terlihat seperti bergetar ketakutan.


Alex terdiam menatap wajah nayla yang menatap kesamping dengan terus menangis bahkan sesekali menarik masuk ingus agar tak jatuh terkena seprai kasurnya.


"Dasar pembohong, hentikan dramamu." Alex dengan tidak berperasaan mengatakan hal itu dan bangkit dari atas Nayla lalu mengambil jasnya dan memasang kunci pintunya lalu keluar dari kamar.


Alex merubah ekspresi senangnya dengan wajah murungnya. Alex pergi ke kamar mandi dan mencuci tangannya di wastafel.


"Cih... Drama! Aku tidak akan kasihan." Ucapnya terdengar pelan sambil mencuci tangan juga wajahnya.


Nayla mengusap air matanya dan menahan diri lalu mengatur nafasnya memperbaiki wajah sedihnya.


Ia benar-benar membenci situasi ia dan Alex saat bersamaan.


"Kenapa dia selalu mengatakan hal yang membuatku teringat dengan luka ku, kenapa dia selalu begitu mendominasiku dan dia terlalu menyeramkan tadi, aku bahkan hanya bisa menangis dan diam."


Nayla kesal dan benar-benar menyalahkan dirinya sendiri. Nayla menatap cermin dan merapikan rambut juga wajahnya.


Alex datang ke ruang tamu dan melihat Dipto dengan tatapan datar.


"Jika semuanya sudah selesai dan aku juga ada urusan mendadak aku harus pergi," ucapnya dengan tenang dan di selingi wajah ramahnya, sambil berpamitan menyalami ayah Nayla.

__ADS_1


Dipto sempat menatap Alex dan tersenyum licik.


Alex mengacuhkannya bahkan tak melihat Dipto menyapanya dan menatapnya licik.


"Aku akan menunggunya di mobil minta dia segera datang jika dalam sepuluh menit tak datang orangku akan menjemputnya."


"Iya.. Tuan, Tentu."


Suara langkah kaki dari dalam mendekat.


"Ayo kita kembali." Nayla mengatakannya sendiri dan menatap semua keluarga juga Alex disana yang berdiri menyamping di hadapannya.


"Ah.. yaa terimakasih, sudah berkunjung."


Alex mengangguk saja dan menuntun Nayla keluar dari rumah setelah Nayla mencium tangan ayah dan ibunya.


"Sakit!" Menarik tangannya lagi saat cengkraman tangan semakin terasa tak nyaman di pergelangan tangannya.


"Kau naiklah mobil lain." Sopirnya keluar dan membiarkan Alex menaiki mobilnya dan membawa Nayla sendiri berdua bersamanya.


"Masuk!" Menekan nadanya dengan tatapan tajam sekaligus.


Nayla naik ke dalam mobil duduk dengan tenang dan menggunakan sabuk pengamannya sendiri.


Alex naik ke dalam mobil lalu duduk.


Sialan kenapa ia mengikat rambutnya, batinya menatap jalanan dengan emosi.


Alex terus bersikap tak terjadi apapun Nayla memilih diam menatap keluar jendela dan menyanggah dagunya.


Alex dan Nayla sama-sama diam dan sibuk dengan konsentrasi juga fokus mereka masing-masing.


"Kau tahu jika kau tak bisa keluar kenapa kau terus mencoba?"


"Kau bilang aku boleh melakukan apapun yang ku mau tapi, aku tak bisa keluar dari rumah itu jika tak bersamamu lalu siapa yang aneh disini."


Alex diam.


"Tahu salah!" Tekannya emosi.


Alex seketika melajukan mobilnya dengan kencang lalu mengurangi kecepatan lalu kencang lagi sampai jalanan pada kendaraan.


"Kau bisa keluar siapa yang membantumu?"

__ADS_1


"Aku tidak tahu mungkin keberuntunganku, kenapa?"


"Kau!" Kesal Alex karena Nayla selalu menjawab dengan nada yang tak enak didengar.


"Aku tahu kau mau keluar tapi, kau harus tahu jika aku tak izinkan kau juga harus menurut."


Nayla diam dan menunduk.


Alex menatap kedepan lalu merasa sunyi menoleh kesamping ternyata Nayla tertunduk dengan wajah sedih mulut terbungkam.


Memutar stir ke arah pemakaman dimana kedua orang tuanya di makamkan.


Alex turun dari mobil yang terparkir dan menarik paksa Nayla untuk turun menarikanya dan menyeret paksa membawanya ke salah satu makan keluarga Garendra di mana nisan ibu dan ayahnya Alex juga Razefian disana.


"Lihat." Melemparnya sampai jatuh dengan kedua tangan menahan tubuh di atas tanah. Nayla melihat nisan bertuliskan nama seseorang lalu nisan sebelah dengan nama belakang Garendra.


"Bayangkan jika kau saat itu yang disana bagaimana perasaanmu saat kau tak bisa menyelamatkan mereka apa aku harus membunuh abdulah sekarang agar kau tahu dan paham rasanya."


"Aku tak mengerti, Alex... Kenapa apa yang perlu aku tahu mereka sudah jauh, masa lalu mu tak bisa kembali."


Alex menatap wajah nayla dengan kedua matanya yang merah dan basah.


"Apa kau bilang tak bisa kembali, tapi, kenangan mereka begitu teringat di ingatanku bahkan kau begitu mudah mengataiku dan menilaiku seburuk yang kau mau, baik...aku buruk tapi, Lihat apa perbuatan ayahmu dan Abdulah apa bisa di sebut manusia?"


"Mereka beda mereka tetep manusia!"


Alex terkekeh.


"Ibuku rela tertembak beberapa kali demi aku dan adikku lalu ayahku rela mati mengenaskan untuk aku dan adikku juga nenek yang hampir tertembak juga terbunuh saat itu juga."


Nayla meneteskan air mata.


Ia benar-benar tak tahu jika semuanya jadi seperti ini begitu parahnya perbuatan mereka. Entah ini karangan atau bukan tapi, Alex tak bisa ia percaya dengan sepenuhnya dan Nayla mudah mengartikan ekspresi seseorang yang tertekan atau terpojok saat ia mau.


Melihat ekspresi ayah dan Abdullah saat itu Nayla mengerti sangat jika ini sangat dalam masalahnya dan wajah marah Alex yang sebenarnya ia terpaksa tapi, ia juga tak mau jika tak balas dendam tapi, ia masih terlihat dengan hati tak tegaan.


Keduanya pulang dengan santai saat sampai di rumah Nayla melangkah masuk dengan wajah tertunduk sejak saat di makam Nayla tak bisa bicara apapun saat begitu perih cerita yang Alex tunjukkan.


"Alex.. Kau bisa membantuku sebentar." Darma memberikan map merah dan Nayla berjalan ketangga tapi, malah bertemu dengan nenek.


Nenek menatap sinis dirinya dari atas sampai bawah. Tatapannya sangat tajam dan tak terbaca. Nenek menatap Alex yang bicara dengan Darma.


Menghentikan Nayla Tiba-tiba. Saat menoleh Nayla menatapnya dengan takut salah bersikap.

__ADS_1


__ADS_2