Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris

Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris
Nenek kasihan


__ADS_3

Nayla kembali pulang dan Nenek memintanya untuk istirahat. Agak terkejut Nayla dan ia hanya bisa tertunduk diam. Mengangguk.


"Kau pergi ke kamar dan tidur, jangan kau pergi lagi, membuat cucuku kesulitan, hidup sebentar menjadi orang terpandang tapi, banyak tingkah."


Nenek pergi dan meminta Alex ikut bersamanya setelah meminta Darma untuk memberikan Alex waktu dengannya.


"Iya Nek, dan aku harus kembali lagi."


Darma pergi dan melirik Nayla dengan tatapan remeh.


Alex merasa jika neneknya bisa kasihan dengan Nayla tapi, sangat kasar caranya. Alex memperhatikan Nayla yang menaiki tangga dan sempat di beri perintah istirahat dari nenek.


Alex dan Nenek kini ada di ruangan Alex.


"Kau apakan ia, sampai rahangnya merah dan wajahnya begitu pucat hah." Tuntutnya pada sang cucu untuk bicara jujur.


"Aku memberinya pelajaran." Santai berucap seperti hal yang tak perlu di permasalahkan.


Nenek mencibit perut Alex bahkan yang sudah sangat atletis itu bisa nenek cubit dengan mudah, karena nenek tahu selahnya.


"Aw.. Nek, ini sakit!"


"Kau mengasari perempuan tapi, kau berteriak saat di cubit kecil seperti itu." Kesal Nenek menatap sang cucu nyalang. Alex menatap atap dan melipat bibir atasnya kedalam sekilas.


"Kau bisa menghukumnya di kandang kuda atau di gudang jerami atau bahkan di kandang hewan buas sekalipun tapi, kau jangan pernah memainkan tenaga bahkan fisik kasarmu dan wanita."


Alex menatap malu.


"Aku tak bisa mengontrolnya tadi," ucapnya mengalah saja.


"Aku juga... tak bisa mengontrolnya saat melihat ia dan ayahnya atau ia dengan Abdulah." Tambahnya lagi.


Nenek menatap wajah Alex yang terlihat tak suka di nasehati.


"Itu terserahmu, Al... Jika kau mau nama mu baik, lepaskan dia tanpa noda kekerasan jika kau mau namamu buruk kau bisa lakukan apapun padanya atau kau tak mau melepaskannya makannya kau terpaksa memperlakukan nya seperti yang kau mau?" Selidik Nenek dengan tatapan yang mengintimidasi cucunya.


Alex terdiam dengan panggilan Nenek yang jika sudah serius hanya memanggilnya dengan sebutan, Al.


Alex mendekat.


"Aku akan melepaskannya dan aku tidak akan membuat masalah lagi, aku hanya kesal karena Dipto bersama dengannya lagi, Aku malas jika Cakra membuat masalah lewat Nayla yang polos itu, jika masalahnya hanya di aku dan Nayla tak masalah jika kena dengan perusahaan serta karyawan, bagaimana?"


Nenek berpikir sejenak.


Lalu berbalik pergi tanpa mengucapkan kata apapun. Alex hanya bisa menatap kepergiannya.


Alex melepas jas dan juga kemejanya bertelanjang dada lalu keluar dari ruang kerjanya dan masuk kedalam kamarnya tanpa tahu jika Nayla sedang menggunakan jubah handuk.


Alex tak tertarik.

__ADS_1


Ia sudah melirik tapi, diam saja, seolah ia tak melihat apapun.


Nayla hanya terkejut saat pintu kamar mandi tertutup cukup keras.


Angin yang di hirupnya sedikit membawa bau badan Alex.


"Aduh... masuk gak bilang." Nayla segera mencari baju asalan dan menggunakannya dengan cepat.


Lalu duduk dan menyisir rambutnya sambil melihat pesan di ponselnya yang hanya operator masuk bahkan isi kontaknya hanya Alex dan juga Asistennya.


Nayla mau membuat sosial media tapi, itu sepertinya sangat-sangat bermasalah.


Nayla buat sajalah masalah nanti ya nanti saja. Pikirnya.


Nayla nekat membuatnya dan setelah selesai melangkah keluar kamarnya.


Alex selesai mandi dengan pakaian berganti pakaian rumahan berjalan keluar dan kembali masuk kedalam ruang kerjanya.


Suara notif ponsel nyaring terdengar begitu dia memasuki ruangannya.


Ada dua ponsel disana.


Alex tersenyum saat ponsel yang terlihat bergerak sendiri layarnya menampilkan akun sosial media.


"Ternyata keras kepala juga."


Alex menikmati itu untuk sekarang.


Seketika nenek melihatnya.


"Kau masih disini, kubilang kau istirahat dan jangan buat malu dengan memperlihatkan pada para pelayan. Masuk kamarmu, dan panggil bibi jika perlu sesuatu."


Darma mendengar nada perhatian Nenek dan kalimat yang di ucapkan sepertinya Nayla akan segera menjadi kesayangan juga.


Darma tak bisa biarkan. Ia harus bisa mengambil semuanya dan tak menyisakan untuk nayla.


Saat yang sama Farhan kedatangan tamu yaitu Cakra dan putranya.


"Kudengar kau gagal lagi mengambil Garendra?"


Seketika menoleh kebelakang pada dua orang lelaki beda usia berjalan ke arah nya dan membawa satu koper hitam ditangan Dipto.


"Kau! Apa mau mu kenapa kau datang lagi, kau ingin memanfaatkan aku lagi, sekarang aku tahu kau hanya mencari keuntungan dan jika tak membuatmu untung kau membuangnya atau menghancurkannya." Farhan kesal bukan main.


Tapi, Farhan tak takut dengan Cakra.


"Rupanya walau penyakitan dan lumpuh keberanianmu tetap sama ya." Ejek Cakra.


Farhan membuang wajahnya.

__ADS_1


Cakra melihat istri Farhan yang bingung juga gelisah.


"Hallo sayang, bagaimana kemarin malam dan bagaimana uang yang aku kirimkan, apa kau mau itu sekarang." Farhan terkejut dan menatap istri juga Cakra bergantian.


"Apa yang kalian maksud hah."


Cakra terkekeh.


"Kau butuh uang Han, dan kau tahu istrimu melayaniku dengan baik bahkan putramu juga bekerja di bawah kakiku dengan sangat baik, sekarang kau!"


Farhan mengepalkan kedua tangannya marah tak bisa bertindak marah juga tak bisa membuat istrinya bahagia dengan keadaannya.


"Aku...aku tidak."


"Diam!" Sentaknya membuat istrinya kaget dan memilih diam.


Farhan cukup emosi dan kini ia malas ada diantara mereka.


"Kau mau uang?" Tiba-tiba bertanya dan Dipto mengeluarkan uang dalam koper hitam dengan kancing koper berwarna perak.


"Kau mau dan istrimu juga, maka buat Keluarga Garendra berantakan dan hancurkan Alex luar dalam. Jauhkan dari wanita tua dan Wanita muda itu, cukup buat percikan seolah menantu miskin itu yang melakukannya."


Farhan berpikir seketika menatap dan saling melempar tatapan pada istrinya.


"Aku setuju." Jawab cepat istrinya membuat Farhan kembali berpikir.


"Aku setuju dan kau bisa mengurus cerai antara aku dan istriku, Aku juga tidak akan menganggapnya istri."


Seketika Cakra tertawa. Tatapannya mengatakan jika wanita didepannya ini sudah benar-benar tak berguna karena Farhan sudah memutuskannya.


"Baik.. Aku akan segera berikan semuanya dna urusan kalian pisah akan segera dapat besok."


Carka berbalik pergi sedikit melempar senyuman menggoda dan tatapan sinis pada Farhan.


Di tangga Anaknya mendengars emuanya dan ia hanya bisa mengepalkan tangannya.


"Ini semua karena Nenek dan Alex juga ia, mereka semua tak ada yang mau mengasihani ayah."


*


Nenek yang baru saja duduk tenang menikmati waktu sambil menyeruput teh dan menonton drama kesukaannya mendapatkan kabar dari asistennya yang juga kepala pengurus rumah tangga.


"Kau tidak bercanda Haila."


"Tidak Nyonya, Saya mendapatkan kabar dari rumah Tuan jika Tuan Cakra telah membuat perselingkuhan dengan istri beliau dan sekarang ia juga membuat rencana menghancurkan Nona Nayla."


"Oh.. Baguslah, tak masalah jika Nayla yang di incar jika Alex itu harus di pikirkan, bagaimana dengan Farhan."


"Sulit untuk di jelaskan karena Nnyonya muda dan Tuan hanya saling diam dan putra mereka pergi ke club."

__ADS_1


Nenek mengangguk dan meminta Haila kembali ketempatnya lagi.


Seseorang mendengarkannya dan ia tersenyum tipis lalu berubah muram seketika.


__ADS_2