
Alex menatap Nayla yang sudah sah menjadi istrinya tangannya terulur dengan santai tapi, menggantung cukup lama.
Ayahnya menatap sang putri yang malah membuat hal memalukan dengan diamnya.
"Nayla." Seketika tertoleh kepalanya dan menatap sang suami yang baru sah beberapa menit lalu.
"Tapi, aku..." menoleh lagi ke arah sang ayah, tidak terima jika harus menganggap lelaki di sebelahnya benar-benar sah menjadi suaminya.
"Tidak ada kata penolakan apapun, sekarang sayangku," ucap sang ayah merapatkan giginya gemas menatap kasihan sang putri tercinta.
Tertunduk dan perlahan memberanikan diri.
Terangkat dengan gemetar tangan kanan Nayla mengambil tangan kanan Alex perlahan menciumnya.
Seketika tangan besar Alex menyentuh kening Nayla dan tangan lainnya terangkat seperti akan berdoa.
Nayla seketika terdiam merasa sesuatu yang sangat membuatnya ingin menjerit juga bingung kadang gelisah dan sedih bersamaan.
Perasaan campur aduk ini.
Nayla Tiba-tiba menggerakkan kedua tangannya untuk mengaminkan doa Alex yang di ucapkan dalam hati seolah itu bersuara sampai Nayla bisa mendengarkannya.
Nayla tanpa sadar juga menginginkan doa itu terkabul.
Saat sadar Nayla memelas dalam hati meminta Tuhan jangan mengabulkan doa tadi.
"Kau akan selamanya bersama jika aku tak menceraikan mu dengan cepat, Kontrak akan selesai besok." Alex berdiri dengan tangan masih menarik tangan Nayla terlihat menarik perlahan.
Di dalam ruangan hanya bisa terdiam menatap ekspresi datar Alex dan ekspresi Nayla yang benci menolak bahkan terlihat tangannya terus ingin lepas dari cengkraman tangan Alex.
"Kau bisa diam kembali ke rumahmu dengan aman, Aku hanya menjaganya aku tidak seperti kau dan Abdulah," ujarnya membandingkan sekaligus mengingatkan ayah Nayla tentang kejadian beberapa tahun silam dimana putra putri dari keluarga Garendra tidak menantu tidak anak terbunuh dalam insiden itu dan sang wanita saat itu mati melindungi dua anaknya dari tembakan yang sengaja diarahkan untuk putra bungsu mereka berdua.
"Ayah.. tolong bawa aku, aku tidak mau ayah..." kaget dengan suara Nayla, ayah terlihat khawatir tapi, ia juga salah dan Nayla benar-benar akan baik-baik saja kan?
Menatap putrinya dengan penuh haru lalu Alex dengan anggukan yang ragu juga terpaksa.
"Nayla... putriku," sambil menangis. "Ayah tak bisa melakukan apapun lagi, sekarang kau istrinya jika kau di lepaskan dari ikatan ini kau bisa mencari dan datang pada ayah lagi nak," ujarnya lagi sambil mengusap air matanya.
Nayla menggeleng menahan tangis walau percuma saja, tetap ada air mata yang keluar.
"Enggak... Ayah, aku tidak ingin tinggal dengan penjahat sekaligus orang asing ini, Ayah, ku mohon bawa aku jangan dia," ucapnya lebih memohon dengan wajah sudah berderai air mata.
Alex tanpa bicara menarik tangan Nayla lagi pergi dari kantor KUA.
"Ayah... Tolong aku," teriaknya saat semua hanya pura-pura tak tahu bahkan tak mendengar. Ayah hanya bisa berpaling.
Kedua tangannya terkepal kencang.
Kenapa Alex mengincar putrinya.
*
Di rumah yang Alex miliki sendiri bahkan rumah ini punya jarak cukup jauh dari rumah utama juga tempatnya hampir setengah jam perjalanan.
__ADS_1
Saat sampai Alex langsung di buka kan pintu oleh pelayan lelaki tua dan segera turun memutari mobil kembali menarik tangan Nayla dengan kasar menyeretnya masuk kedalam rumah.
"Lepas... Aku ingin pulang Lepaskan aku!"
Alex berbalik dengan tangan masih tetap memegang tangan Nayla begitu erat. Nayla sama masih dengan tangan yang terus berusaha lepas dari cengkraman Alex.
"Kau akan tinggal di sini, semua pelayan akan melayani kebutuhanmu jangan mencoba kabur atau kau terluka."
Seketika melepasnya, Nayla langsung memegang pergelangan tangannya yang sakit.
Alex berlalu pergi tapi, Nayla masih berdiri tempatnya.
"Aku bahkan tak mengenalmu Tuan, Apa urusanmu dengan Abdulah dan ayahku, Kenapa aku yang harus bersamamu, apa mereka punya masalah... atau hutang dengamu?"
Alex terus berjalan menjauh seperti tak mendengar apapun.
Nayla menatap kesal kesana kemari seketika kepala pelayan lelaki mendekatinya .
"Selamat datang Nona.. Tuan meminta untuk mempersiapkan anda malam ini."
Nayla tersenyum takut ragu.
"Aku akan bersiap sendiri dimana kamarku?" Kepala pelayan itu agak kaget.
"Eh...Em, sebelah Kanan pintu Putih dengan knop hitam lantai dua dekat dengan guci naga."
Nayla mengangguk dan pergi setelah mengatakan terimakasih.
Alex kembali keluar dengan pakaian berbeda dan melewati Nayla yang memperhatikan saat menaiki tangga dan Alex menuruni tangga.
"Semua tempat jaga dengan baik, jangan sampai dia kabur."
Kepala pelayan mengangguk siap.
Tiba-tiba telpon masuk dari nenek. Saat akan melangkah pergi keluar dari rumahnya.
"Alex kemana saja Kau, kembali pulang sekarang, ada Darma dirumah." Alex menoleh berbalik badan menghentikan langkahnya melihat ke lantai dua tepat di pintu kamar yang terbuka sedikit.
"Aku datang Nek."
Dengan seger Alex memutus sambungan telpon dan berjalan keluar dengan santai.
Di dalam kamar tepat di balik pintu Nayla kembali memunculkan separuh wajahnya. Alex yang sedang bicara di telpon lalu memasukkan kembali ke dalam saku celananya lalu pergi.
"Kenapa dia pergi lagi... sok sibuk."
*
Saat tikungan mengarah ke rumah utama saat itu melihat Ian dan macan peliharaannya berjalan di malam hari.
"Apa yang kau lakukan, untuk apa leo kau ajak jalan."
"TIdak.. aku hanya cari udara segar... dirumah ada tamu yang menginap, malas melihat wajahnya yang pura-pura baik."
__ADS_1
"Darma?"
"Siapa calon istrimu yang itu, lebih baik perempuan yang mengurus kudamu itu," ujarnya dengan menatap Alex.
"Aku sudah menikah dengannya tadi." Razefian terdiam seketika terkejut kagetnya terlambat.
"Kaak... Kau bercanda!"
"Besok pagi aku akan aja dia menemui nenek dan sekarang aku akan membatalkan apa yang nenek rencanakan," ucapnya dengan wajah datar.
"Leo menunggu mu, pergilah, Aku harus pergi kau bisa menjaganya saat aku tidak ada." Ian terdiam.
Tanpa bicara lagi atau pamit Alex melajukan mobil pergi menjauh dari Ian.
Menjaganya saat dia tidak ada, batinnya berpikir jika istri kakaknya pasti akan di jaga olehnya dari merek yang tidak suka.
"Tahu gitu kenapa dia kenalkan di keluarga besar lebih aman lebih baik tidak ada yang tahu, Pasti ini akan jadi kemarahan nenek lagi," ucapnya menatap Leo yang menatapnya balik.
*
Di rumah.
Darma melangkah duduk di samping Nenek.
"Apa kau betah..."
"Nenek... Aku tentu saja betah ini kan sama saja rumahku, bedanya jika di rumah aku hanya sendirian." Alex yang baru muncul melihat Darma dan neneknya saling tersenyum mengobrol santai.
Menarik nafas menatap ke samping kiri dan menghela nafasnya sambil berjalan mendekat.
Nenek kebetulan menoleh, "Alex.. lihat ada Darma, sayang."
"Iya." Tersenyum menatap lembut neneknya dan duduk perlahan sambil membuka ponselnya.
"Aku langsung saja Nek." Seketika suasana tegang.
Nenek menatap serius.
"Apa yang mau kau bicarakan, nak."
"Apa begitu serius, Alex." Darma ikut bicara seolah iya juga penting dalam hal ini.
"Iya...Aku sudah, aku sudah mengambil keputusan sendiri, aku sudah menikah nek dan aku sudah memiliki istri, namanya Nayla, dia yang mengurus Tonic menggantikan ayahnya, orang yang bekerja sebelumnya."
Nenek terdiam merasa di kecewakan juga marah karena cucu kesayangannya mengambil keputusan besar sendiri tanpa bicara dengannya.
"Wanita itu, wanita jal*ng."
"Nayla, Dia istriku nek bukan wanita jal*ng."
Seketika Nenek berdiri dengan cepat mendekat dan suara tamparan mengejutkan Darma juga Alex yang di tampar dengan begitu keras.
Para pelayan sampai terpejam saking kagetnya dan tak sanggup melihat hingga tamparan itu benar-benar membuat wajah tuan muda mereka terluka.
__ADS_1
"Anak tidak tahu diri."