
Sampai di taman tak jauh dari alun alun kota juga kantor.
Nayla mengelar karpet diatas rumput dekat pohon dan Alex membawa bekal makan siangnya.
Nayla merasa ini lain tapi, mungkin Alex butuh informasi lain agar dia bisa bebas dari rasa bersalah.
Nayla tidak akan berubah walaupun untuk bicara banyak seperti dulu.
Saat alex datang dan membawa vekal makan siang ia juga membawa dua cup eskrim dan satunya rasa coklat satunya rasa stowberry vanila.
Nayla membantu menatap bekal dan Alex duduk memperhatikan.
Seketika itu angin berhembus dengan pelan menerpa setiap helai rambut Nayla yang sudah keluar dari tatanan.
"Sudah cukup." Kata Alex ketika Nayla mengambilkan sayur dan lauknya.
Mereka makan dalam diam dan berakhir juga dengan diam.
Nayla memberesi bekalnya.
"Es krimnya?" Alex memperlihatkan dua cup nya.
Nayla ingin sebenarnya tapi, ia sedang mode cuek dan diam biarlah ia akan dapat di rumah untuk sekarang jangan menerimanya.
"Aku membelinya dari antrian dan saat aku ke habisan seorang anak memberikannya padaku, ia bilang adiknya tidak mau dan satunya lagi ia tak bisa makan es krim."
Bohong!
Nayla berjalan menjauh.
Seketika dudah duduk tenang didalam mobil Nayla di berikan lagi dua cup itu diatas pangkuannya.
"Makan lah aku tak bisa makan makanan seperti itu."
"Hargai usaha anak itu, Aku terpaksa juga menerimanya, Jika kau tak percaya kau boleh membuangnya, Masalahnya aku beralasan kalo itu untuk istriku yang hamil."
Nayla menoleh cepat menatap kesal.
"Ya.. Ya tapi, kan itu juga dia kasih memang untuk ku karena adiknya tidak mau."
Nayla tergoda sekali sebenarnya.
Tapi, ia kan sedang mode cuek.
Sayang juga kalo di buang mau di berikan anak-anak lain, disini tak terlihat ada anak-anak.
Nayla menoleh menatap Alex yang mulai menjalankan mobilnya.
"Ya Aku makan." Nayla membuka satu cup rasa coklat.
Memekannya perlahan sambil menikmati perjalanan tanpa sadar jika Alex dalam hati merasa lega.
Ternyata sedikit berbohong dan memaksa dengan cara lain itu cukup menyenangkan apa lagi, Alex bisa melihat pipi dan telinga Nayla kemerahan.
Alex rasanya gemas tapi, ia harus tetap tenang.
Sunyi sampai Nayla menghabiskan dua cup dan kembali diam lagi menatap keluar jendela.
Tiba-tiba Nayla berdehem.
"Terimakasih. Apa aku bisa minta lagi rasa lain."
Aduh... malu sekali Nayla bagaimana ini.
Tapi, ia sudah lama tidak makan Es krim pula.
Alex berhem sambil mengangukkan kepalanya lalu memutar arah mobilnya.
__ADS_1
"Tentu apapun itu," ucapnya dengan muda.
Nayla terkejut.
"Eh.. tapi, aku." Nayla bingung harus bicara apa.
"Aku tak masalah dari pada kau kelihatan sekali menahan untuk tidak makan lebih baik kau bilang seperti ini, Nanti aku akan sediakan di kulkas Bibi akan mengurusnya."
Aduh Nayla kenapa jadi seperti ini sih, merutuki sifatnya yang tiba-tiba luluh dengan eskrim.
Dan, apa tadi minta eskrim rasa lainnya, apa?! Hah jelek sudah wibawa cueknya tadi.
Dah lah, Nayla dasar! Mengatai dirinya sendiri dalam hati.
*
Beberapa menit mereka dari taman sama sekali tak kembali ke kantor.
"Kenapa kita belum sampai?"
Alex menoleh.
"Oh.. kita akan bersenang-senang sebentar."
Nayla terdiam.
Kenapa dirinya jadi ketakutan begini apa yang mau orang gila dan stres ini lakukan sih.
Nayla berdehem pelan berusaha untuk tidak terdengar.
"Aku hanya mau mendatangi tempat itu."
Nayla bingung apa arti tempat itu. Memilih diam saja.
Alex berhenti di satu tempat yang jauh dari kota dan itu pemukiman padat penduduk.
Nayla menoleh kesana kemari.
"Dulu aku menjual barang bekas untuk jajan, aku sengaja melakukannya tanpa ketahuan nenek sampai sekarang nenek pun tak tahu itu."
Terus apa perduli Nayla.
"Dan disini pertama kali aku dan Razefian belajar pelajaran berharga."
"Kakek disana, gubuk itu rumahnya beliau sudah meninggal sangat lama dan aku mau membuat tempatnya ini menjadi layak di tinggali, dia yang menajari untuk jangan menyerah dan bersyukur atas segala hal."
"Kau pasti sudah bertemu Razefian kan?"
Nayla diam menatap heran. Razefian? Nayla berpikir keras.
"Aku tidak pernah melihatnya."
Alex berbalik menatap kedua mata Nayla.
"Dia sibuk kuliah dan mungkin kalian pernah bertemu sekali di acara pernikahan dan dia yang mengantarkanmu pulang, wajahnya tak mirip denganku karena ia banyak mengambil wajah ayah dan aku wajah ibu."
Nayla terdiam otaknya memutar rekaman lama.
Seketika kedua pandangannya terangkat menatap Alex yang memandangi tempat kumuh sampah dan sedang dalam peroses pengerjaan beberapa tempat.
Tidak mungkin orang itu adiknya, sifatnya beda jauh, Adiknya lebih waras.
*
Alex berbalik pergi meninggalkan Nayla yang diam tapi, di detik berikutnya Nayla mengikuti alex yang menaiki mobilnya.
Mereka terus mengulur waktu, dan memperbanyak waktu berdua. Sampai akhirnya sampai di rumah sore hari.
__ADS_1
Alex turun dari mobil lalu Nayla sambil membawa wadah bekal dan melangkahkan kaki mengikuti Alex.
Mereka jadi pusat perhatian Nenek dan juga Razefian yang diam-diam menatap wajah tak suka nenek ke Nayla.
Ah, Nenek. Katanya dalam hati untuk neneknya yang selalu sempurna untuk membuat kakaknya sempurna termasuk pasangan padahal selera kakaknya bukanlah Darma.
Di dalam kamar Nayla membantu membukakan jas dan dasi lalu menyimpan sepatu juga kaos kaki.
Alex masuk kedalam kamar mandi Nayla bersiap menyiapkan pakaian santai rumahan.
Lalu keluar dengan pakaian yang sama saat ia pulang tadi.
Turun ke bawah. Nayla mengambil nasi dan makan malam yang bibi masak sore tadi.
Nayla tahu ia di perhatikan nenek. Di dapur hanya ada Nenek yang sedang menikmati teh di ruang makan sendirian.
"Kemana saja kalian pergi, Kau membuatnya melepaskan tanggung jawab kantor."
"Aku tidak melakukannya, Dia yang mengajakku. Selamat malam, nek. Aku permisi keatas."
Nenek terdiam memegang erat kepala tongkatnya.
"Sudah berani sekali nada bicaranya."
Nayla tak perduli penilaian nenek terhadapnya.
Sampai di kamar ternyata Alex hanya menggunkan jubah handuknya dan belum menggunkan pakaiannya lalu melihat Nayla masuk segera ia meminta Nayla mandi dan membersihkan badannya.
"Makan bersama." Satu kalimat keluar dari mulut Alex terdengar seperti perintah. Nayla hanya menganggukinya saja.
*
Pagi kembali tiba. Di hari ini.
Nayla mencoba memasak makanan untuk hari minggu termasuk membuat kueh.
Saat baru selesai acaranya memporak porandakan dapur lalu duduk dan menyusun kueh di wadah. Tiba-tiba sebuah tangan meraih kueh di atas loyang dua macam.
"Untukku ya kakak ipar." Seketika Nayla terkejut.
Saling menatap dan Ian lebih dulu berdehem. Suasana langsung berubah canggung.
"Apa kabar anda?" Aduh.. kenapa bicara dengan nada formal tadikan ia bilang kakak ipar, rasanya ia langsung malu dan segan.
"Baik." Santai dan tenang Nayla menjawab, tanpa tersenyum.
"Bagaimana rasanya tinggal di sini pasti menyenangkan bukan, mereka baik-baik..."
Nayla langsung berdiri dan meninggalkan Ian sendirian. Kueh diatas meja di biarkan. Ian melihat arah Nayla pergi masuk lagi ke dapur.
Ian hanya diam bingung, apa ucapannya ada yang menyinggungnya.
"Maaf kak tapi, aku tak bermaksud menyinggung mu." Nayla mengambil satu wadah lagi yang bibi baru berikan padanya setalah di keringkan.
Nayla menatap ian.
"Kenapa?" Tanyanya heran. Nayla kan tidak merasa tersinggung.
"Eh.. aku tahu kau di culik dan di perlakukan tak baik tapi, aku masih bertanya hal konyol." Nayla semakin bingung. Ian seketika diam dan bungkam, sepertinya ucapannya ada yang salah lagi.
"Tidak masalah." Kata Nayla terdengar kaku dan senyuman tipisnya yang hanya sekilas. Ian malah tambah tak enak hati.
"Makanlah aku akan membawa ini pada kakakmu," ucap Nayla santai tapi, membuat Ian langsung tak enak hati lagi, karena langsung makan saja tanpa permisi.
"Eh.. tidak, aku, aku hanya mau makan sedikit saja."
Nayla meminta piring untuk di sediakan kueh untuk semuanya rata mencicipinya.
__ADS_1
"Ini bagian mu dan ini lainnya, bawalah ketempat yang kau mau, Aku tak bisa memberikan lagi jika nanti nenek melihat dan membuang semuanya."
Ian terdiam dan Nayla pergi begitu saja membawa dua piring kueh dan satu toples keruangan Alex.