
Fatir yang mendapat tugas, segera melakukan nya dan Alex pergi keluar ruangan Gazi dan Fatir dengan wajah datar dan marahnya.
Saat yang sama seorang dengan pakaian ob tadi sudah ada di belakang kantor dan langsung naik kedalam mobil sambil membuka masker dan topi juga melaporkan lewat pesan pada Marcella. Mobil van hitam yang melaju lewat parkiran dengan logo pasang benner itu bisa leluasa keluar masuk.
Marcella tersenyum saat notif yang ia tunggu akhirnya muncul.
"Teman-teman aku harus pergi sebentar ada urusan yang harus aku selesaikan, kita lanjut nanti." Katanya sambil berdiri dan pamit.
"Ok La.. aku udah buat grup kita nanti sore jangan lupa nimbrung loh ya." Marcella mengacungkan dua ibu jari pada temannya.
Marcella membuka dan membacanya dan saat masuk kedalam toilet ia tak mendapatkan kabar heboh apapun. Agak sedikit aneh baginya.
Keluar toilet masih belum kalo begitu Alex sudah mengetahui hasil rencananya. Nayla pasti selamat, duga Marcella. Marcella dengan acuh berjalan keluar kantor tapi, saat yang sama Valenzia menunggu di lobi meja resepsionis melihat Marcella dan menghentikannya.
"Permisi Nyonya boleh kita bicara sebentar?" Marcella menatap Zia dari wajah sampai bawah dan tersenyum.
"Iya.. Kenapa?"
"Terimakasih Nyonya, Saya Valenzia.. saya diminta Tuan untuk mengajak anda ke ruangan rapat bicara empat mata." Marcella tersenyum. Mengangguk dan mengikuti arahan Valenzia.
Dikira Marcella ia akan mendapat kabar meledak membuat hatinya senang karena rencananya berjalan lancar.
Didalam ruang rapat ada Alex san sendirian duduk menatap keluar kaca jendela.
Zia masuk mengetuk pintu dan mengantar Marcella sampai ke Alex.
Lalu kembali keluar dan munutup pintu.
"Alex.. apa yang mau di bicarakan kenapa rahasia seperti ini?" Pura-pura tak paham keadaan.
"Heh... Tante tak usah sok tak mengerti, aku tahu tante yang melakukannyakan. Kenapa ?"
Marcella menatap heran bingung dengan ucapan Alex.
Zia diam-diam menatap ramah dengan senyuman penuh arti. Zia tak pernah tersenyum sinis, karena senyum sinis dan ramah nya itu sama.
Di dalam ruangan rapat Alex berdiri menatap keluar kaca jendela yang memeperlihatkan pemandangan padat bangunan di kota. Juga desa tak jauh dari sana.
Alex menunduk saat mendengar ketikan pintu Zia.
Zia mengetuk pintu dan melangakh masuk memberi salam dan mengatakan Marcella sudah disini. Zia langsung pamit keluar.
Menutup pintu rapat dan kini tinggal Alex dan Marcella
"Tante kenapa tak bisa sekali saja jangan membuat masalah?"
__ADS_1
Marcella terdiam berpikir, masalah apa?
Alex berbalik dan menatapnya dengan tatapan datar.
"Bicaralah Tante, aku sopan meminta padamu menjauh!" Tatapannya semakin mengintimidasi.
Marcella tak suka tatapan tak sopan itu.
"Kau tak pantas bicara seperti itu pada tantemu!" Kesal Marcella.
"Heh.. pikirkan baik-baik kedepannya aku tak akan Bermain-main dengan apa yang aku bilang."
Marcella menatap marah.
"Alex!"
"Tante hampir membuat Nayla celaka alangkah baiknya berhenti sekarang atau semua hancur." Marcella terdiam dengan perkataan dengan sedikit ancaman Alex.
Marcella tersenyum sambil menyisir rambutnya dan menggunakan kaca mata hitamnya.
"Oh yaa.. aku tak akan menyerah." Lalu berbalik pergi dan saat Marcella sampai dan hampir menarik pintu Alex menghentikannya, manggilnya.
"Ingat tentang masa depan bebasnya bukan kah lantai penjara terlalu berharga untuk di rindukan." Sindir halus Alex. Marcella barbalik badan dengan wajahnya tersenyum penuh arti sambil membenarkan kaca mata menghrla nafas dan mengirup bebas udara ruangan ini.
"Aku ingat itu, mungkin aku sedikit rindu masa sebelum masuk penjara daripada lantai penjara dan kau, Semoga Nayla tak membencimu."
Ian datang membawakan mie pedas lengkap dengan ayam bakso dan juga seafood bakar lainnya. Sebenarnya Nayla tak terlalu suka Seafood tapi, ia sedang ingin termasuk timun tomat segar juga alpukat yang sudah jadi eksrim.
Alex hanya diam menatap meja makan yang mana makan malam tadi berganti dengan makanan yang baru Ian bawa.
Nayla merengek ingin makanan Ian yang bawa dan beli. Alex meminta Ian membeli semua makanan pedas yang nayla minta termasuk makanan lainnya jika ia masih meminta lainnya.
"Ini karena keponakan yang rakus, Bagis bayaran ongkirnya... uang bulananku habis karena jajanan pedas manis dingin itu!" Kesalnya menatap Alex sambil mencibir.
Seketika itu Alex memberikan bukti teransferan lewat ponsel didepan wajah Ian.
"Sekarang Pulang lah." Ian tersenyum puas. Akhirnya jadi kurir makanan paling makmur jika melayani istri kakaknya yang ngidam jika bukan Nayla minta Ian mungkin uang bulannya tak bertambah.
"Lah.. kagak nawarin makan dulu gitu, kenapa pulang?" Ian memelas.
Zoya yang membantu Nayla menyiapkan makanan diwadah hampir selesai seketika, di tarik Nayla untuk makan bersama.
"Tapi, kak inikan kakak yang mau makan?"
"Heheh iya. sih, dah lah kamu makan juga aja, kamu tega liat kakak makan sendirian," ucap Nayla seketika itu Alex dan Ian dianggap tidak ada.
__ADS_1
Zoya menoleh kebelakang.
Maaf. Wajahnya terlihat kasihan menatap kedua pria di belakangnya.
"Sayang."
"Kakak." Panggilan Alex dan Ian bersamaan.
Nayla mengacuhkannya.
"Ngapain bagiin kalian rujak aku aja gak kalian abisin dan malah Zoya yang makan dah jauh jauh sana."
Alex tak menganggap perintah pergi Nayla dan malah mendekat lalu duduk didepan Nayla. Ian juga duduk didepan Zoya.
"Kakak, Ian mau?" Zoya hendak berdiri mengambilkan piring untuk Alex dan Ian seketika Nayla meletakkan sumpitnya. Selesai makan mie beralih mencicipi yang lain.
"Aku kenyang, habiskan semuanya ya." Ketiganya membuatkan matanya.
Ini semua porsi makanan Jumbo.
Zoya menelan ludahnya kasar.
Ian terkekeh dan hendak berdiri tapi, ditahan Alex.
"Kau mau? Makanlah!" Alex tersenyum tipis seperti memberi peringatan, makan ini atau kau tidak mendapatkan uang bulanan lagi minggu depan.
Alex berhasil membuat Ian tunduk dan pergi mengambil piring yang Zoya ulurkan. Zoya makan dengan banyak mie juga seafood dan Ian juga Alex hanya makan sekedarnya bahkan terlihat seperti mencicipi.
Nayla sudah makan mie pedas lalu makanan pedas lainnya terakhir eskrim alpukat miliknya sendiri tanpa berniat membaginya dengan Alex.
"Apa liat.. liat gak usah minta." Alex tak menanggapi dan tetap memperhatikan Nayla.
Ian pura-pura tersedak.
"Huuh... gerah, Bucin tolol gak mau keliatan Bucin kan keliatan oon nya." bisiknya sambil terus makan."
Nayla mencoba yang lainnya dengan timun tomat dan sampai habis bersih Nayla bangun dari duduknya.
Alex mengikuti langkahnya.
"Apa!"
"Gak papa tidur yuk." Nayla menggeleng dan memilih jalan lebih dulu.
Di kursi Zoya dan Ian sangat kenyang bahkan kepedasan sampai air mata dan wajahnya memerah. Beberapa lembar tisu terlihat agak banyak didekat zoya.
__ADS_1
"Perutku..." Keluh Ian.
Segera bangkit berlari masuk kedalam kamar mandi .Di saat Zoya sendirian tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.