Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris

Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris
Masalah kecil


__ADS_3

Alex mendengus sebal saat Nayla malah aneh seperti ini.


"Kau kerjakan itu, tugasmu." Nayla terdiam


Lalu bergerak ke mejanya sibuk sendiri tanpa ada ucapan keluar dari mulutnya.


Sebentar-sebentar Alex mencuri pandang ke wajah serius Nayla. Sesekali ia hampir hilang kendali karena terpesona dengan leher putih dan kacamata di wajah Nayla lalu rambut yang diikat.


"Aku hampir lupa diri," ucapnya pelan kembali sibuk dengan pekerjaannya.


Tiba-tiba Nayla mendekati mejanya dan memberikan laporan.


"Kau tidak lupa bukan jika beberapa bulan lagi kita akan pisah."


Nayla terdiam tangannya bergetar dan di tahan dengan tangan yang tenang.


"Aku tahu itu, setidaknya di rahimku sudah ada kehidupan." Nayla dengan santainya wajah datar tanpa ekspresi itu membuat Alex agak kaget dan merasa aneh.


Nayla pergi dari hadapan Alex dan masuk kedalam toilet di luar ruangan Alex Toilet khusus tim satu bawahan Beno langsung.


Di dalam Nayla mengunci dirinya di dalam toilet wanita.


Bukan yang seperti ini pernikahan yang mau ia jalanai tapi, kenapa rasanya ia meminta anak.


Nayla tidak, tidak akan menyesali keputusan nya sendiri.


"Ini sakit sekali."


Keluar dari Toilet dan mencuci wajahnya.


Setelah itu pergi ketika wajahnya kembali normal tanpa meninggalkan bekas tangisan.


*


Waktu berlalu dengan begitu cepat tak terasa sudah tiga minggu berlalu dan Nayla menghitung hari nya bisa datang bulang tapi, ini kenapa aneh sekali.


Nayla melempar ponselnya saking kesalnya.


Didepan Alex ia berani melempar barang dan ini pertama kalinya.


Bukannya takut, Alex melihat ekspresi wajah yang malah menantang.


"Apa! Jangan lihat-lihat wajahku!"


Alex mengerjapkan matanya beberapa kali.


Lalu melihat Nayla merapikan kasur dan saat membentangkan selimut tiba-tiba selimut terlipat terus di bagian ujungnya.


Nayla menariknya dan menginjaknya di lantai sambil marahdan mengoceh mengatai selimut, yang jelas-jelas benda mati.


"Terserah mau di rapiin atau enggak, Buang bakar aja itu selimutnya." Alex hanya mendengarkan dari dalam ruang ganti ketika Nayla mengoceh sampai masuk kedalam sana sambil menyiapkan pakaian kerjanya.


"Kau kenapa?" Tanyanya datar dengan suara rendah dan datar.


"Aku baik saja." Jawabnya santai.


Alex kembali diam memantap wajahnya didepan cermin.


Nayla memasangkan dasi dan setelah itu memasangkan jas dan tak lupa merapikan bagian kusut kecil dan dasi yang sedikit miring.


Tiba-tiba Nayla menatap wajah Alex.


"Apa?" Tanya lagi dengan wajah bingung tapi, tetap datar.

__ADS_1


Nayla langsung mengerjap sadar. Apa yang ia pikirkan, jika ia terlalu lama menatap itu memalukan.


Nayla langsung pergi bersiap dan menyusul untuk sarapan.


Ketika akan melangkah bersama Alex untuk ikut sarapan. Ada Darma yang ikut sarapan disana.


Nayla diam dan tetap berjalan mendekati meja makan.


Nayla sedikit tak suka tapi, Darma adalah tamu dan ia tak boleh menunjukkan rasa tak sukanya.


"Nay.. kau masak makanan yang enak, lain kali ajarkan aku juga ya," ucapnya sangat senang seketika itu Nayla tersenyum.


Nayla tahu itu bukan pujian melainkan ucapan untuk mempengaruhi suasana berpihak padanya dan ia punya maksud terselubung.


Nayla mengangguki saja lagi saat pujian bohong keluar dari mulut Darma.


Alex makan sarapannya dengan nyaman dan ia memperhatikan jika Nayla tak makan bersama dan malah membuat bekal untuk di bawa. Alex tak bertanya dan sudah tahu saat memperhatikan Nayla di dapur.


Nenek tak suka Alex yanh begitu memperhatikan Nayla.


"Alex, Darma disini kau tak menyapanya. Ia kemari karena khawatir."


Alex mengepalkan gagang pisau dan garpu di tangannya.


"Khawatirkan apa, aku ada Nayla yang mengurusku bahkan ia terlihat berguna tanpa menghawatirkanpun, Itu tak berguna."


Darma tertunduk sedih. Nenek marah Alex bicara seperti itu pasti Darma sakit hati.


"Alex... Kau bicara sedikit halus padanya kau selalu membencinya tanpa alasan, itu semuakan salah Nayla yang pasti menggodamu dan kau tahu nayla sudah berusaha keras membuatkan sarapan untukmu tapi, kau malah memakan masakan Nayla setiap hari."


Menyudahi sarapannya yang sudah habis sambil mendengar ocehan nenek yang kesal karena dirinya dan sifat aneh Darma.


"Aku akan telat naik lah mobil lebih dulu."


Lalu pamit sebelum Alex meninggalkan meja makan.


Sempat berpamitan pada Nayla dan Alex juga Nenek tak lupa.


"Jika nanti waktunya Ian menikah aku akan langsung menjodohkannya supaya tak sepertimu." Alex pamit dan tak menghiraukan sindiran nenek.


Nayla juga pamit ketika akanencium tangan Nenek. Nenek tak memberikannya. Nayla langsung pergi setelah mengatakan salam dan pamit.


Alex naik kedalam mobil dan Nayla juga duduk di sebelahnya. Beno mengendarai mobil perlahan menjauh dari teras.


Sampai ke jalan raya pun mobil tetap sunyi. Nayla tetap diam bahkan wajahnya tertutup rambut. Nayla menatap keluar jendela.


Ia merasa sedih bahkan ingin menangis.


Dalam hati Nayla terus menguatkan diri ini tak akan lama. Terus saja hatinya ia buat kuat dengan ucapan yang membuat dirinya tak jadi menangis.


Alex memperhatikan sikap Nayla yang tak berubah dari posisi.


Hingga sampai di kantor.


Nayla langsung turun dan membukkan pintu mobil untuknya.


Alex terdiam ketika melihat pipi Nayla memerah sepertinya iatu usapan tangannya.


"Bawakan eskrim rasa coklat dan stawberry ke ruanganku jika bisa beli agak banyak dan letakkan di lemari pendingin." Beno terdiam.


Nayla tak fokus dan tetap memfokuskan untuk menahan air matanya agar tak terus-terusan keluar.


Alex yang sudah berjalan masuk lift diikuti Nayla lalu Beno yang kembali keluar mencari es krim yang tuannya mau.

__ADS_1


*


Di ruangannya kini Nayla membersekan meja Alex dan Alex langsung duduk dan mulai bekerja.


"Apa yang kau rasakan, sejak pagi kau terlalu berlebihan." Nayla menghentikan kegiatannya merapikan bantal di sofa sekarang.


Berbalik menatap ruangannya dan memilih diam dan meninggalkan Alex tanpa jawaban.


Alex diam dan tak marah. Biasanya ia akan marah dan mengomeli Nayla kali ini Alex penasaran dengan Nayla yang sangat aneh.


Tiba-tiba Eskrim datang dan Beno memberikan beberapa pada Alex dan menyimpan sisanya di Lemari pendingin.


"Berikan langsung pada dia," ucap Alex. Beno menoleh pada Nayla.


"Nyonya?" Beno tak percaya Tuannya aneh pagi ini karena Nyonya nya. Sebenarnya seumur hidup Alex melayani Alex sebagai asisten baru pagi ini ia diminta membeli eskrim dan itu untuk Nayla.


Sebenarnya Zulfikar sudah tahu lebih dulu tentang kebucinan Alex tapi, ia diam dan sekarang Beno sangat terkejut. Rasanya ingin tertawa tapi, takut di pecat potong gaji juga.


Beno menghampiri Nayla dan memberikan eskrim padanya seketika Nayla menoleh.


"Bawa itu pergi, aku tidak makan itu!" Alex mendengar ucapan Nayla sangat galak di telinganya.


Beno terdiam. Memilih meletakkan saja.


"Bawa kembali." Nayla kali ini menatap dan membentak Beno.


Beno agak kaget. Kali ini ia di bentak Nayla.


"Nyonya Tuan yang minta belikan, Nyonya tinggal menolaknya langsung." Beno melirik kesamping dimana Alex menatapnya.


Beno pergi seketika Nayla berdiri dan jatuh tersandung kakinya sendiri.


Beno langsung berbalik.


Alex malah ingin tertawa tapi, ia tahan. Nayla langsung kesal dan melempar sepatunya ke sembarang arah sambil memegangi kakinya.


Alex berdiri dan mendekat lalu mengisyaratkan Beno keluar.


Setelah Beno keluar. Alex berjongkok dan melihat keadaan kaki Nayla.


"Kau ini kenapa, hem?"


"Aku bertanya bukan menghakimimu!"


"Aku tidak apa-apa dan aku tidak tahu."


Alex menagangkat dagu Nayla sedikit kasar agar wajahnya terangkat menatapnya.


"Kau menangiskan di dalam mobil tadi. Apa yang membuatmu marah sampai ponsel kau lempar hampir melukaiku dan kau hampir merusak sepre dan selimut."


"Aku tidak tahu, ya aku tidak tahu jangan tanya apapun padaku, aku tahu salah aku pasti akan salah terus aku juga selalu tak berguna aku juga selalu ceroboh bahkan aku tak sebaik apapun dari segi manapun jika di bandingkan dengan Darma aku sama sekali tak ada apapun aku tak suka diriku kalian juga tak suka, Kalian puas... apa aku selalu tak bisa hidup tenang... Hiks."


Menangis sudah Nayla tak bisa menahannya lagi ia sampai menangis langsung sesegukan.


Memaksa dirinya berdiri seketika Alex membantunya, Nayla menepisnya.


"Tidak jangan sentuh aku!"


Alex mulai kesal sekarang. Mencengkram kuat lengannya menatap tajam wajah Nayla yang malah membuang pandangan kesamping menghindari wajah Alex.


"Aku membencimu... sangat Membencimu, kau bahkan menjadi teman ranjangku karena anak, Dasar murahan." Nayla terkejut bahkan hatinya tambah terasa sakit sekarang.


Alex berdiri dan pergi meninggalkan ruangannya.

__ADS_1


Nayla bangun dan menghapus air matanya.


__ADS_2